Cerpen, Hafizh Pragitya, Koran Tempo

Museum Kehancuran

5
(2)

Karena Rashad Haddad, aku mesti meluangkan waktu istirahatku setelah melakukan kegiatan sukarela di penangkaran dua ekor gajah betina terakhir di dunia untuk menemuinya di kota D.5. Ia memberitahuku bahwa dirinya menemukan selembar kecil rubrik arsip dari sebuah surat kabar lama bernama Aksara yang membahas sebuah museum yang tak pernah ada: Museum Kehancuran. Lewat telepon, ia bilang bahwa surat kabar itu terbit tanggal 11 Februari 2073, 38 tahun lalu; ia menemukannya di bagian arsip perpustakaan kota saat mencari bahan tambahan untuk jurnal yang akan didiskusikannya di salah satu panel konferensi budaya di kota tersebut. Sebelum berangkat, ia memberitahuku bahwa catatan itu terbilang sangat pendek dan tidak banyak menyajikan data yang memuaskan; bahkan setelah menggali berbagai jenis sumber di perpustakaan, ia belum berhasil menemukan bukti yang bisa membuktikan eksistensi museum itu.

Untuk sampai ke kota D.5, sebenarnya bisa dilakukan hanya dalam hitungan detik dengan menggunakan teleportasi, tapi biaya yang dibutuhkan cukup tinggi. Padahal, kalau melihat kondisi alam dan cuaca akhir-akhir ini yang sering tidak menentu bahkan berbahaya, teleportasi adalah transportasi yang paling aman, tapi sayangnya situasi keuanganku sedang tidak mendukung. Jadi, menyesuaikan ongkos, kuputuskan untuk bepergian dengan pesawat saja. Betul saja, topan dan badai raksasa menghantam beberapa jalur penerbangan, mengharuskan pesawat untuk mendarat sebanyak tiga kali. Sembari menunggu cuaca buruk mereda di tiga bandara berbeda, kuhubungi beberapa kolega, menanyakan literatur yang berhubungan dengan Museum Kehancuran. Sebagian dari mereka langsung menjawab tidak tahu dan tidak pernah membaca sumber terkait, dan sebagian lainnya sempat kebingungan saat mendengar nama museum itu dariku, tapi tertarik untuk membantu penelaahan kami.

Sesampainya di sana, Rashad Haddad menjemputku dari bandara. Kota D.5 adalah salah satu tempat yang masih dikaruniai beberapa jenis tanaman yang masih sanggup bertahan hidup. Air di sini juga masih tampak bersih, setidaknya tak ada keraguan saat hendak meminumnya. Berbeda dengan kotaku yang kering dan sering dihantam badai pasir. Setelah menaruh barang di kamar, kami bertemu di restoran hotel. Setelah makan malam, Rashad Haddad menunjukkan kepadaku salinan dari rubrik arsip berjudul Museum yang Tak Pernah Berdiri. Tulisan ini memang sangat singkat, sekadar memberi tahu pembaca bahwa pada tanggal yang sama dengan terbitnya surat kabar itu (11 Februari), tepatnya tahun 2048, ada sebuah museum yang sempat diinisiasi oleh beberapa orang, tapi tak pernah dibangun, tak pernah berdiri sebagai sebuah bangunan utuh. Di sana juga tertulis bahwa museum yang rencananya memulai tahap konstruksi pada 2049 ini hendak dibangun untuk merespons keadaan dunia yang porak-poranda dan penuh keputusasaan pasca-Banjir Besar, Kekeringan Abadi, dan Perang Akhir Abad.

Rashad Haddad berpendapat bahwa nama museum itu cukup menarik perhatian, meski secara fundamental juga klise; “Karena salah satu fungsi museum—meski tidak berlaku kepada semua jenis museum—adalah menunjukkan kepunahan atau kehancuran kepada kita yang masih hidup.” Alasan museum itu tak jadi dibangun tidak dijelaskan secara utuh di tulisan tersebut; yang tertera di sana hanya “rencana pengadaan museum ini dianggap terlalu pesimistis oleh beberapa pihak terhadap konteks saat itu, pengajuan ide serta dananya juga terlampau tidak realistis”. Informasi lain perihal siapa pihak yang menginisiasinya dan apa saja yang hendak dipamerkan di dalamnya juga tidak tersedia.

Esoknya, seorang kolega yang sebelumnya kumintai tolong untuk mencari literatur terkait dengan penelaahan kami mengabarkan bahwa ia menemukan sebuah entri di dalam Encyclopaedia of the Unfinished Things volume empat belas edisi kelima yang membahas Museum Kehancuran. Lewat pesan elektronik, ia bilang bahwa ensiklopedia itu ditemukan di perpustakaan kota J.2, tempatnya bekerja sebagai seorang arsiparis. Ia juga bilang bahwa dirinya tidak bisa menyalin entri tersebut agar bisa dikirim secara daring karena alasan keamanan yang lebih diperketat setelah terjadinya sejumlah bentrokan antara masyarakat dan pemerintah soal rencana migrasi besar-besaran—karena suhu kota semakin panas dan tak memungkinkan lagi untuk ditinggali. Ensiklopedia tersebut diikat dengan rantai tebal ke rak buku karena banyak pihak yang mengambil kesempatan saat kerusuhan terjadi untuk merampas buku-buku langka lalu menjualnya di pasar gelap. Jadi, karena tak memiliki solusi lain, kami berdua harus mendatangi perpustakaan itu.

Rashad Haddad memaksa agar perjalanan ke kota J.2 mesti menggunakan teleportasi, apalagi setelah mendengar penerbanganku dua hari lalu. Siang itu, kami berangkat dari hotel dengan taksi udara menuju terminal teleportasi di dekat perbatasan kota D.5 dengan kota D.7. Setelah diberi tahu, ternyata ongkos teleportasi yang kami pakai adalah sisa dana konferensi yang Rashad Haddad dapat dari pihak kampus. “Tidak usah komentar,” ucapnya melihat wajahku yang heran. Pukul tiga lewat dua menit, kami masuk ke portal teleportasi, tujuh detik kemudian kami sudah sampai di kota J.2.

***

Terminal teleportasi kota J.2 sangat ramai, simpang-siur, juga terasa sangat panas. Kolegaku menjemput kami dari terminal dengan mobil udaranya, kemudian minta izin untuk pulang duluan dan tidak bisa ikut membantu karena harus menyiapkan berbagai macam kebutuhan jika terjadi migrasi mendadak; ia juga sudah bilang ke teman pegawainya yang masih menetap bahwa kami akan berkunjung ke perpustakaan. Dari jendela mobil, aku bisa melihat kondisi kota yang sangat kacau, penuh dengan bangunan rusak dan kobaran api; dari atas, orang-orang tampak kalut.

Baca juga  Rumah Kopi Selatan Jakarta dan Obrolan-obrolan Setelah Pandemi

Sesampainya di perpustakaan kota, kami langsung masuk; hawanya sangat pengap. Kami sampaikan maksud dan tujuan kami kepada salah satu pegawai perpustakaan yang berjalan terburu-buru dan tampaknya sedang panik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung mengantarkan kami ke rak tempat ensiklopedia yang dimaksudkan berada. Di rak tersebut, tiga puluh volume Encyclopaedia of the Unfinished Things edisi kelima berjejer dengan rapi, masing-masing bersampul tebal, kertas di tiap lembarannya mulai tampak menguning, tercium pula aroma dari masa-masa yang telah mereka lewati bersama. Aku langsung mengambil volume keempat belas, membuka daftar isi, lalu membuka halaman di mana terpampang dengan jelas judul dari obyek yang telah kami cari beberapa hari belakangan. Aku mendapat giliran pertama untuk membacanya karena hanya tersedia satu cetakan terakhir. Ensilopedia ini—benar kata kolegaku—dirantai ke rak buku, jadi aku harus membacanya di tempatku berdiri. Sembari menunggu, Rashad Haddad memutuskan untuk mencari makan dan mengecek keadaan kota.

Sambil membaca, kutulis pula sejumlah hal penting ke dalam buku catatan pribadiku. Dari daftar isinya, ensiklopedia ini merangkum tiap narasi dan bukti dari berbagai macam proses yang tak berkesempatan untuk selesai atau diselesaikan, berbeda dari hal-hal yang sudah mendapat gelar gagal atau berhasil setelah selesai dikerjakan. Oleh karena itu, hampir semua entri dalam ensiklopedia ini tidak termasuk dalam narasi besar sejarah, tapi memiliki daya tarik tersendiri dari ketidaksempurnaannya. Hal-hal yang belum usai di sini bukan hanya yang bersifat konstruksi bangunan seperti Museum Kehancuran, tapi juga merambat ke proses-proses lain macam serial novel epik berjudul A la recherche des ames perdues karya Fridolin Marie-Louise Beaufort yang sudah direncanakan berakhir di novel kesepuluh, tapi sayangnya baru tujuh novel yang berhasil diselesaikan dengan akhir yang sangat menggantung, dan si penulis tidak bisa menghindari kematiannya karena terbunuh dalam teror sebuah sekte radikal penyembah sequoia raksasa terakhir di dunia yang menyerang desanya.

Entri berjudul Museum Kehancuran berada di halaman 863. Setelah judul, kita bisa melihat gambar pohon ek tua besar di sketsa rencana depan gedung museum, dan tulisan dengan panah yang menunjuk ke gambar menjelaskan bahwa pohon itu adalah tiruan yang akan dibuat senyata mungkin dengan bahan daur ulang otomatis. Di waktu-waktu tertentu, pohon ek tiruan itu akan menunjukkan bagaimana dirinya terbakar atau ditebang, lalu dari empat sisi batangnya yang besar akan muncul empat wajah yang sedang ketakutan, menangis, marah, dan kecewa secara bergantian. Di belakang gambar pohon ek itu, terlihat sketsa seluruh gedung museum yang berbentuk sangat sederhana: sebuah kubus. Tulisan dengan tanda panah yang menunjuk ke gambar mendeskripsikan bahwa cat yang rencananya dipilih berwarna hitam kelam, lalu akan dipampangkan tulisan “Museum Kehancuran” dengan tambahan ucapan di bawahnya “Selamat Datang di Kotak Pandora yang Sesungguhnya”; dan lagi, di pintu masuk, kita akan membaca sebuah tulisan “Mari Temukan Iblis Sebenarnya di Dalam”.

Di paragraf pertama, tertulis inisiator museum ini, yaitu Seyyal Ateefa dan Andaru Bamantara, dua museolog yang rencananya memfokuskan museum ini pada konsep sejarah alam dengan pendekatan etika ekosentrisme dalam mengumpulkan dan memamerkan koleksi museum; konsep ini juga akan disesuaikan dengan pembacaan kritis terhadap konteks yang sedang berlangsung pasca-Banjir Besar, Kekeringan Abadi, dan Perang Akhir Abad. Pada dasarnya, museum ini akan hadir bukan hanya sebagai wadah untuk mengingat banyak sekali makhluk hidup dan non-hidup yang telah lama hilang dari bumi, tapi juga sebagai kritik atas kegagalan banyak sekali manusia—meskipun tidak semua—yang tak pernah berhenti menjadikan dirinya sebagai pusat dari sistem alam semesta, lalu mengeksploitasi alam yang dianggapnya terpisah, menjadikannya pemuas kebutuhan semata, sampai mengalami kehilangan tak terkira.

Museum ini berencana memamerkan bukan hanya berbagai macam koleksi yang telah punah, tapi juga menunjukkan proses kehancuran mereka. “Kami ingin menunjukkan bagaimana ulah manusia memiliki dampak yang sangat besar terhadap kerusakan alam. Kami ingin menunjukkan horor dari perburuan hewan, penebangan pohon, penggerusan sumber daya alam yang tak kenal batas, pembuangan limbah ke sungai dan laut, serta contoh lainnya yang akan kami hadirkan di tiap koleksi museum ini,” ucap Seyyal Ateefa di salah satu wawancaranya beberapa minggu setelah menyerahkan proposal ke sejumlah lembaga, yang saat itu diharapkan bisa membantu pendanaan museum.

Dari luar perpustakaan, samar-samar terdengar suara sirene dan teriak protes banyak orang. Ketika memeriksa keadaan sekitar, ruangan itu sudah sangat sepi karena beberapa waktu lalu masih ada satu-dua pegawai yang sedang merapikan buku dan bolak-balik di sekitar perpustakaan. Di mana Rashad Haddad, tanyaku, mengapa lama sekali ia mencari makan. Lalu aku lanjut membaca ke halaman berikutnya sambil terus mencatat beberapa hal yang kuanggap penting.

Kedua museolog itu mula-mula melakukan riset ke sejumlah museum, seperti museum sejarah alam, zoologi, botani, arkeologi, seni, dan teknologi di berbagai negara. Kemudian mereka melakukan pembacaan ulang kepada cara pengelolaan tiap museum, lalu menyesuaikannya kepada ide serta konsep yang mereka miliki. Hasil riset itu rencananya diaplikasikan kepada seluruh sistem museum: arsitektur, desain interior, pengumpulan koleksi, tata pamer, elemen edukasi dan hiburan, sampai ke narasi yang akan disuguhkan kepada pengunjung.

Pengaplikasiannya dijelaskan secara detail dalam deskripsi museum ini: museum yang mereka rancang memiliki bentuk kubus raksasa dengan tata ruang yang menirukan lanskap bumi beberapa puluh tahun lalu ketika masih memiliki beragam ekosistem, seperti hutan hujan tropis, sabana, taiga, tundra, laut, sungai, dan jenis ekosistem lainnya yang dirancang dengan segala keterbatasan. Tiruan dari seluruh koleksi museum ini tak akan digolongkan per ruangan berdasarkan klasifikasi tertentu, melainkan dibebaskan hidup di ruang museum yang sangat luas agar tidak terkotak-kotakkan dalam ruang lingkup yang telah disusun oleh manusia. Di ruang pembelian tiket, mata tiap pengunjung akan diteteskan cairan yang berguna untuk memberikan detail tiap koleksi museum. Di museum ini, tiap pengunjung tidak akan ditempatkan sebagai subyek, sedangkan koleksi museum sebagai obyek; namun pengunjung dan koleksi museum bisa menjadi subyek dan bisa pula menjadi obyek setelah memasuki wahana museum; dengan kata lain, tak ada yang lebih diistimewakan daripada yang lain.

Baca juga  Mahar yang Tertinggal

Ensiklopedia ini menyebutkan bahwa narasi yang dibentuk di wahana museum akan bersifat interaktif dan menekankan pada unsur pengalaman langsung; teknik seperti ini, seperti yang dipaparkan oleh Andaru Bamantara dalam sebuah wawancara, ditiru dari beberapa taman hiburan dan mode permainan klasik yang ia baca dari sejumlah literatur terkait. Pengunjung bisa memilih jalan cerita untuk mengunjungi koleksi tertentu; tapi di waktu-waktu yang lain, sistem museum juga akan mengambil kendali pilihan pengunjung dan menciptakan kejutan-kejutan tak terduga. Ketika sampai di tempat yang dituju, pengunjung akan melihat dan merasakan sendiri bagaimana berbagai macam makhluk yang pernah hidup dengan manusia beberapa puluh tahun lalu mengalami kehancurannya.

Seperti menyaksikan langsung adu hewan pada masa Romawi kuno sebagai pembukaan tarung gladiator yang mematikan banyak sekali jenis binatang, salah satunya adalah harimau Kaspia yang beberapa abad kemudian akan punah; melihat dengan mata-kepala sendiri bagaimana macan tutul Amur diburu di hutan sekitar Sungai Amur untuk diambil kulitnya yang sangat indah; berdiri di tengah lahan hutan hujan Kalimantan yang sedang terbakar untuk pembukaan lahan perkebunan, lalu melihat berbagai macam kehidupan di sana yang ikut lenyap, hancur, juga punah; memperhatikan secara perlahan bagaimana seekor orang utan mengalami kematiannya yang penuh sengsara karena kehilangan habitat tempat pepohonan tumbuh sebagai rumahnya yang nyaman; mencium bau darah anyir di sebuah kapal industri yang menyerbak dari beberapa ekor anak hiu dan penyu tempayan karena ikut terjerat oleh jaring yang belum puas setelah meraup sepertiga populasi ikan di laut; serta menyaksikan seluruh daratan putih kutub utara dan selatan yang meleleh karena meningkatnya suhu bumi, lalu menciptakan Banjir Besar yang melanda seluruh dunia, memaksa yang bertahan untuk menyusun ulang kehidupan.

Penjelasan di atas adalah rangkuman yang bahkan tak bisa dibilang mewakili seluruh tiruan makhluk dan proses kehancuran mereka yang ditawarkan oleh rancangan museum. Namun penjelasan di atas agak membuatku bingung, khususnya beberapa terma yang dipakai, macam masa Romawi kuno, kapan masa itu terjadi? Apa itu gladiator? Harimau Kaspia itu jenis harimau macam apa? Macan tutul Amur itu jenis macan tutul apa lagi? Karena aku hanya diajari harimau dan macan tutul saja tanpa jenis-jenisnya. Kemudian, di mana Sungai Amur dan hutan hujan Kalimantan? Aku tidak pernah tahu tiap sungai dan hutan hujan punya sebutan masing-masing.

Belum juga selesai membaca sampai habis dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas, Rashad Haddad muncul dengan napas tergesa lalu menegurku agar berhenti membaca. Kubilang padanya untuk memberiku waktu sebentar saja, tapi ia membantah karena keadaan di luar museum sudah sangat kacau akibat pengumuman migrasi besar yang mendadak. Sirene mulai terdengar bahkan sampai ke ruang terdalam perpustakaan, terdengar pula suara seorang wanita yang mengumumkan kepada tiap warga kota J.2 agar keluar rumah secepatnya, membawa barang secukupnya saja, lalu berjalan dengan tertib.

Aku hendak membawa ensiklopedia itu, tapi rantainya mengikat kuat, tak mengizinkanku untuk membawa harta berharga ini. Rashad Haddad menarik tanganku sambil berkata, “Cepat! Semua orang akan pindah ke kota yang masih bisa ditinggali dengan portal teleportasi raksasa. Jika terlambat dan portal tertutup, kita akan tertinggal di kota mati ini!”

“Tapi museum ini….”

“Hanya ada dua pilihan, kawan. Kau tinggalkan ensiklopedia ini atau kau ingin menjadi bagian dari museum itu.”

Aku sempat bingung, tapi beberapa hal penting setidaknya telah kucatat untuk dikaji lebih lanjut. Kulepaskan ensiklopedia itu, berlari bersama Rashad Haddad ke luar perpustakaan, lalu bergabung dengan seluruh warga untuk migrasi dari kota yang sangat panas ini.

***

Sepuluh bulan setelah meninggalkan kota J.2, Rashad Haddad mengabarkanku bahwa ia berhasil menemukan informasi tentang tempat tinggal terakhir dua museolog itu, yaitu sebuah bunker yang berada di tengah Gurun Kematian, gurun tak berujung yang akan dengan mudah melelehkan tubuh orang gila yang berani menginjakkan kaki di atasnya. Saat itu, aku sedang berduka cita karena dua gajah terakhir di dunia mesti pergi meninggalkan kami setelah berjuang selama 51 tahun untuk sang induk dan 36 tahun untuk sang anak. Dua minggu kemudian, setelah mengistirahatkan diri, dengan persiapan yang matang, aku dan Rashad Haddad berangkat ke Gurun Kematian untuk mengecek bunker tersebut.

Gurun Kematian mengelilingi seluruh negara, berbatasan dengan negara M sampai Z. Bunker itu berada di wilayah tenggara melewati perbatasan negara Q: kota Q.17, titik keberangkatan kami. Kami meminjam sebuah sepeda motor udara milik salah satu penduduk setempat yang memanggil kami orang gila; dan ia baru mau meminjamkannya setelah kami memberikannya lima bibit tanaman hutan hujan. Kami baru berangkat setelah matahari terbenam untuk menghindari sengatan matahari; meski begitu, kami tetap menyelimuti seluruh bagian tubuh dengan pakaian berbahan khusus agar tidak terpanggang angin panas di tengah gurun.

Baca juga  VARIASI DARI PROSA LIRIS ITALO CALVINO (BAGIAN 2)

Kami kerap bergantian menyetir agar yang lainnya bisa beristirahat sambil menunjukkan titik koordinat tujuan. Tiap matahari terbit, kami mendirikan tenda khusus untuk beristirahat. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai di titik koordinat yang dituju dan ternyata pintu bunker itu telah tertimbun pasir setebal 3 meter. Setelah menggali, kami menjebol pintu bunker yang terkunci, lalu langsung masuk karena tak kuat lagi menahan kulit yang terasa terbakar. Baru saja masuk, bau busuk bercampur pengap langsung menghajar dua lubang hidungku; tapi setidaknya suhu di sini lebih baik daripada di luar. Setelah menyalakan lampu darurat, kami cek tiap bagian tubuh kami; ternyata sebagian besar lapisan kulit kami telah melepuh terbakar. Kami obati luka itu, lalu beristirahat tanpa peduli bau busuk yang menyerbak.

Beberapa jam kemudian, kami berdua mulai menggeledah bunker yang tampaknya sudah sangat lama tak berpenghuni itu. Selain kasur, ember kotoran, tisu toilet, alat masak sederhana, dan persediaan makanan yang sudah basi, bunker ini dipenuhi buku dan kertas yang berserakan, yang kemudian kami baca satu per satu agar bisa menemukan hal yang berkaitan dengan Museum Kehancuran. Pada hari keenam, Rashad Haddad menemukan sebuah buku yang tak lain adalah jurnal pribadi milik Andaru Bamantara.

Rashad Haddad membaca jurnal itu dengan teliti. “Sebagian besar tulisan di sini sudah diceritakan oleh ensiklopedia yang kau baca,” ucapnya, “Tapi ada satu catatan yang belum kau tulis dalam rangkumanmu.” Aku hanya diam mendengarkan. Kemudian ia mulai membacakan catatan tersebut. “Maret, 2051 (sepertinya). Dalam kegelapan, aku ingat wajah kakek, ibu, dan ayahku; ingat cerita-cerita mereka tentang pohon apel, jerapah, paus, hutan yang lebat, gunung yang sejuk, sungai yang gemercik, laut yang berombak, dan hal lain yang tak pernah sekali pun kulihat, kualami, dan kurasakan. Semuanya telah hilang; dan perlahan memori itu juga ikut meluap.

“Kakekku wafat saat Banjir Besar melanda seluruh dunia. Aku dan orang tuaku selamat, tapi mesti berhadapan dengan bencana lain setelah seluruh air di bumi surut. Kekeringan Abadi tidak sebenarnya abadi, tapi terasa tak pernah usai di mata kami. Di tengah keputusasaan, perang-perang antar-wilayah dan kepercayaan sering terjadi, lalu memuncak menjadi Perang Akhir Abad. Dari sedikit makhluk bumi yang tersisa, mereka malah memilih perang; dan perang selalu menghapuskan ingatan tiap pihak, menghilangkan jejak masa lalu yang tak diindahkannya untuk bertahan, merevolusi rezim yang satu lalu dikudeta oleh rezim yang lain dan seterusnya begitu. Tiap kekuasaan mengikrarkan masa depan gemilang, tapi tak pernah berusaha untuk mengingat siapa kita dahulu, kita—meski tidak semua—yang tetap hidup sebagai penghancur. Ayahku menjadi salah seorang patriot yang terhapus ingatannya kemudian mati di tengah perang, meninggalkanku dan ibuku di tengah kekeringan yang tak memiliki sudah. Kami harus tetap hidup, mesti mencari cahaya meski merangkak. Meski telah berusaha, ibu tetap mati kehausan.

“Hari ini, di bunker yang bau ini, kondisi temanku makin memburuk. Makanan mulai membusuk. Dan kami tetap tunduk karena takluk. Aku benar-benar mengutuk ide sialan itu. Museum brengsek! Kenapa juga kami melakukan inisiatif bodoh untuk mengungkap masa lalu yang telah terlupakan, yang pada akhirnya membawa bencana pada kami sendiri, membawa neraka ke kepalanya. Ia mengigau hampir tiap saat tentang museum, tentang masa lalu yang tak pernah kami rasakan, karena kami tumbuh diambang kematian. Luka bakarnya tak kunjung sembuh, dan lebih parah lagi, luka di dalam dirinya kupikir tak akan pernah hilang.

“Setelah penghapusan seluruh identitas malam itu, kami tak punya pilihan selain kabur. Aku yakin ada lembaga yang takut dengan rencana museum kami, lalu mengadukannya ke anggota dewan agar bisa mengejar kami tanpa ampun. Kami sangat beruntung masih punya teman yang mengizinkan bunkernya dipakai untuk sembunyi. Sebelumnya, kami tahu bahwa kebenaran begitu mahal; tapi, setelah mendekam lama di sini, kami menyadari hal baru: bahwa kebenaran itu payah, dan kami lebih payah karena tidak bisa membuktikannya. Temanku makin sekarat, sedangkan aku makin gila dan pasti akan ikut sekarat, tapi setidaknya ia masih punya pikiran jernih karena igauannya yang terakhir kudengar beberapa menit lalu adalah: “Sejak lama, bahkan sebelum kita terlahir, bumi ini sudah menjadi museum kehancuran….” berhenti sebentar, lalu, “Tapi kitanya saja yang tidak kunjung sadar.”

23 Agustus 2112 ***

Hafizh Pragitya lahir di Jakarta, 8 November 1997. Ia alumnus jurusan Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beberapa cerpennya dimuat di sejumlah antologi bersama, seperti Manuskrip Ruang (2019), Pamali (2019), serta Covid-20 dan Sepilihan Fiksi Lainnya (2020). Ia aktif di Komunitas Sastra Rusabesi, suka membaca dan menonton film, serta sesekali menulis dan menerjemahkan cerita. Sekarang ia tinggal di Bogor.

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: