Cerpen, Dody Widianto, Tanjungpinang Pos

Sangkar Dosa

4.3
(7)

DI ATAS tempat tidur dalam kamar sempit yang membatasi pergerakanku, kuperhatikan satu-satu benda dalam kotak kayu kecil itu. Benda masa kecil kami yang perlahan tergerus waktu. Aku yang memintamu membawakannya ke sini. Ada katapel, dua kelereng, dua pistol-pistolan bambu, dan satu ikat permainan gambaran wayang dengan gambar Sengkuni terletak paling atas.

Dari berbagai mainan ini, dulu kau paling benci dengan katapelku. Melaporkan pada ayah jika aku pembunuh karena terus berburu burung prenjak. Apalagi jika kau sampai tahu aku mencuri mangga tetangga juga dengan katapelku itu. Itu sebabnya kau tak pernah mau punya katapel sepertiku. Takut mengubahmu jadi jahat. Tapi melihat dua mangga yang ranum lagi menguarkan aroma wangi di tanganku, aku membiarkanmu ikut menikmati satu mangganya. Di mata ayah kau memang terlihat lugu, polos, bijaksana, dan sempurna.

Dulu, katapel yang kubuat susah-susah itu pernah dibuang ayah. Kau tahu kerja kerasku demi membuatnya. Mencari ranting dengan huruf “Y” lalu menghaluskannya dengan pisau, memasang karet di kanan kirinya, lalu mengaitkan kain kulit di tengahnya. Kau mengembalikannya padaku setelah menemukannya di bak sampah. Entah apakah kau tulus atau memang agar terlihat baik di mataku.

Di samping katapel, dua kelereng yang berwarna sama dengan lengkungan garis kuning biru itu tiba-tiba mengingatkanku lebih dari tiga dekade tahun lalu. Kau pernah meminta satu padaku untuk dipecahkan dengan batu karena penasaran dengan isi di dalamnya. Aku diam saja melihat tingkahmu dan rasa ingin tahumu. Belakangan kau malah terengah-engah dan menyerah. Bilang susah. Aku menutupi mulutku takut kau melihatku sinis tertawa.

Jujur saja, jika waktu bisa kuulang, aku ingin terus saja terkurung dalam tubuh anak-anak. Begitu asyiknya saat pulang sekolah, ramai-ramai mengejar layang-layang putus atau mencari ikan yang terperangkap di cekungan sawah jika kemarau hendak datang. Wajah belepotan lumpur dengan membawa satu ikan sebesar jempol kaki dalam kantong plastik lebih mengasyikkan daripada memikirkan cicilan atau uang bulanan seperti sekarang. Bebas bermain dan tinggal meminta uang jajan. Tapi, detik terus saja berlalu dan semuanya tiba-tiba menjadi kenangan.

Kau dan aku sungguh berbeda. Kau sering menyisihkan uang ayah jika memberimu uang jajan berlebih. Kau lebih suka uang itu ditabung lalu membelikannya majalah Bobo kesukaanmu kala itu. Bukan dibelikan kelereng sepertiku atau kertas gambaran lalu diadu bersama teman-teman. Kata orang-orang kita kembar tapi berbeda.

Baca juga  Taman Hujan

Dalam kotak kayu ini, hanya permainan pistol-pistolan bambu yang paling kau suka. Mengisinya dengan buah buni, lalu bunyi pletak-pletok itu keluar saat pelurunya ditembakkan. Kau bilang suka dengan suaranya. Dengan pistol itu pula aku pernah membuatmu menangis. Kau menolak memberikan sisa uang jajan ayah padaku demi membeli permainan kertas gambaran. Mengadu pada ayah dengan kondisi pipi dan telinga lebam-lebam bulat kecil lucu. Setelah itu aku paham hukuman apa akan diberikan ayah yang menantiku di rumah.

Di sebelah pistol-pistolan bambu, jempolku tiba-tiba mengelus kertas usang bergambar wayang Sengkuni. Dulu, aku sering memainkannya jika pulang sekolah. Kertas gambaran yang berisi puluhan gambar dan harus digunting-gunting sebelum dimainkan. Di baliknya, biasa bergambar logo lalu lintas. Dimainkan dengan tepukan tangan atau diterbangkan. Siapa yang gambarnya selalu telentang ke atas sampai di akhir permainan, dialah pemenangnya. Kertas gambaran yang biasa berisi gambar wayang atau Power Ranger’s. Kau tak pernah mau ikut karena percaya sesuatu yang diadu dengan mengandalkan keberuntungan untuk sebuah kemenangan adalah perjudian.

Sekarang, aku yakin Deon dan Diaz anak kembarku juga tak akan pernah tahu betapa asyiknya permainan ini. Bahkan untuk sekadar percaya jika aku selalu mengatakan “Habiskan makanmu, kasihan nasinya nanti menangis.” Mereka malah mengatakan padaku mengada-ada dan bilang nasi tak punya mata.

Satu-satunya permainan dulu yang pernah aku kenalkan pada mereka hanya tembak-tembakan dari pelepah pisang. Di belakang rumah, mereka melihatku aneh ketika tanganku tiba-tiba memotong pelepah pisang. Aku membuatnya dengan melipat setiap sisi lalu diikat dengan tali. Ujungnya dibuat pegangan seperti sebuah senapan. Sambil guling-gulingan di halaman, berusaha sembunyi di balik pohon, bunyi dor, dor, dor keluar dari bibir kita masing-masing. Mama kalian sebenarnya tak marah jika hanya baju yang kotor terkena tanah. Tahu jika aku ingin mengenalkan permainanku dulu. Tapi, melihat bekas getah di baju kalian saat akan dicuci membuat ia murka. Aku diam saja. Tak ada yang lebih buruk dari beradu kemarahan dengan wanita. Lebih memilih membantu bagaimana menghilangkan noda-noda di baju mereka.

Kadang aku usil juga meledek mereka. Suatu hari Deon memakan buah jeruk bersama bijinya. Aku katakan nanti biji itu bisa tumbuh di dalam perut lalu daun-daunnya menembus kepala. Deon menangis mendengar ucapanku. Diaz yang sedang berusaha mengunyah jeruk tiba-tiba mendadak berhenti. Takut terjadi hal sama. Istriku datang lalu menjewer pipiku. Menceritakan pada Deon dan Diaz jika hal itu tak akan pernah terjadi. Menjelaskan secara rinci teori biologi. Aku menutup mulut, takut senyuman sinisku terlihat oleh istriku. Mana paham anak-anak tentang teori tumbuhnya biji-bijian. Tidur saja masih minta susu.

Baca juga  Keluarga Maling

Andai aku bisa minta maaf tentu aku akan katakan pada anak-anakku jangan ikuti jejak ayahmu ini. Ketika tiba-tiba kertas bergambar Sengkuni itu aku bolak-balik dan gambarnya sama. Beginilah dulu aku bisa selalu memenangkan permainan gambaran. Dua sisi dengan gambar yang sama aku rekatkan dengan lem. Aku tersenyum mengingat kelicikanku dulu tanpa bisa diketahui teman-teman lawanku sampai sekarang.

Sekarang aku baru percaya jika masa lalu bisa jadi cerminan. Masih terus teringat di kepalaku ketika tiba-tiba petugas kepolisian datang ke rumahku lalu menangkapku dengan paksa. Menjalani sidang secara singkat kemudian menjebloskanku dalam penjara. Aku tak tega melihat wajah Deon dan Diaz yang tersiksa saat itu. Juga raut muka kesedihan adik dan istriku. Sebagai sekretaris desa yang sudah dipercaya, bisa-bisanya aku menyimpangkan dana desa. Mungkin benar, tak ada kejahatan yang sempurna. Ketika beberapa orang mengendus kelicikanku tentang aliran uang haram itu.

Tanganku sedikit gemetar. Gambar wayang Sengkuni yang telah basah oleh air mata itu kuremas-remas. Penjara untuk orang sepertiku memang berbeda kelas dari pencuri motor atau pemerkosa. Di sini, aku memang merasakan kesepian. Tapi tidurku tetap nyaman. Aku tak tahu apakah sangkar ini bisa membuatku jera. Tapi aku tak ingin sekali pun anak-anakku mengikuti kekhilafan ayahnya. Akan kukatakan pada mereka bahwa semua perbuatan di dunia ada tanggung jawabnya. Masih jelas kuingat kala itu saat aku bertanya apa cita-cita mereka, apa ingin menjadi pimpinan redaksi majalah seperti Om Dedi, adikku. Mereka serempak menggeleng.

“Kami ingin terkenal, Ayah.”

Terkenal? Aku mengerutkan alis. Aku kira cita-cita mereka jadi guru, dokter, polisi, atau presiden seperti anak lainnya. Tidak. Dengan gaya yang membuatku ingin tertawa, mereka berkata, “Hallo guy’s,” sambil berjingkrak seolah sedang mengenalkan mobil-mobilan barunya kepada pemirsa di kamera depan tablet. Mereka ingin jadi youtuber katanya. Semoga saja mereka terkenal demi kebaikan, bukan terkenal di jagat maya seperti ayahnya karena kejahatan.

Baca juga  Uswatun Hasanah

Kenangan lalu itu tiba-tiba terus berjajar di kepalaku. Dulu, satu-satunya orang yang kubenci di dunia ini adalah adikku sendiri. Di mata ayah memang kau begitu istimewa. Namun, ketika beberapa bulan mendekati akhir masa kesepianku di penjara, istriku tiba-tiba melayangkan gugatan perceraian. Dari sepupuku aku tahu apa yang telah adikku perjuangkan. Kami terlahir juga ditinggal ibu dalam perceraian. Adikku bilang pada istriku untuk tidak mengulang kesedihan masa lalu pada diriku. Agar tidak ceroboh mengambil keputusan. Bagaimana nanti kondisi Deon dan Diaz setelah ini.

Aku paham kenapa hal ini bisa terjadi. Enam tahun penantian tentu bukanlah waktu yang sebentar dan ada banyak biaya yang harus dikeluarkan. Untuk ini pun adikku bahkan rela tak ingin menikah dulu biarpun usianya hampir kepala empat. Membantu semua keperluan keluargaku.

Masih terus terbayang bagaimana dulu saat bocah aku sering memalak memintamu sisa uang jajan dari ayah. Merasa paling berkuasa. Bahkan uang kuliahku tidak pernah terbayar dan habis untuk game daring. Aku tahu apa yang harus kulakukan karena ada kamu yang bisa kumanfaatkan. Sekarang aku baru sadar jika hidupku selama ini selalu jadi beban kalian.

Dalam remang-remang saat merebah dan mataku hendak terlelap, wajah ayah terbayang menatapku murka. Seolah hendak mengatakan bagaimana mungkin aku bisa memberi contoh yang baik pada anak-anakku jika kondisiku seperti ini. Tiba-tiba ponselku berdering dan setelah kuangkat adikku di kejauhan bilang jika ayah saat ini kritis. Berkata jika ayah terus menyebut namaku. Ia bilang keringanan penahanan yang diajukan adikku telah disetujui. Besok pagi aku bisa pulang.

Di kepalaku masih saja teringat bagaimana sepanjang hidupku terus saja merepotkan kalian. Tak punya rasa malu. Pipiku mendadak basah. Sambil sesenggukan, gambar wayang Sengkuni masih saja aku remas-remas di dada. Aku tak tahu apakah aku atau malaikat maut yang lebih dulu menjemput ayahku sebelum aku bisa bebas keluar dari sangkar yang seharusnya membuatku sadar ini. ***

DODY WIDIANTO, lahir di Surabaya. Bergiat di komunitas menulis Writerpreneur Academy. Karya cerpennya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional.

 174 total views,  2 views today

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!