Cerpen, Dewi Sukmawati, Merapi

Penjilat Darah

5
(1)

Praktik gelap selalu marak di kota Menyan ini. Ritual-ritual telah mendarah daging dan menjadi bagian dari kebutuhan. Hal ini lahir jauh sebelum tanah ini dijajah. Jauh sebelum agama-agama berdatangan membimbing umat. Tapi, walaupun mereka kini telah memegang agama, tetap saja praktik ini berjalan dengan rutinnya. Seolah seperti warisan nenek buyut yang wajib dijaga.

Dan aku, aku masih menjadi penikmat peran. Menikmati seni peran yang digelar di panggung teramat besar. Dan menikmati aliran uang yang begitu derasnya dalam dompetku. Siapa saja yang akan menjadi pemimpin di kota ini? Itu selalu menjadi rahasia. Siapa dulu yang bisa menjilat darah maka ia yang akan menang dalam pertarungan ini.

***

Belum kering tanah pemakaman mantan penguasa kota ini. Tapi, perebutan kursi jabatan sudah ramai diperbincangkan. Semua musuh dan keluarga berusaha mencalonkan diri. Sedangkan orang pintar  memperkaya diri. Lulusan Universitas terbaik di tanah sendiri maupun tanah orang lain ketika akan ada pemilihan penguasa, mereka seketika menjadi orang bodoh. Bagaimana tidak, mereka datang ke sebuah pondok di tengah hutan yang begitu seram. Lalu meminta kemenangan dan membayar orang pintar berbaju dan bercelana hitam lengkap dengan atribut hitam melilit kepala dan kakinya. Dia sekarang duduk di depan kemenyan membaca mantra-mantra turunan. Menyemburkan air dan memberi buah tangan pada yang datang.

“Pegang baik-baik apa yang kuberi,” sambil menyerahkan cincin berbatu akik berwarna hitam kecokelatan.

Itu yang biasa orang pintar ucapkan. Tak lupa orang pintar itu memberikan secarik mantra. Mereka pun pulang setelah itu. Dan kini, raut wajah mereka semakin percaya diri saja.

“Jo. Aku yakin kamu pasti menang dipemilihan tahun ini.”

“Itu semua berkat kamu bila aku diangkat menjadi penguasa.”

Percakapan itu menutup malam kali ini. Mereka segera kembali ke rumah masing-masing untuk sekedar memejamkan mata dan mempersiapkan berbagai strategi.

***

Saban malam Jumat, Joko membuat sesajen dan ditaruhnya di dapur. Sesajen itu tidak lain berisikan seduhan kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis, bubur merah, bubur putih, nasi, berbagai lauk, dan daun kelor yang di taruhnya di gelas berisi air. Bukan hanya itu, ia pula membakar kemenyan di atas ciri yang terbuat dari tanah. Ketika semua persembahan sesajen telah selesai dipersiapkan, ia pun membaca matra yang diberikan orang pintar itu dengan begitu hikmat. Terasa begitu aneh mantra itu. Seperti memanggil makhluk kasat mata saja. Tapi begitulah Joko yang berambisi menjadi Walikota.

Baca juga  Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

“Nak, ini semua tidak benar. Kamu telah menduakan Tuhan. Sudahlah Nak, hentikan. Biarlah semua berjalan seperti semestinya.”

“Ibu kira Ayah meninggal itu gara-gara apa? Bahkan bukan hanya Ayah, Pakdhe pula sebagai Wakil Walikota turut meninggal. Itu semua karena ada kiriman Ibu. Ada yang dengan sengaja mengirimkan derita pada Ayah dan Pakde.”

“Ikhlaskan saja Nak, biarkan Ayah dan Pakdemu tenang. Bila benar begitu, kamu juga tidak boleh melakukan hal yang sama.”

“Sudahlah Bu. Tidak ada gunanya aku bicara dengan Ibu. Joko pergi dulu Bu,” jawabnya begitu dingin dengan mencium tangan Ibunya, lalu ia pergi meninggalkan Ibunya yang sedang terduduk di meja makan.

Joko dari dulu sebenarnya selalu menurut pada Ibunya. Ia begitu sayang pada Ibunya. Sejak kecil ia tidak pernah membiarkan Ibunya melakukan pekerjaan rumah kecuali memasak. Joko merasa dirinya lelaki dan tidak boleh melakukan pekerjaan itu. Maka dari itu, ia membiarkan Ibunya memasak. Tapi, sebenernya bukan itu alasanya. Pernah ia memasak satu kali saat Ibunya tengah sakit. Namun, ketika ia memberikan masakannya dan Ibu memakannya, sakit yang diderita Ibunya malah bertambah parah. Bagaimana tidak, Ibunya ketika itu sedang mengalami Hipertensi. Tapi, karena tidak tahu, Joko memasakan Ibunya sayur dan daging dengan rasa yang begitu asin. Dan karena Ibunya tidak tega bila tidak memakan hasil masakan putranya tercinta, ia memutuskan memakannya.

Tapi, sekarang ia mulai tidak menurut pada Ibunya. Mungkin semenjak Ayahnya meninggal dengan tidak wajar. Ia yakin bahwa Ayahnya telah mendapat kiriman dari musuhnya yang dulu dikalahkan Ayahnya dalam pemilihan. Maka dari itu, seorang Joko yang begitu beriman kini menjadi sesat. Seorang yang berpemikiran logis kini menjadi mistis. Istrinya pun tidak bisa menghentikannya. Istrinya hanya bisa berdoa sehabis sembahyang. Semoga suaminya kembali ke jalan Tuhan.

Baca juga  Bersama Ibu

***

Akhirnya hari penentuan dimulai. Dengan gagahnya aku hari ini memakai kemeja dan celana putih. Sementara pasanganku yang setia memakai kemeja hitam dan celana hitam. Sebenarnya dari kemarin aku sudah mengatakan untuk sama-sama mengenakan baju dan celana putih. Tapi, katanya baju dan celana putih miliknya sedang dicuci istrinya karena malam tadi ada tikus masuk ke lemari dan mengotori pakaiannya itu. Akupun tidak masalah, yang penting dia ada bersamaku.

Terlihat pasangan lain di seberang mengenakan baju kotak-kotak. Sungguh aku tidak habis pikir. Pasangan itu mungkin tengah merasa usianya masihlah muda. Atau mungkin mentalnya belum siap untuk aku kalahkan. Lihat saja. Siapa yang lebih dewasa dan dipercaya oleh warga.

“Semua suara telah masuk. Suara keseluruhan di kota ini sebanyak 10.000 suara. Seperti kita lihat, pasangan nomor satu memperoleh 4567 suara dan pasangan nomor dua memperoleh 5.433 suara. Jadi, yang menjadi Walikota dan Wakil Walikota adalah pasangan nomor 2. Selamat untuk Bapak Joko dan Bapak Jono. Semoga bisa mengemban amanat dengan baik.”

Tidak aku sangka ritual yang aku lakukan membuahkan hasil. Aku pun berjabat tangan dengan Jono dengan senyum paling sempurna. Tidak lupa aku pula berjabat tangan dengan pasangan nomor satu, Sardi dan Tarman. Balas dendamku terbalaskan sudah. Tanpa membuang waktu, aku memberikan sambutan, rasa terima kasih, dan dengan begitu gagah aku menjanjikan kemakmuran serta kesejahteraan pada seluruh wargaku sebagai bentuk meneruskan perjuangan Ayahku yang berhenti karena kematian.

***

“Joko, Joko. Kamu memang bodoh. Sangat bodoh. Lulusan Universitas terbaik di tanah orang dikalahkan olehku yang hanya menempa di kampus gadungan. Tapi, aku bahagia atas kebodohanmu kali ini. Selamat jalan Joko. Semoga kau bertemu Ayahmu. Oh tidak, Ayahmu aku yakin sekarang bahagia di surga karena ia begitu taat. Sedangkan putranya ini tidak percaya akan Tuhan dan menjadi orang yang sesat. Sudahlah, jangan lama-lama kamu mencoba bertahan. Selamat jalan dan selamat berbahagia di neraka.”

Baca juga  Suara dari Seberang

“Brengsek. Jadi kamu yang membunuh Ayahku pula? Kamu sudah kami anggap saudara. Tapi kamu sendiri yang menghancurkan kepercayaan itu. Terkutuk kamu,” ucapnya dengan nafas begitu sesaknya dan tidak lama kemudian ia tergeletak begitu saja.

Siapa suruh dia percaya padaku. Dukun yang dia anut pula Dukun gadungan. Dukun itu adalah sutradara pergelaran teater yang handal. Aku yang membayarnya. Biar saja aku dianggap “Penjilat Darah”. Kenyataannya, memang aku hobi berperan sebagai penjilat sejak aku bermain teater di sekolah dulu. Dan sekarang, peran baruku akan segera aku dapatkan. Menjadi Walikota menggantikan Joko dan mungkin saja menggantikan posisinya pula sebagai suami dari istrinya serta menjadi putra bagi Ibunya. Tapi sebelum itu, aku harus mengurus pemakamannya agar berjalan dengan lancar bersama keluarga dan para warga. Dan memastikan tanah basah itu menutup seluruh badannya dengan sempurna. ***

Dewi Sukmawati lahir di Cilacap, 21 April 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam jurusan Perbankan Syariah. Dia aktif di SKSP IAIN Purwokerto dan KSEI IAIN Purwokerto.

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: