Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Yang Kita Tinggalkan, Belum Tentu Tidak Baik

4.4
(20)

Tahun 2013 akhir atau 2014 awal ketika novel pertama saya (akan) terbit di Qanita, Mizan, saya terhipnosis untuk menulis lebih banyak novel. Saya bergairah sekali mengerjakan beberapa draf dalam waktu bersamaan. Konsekuensinya, lebih enam tahun saya meninggalkan cerpen sebelum kembali lagi pada pertengahan 2020. Entah bagaimana, saya seperti menemukan tantangan kegembiraan berproduksi di sana. Beberapa pertanyaan kawan-kawan tentang tidak produktifnya saya nyerpen lagi itu saya jawab seperti ini: “Mungkin karena semua media massa sudah saya tembus.” Menurut saya, itu jawaban yang aman. Paling tidak, karena memang begitu adanya. Dalam kesempatan yang lain, saya memberi jawaban lain, misal: “Saya sedang sibuk dengan novel!” atau ketika pertanyaan itu ditujukan pada 2017 atau setelahnya saya akan membawa-bawa kesibukan di Benny Institute sebagai penyebabnya. Jadi, sebenarnya, saya bukan sedang menjawab pertanyaan tentang vakumnya saya menulis cerpen, melainkan saya sedang menceritakan kesibukan terkini saya. Itu saja. “Jadi, kamu benar-benar mau meninggalkan cerpen?” Tentu saja pertanyaan dari salah seorang pembaca itu tidak akan saya jawab dengan gelengan kepala. “Saya akan kembali, tapi tidak tahu kapan,” saya coba memberikan jawaban diplomatis. “Lagi pula, saya masih menulis di Jawa Pos,” saya merasa perlu memberi tahu. Ya, dua belas tahun menulis, Jawa Pos adalah satu-satunya koran yang tidak putus menerbitkan cerpen saya. Hal ini tak terlepas, khususnya sejak 2014, peran redaktur budayanya, Arief Sentosa, yang kerap mengingatkan saya untuk mengirim cerpen terbaik saya ke korannya.

“Menulis novel jauh lebih menantang dan asyik daripada nyerpen, Benn?”

Saat pertanyaan itu dilayangkan, jawaban saya mungkin iya. Artinya, kecenderungan pun memiliki durasi. Besok-besok belum tentu saya lebih menyukai novel. Bahkan, dalam urusan kemenantangan, saya merasa menulis skenario satu-satunya jenis kepenulisan yang belum mampu saya tuliskan dengan meyakinkan.

Ketika Pandemi datang dan banyak rencana tinggal rencana dan semua kesibukan dialihkan ke rumah saja, saya rindu kembali nyerpen. Tidak mudah menulisnya lagi. Saya butuh latihan lagi. Tapi, saya menulis lagi medio 2020. Mengirimkannya ke koran dan media daring. Dan berlanjut hingga hari ini. Saya meninjau ulang masa-masa vakum dan merasa sangat bersyukur tidak (pernah) merendahkan cerpen, genre yang pertama kali mempertemukan saya dengan dunia sastra, tak terkecuali sastra koran, hingga akhirnya saya menggantungkan hidup dari menulis sampai hari ini—tentu saja saya tidak semata menulis di koran.

Baca juga  Cahaya Akan Mengambang di Hunza

Dalam urusan menulis naskah lakon, saya juga mengalami hal serupa. Setelah menulis “Membunuh Shakespeare” pada 2011, saya baru kembali lagi 5 tahun kemudian untuk kemudian menulis “Bila Mencintai Dayang Tari” (2016) dan “Balada Suminah” (2017). Saya justru menulis—cum menyutradarai—beberapa naskah lakon dengan penuh gairah hingga 2020. Berdirinya Teater Benny Institute yang dicikal-bakali almuni Benny Institute Acting Class pada 2017 menjadi pemompa produktivitas saya. Salah satu akumulasi sekaligus penandanya adalah saya merilis Lubuk-lubuk d(ar)i Lubuklinggau Mei lalu.

Momentum untuk kembali jarang yang terduga. Ia bisa meledak kapan dan di mana saja.

Masa-masa meninggalkan aktivitas tertentu, berdasarkan pengalaman saya, disadari atau tidak, adalah upaya penyegaran atau mencari jalan keluar atas kebuntuan, agar kita kembali menggiatinya dengan semangat melimpah, variasi dalam berkreativitas, dan mutu yang diharapkan meningkat di kemudian harinya.

Sama halnya dengan makanan favorit, apa pun itu, selalu ada kondisi dan situasi yang menyulut kita untuk mencoba makanan-makanan lain dengan sejumlah harapan: menikmati sajian baru, mencari selingan, atau tanpa sadar membuat bandingan atas makanan favorit selama ini. Dalam masa itu, kita bisa saja secara refleks bilang kalau makanan-makanan tertentu rasanya lebih enak dan lezat. Tapi, itu spontanitas dan insidensial, bukan rutinitas, sebagaimana kedekatan kita dengan nasi, sambal, dan air putih, sebagaimana kedekatan kita dengan makanan favorit. Merendahkan makanan favorit ketika kita sedang bertemu makanan baru yang lezat tentu saja bukan tindakan yang bijaksana. Apalagi sampai menyeret-nyeret kemampuan pemasaknya (koki) yang bisa saja itu adalah istri atau suami atau anggota keluarga anda lainnya atau orang lain sama sekali yang telah menyajikannya untuk kita.

Tapi, urusannya tidak seliniear di atas ketika seseorang meninggalkan sebuah urusan karena kegagalannya beradaptasi dengan habit baru, orang baru dalam lingkaran, atau menaklukkan egoisme butanya, seperti penyanyi meninggalkan panggung karena tidak ma(mp)u mengasah kualitas vokal, selebgram kehilangan program TV karena ungkapannya ketika mencicipi berbagai menu hanya itu-itu saja, pengelola taman bacaan yang merutuki sepinya pengunjung karena tak mau melakukan perombakan desain dan kegiatan perpustakannya, seorang organisatoris sibuk menyebarkan aib perkumpulan ke publik demi meraih simpati, atau penulis cerpen yang gagal menaklukkan media masaa karena tulisannya tidak memenuhi standar sebuah atau beberapa koran. Kelompok ini, rentan menyalahkan produser yang dianggap pilih kasih, penanggung jawab program yang tidak lagi menyukainya, pengunjung yang dilabel pemalas, atau redaktur cerpen yang dianggapnya kurang wawasan sehingga mengabaikan karya-karya terbaiknya.

Baca juga  Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang

Apakah yang kita pelajari selama vakum?

Bagi yang melakukannya karena memang ingin menciptakan jeda, hal-hal baru yang, disadari atau tidak, akan memberi kontribusi dan perspektif lain (baca: segar) dalam berkarya. Makanya, ketika kembali, entah kapan itu, kita tak punya beban. Kita bahkan memiliki energi baru atau teknik baru dalam bernyanyi, mencicipi makanan, menulis, mengelola perpustakaan, berkomunitas lagi, memancing, atau presentasi.

Yang gegabah, tidak akan belajar apa-apa. Bagi mereka, yang lalu ya masa lalu, sudah lewat dan merupakan bagian dari kenangan dan ingatan tidak penting. Tak jarang, yang seperti ini akan merendahkan cum menganggap apa-apa yang dulu kita lakukan sebagai bagian kehidupan yang tidak mau diulang. Yang menyedihkan, kita tanpa beban menyalahkan pihak-pihak yang memiliki peran dalam membangun masa lalunya sekaligus bernostalgia dengan kisah-kisah yang sempat berpihak padanya. Dalam kelompok ini, kekecewaan menjelma dendam yang mereka karang sendiri alasannya. Maka, ketika kembali suatu hari (ya orang-orang seperti ini biasanya memang akan kembali), dengan kemampuan retorika yang memadai, atau bisa saja pas-pasan, akan menciptakan dalih-dalih yang kelihatannya meyakinkan, padahal kering dan … imbisil.

Ketika meninggalkan sesuatu, selama sesuatu itu tidak merugikan atau menyengsarakan umat manusia—apalagi terang benderang ia keterampilan atau aktivitas positif atau kreativitas yang bisa menginspirasi orang lain, tentu kita bisa memilih untuk tidak gegabah mencibirnya, seakan-akan menyanyi adalah pekerjaan berdosa, seakan-akan berburu kuliner adalah kemubaziran, seakan-akan mengelola TBM adalah buang-buang waktu, seakan-seakan berkomunitas adalah upaya mencari panggung bagi yang tak dianggap di tempat lain, seakan-akan nulis cerpen di media massa adalah kedunguan. Pikirkanlah dengan saksama, di mana wajah kita harus disimpan kalau realitas itu terkuak dan berteriak bahwa memang suara kita tak lagi merdu, lidah kita sudah tak sesensitif lagi dengan menu-menu, kita yang malas memperbarui koleksi buku, atau kita tak lagi menulis di koran bukan karena sudah tidak menulis atau membenci koran, tapi, paling tidak pada mulanya, karena cerpen-cerpen kita lebih banyak ditolak. Ah.

Baca juga  Kekacauan di Mata Serangga

Yang kita tinggallkan, belum tentu tidak baik. Buat kita, mungkin iya. Tapi, ia bisa saja sangat baik dan memberikan faedah bagi orang lain. Yang kita tinggalkan, belum tentu selamanya akan ditinggalkan. Jadi kalau kita memang sedang menikmati mainan baru, kita bisa bersenang-senang tanpa harus merendahkan mainan lama. Yang kita tinggalkan saat ini, belum tentu tidak baik selamanya. Bisa saja karena kita sudah tak cocok lagi atau bahkan sudah tak mampu lagi berada di sana. Yang kita tinggalkan, belum tentu tidak baik. Jangan-jangan, ia memang sudah tidak lagi relevan bagi kita, bagi masa kita, bagi jalan dan usia proses kreatif kita.

Menyitir Harari dalam Homodeus, yang menyebabkan kerusakan di muka bumi ini bukan eksploitasi, tapi irelevansi. Kita tak mesti memaksa diri untuk berkarya dan mengerahkan segala upaya merendahkan yang lain untuk kelihatan relevan dan layak mendapat tempat. Kita cukup mengerjakan urusan sekaligus menjalankan peran dan bagian kita masing-masing karena, ya, belum tentu orang-orang memedulikan dan menghitung keberadaan kita juga, sebagaimana kita yang kerap memandang sebelah mata pada apa yang ditinggalkan dan orang-orang yang masih saja mengerjakannya. Jangan-jangan kita saja yang “merasa”.

Momentum untuk kembali jarang yang terduga. Ia bisa meledak kapan dan di mana saja. Tinggal kita, mau kembali dengan gembira karena sudah menghargai proses, atau dengan kepala tertunduk karena pernah mendiskreditkannya. Bahkan, kalau kita tidak mau kembali pun, menghormati masa lalu sungguh bukan kesalahan, aib, apalagi dosa perjalanan hidup. ***

Lubuklinggau, 21 Juli 2021

BENNY ARNAS menulis 26 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 20

No votes so far! Be the first to rate this post.

5 Comments

  1. Farov

    Seharusnya Benny ini diundang ke acara DKJ malam td. Dan menjadi pembicara pamungkas dengan membawakan esai ini. Kebayang sih bakal seru. Bakal ya ya ya … gitu deh. Anyway, saya sepakat dengan suara Benny lewat esai ini.

    • Bamby Cahyadi

      Benny Arnas adalah penulis di luar lingkaran mereka, jadi sangat mustahil bisa satu panggung dengan mereka

  2. Kal

    Kayaknya ini tanggapan diskusi cerpen yang pembicaranya udah ninggalin cerpen tu wkwkwk

    • Sastra Jamu Puyeng

      Yang mereka hanya “mengakui” Nirwan Dewanto sebagai editor sastra koran. (ini asumsi saya ketika menyimak diskusi entu)

  3. Destri

    DKJ buat acara segeng-gengnya aja. Ngomongin apa. Pembicaranya apa. Apa lagi salah satu pembicara yang sengak minta ampun. Pas sekali ngasih contoh, bah Koran Merapi! 🤣🤣🤣 Mo ketawa!

Leave a Reply

%d bloggers like this: