Cerpen, Miftachur Rozak, Radar Jombang

Tuhan Melukis Cinta

0
()

AROMA roti maryam menggoda nafsu makanku. Bau harum menyeruak seakan melambaikan tangan dan menggoda. Aku sedang berbaring letih di pojok pagar musala.  Menikmati sisa tenaga, terkuras habis menjajaki kota Yogyakarta. Tiga hari dua malam mencari singgah untuk sibungsu yang sedang menoreh nasib di salah satu Universitas Yogyakarta. Dompet menipis bagai kertas amplop tanpa isi. Hanya dihuni beberapa lembar uang kertas biru sisa pembelian tiket kereta untuk pulang ke Jombang.  Aroma roti tersebut benar-benar memaksaku untuk  segera bernegosiasi pada penjual. Roti lezat puluhan tahun menetap di kios area Stasiun Lempuyangan. Lega rasanya ketika perut sudah dihampiri nikmatnya roti tersebut.  Hem, benar-benar tidak ada yang bisa didustakan nikmat Tuhan sang penabur rizki.

Entah, Tuhan melukiskan apa lagi pada senja yang mengukir Stasiun Lempuyangan kota Yogyakarta. Pastinya, aku hanya bisa husnudzon sembari menunggu kereta datang.

Tanpa sadar, aku hanyut dalam tidur setelah kenyang membayar lunas pada lapar dan letihku. Energi kembali merasuk. Akupun pulas walau bau asam menyiksa hidungku. Sarung bagai selimut sutra, dan lipatan baju kotor menjelma jadi bantal kapuk yang empuk.

Antara mimpi dan nyata, lirih terdengar lonceng mengalun bersautan dengan pengumuman pemberitahuan dari sumber suara. Terompet kereta menyeru dengan ganas; menghentak dari tidur singkatku. Bergegas aku panggul tas hitam yang berisi baju-baju kotor dan beberapa buku yang sempat aku beli di pelataran Stasiun. Aku mengira yang datang adalah keretaku, kereta yang bertujuan ke Jombang. Namun, aternyata kereta tersebut datang dari arah berlawanan.  Hingga aku merasa agak kecewa dengan kehadiran kereta tersebut.

Di tengah-tengah kecewa, rupanya tuhan mengirim sebuah pesan. Aku benar-benar  merasakan keanehan pada diriku, setelah menatap gerbong kereta nomer tujuh. Aku merasakan energi luar biasa. “Tuhan, nikmat apalagi yang engkau berikan pada hambamu ini?”

Pandanganku masih fokus pada gerbong nomer tujuh. Setelah kedipan pertama, aku menyaksikan seseorang yang turun dari gerbong itu. Perlahan memori-memori terbentuk. Pikiran memutar membentuk pola-pola masa lalu yang berceceran. Karena mungkin, yang aku pandang tersebut pernah terlihat sebelumnya. Namun, di mana? Kapan? Aku benar—benar lupa akan hal itu. Aku masih berusaha mengingat, sambil menatapnya. Aku tak rela jika tatapanku menghilang oleh padatnya penumpang yang lalu lalang berjalan.

Ia berjalan kearahku. Bergaun biru dongker, tas rangsel hitam, sepatu sandal biru dongker, dan berkerudung merah jambu. Sungguh perpaduan yang bisa mengalahkan lukisan-lukisan yang terpampang pada dinding-dinding Malioboro. Seandainya saja Tuhan memang mengirimnya untukku. Aku segera bersujud tuk ucap sukur atas karunia ini.

Baca juga  Bebas Merdeka

Ia benar-benar berjalan kearahku. Aku melihat senyuman pertamanya. Aku benar– benar gugup. Aku yakin, bahwa Tuhan sedang mengerjaiku. Bahkan, ia sedang menatapku. Aku masih belum ingat, siapakah gerangan. Aku takut salah orang. Namun, ketika ia melambaikan tangan kanannya. Sontak memoriku sempurna mengingatkan, bahwa ia adalah gadis yang pernah aku lihat beberapa tahun lalu.

Ia masih melambaikan tangan ke arahku. Aku benar-benar yakin, bahwa lambaiannya memang hanya untukku. Aku menghela napas dalam-dalam, membalas lambaiannya dengan suara agak lirih. “Hai…?” Sengaja suara aku lirihkan, untuk menyamarkan rasa tegang dan grogi. Ia juga membalas dengan suara lirih. “Hai, Mas?” Aku benar-benar yakin bahwa Ia memang gadis yang pernah sekedar mampir di hatiku tahun lalu. Namun, aku belum tahu apakah yang aku rasakan, juga ia rasakan. Ah, aku tidak mau memikirkan. Yang penting, aku menikmati setiap derai keadaan ini. Karena deraian kisah adalah sebuah keindahan yang tersusun sesui plot. Entah itu menjadi miliku, atau hanya sekedar penyempurna fiksiku.

Entah, Tuhan melukiskan apa lagi pada senja yang mengukir Stasiun Lempuyangan kota Yogyakarta. Yang pasti, aku hanya husnudzon.

Pertemuan itu sangat singkat, sesingkat angin membisikkan cinta pada senja. Kemudian malam menghampiri. Namun, rasa ini terus bergelora. Tidak peduli senja berubah menggelap. Bahkan gelab menerang, dan terang bersenja lagi. Rasa itu seakan terpatri di hati.

Pertemuan singkat itu menghasilkan waktu yang berkualitas. Mengobrolkan masalalu. Sesekali terawa bersama, diam sejenak, bahkan saling menyembunyikan rasa malu. Begitu indah Tuhan melukiskan cerita itu di Yogya.

Di sela-sela obrolan, mengalir rasa tidak karuan. Aku memberanikan diri untuk sekedar basa-basi. Bertanya untuk mengontrol keheningan.

“Kenapa berkunjung ke Yogya?”

Secara spontan, terlontar ucapan yang sama persis keluar dari mulutnya tersebut.

Hingga kami membentuk gerakan salah tingkah setengah malu, kemudian senyum kecil bersama.

“Ya sudah, aku dulu yang jawab.” Ia tegas menceritakan. Memang ia gadis yang tegas dan menyenangkan ketika bercerita.

Dia sedang menempuh pendidikan pascasarjanah di salah satu Universitas Negeri di Yogyakarta. Program beasiswa dikti yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Hanya orang-orang pilihan tentunya. Program tersebut sempat membuatnya mencariku untuk diajak kuliah bareng tuturnya. Namun, tuhan tidak menakdirkan aku kuliah lagi, karena aku yakin rencananya lebih indah dari perkiraanku. Mungkin juga, Tuhan melukiskan cerita yang berbeda. Hinggga kita dipertemukan secara tiba-tiba.

Baca juga  Tubuh Kurus

“Terus, Mas ke Yogya ada acara apa?” setelah bercerita, Ia menanyakan balik ke padaku.

Aku menarasikan secara singkat kejadian yang menderaiku di Yogyakarta. Aku terombang ambing di kota ini. Mencari tempat tinggal/asrama untuk adik  bungsuku. Adik yang diterima kuliah program beasiswa Sarjanah di salah satu Universitas di Yogyakarta. Memang sibungsu ini cerdas anaknya. Hingga tuhan mengirimnya ke Yogyakarta untuk sekedar menoreh nasib dan menambah wawasan.

Hasil dari perjuangan mencari asramah itu kami dapatkan hari ke dua di Yogyakarta. Setelah sehari semalam nggembel dan tidur di serambi-serambi musala dengan uang saku seadanya. Hingga Tuhan membayar lunas perjuangan kami.

Dengan tertegun, sembari menelan ludah gadis itu bertanya.

“YaAllah, kenapa tidak bilang sama saya? Kan bisa seasrama sama saya?”

Ia tidak sadar, bahwa ia tidak pernah memberi nomer HP sebeluumnya.

Sontak Aku menjawabnya. “Kan aku belum pernah menyimpan nomer HPmu”.

Ia pun malu dan tercipta senyum kecil di sela-sela percakapan.

Keasyikan pertemuan kita itu, tiba-tiba saja dibongkar oleh suara klakson kereta. Klakson kedua yang membuatku jengkel. Benar-benar jengkel. Seandainya saja keretanya telat. Mungkin aku bisa bernostalgia lama dengannya. Untung saja aku sudah mendapat nomer HPnya. Jadi, bisa cukup menjadi modalku untuk sekedar menyambung silaturahim dengannya.

Aku segera naik kereta. Sembari melepas pandangan secara perlahan padanya. Ia melambaikan tangan. Aku tersenyum dan semakin yakin bahwa Tuhan telah melukiskan hari yang indah pada senja di Yogyakarta.

Rasa capek telah membiusku tertidur di bangku kereta. Tanpa mimpi, tanpa berhayal, tanpa mendengar klakson kereta yang berkali-kali mengerikan. Aku benar-benar pulas dinina bobokan kereta yang menuju ke Jombang.

Tanpa sadar, aku terbangun di Stasiun Madiun. Entah berapa lama aku tertidur. Hingga Aku tak ingat apapun. Hanya nomer HP yang barusan aku simpan. Segera aku tekan dan menulis sebuah mantra pembuka. “Assalamualaikum”, itulah kata pertama yang aku sematkan ke nomer tersebut. Tanpa menunggu lama, HP bergetar. Getarannya beriringan dengan kereta berjalan. Sigap aku membukanya. Harap-harap cemas, bahkan agak kusembunyikan pandanganku ke layar HP. Seperti anak kecil sedang mengintip film horror. Menakutkan, namun sayang untuk dilewatkan.

Betapa indah tuhan melukiskan cerita ini. Sungguh perjalanan yang dibayar dengan sempurna.

Baca juga  Ujung Tombak

“Waalaikumussalam, sudah sampai mana, Mas?” Kata ini telah menghiasi layar HPku. Yang mebuat hati ini berdebar. Menambah tempo degupan yang tak karuan. Berkal- kali aku memandangnya. Sungguh, benar-benar mantra yang luar biasa. Aku belum sanggup untuk membalasnya. Aku ingin menulis puisi untuknya, namun aku bukan penyair. Aku ingin jujur dalam perasaan yang menghajarku.  Namun, aku belum siap patah hati. Aku ingin menstabilkan ritme jantungku. Aku ingin segera tahu Tuhan menyempurnakan lukisan ini. Lukisan cinta di senja Yogyakarta.

Sesampainya di Kota Jombang. Aku segera membalas pesan yang disematkan ke HPku. Aku memberi kabar untuknya. Bahwa aku sampai di kota yang pernah mempertemukan kita berkali-kali dengan keadaan yang serba tiba-tiba. Entah ilham apa yang aku dapatkan. Hingga jemariku mampu menari lincah dalam berkata-kata melalui jalur sms. Kata-kataku bagai mantra. Menyelinap, menyihir, bahkan sedikit membual kalau dipikir-pikir. Namun, itu hanya menurutku saja. Entah, apa kata sastrawan lain. Ah, aku tidak ngurus. Yang penting, aku segera tahu. Apakah Tuhan benar-benar melukis cinta untukku.

Aku tak mau lama-lama hanyut dalam cerita ini. Aku takut Tuhan murka padaku.

 

Aku segera merangkai proposal

Sepertiga malam Aku sampaikan pada-Nya

Bahwa Aku Jatuh Cinta

 

Tanpa negosiasi, perintahkah jiwa untuk pergi

Temui ayah dan bundamu

Aku malu setengah mati

Tapi lebih malu lagi jika rasa ini tak sama yang kau alami

 

Aku ke rumahmu, ketika kau Jauh

Sehari setelah kita jumpa

 

Aku tak sematkan pesan padamu

Karena Aku tahu, bahwa jawaban ayamu lebih manjur darimu

 

Sungguh, kali ini Tuhan menyelesaikan lukisannya

Merakit kejadian lampau, kemarin sore, hingga hari ini, 2014 silam

 

Kau adalah hadiah untuku. ***

Selesai ditulis, di Jombang 2019.

Miftachur Rozak, kadang para sahabat akrab memanggilnya Bang Jack. Lahir dan tinggal di Jombang, Jawa Timur. Kesehariannya mengabdi di MTsN 2 Jombang (Kawasan Ponpes Darul Ulum). Aktif mengikuti kelas menulis fiksi #1 bersama Jombang Institut dan Boenga Kedjil. Bisa di Hubungi melaui Facebook Bang Jack (Sang Penunggang Besi Tua). Atau email [email protected]

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: