Cerpen, Jawa Pos, Wina Bojonegoro

Pesta untuk Mu

5
(5)

Di hadapan cermin peninggalan zaman, ia melepas baju gemerlap yang membungkus badan atas. Lalu jarit sidomukti yang dibekap dengan stagen hitam sepanjang tujuh meter yang tadi membungkus badan bagian bawah.

IA mengganti pakaian dengan daster katun motif bunga-bunga berwarna kuning kepodang. Perlahan-lahan ia lepaskan cunduk mentul, sunggar, dan kembang melati dalam ronce sepanjang 40 cm menjuntai dari pangkal sanggul menuju dadanya yang busung. Lalu sanggul bokor mengkureb yang terasa berat itu dilepaskan sangat pelan, setiap tarikan menciptakan rasa nyeri pada ujung-ujung rambutnya. Seperti perih yang baru saja disandangnya.

“Mau kubantu, Mu?” Bisik seseorang yang tiba-tiba memasuki sentong bergorden namun tak berpintu. Mu menatap dari cermin sosok Sujiah, tetangga sekaligus teman sepermainan yang lebih dulu menikah dan telah menggandeng momongan. Semuda itu. Mu hanya menggeleng.

Ia melepas riasan tebal di wajahnya, dengan kapas dan susu pembersih dalam botol. Celak hitam yang semula menegaskan kebulatan bentuk matanya seketika berpindah tempat ke permukaan kapas kumal, begitu terus hingga seluruh wajah itu kembali kepada bentuk dan warna aslinya. Ia tak tahu bagaimana memaknai peristiwa ini. Sedih? Atau justru bersyukur?

***

“Kamu libur sampai kapan, Mu?” tanya Mak suatu hari ketika bersiap ke sawah.

“Sampai tahun depan mungkin, Mak.”

“Ah.” Perempuan berkebaya masai itu mendesah, seolah mengiyakan kecurigaannya selama ini. Benar. Anak perempuanku tak lagi menjadi buruh di Pabrik Kwangwung kebanggaan warga Desa Semambung. Sementara dua adik laki-laki harus terus membeli pulsa untuk sekolah daring, menambah angka jajan di warung Juned tersebab sekolah terus diliburkan, angka kebosanan mereka melonjak, maka jajan adalah pelampiasan alternatif.

Mu adalah satu di antara puluhan anak muda Semambung yang akhirnya beruntung lolos menjadi buruh Pabrik Kwangwung meskipun status buruh outsourcing. UMR empat juta lebih untuk Pasuruan yang ditetapkan pemerintah itu angka besar, maka manajemen pabrik mengakalinya dengan merekrut tenaga tidak tetap. Dalam setahun, mereka hanya dipekerjakan antara enam sampai delapan bulan. Kemudian mereka akan direkrut lagi tahun depan. Dengan gaji seratus ribu sehari adalah salah satu cara mengurangi beban upah, tinimbang menggaji para buruh empat juta lebih dalam sebulan. Tauke pun bebas dari kewajiban membayar uang cuti, uang THR, dan asuransi tenaga kerja.

Baca juga  Lidah

Selama ini warga Semambung sangat tertolong oleh pabrik peralatan rumah tangga itu. Kebijakan pemerintah untuk menggunakan tenaga lokal semaksimal mungkin di pabrik-pabrik apa pun membuat orang-orang Semambung merasa bahagia. Mereka akhirnya memiliki harapan untuk bekerja dengan upah UMR. Bisa kredit motor. Bisa beli HP canggih. Gadis-gadis remaja saban Sabtu—hari gajian—mengerubungi lapak-lapak dadakan di tepi jalan raya, memadati pasar krempyeng dengan produk kebutuhan perempuan seperti beha, sepatu, jilbab, aksesori, baju, serta rupa-rupa kebutuhan rumah lainnya. Gegap gempita perputaran roda ekonomi pun ikut mengubah paradigma sukses. Hampir bisa dipastikan, anak-anak Semambung jika ditanya apa cita-citanya kelak, jawaban 8 dari 10 anak adalah: bekerja di Pabrik Kwangwung itu.

Begitu pun Mu. Sudah beberapa bulan ia menduduki posisi packing dengan pembagian jam kerja berganti-ganti. Kadang pagi, siang, atau malam. Tak ada perbedaan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan semua mendapat jatah yang sama. Jika ia mendapat jatah masuk siang, ia akan mengetok pintu rumah tengah malam. Jika ia masuk malam, ia akan memasuki rumahnya setelah subuh. Mak tak akan terlelap saat-saat seperti itu. Jalanan menuju pabrik masih banyak ditemui hutan kecil dan ladang tak berlampu. Tetapi, demi 600 ribu setiap Sabtu, Mak akan berjaga semalaman menunggu Mu pulang.

Mak menghela napas. Sering ia merasa sia-sia, tak mampu membela nasibnya sendiri, apalagi nasib anak-anaknya. Diliriknya suami yang kehilangan tangan kanan dan sebagian pendengarannya. Lelaki itu dulu tergolong pekerja tangguh, mengerjakan sawah yang hanya sepetak berdua saja dengan dirinya. Namun, bujukan Soleh untuk membuat mercon secara massal dengan iming-iming bayaran lebih baik membuat ia belingsatan.

Kamis Kliwon, hari yang baik menurut almanak, Kamis nilainya 8 Kliwon juga 8, total 16, dijumlah menjadi 7, adalah angka sempurna. Orang yang lahir pada Kamis Kliwon akan berumur panjang, keberuntungannya baik. Demikianlah Mat Karto, ia lahir pada Kamis Kliwon. Dan hari itu adalah hari ke-8 ia bekerja di rumah Soleh membuat mercon.

Tetapi, jelang istirahat siang, sebuah ledakan besar memekakkan telinga warga desa, mengalahkan suara azan dari toa masjid. Rumah setengah bata setengah kayu yang menjadi lokasi pembuatan mercon raksasa itu telah menjadi puing-puing dalam waktu sekejap. Mat Karto dan dua orang lagi terpaksa dilarikan ke rumah sakit, dan takdir meminta lebih banyak dari yang diduga. Sejak itu Mujiati tahu, kelak saat tamat sekolah SMA, ia harus menjadi kepala keluarga baru.

Baca juga  Mantan Jurnalis dan Kapal Kominis

Berbekal ijazah SMA swasta satu-satunya di Semambung, Mu mendatangi semua pabrik, toko, resto, bahkan hotel yang lokasinya dapat dijangkau. Tetapi, hari begini ijazah SMA bagaikan tumpukan gabah dalam lumbung. Ia sadar bahwa perjuangannya tidak akan mudah. Teman-teman sekelasnya beberapa telah menikah sejak lulus, ada seorang melanjutkan kuliah di kampus ala kadarnya, selebihnya berjuang seperti dirinya, berkelana sepanjang hari dari titik satu ke titik lainnya, seperti gabah diinteri, kata Mak.

***

“Belum ada kabar, Mu? Kapan kau dipanggil kerja lagi?” Kali ini Mat Karto yang mendatangi anaknya. Mu merasa ia sedang hendak ditangkap hidup-hidup, serupa garangan yang kemarin memasuki wilayah dusun dan akhirnya dijadikan santapan beramai-ramai.

“Belum, Pak, kita semua tahu kan kondisi seperti ini. Banyak pabrik tutup. Paling baik pengurangan karyawan. Saya akan melamar ke pabrik susu. Cuma pabrik itu yang tidak ada pengurangan pegawai sejak setahun musibah ini.”

Tangan kanan Mat Karto yang tinggal sepenggal itu terlihat sering bergerak tanpa komando. Ia mengamati anak perempuan satu-satunya yang sekarang telah berusia lebih dari 20 tahun.

“Pak Darsun menanyakan, apakah kamu masih tidak punya pacar?” Meski pelan, suara ayahnya terasa seperti beduk masjid bertalu jelang Lebaran. Mak perlahan merangsek ke ruang tamu, berpura-pura menonton sinetron yang sedang ditonton Mu.

“Bapakmu betul, Mu. Kalau tidak ada kepastian kapan kau bisa bekerja kembali, sebaiknya menikah saja. Shoim kan kerja di pabrik susu, gajinya empat jutaan. Dia buruh tetap to? Bukan buruh kontrak seperti kamu. Kalau dia memberikan setengah gajinya buatmu saban bulan, adikmu selamat.” Mu menelan ludah. Terbayang percakapan dengan Bu Riani beberapa waktu lalu: Menikah itu bukan sebuah jalan keluar, Mu. Justru kamu memasuki babak baru dengan orang baru, keluarga baru. Pekerjaanmu ganda, belum lagi kalau punya anak.

Wajah Suhar dan Diman—kedua adik yang masih duduk di bangku SMP—melesak di kedua matanya. Mu merasa berjalan jauh pada lorong menuju puncak Ogal Agil, namun ia terjebak di Antaboga, tak menemukan jalan tembus. Ditatapnya puncak Arjuno dari pematang sawah sepetak milik ayahnya, sembari mengira sampai mana perjalanannya. Dengan kakinya yang langsing ingin digapainya puncak setinggi 3.339 meter itu, tak mengapa meski susah payah. Seharusnya ia bisa melaju melintasi beberapa titik di atas: Tampuono, Eyang Sakri, Eyang Semar, hingga Jawadwipa dan Plawangan. Tapi, kenyataannya ia tak ke mana-mana, hanya berputar-putar di Antaboga.

Baca juga  Malam Sebuah Rumah Sakit

***

Serombongan babinsa merangsek ke dalam tenda yang terhias demikian indah, terlalu indah untuk kalangan penduduk Semambung. Kericuhan pun segera terjadi. Orang-orang yang berbondong-bondong menuju pesta mundur teratur, beberapa kembali ke rumah masing-masing.

“Kang Karto, gimana ini?” tanya Pak Darsun kesal. Mat Karto membuka mulutnya, namun tak ada suara keluar. Kerongkongannya kering. Suara-suara orang hanya serupa dengung lebah di lubang telinganya yang memang kehilangan 75% pendengaran sejak letusan mercon itu.

“Kita tunda saja pernikahannya, Pak. Kalau sekarang tidak boleh bikin keramaian, kita harus mantu tahun depan,” celoteh Bu Darsun dengan masygul. “Kita ini kan sudah banyak buwuh ke sana kemari. Tak ada lagi hajatan yang bisa kita lakukan, wong anak kita cuma sebiji. Terus kapan kita bisa panen?” kali ini suara Bu Darsun setengah berbisik. Namun Mu mendengarnya, meskipun samar.

Mak mendekati Mu sambil berbisik, “Gimana ini, Nduk?”

Mu tersenyum. Bukan apa-apa, semata mengingat pesan pendek yang diterimanya kemarin.

“Setelah setahun kami melakukan penutupan total yang disebabkan pandemi, dengan ini kami umumkan bahwa Hotel Jaya Tirta akan dibuka kembali. Kepada Anda yang namanya terlampir berikut ini, dan dinyatakan lolos seleksi tahun lalu, dimohon menghadap manajer HRD dengan memakai pakaian atasan putih-celana hitam pada hari Senin untuk mengikuti training.” (*)

WINA BOJONEGORO. Penerima Anugerah Sabda Budaya Sastra Universitas Brawijaya 2018. Pendiri Perlima dan CEO Padmedia Publisher. Buku terbarunya Kisah-kisah Pembunuh Sepi (kumpulan cerpen). Tentang Wina dapat ditemui di www.winabojonegoro.com atau IG: @winabojonegoro

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: