Bangka Pos, Cerpen, Kartika Catur Pelita

Ibu yang Menangis Darah

5
(2)

Lastri Setiawati. Perempuan yang masih tampak kecantikannya—walau usianya sudah enam puluh empat tahun terpekur, di balik kisi-kisi jendela kamarnya. Seorang diri. Sendirian. Sunyi. Ia menghela napas panjang berulang. Mengangkat wajah. Sejenak ia memandangi langit senja.

Lembayung di langit terlihat begitu indah. Sayangnya hidupku tak pernah seindah itu, gumamnya. Terbayang hari-hari yang dilaluinya bersama suami dan anak-anaknya. Ia sangat menyayangi lelaki yang telah melamarnya dan telah bersumpah indah pada  akad nikah,   berjanji akan menyayanginya. Lelaki itu telah berjanji akan menjadi suami yang baik, bertanggung jawab. Suami yang memberi perlindungan dan kasih sayang pada keluarga. Tempat berbagi suka duka untuk istri.

Ayah yang bisa jadi panutan bagi anak-anaknya. Padahal kenyataannya, jauh panggang daripada api. Dia bukan suami yang baik, bukan sosok yang layak jadi panutan istri, apalagi anak. Sebagai kepala keluarga seharusnya dia bertanggung jawab, menafkahi anak istri, bukan malah menelantarkannya.

“Berapa sebenarnya uang gajimu, Pak? Sebagai istri aku ingin tahu.”

“Tak perlu. Uang gaji itu hasil kerjaku, jadi aku yang berhak mengaturmu, memberikan uang seikhlasku.”

“Apa maksudmu, Pak. Kita hidup berumahtangga. Kebutuhan untuk kita bersama. Untukmu, untukku, untuk anak-anak. Anak-anak semakin besar membutuhkan banyak uang. Bayar sekolah, beli seragam, beli ini-itu.”

“Dasat perempuan cerewet.”

“Aku bicaraa seperti ini supaya kau tahu. Bukannya aku cerewat, bukannya aku ingin mengaturmu.”

“Sudah, ah, aku capek setelah bekerja. Nanti malam aku piket. Aku ingin tidur.”  Lelaki itu bukannya masuk kamar, tapi malah mengambil jaket dan menaiki motornya.

“Katanya mau tidur, kok malah pergi?”

“Aku ingin tidur di pos hansip atau di kuburan. Aku bosan mendengar kecerewetanmu!”

***

Sebagai ayah, seharusnya ia memberi teladan, bukan kesukaran-kesukaran bagi anak istri. Sebagai istri, Lastri tak menuntut banyak pada Laksmana, tapi semakin hari, semakin usai perkawinan berumur, semakin usia bertambah menua, dia semakin sulit mengerti, semakin tak bisa memahami apa sebenarnya kemauan suaminya. Pengorbanan yang telah dilakukannya atas nama cinta terasa sia-sia. Biduk yang mereka kayuh semakin lama semakin terterpa ombak, dan dipermainkan badai. Biduk cinta itu nyaris beberapa kali tenggelam.

Baca juga  Saronay dan Bulan Bulat

“Saya berpesan agar ibu bisa menjaga suami Ibu. Suami Ibu mengejar anak gadis saya, yang masih bau kencur. Beberapa kali membawanya pergi. Kami sudah menasihatinya. Tapi ia nekad. Anak kami telah diguna-gunai suami Ibu. Ibu harus bertanggung jawab jika sampai terjadi hal buruk pada anak kami, kami akan menuntut suami Ibu. Biar suami Ibu dipecat!” Serombongan orang mendatangi rumahnya. Ingin memberi pelajaran pada suaminya. Demi cinta, ia menyembunyikan sang suami di kolong ranjang. Andai ia istri tega, ia akan membiarkan orang-orang menghakimi suamianya. Karena perilaku busuknya.

“Sebenarnya apa yang telah kau lakukan pada anak gadis orang tadi?” ia bertanya perlahan, menahan gemuruh di dadanya. Ini bukan yang pertama kali ia mendengar suaminya main gila dengan seorang perempuan. Berulang-ulang. Ia menahan sakit. Menahan luka

“Mereka salah paham, Bu. Anak gadis mereka ingin menjadi tentara. Aku melatihnya baris-berbaris, Olah raga, ketahanan fisik. Mereka salah paham. Sudahlah. Tak ada guna dibahas!”

“Tapi kata mereka kau membawanya pergi. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan, Pak. Ingatlah. Kau memiliki anak perempuan. Kau jangan berbuat tidak-tidak. Nanti kena karma.”

“Kau ini ngomong apa? Lebih percaya mulut orang lain daripada mulut suamimu sendiri. Kau ini istri parah, malah mendoakan hal buruk terjadi pada anak kita. Kau ini istri macam apa?!” Plak-plak-plak. Laksmana marah dan buas menarikan tangan. Ia tak kuasa melawan. Entah, mengapa ia membiarkan dirinya disakiti. Pernah suatu ketika ia melawan ketika suami memukulnya, tapi balasan suaminya lebih kejam. Lastri diikat pada sebuah ranjang, diselomoti puntung rokok, kesakitan, dan Laksmana memaksanya berhubungan badan! Oh, Lastri sering berpikir, apakah masih pantas dia menyelamatkan biduk itu? Bukankah dia sendiri yang dulu memilih biduk itu beserta nahkodanya. Ah, penyesalan mengapa selalu datang belakangan?

***

Lastri Setiawati memandang senja yang telah hilang ditelan malam. Ia menyalakan lampu bohlam, ketika pandang matanya tertumbuk pada pigura perkawinannya yang sampai hari ini masih terpajang di dinding kamarnya. Lastri—perempuan yang rambutnya separuh memutih itu tersenyum samar, bermacam rasa hinggap ketika dia terkenang masa lalu. Masa lalu yang manis, masa lalu yang asam, getar, masam, juga pahit.

Baca juga  Kedatangan Renggali

Dahulu ia terbuai pada pesona kemilau yang dimiliki Laksmana Kusuma Wijaya. Lelaki itu gagah, tampan dan jantan. Sayang, mata keranjang.

Dahulu ketika mereka berpacaran, kedua orang tuanya sudah menasihatinya untuk berpikir matang-matang sebelum memutuskan menikah dengannya.

“Menikah itu jangan hanya berpikir manisnya saja, Nduk. “

“Apa maksud, Ibu?”

“Pernikahan bukan semata demi melampiaskan hasrat, nafsu kesenangan, namun pernikahan harus berlandaskan kasih sayang pada pasangan. Itu sangat penting. Cukuplah ibumu yang mengalaminya, mendapatkan suami yang ringan mulut dan tangan seperti bapakmu. Kamu jangan meniru Ibu.”

“Maksud Ibu, Mas Laksmana akan berbuat seperti ayah. Tidak, Bu, Mas Laksmana baik, tak pernah memukul, bahkan mencubit. Juga tak pernah bicara kasar pada Lastri.”

“Syukurlah kalau begitu. Tapi kalian masih pacaran, belum menikah. Saat menikah sifat asli seseorang baru muncul. Saat pacaran yang ada hanya kemanisan semu. Setelah menikah kau jangan terkejut jika sikap manis berubah pahit, masam, getir, atau malah pahit.”

Dia tak percaya petuah orangtua. Tapi ia yang nekad. Atas nama cinta ia merengek-rengek memohon restu orang tuanya. Separuh hati mereka merestui. Mungkin karena ini keadaan keluarganya, kehidupannya bagai meja berkaki tiga, timpang. Tak utuh. Setelah menikah, sang suami menunjukkan belangnya. Ia selingkuh, berulang kali, menikah siri dengan wanita-wanita jablai. Laksmana tega, memberinya madu tiga. Seribu luka harus ditanggung Lastri Setiawati.

Pernah terlintas dalam benaknya untuk bercerai dari Laksaman, tapi dia takut menyandang status janda. Ia memilih bertahan, demi anak-anak, juga demi sepotong hatinya, yang diam-diam masih menyimpan segumpal harapan untuk dirinya.

Tapi atas nama cintakah jika sampai hari ini masih bertahan. Perkawinan mereka tak utuh, tak bercerai, tapi sudah pisah ranjang dan tak tinggal satu rumah. Apa yang sebenarnya dicari? Makna pengorbanan atas pilihan hidup? Inikah kejamnya cinta yang harus ditanggungnya seumur hidup? Entah.

Setidaknya dalam sisa hidupnya ia ingin menjadi ibu yang baik. Lastri Setiawati membuktikannya ketika si suami main gila, ia tak membalas berbuat busuk. Ia memilih di rumah. Membesarkan permata hati dengan susah payah berselaput luapan kasih. Walau saat ini ia dilanda gamang, ketika kabar buruk itu datang dua hari tadi, siang-siang serupa bom menyalang yang membuatnya limbung.

Baca juga  Di Sekitar Lukisan Bermata Kelabu

“Benarkah? Jangan mengarang dusta, jangan menyebar fitnah!”

“Bu.”

“Aku tak ingin mendengarnya.”

“Saya datang ke sini karena kasihan pada ibu.”

“Aku tak percaya.”

“Sebagai Ibu seharusnya Ibu bisa menjaga anak. Tak membiarkannya binal….”

Tamu yang baru sekali bertemu dengannya itu berani melukai perasaannya! Tidak tahukah bahwa, ia rela jadi pembantu, ia rela berkubang dengan kayu bakar, aroma deterjen, agar anak-anaknya tak salah jalan. Ia tak memilih ikut bejat seperti suaminya, agar anak-anaknya utuh. Tapi kenyataannya kini, ia merasa ditimpuk sebongkah tahi kerbau di dahinya!

***

Lastri Setiawati mencoba tabah, menelan kenyataan pahit ini, walau hatinya telah tercerai berai, remuk redam, tapi siapa lagi yang bisa membalut luka, selain sang Pencipta. Jika peristiwa kelam ini harus mengaluri jalan hidupnya. Ia rela. Ia pasrah pada garis takdir-Nya. Pada senja yang indah ini, perempuan tua yang masih tampak kecantikannya itu menangis darah hati. Ia menangis melihat—seorang perempuan yang mirip dirinya—terpancang di langit-langit rumah. Sementara, seorang lelaki seumuran dirinya mencumbu gadis kencur di atas ranjang pengantinnya—di bawah jasad yang menggantung! ***

Kota Ukir, 11 Mei 2018-1 Desember 2019

Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1971. Prosa dan puisi dimuat di Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Kartini, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, Radar Bojonegoro, Sabili, Annida, Analisa, Lampung Post, Soeara Moeria, Bangka Pos, Metro Riau, Republika, Media Indonesia, Kanal Sastra, Nova, dll. Menulis buku fiksi “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta, “Kentut Presiden.” Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: