Cerpen, Imron Rosidi, Radar Bojonegoro

Siapa Lagi Ya…?

4
(2)

BARU saja lepas waktu Asar. Tapi, terasa sudah hendak Magrib. Langit begitu gelap. Suasana semakin hening. Sisa hujan sedari siang belum juga reda. Menyisakan gerimis sesekali diwarnai kilat petir. Angin, meskipun desirnya hanya mengibaskan dedaunan di ujung ranting.

Cuaca seperti ini pasti menimbulkan rasa dingin di tubuh. Aku yang duduk di teras rumah belum genap setengah jam, terpaksa melepas gulungan kain sarung di pinggang masih aku kenakan selepas salat Asar tadi. Kain sarung kututupkan kedua kaki yang aku angkat ke kursi panjang tempat dudukku.

Aku kembali menatap jalanan kosong. Tasbih ada dijepitan ibu jari dan telunjuk kembali berputar. Berwirid, astaghfirullah haladzim… Astaghfirullah haladzim.

Belum genap itungan butir tasbih ke sepuluh, aku terpaksa menghentikannya. Ada suara aku hafal tiba-tiba menyapa telinga.

Kreeekkwkk…krewwkkk….!!! Suara khas muncul dari seseorang menyalakan mikrofon. Bisa aku pastikan datangnya dari musala pojok gang, yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaaatuh… Innalillahi Wainna lllaihirojiun.”

Aku memastikannya itu suara Pak Ilham. Muazin musala, yang memiliki suara khas serak, tapi masih lantang. Usianya lumayan tua. Sekitar 70 tahun. “Ya Allah… siapa lagi ya Allah?” gumamku dalam relung hati.

Ya! Siapa lagi? Bukankah tadi pagi sudah ada dua orang yang meninggal? Mak Siyam dan Mbah Rejo, keduanya warga RT tetangga. Untuk mengetahui siapa sebenarnya akan diumumkan Pak Ilham lewat pengeras suara musala, aku bangkit dari tempat duduk. Konsentrasi, memasang telinga mengarah sumber suara.

Belum juga mendapatkan kepastian suara pengumuman, konsentrasiku pecah. Tiba-tiba seseorang berhenti di depan rumah sembari menyapaku. Aku juga sempat kaget. “Ee…Pak Kapten! Tyson, teman ngopine njenengan yang kapundut. Biasa, karena Covid,” kata Sueb masih berada di sadel sepeda pancalnya berhenti di depan rumah.

Sueb, sore itu berkaus jersey salah satu tim sepak bola tidak peduli gerimis membasahi tubuhnya. Melanjutkan kabarnya, kalau Tyson sebenarnya memiliki nama asli Suladi itu sudah dirawat seminggu di rumah sakit. Terdeteksi terpapar virus asal Tiongkok tersebut.

Baca juga  Retak

“Barusan ditelepon dari teman di rumah sakit. Katanya, sejak siang napasnya semakin sesak. Akhirnya tidak tertolong. Sudah dulu ya Pak Kapten. Pandongane untuk Tyson, semoga jembar dan padang kubure, diampuni dosa-dosanya oleh Allah,” tutur Sueb dengan nada cepat.

“Amiiin… ya robbal alamin,” sahutku spontan sembari mengusap kedua tangan ke wajahku.

Aku kembali duduk. Kusandarkan punggungku, karena tanpa sadar tubuhku lemas. Tidak menyangka kalau Tyson terbidik juga dengan ancaman pagebluk ini. Padahal dia orangnya kuat. Badannya kekar. Rajin ikut fitnes.

Karena itu juga rekan-rekannya memanggilnya Tyson. Perawakan dan potongan rambutnya mirip dengan petinju legendaris asal Amerika Serikat itu. “Tyson, kamu orang baik. Banyak orang pasti merasa kehilangan. Selamat jalan Tyson, semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan menempatkanmu di tempat paling layak di sisi-Nya. Amiin,” gumamku.

Bola mata sembab. Berkaca-kaca, tapi tidak sampai menitikkan air mata. Sedih. Maklum, Tyson adalah karibku. Dia kawan setia. Tidak pernah berpaling dari perkawanan. Sekalipun aku sedang dalam posisi jatuh.

“Siap, Kapten! Segera merapat!” jawaban itu selalu terngiang ketika saya ajak ngopi.

Tyson juga pernah menyatakan diri, siap menjaga saya dan keluarga apabila ada yang mengganggu. Semacam bodyguard, tanpa imbalan. Nama Tyson di kota tempat tinggalku ini memang tidak asing. Siapa tidak mengenalnya. Dia preman tobat.

Lama melanglang di ibu kota. Hampir 20 tahun. Persisnya, setelah dikeluarkan dari SMA karena terlibat tawuran antarsekolah. Aku mengenalnya saat sama-sama naik bus malam. Sama-sama hendak pulang kampung, satu jurusan tujuan. Tapi beda kota. Kota aku lebih dekat, sedang Tyson harus menempuh perjalanan sekitar dua jam lagi.

“Kembalikan dompetnya, apa kamu saya borgol di dalam bus ini juga. Saya kapten polisi. Jangan melawan atau coba-coba lari,” ancamku.

Baca juga  Cerita dari Segelas Bir

“Iya… ya… Pak Kapten. Saya akan kembalikan dompetnya,” jawab Suladi alias Tyson dengan muka ketakutan.

Itulah perkenalan mengesankan bagi aku bersama Tyson. Saat itu aku melihatnya habis mencopet dompet seorang ibu, penumpang satu bus malam itu. Sesampainya di salah satu rumah makan suatu kota, bus berhenti makam malam.

Begitu Tyson turun, entah karena apa, tiba-tiba aku memberanikan diri menggertak pencopet untuk mengembalikan dompet yang diambilnya. Spontan aku berlagak mengaku sebagai seorang kapten polisi. Padahal, aku sosok jurnalis bertugas di ibu kota.

Guobloknya saya, lha kok percaya. Ternyata polisi gadungan,” ujarnya.

“Tapi gak apa -apa, saya sebenarnya punya uang banyak kok. Saya juga lupa, lha wong saya pulang ini rencana berniat tobat.”

“Namaku Suladi, biar saya panggil sampean Kapten saja. Mampir kalau lewat atau pas ke kotaku.”

Hehehehe…” Aku dan Suladi ngakak bersama. Keras sekali, hingga sempat membuat penumpang bus yang usai makan untuk melanjutkan perjalanan.

Selang beberapa tahun aku dipindahtugaskan. Aku kaget bercampur senang, kota tujuan tempat kerjaku di kota Tyson. Mencari dan menemuinya ternyata juga tidak sulit. Banyak perubahan dari sosok Tyson. Wajahnya tampak lebih bersih.

Alhamdulillah! Sesuai direncanakan, Tyson menjadi orang lebih baik. Kini, dikenal dermawan dan memiliki sosial tinggi. Punya rumah sendiri, tinggal dengan istri dengan seorang anak. Lebih membanggakan lagi, dia dikenal suka mengundang anak yatim ke rumahnya sekadar makan-makan dan memberi tali asih.

“Kecil-kecilan, Pak Kapten, Insya Allah buat nglebur dosa,” tuturnya dengan suara pelan.

Sekalipun begitu, Tyson tetap bersahaja dan ramah. Senang cangkrukan ngopi. Bagi aku tinggal di kota baru, Tyson satu-satunya kawan dan menjadi saudara sendiri. Apalagi kalau ngopi, bisa dibilang ada aku pasti ada Tyson.

Baca juga  Darah

Tapi, kini Tyson dipanggil Yang Maha Kuasa. Seperti kebanyakan orang akhir-akhir ini. Tyson mati juga akibat terpapar Covid-19. Mungkin ini sudah takdirnya. Aku sebelumnya sering mewanti-wanti. Berhati-hati dan waspada ancaman virus ini dengan selalu menaati protokoler kesehatan.

Sering-sering mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan menjaga jarak. Dia mengiyakan. Tapi saya sering melihatnya abai. “Kalau waktunya mati, ya mati. Kalau memang sudah takdir, mau bagaimana lagi. Insya Allah saya siap, Pak Kapten,” katanya suatu malam saat ngopi.

Dan, ternyata itu ucapan dari ngopi barengnya besamaku. Aku masih ingat betul apa diucapkan. Ingat betul dengan cerita dan canda bersamanya. Suladi alias Tyson, sahabat karib Pak Kapten yang mati karena dikabarkan terpapar Covid.

“Aloooo….  Ngelamuni apa, Mas. Masak sampai tiga kali tak sapa kok gak dengar,” suara istriku mengejutkanku sembari membawakan secangkir kopi.

“Eee… Ya Allah…  Maaf gak dengar. Itu lho… dengar tidak pengumuman musala tadi. Tyson kapundut. Katanya sih kena Covid,” jawabku sambil mengatur napas.

Hari semakin sore. Gerimis tak kunjung reda. Sementara dari kejauhan terdengar suara lengkung sirene ambulans. Semakin mendekat kian keras suaranya. Suara serupa sore itu sudah kali ketiga aku dengar. Biasanya, pasien Covid, yang kabar kepastiannya baru bisa dilihat dari berita media massa.

“Wui…wui…wui…wui…”

Mesti tidak terlihat melintas, dari sinar menyebar warna merah pasti itu dari sinar lampu sirene ambulans. “Ya Allaah…siapa lagi lagi ya…?” ***

IMRON ROSIDI. Biasa dipanggil Kapten. Jurnalis dan penasihat PWI Lamongan. Pernah berprofesi lama di Jawa Pos Radar Lamongan.

Average rating 4 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: