Cerpen, Mufti Wibowo, Suara Merdeka

Rose dan Anjingnya

5
(1)

Seekor lalat hampir mampus, karena kelelahan di bawah kaca jendela kamar Rose. Kaca jendela itu selalu tampak bersih seolah-olah tak pernah ada batas antara taman bunga di halaman samping rumah dengan kamar Rose.

Setengah jam lalu, lalat yang berdengung hebat itu mengolok-olok Rose yang sedang menikmati cokelat panas dalam mugnya—kebisaan yang dilalukannya hampir setahun terakhir—pada jam, posisi duduk, ekspresi wajah, dan semua yang nyaris tak pernah berubah, kecuali buku-buku yang ia baca.

Rose lalu membuka sedikit celah lalu meniup bangkai lalat itu. Tiba-tiba, ia menyesal karena tak melakukannya lebih cepat. Setidak-tidaknya, setengah jam lalu, ia masih bisa mendengar dengung sayap lalat itu. Sejam lalu, ia malah sempat merekam pergulatan lalat itu dalam ingatan saat jeda membaca—merasa kering di matanya. Saat itu, ia bahkan punya cukup waktu untuk memikirkan bagaimana lalat itu bisa masuk dan terjebak di kamarnya yang sejak dua minggu lalu jendelanya selalu tertutup rapat dan terkunci.

Tapi, kemudian, ia justru merasakan pedihnya nasib sial lalat yang saat itu telah menjadi bangkai dan dalam hitungan menit akan diusung kawanan semut—sebelum berpesta. Ia meneteskan air mata yang hangat. Ia sedang memikirkan nasib lalat itu yang jauh lebih baik darinya—berjuang untuk kebebasan dan mendapat ganjaran kematian yang terhormat.

***

Cermin itu telah membuat Rose berjumpa lagi dengan apa yang sebelumnya pernah ia miliki, tubuh yang indah. Untuk itu, ia mesti menanggung nasib buruk sembari menunggu bahtera pernikahan itu kandas. Mulanya ia menganggap itu akhir sebuah kutukan—membayangkan diselamatkan sampan Khidir dari karam.

Lamunan Rose itu dibuyarkan oleh kilatan ekor cahaya dari sepasang mata yang muncul secara misterius di kamarnya. Mata itu bisa muncul di mana saja—ponsel, lembaran buku, kamar mandi, cermin, lemari es, atau pakaian, bahkan pernah di dalam dompet.

Semua bermula pada hari itu—dalam sebuah ruang wawancara kerja. Rose mesti bekerja untuk anak dan anjing kesayangan mereka. Suaminya telah bersemayam di perut-perut ikan di dasar laut, tanpa meninggalkan sedikit pun warisan. Rose tahu, ia akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan itu karena satu alasan yang tak dimiliki para pesaingnya. Calon bosnya adalah pemilik sepasang mata dengan ekor cahaya itu. Bertahun-tahun sebelumnya, mereka adalah sepasang kekasih.

Baca juga  Wanita Bermata Tersenyum Itu Telah Pergi

Merasakan kecanggungan Rose, lelaki itu menegaskan bahwa segala sesuatu di ruangan itu berada dalam koridor profesionalisme. Tetapi, lelaki itu mengakhiri pernyataam itu dengan intonasi yang belum selesai, menggantung. Rose waspada. Sebagaimana orang yang pernah mengenalnya baik, Rose menyelidik melalui mata anjingnya yang tetap sarat daya pikat—jernih, tenang, sekaligus dalam.

Rose bertanya mengenai anjing lelaki itu. Bukan anjing yang biasa ke salon seminggu sekali dengan makanan yang hanya bisa dibeli di pet shop. Mereka adalah anjing kampung yang datang padanya dalam keadaan papa. Tubuh mereka tegas menunjukkan lekuk dan tonjolan tulang iga dan rengkorak. Tentu bisa diduga mereka berbulu dekil. Mereka menjulurkan lidah sepanjang hari di depan rumahnya—mengharap nasib baik.

Ibunya—yang bertahan hidup dari toko serba ada yang diberikan ayahnya sebagai kompensasi poligami yang berdalih penyakit gula yang merenggut gairah syahwatnya—memberi makan anjing-anjing itu dua kali sehari. Mungkin karena ia anak tunggal, ibunya tak keberatan. Meskipun hanya nasi dari beras kualitas rendah dan jeroan ayam yang setiap pagi ia ambil di tempat potong ayam ibu Rose. Sulit membayangkan takdir menyebut mereka kemudian tak berjodoh.

Yang ditanya tidak mejawab, malah balik bertanya. Dada Rose agak sesak saat ditanya perasaannya pada anjing-anjing itu.

Sejak awal, Rose dilarang ibunya memelihara—bahkan hanya berdekatan dengan—anjing. Ibunya tak suka pada perangai anjing yang setia. Ibu Rose mewarisi kesetiaan anjing pada suaminya. Kesetiaan yang dibalas dengan kenyataan suaminya yang justru ditemukan mati di pelukan perempuan lain. Ibunya tak menginginkan Rose memiliki kesetian macam itu.

Lelaki itu tersenyum. Mungkin ia melihat Rose begitu menyedihkan seperti ijazah yang tak berguna sedikit pun dalam keadaan seperti saat itu. Seperti nasib anjing-anjingnya dulu yang dibunuh penduduk kampung hanya karena alasan jijik atau najis. Usahanya membela hak hidup bagi anjing-anjing itu berakhir sia-sia. Sesuatu yang ia sesali seumur hidupnya.

Begitulah nasib cinta dan kesetiaan. Ibu Rose dan ibu lelaki itu menjadi korban penghianatan. Kesialan perempuan adalah karena memiliki sifat setia yang diwarisi dari anjing. Mereka dihukum atas kejahatan yang tak mereka lakukan.

Baca juga  Kenangan Memang Tidak Pernah Tahu Diri

Lelaki itu mengatakan tak ingin berlarut dengan pembicaraan memilukan semacan itu. Ia lalu bertanya secara profesional, apa pendapat Rose tentang pekerjaan itu. Rose terlihat tak ingin buru-buru menjawab—ia ingin menguasai keadaan. Lelaki itu melonggarkan ikatan dasi mahalnya yang seolah sengaja diikatkan istrinya dengan kencang. Ia berusaha duduk dalam posisi yang lebih santai—menyandarkan punggungnya. Lalu, ia mendengus seakan-akan menekan sesuatu yang menggumpal, menyumbat, memberi beban di dadanya—untuk dimuntahkan. Dada Rose menghangat saat menyadari kancing baju lelaki di hadapannya yang paling atas telah lepas. Ikatan dasinya telah demikian longgar.

Dengan ketenangan yang Rose sangat kenal, lelaki itu mengingatkannya bahwa ia belum tentu diterima untuk pekerjaan itu. Apa yang Rose tunjukkan di ruangan itu akan menentukan nasibnya kemudian. Dia pula menjelaskan ada dua orang lain yang menjadi pesaing Rose untuk posisi itu. Sejauh itu, dua pesaing Rose memiliki kualifikasi yang jauh lebih mumpuni. Tentu saja, sejak menyelesaikan studi magisternya, Rose belum pernah bekerja.

Dengan nada bicara yang tak sewajarnya, lelaki bermata indah itu mengatakan bahwa hari itu bukanlah masa lalu yang datang terlambat. Ia melanjutkan, bukan pula masa depan yang datang terlalu cepat.

Rose bergeming demi medengar kalimat-kalimat bersayap yang berlompatan dari mulut lelaki yang tak mengubah seleranya pada aroma parfum yang pernah ia kenal dengan sangat baik. Rose bukan sedang menunggu kalimat lanjutan dari lelaki itu, melainkan memang tak tahu harus bereaksi apa. Sepi menguasai ruangan wawancara.

Rose justru tengingat pada peristiwa hampir sepuluh tahun sebelumnya. Saat itu, lelaki itu bertindak gegabah kepada ibu Rose untuk melamar Rose—sementara ia belum lulus kuliah. Kurang dari enam bulan kemudian, Rose menikah dengan lelaki lain yang kemudian membocori sendiri bahtera yang ditumpangi Rose, anak, juga anjingnya. Kegilaan lelaki yang mesti dibayar dengan trauma mendalam pada istri dan anak perempuannya.

Rose benar-benar tak bisa menguasai keadaan saat lelaki itu memohon pada Rose untuk menjadikannya anjing peliharaan. Ia memohon-mohon untuk tinggal di hati Rose dan berjanji akan menjadi anjing penjaga yang manis, dan tentu setia.

Baca juga  Menembak Mati Tujuh Orang

Rose bukan meragukan ketulusannya. Tapi, Rose bukan tak tahu kalau ia sendiri adalah anjing peliharaan bagi majikannya yang lain.

Rose berusaha bersikap wajar setelah menyadari nada bicara mereka yang tiba-tiba berubah sendu. Rose berpikir, seekor anjing takkan mungkin memiliki dua majikan yang tinggal dalam satu atap.

Lelaki itu tahu ia telah membuat Rose gelisah. Dan, ia tahu bagaimana memanfaatkannya. Lelaki itu berpikir satu-satunya yang akan menghambat rencananya adalah ketakutan Rose untuk melanggar larangan ibunya untuk memelihara anjing.

Tidak, lelaki itu salah. Rose sama sekali tak meragukan ketulusan cintanya. Sejak awal, Rose memang tak pernah berhasil membunuh cintanya pada lelaki itu.

Lelaki itu mengatakan Rose pasti akan diterima untuk pekerjaan itu. Rose hampir tak bisa menahan diri—ia tahu berada dalam situasi yang akan membuat siapa pun akan salah tingkah. Beberapa detik kemudian, Rose benar-benar gelagapan, sebab lelaki itu dengan tenang mendaratkan bibirnya di tempat anak perempuan Rose biasa mengais kata-kata manja.

***

Sepasang mata melesat liar dengan ekornya yang sebelumnya khidmat menikmati keindahan tubuh telanjang Rose dari dalam cermin. Sepertinya, mata itu terkejut dengan kehadiran anak perempuan yang tiba-tiba menindih tubuh Rose sebelum memberikan pelukan dan menghujani wajah Rose dengan ciuman.

“Ma, bolehkah Luci menelepon Oma dengan ponselmu?”

“Tentu saja, bolehkan Mama tahu apa yang akan kalian bicarakan?” goda Rose.

“Terima kasih, tapi itu rahasia.”

“Baiklah, tapi Luci Sayang, sepertinya kamu melupakan sesuatu.”

Bocah perempuan itu lalu bergegas pergi dari kamar Rose dengan membawa ponsel. Dari kejauhan, Rose mendengar samar-samar suara anaknya menghardik anjingnya yang mengekor. “Bukankah sudah kukatakan, Mama tak suka kamu masuk ke kamarnya!” ***

Fakuntsin, 20-21

Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga.

 415 total views,  1 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: