Ayi Jufridar, Cerpen, Radar Selatan

Memburu O

0
()

SEPERTI ada hantu melintas, bus yang sedang melaju dalam kecepatan sedang mendadak berhenti. Rem menjerit seketika, disusul gerutuan dan teriakan kaget sejumlah penumpang. Tubuh mereka terdorong ke depan sebab tak ada sabuk pengaman. Kalaupun ada, barangkali hanya tertindih di bawah pantat para penumpang.

“Siapkan KTP!” terdengar teriakan. Kernet berjalan dari kursi depan ke belakang sambil meneriakkan kalimat sama tiga sampai lima kali, kalau-kalau masih ada penumpang yang tertidur dan tidak menyadari situasi di luar. Dari gayanya, ia sudah terbiasa menghadapi suasana itu. Ada tentara merazia penumpang agar memperlihatkan kartu identitas. Kalau lupa atau belum memiliki KTP, nasib bisa menentukan lain. Pernah kejadian, seorang penumpang menunjukkan surat izin mengemudi sebagai gantinya. Namun, seorang tentara menghardik; “Kami bukan polisi!”

Di kesempatan lain, ada tentara yang tidak mempermasalahkan penumpang memperlihatkan SIM. Dia malah menyarankan penumpang tersebut segera mengurus KTP. Nasib penumpang seringkali sangat tergantung dengan kebaikan hati tentara, seperti kali ini. Malam ini.

Para penumpang mulai merogoh dompet untuk mengeluarkan kartu identitas. Satu dua penumpang yang sudah terbiasa, langsung mengeluarkan KTP dari saku kemeja. Mereka menyiapkan KTP di saku depan demi pertimbangan kemudahan dan keamanan. Pernah kejadian, seorang penumpang pura-pura mengambil KTP di dompet belakang, tapi ia malah mengeluarkan sebilah belati dari pinggangnya dan menancapkan di dada tentara yang merazia. Penumpang itu mati, ditembak tentara lainnya. Tapi dalam perjalanan ke rumah sakit, tentara dengan belati di dada itu juga mengembuskan napas terakhir.

Sejak itu, para penumpang lelaki diminta turun dari bus saat razia, seperti malah ini. Penumpang lelaki turun dan berbaris di pinggir jalan. Beberapa prajurit menggunakan senter dan menyorot wajah mereka. Tentara lainnya berjaga di depan dan belakang bus, bersiap menghentikan kendaraan yang melintas dari arah barat dan timur—selain mengantisipasi berbagai kemungkinan.

Baca juga  Durarang-Dariring

Lokasi razia berada di ruas jalan yang jauh dari pemukiman penduduk. Di kiri dan kanan jalan ada kebun kosong yang penuh semak belukar. Sejak konflik bersenjata pecah, persawahan penuh ilalang dan perkebunan menjadi hutan. Di seberang kebun kosong sisi selatan, terdapat berhektar-hektar tambak yang juga ditinggalkan pemiliknya.

Sejak senjata sering meletus, orang-orang meninggalkan kampung untuk menyelamatkan diri. Meninggalkan semua kekayaan yang tak mungkin dibawa dan meninggalkan jejak ketidakberdayaan. Pada malam hari—di tengah razia pria loreng bersenjata— tempat itu menjadi lebih menakutkan. Aroma kematian seperti menguar dari setiap sudut.

Seorang tentara berteriak lantang; “Perlihatkan tangan kalian!”

Kernet bus—seorang pemuda bertubuh kurus dengan seragam bau keringat bercampur asap rokok, sudah berdiri di bawah pintu, ikut berteriak meminta para penumpang laki-laki turun dengan hati-hati. Meski lampu di dalam kabin bus menyala terang—dengan kesadaran yang belum pulih benar dan ketakutan yang mendera—bisa membuat orang tersandung sepatunya sendiri.

Setelah semua penumpang lelaki turun, dua orang tentara berseragam loreng naik dari depan dan dari belakang. Mereka memeriksa kalau-kalau ada penumpang lelaki yang bersembunyi. Keduanya kembali turun setelah memastikan tak ada penumpang laki-laki tersisa dan seorang tentara berteriak kepada temannya ketika hendak melompat turun, mengabari situasi di dalam. Para penumpang mulai menunjukkan KTP. Ada satu dua pertanyaan dari tentara itu, terutama menyangkut nama yang aneh, pekerjaan, dan tempat kelahiran yang asing bagi tentara tersebut. Penumpang yang tidak bermasalah, langsung naik kembali dengan lega, seolah baru terlepas dari ancaman maut.

Ketika dua tentara sedang menanyai seorang penumpang muda yang memiliki model rambut aneh, tiga penumpang di ujung barisan tibatiba kabur. Gerakan mereka seperti sudah terencana dengan rapi, ketika para tentara merapat ke pemuda yang berambut aneh berwarna kemerahan, mereka serentak memutar tubuh dan lari sekencang-kencangnya ke arah kebun kosong. Dalam sekejap, tubuh ketiganya lenyap ditelan kegelapan.

Baca juga  Duel Kedua

Tanpa komando, tentara melepaskan tembakan beruntun ke kebun kosong. Kesunyian malam terkoyak, membuat suasana tambah mencekam. Setelah tembakan reda, kesunyian kembali hadir dalam selimut yang lebih menakutkan. Kematian terasa lebih dekat di tengah kesunyian daripada di antara desingan peluru. Tak ada yang berani bersuara, bahkan desah napas pun nyaris tak terdengar. Para penumpang takut desahan napas yang keras menjadi kesalahan dalam situasi seperti ini, dan para tentara lusuh itu membutuhkan pelampiasan lain setelah tiga orang yang dicarinya kabur. Buktinya, anak muda dengan rambut merah tegak seperti duri landak itu ditahan setelah pemeriksaan berakhir. Seluruh penumpang lain naik, bus diizinkan melanjutkan perjalanan.

Tak ada kendaraan yang melintas selama razia berlangsung, seolah para pengguna jalan sudah mendapatkan kabar adanya pemeriksaan, entah dari mana. Setelah bus berjalan kembali, razia pun berakhir. Bus itu menjadi kendaraan pertama dan terakhir yang terjaring razia.

***

Banyak pertanyaan tak terjawab sepanjang perjalanan. Sampai bus berhenti  di terminal terakhir dan semua penumpang turun dengan bermacam perasaan, masih banyak yang belum mereka pahami, meski semuanya bersyukur karena lolos dari maut. Tak terbayangkan kalau mereka menjadi sandera, kemudian hidup dari satu hutan ke hutan lain dengan kecemasan yang tak pernah lepas. Barangkali orang yang menyandera mereka akan meminta tebusan kepada keluarga. Kalau keluarga tidak mampu memenuhi, bisa saja mereka dibunuh atau bahkan terbunuh dalam baku tembak. Tentara berloreng lusuh itu adalah orang-orang yang diburu dan di antara celah-celah sempit sesekali merekalah yang menjadi pemburu, termasuk memburu warga sipil yang tak terkait langsung dengan konflik bersenjata.

Esoknya, berita tentang razia yang diwarnai letusan senjata itu bermunculan di berbagai media. Petinggi militer menyebutkan, sekelompok pemberontak berlagak sebagai aparat menggelar sweeping. Tiga penumpang memilih kabur karena merasa terancam. Aparat sudah menyisir kebun kosong sampai areal tambak. “Kami belum menemukan mereka. Tapi diperkirakan masih hidup karena di sekitar lokasi tidak terlihat ceceran darah.”

Baca juga  Telur Ayam sebelum Fajar

Tidak ada jawaban penyeimbang dari pemberontak sebab penguasa darurat militer melarang media massa mengutip pernyataan mereka. Penumpang juga tidak ada yang berani berbicara kepada jurnalis. Petinggi militer mengungkapkan, “Nama ketiga penumpang itu berakhir dengan huruf “O” yang selama konflik menjadi sasaran pemburuan karena dianggap memihak pemerintah.” ***

Ayi Jufridar bekerja sebagai jurnalis dan penulis fiksi di Lhokseumawe, Aceh. Cerpen-cerpennya dimuat di berbagai media cetak daerah dan nasional. Empat novel yang sudah terbit, Alon Buluek (2005), Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011), dan 693 KM Jejak Gerilya Sudirman (2015).

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: