Koran Tempo, Puisi, Raudal Tanjung Banua

Ikan-Ikan dalam Lubuk, Perginya Seorang Pelaut Muda

0
()

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 31 Maret-01 April 2018)

Sepasang Ikan Arowana III - Heno Airlangga, 142 cm x 97cm - 2015.JPG

Sepasang Ikan Arowana III – Heno Airlangga, 142 cm x 97cm – 2015 (sumber: Google)

Ikan-Ikan dalam Lubuk

 

Jika air seperti waktu

Maka kami hidup berlimpah waktu

Karena sebagai ikan-ikan dalam lubuk

Air memutar kami dan kami memusari air

 

Tapi bertahun-tahun hidup di lubuk

batu, kami tak pernah bisa

ke hilir atau ke hulu

 

Hidup kami berputar sealur arus

Di selingkung dinding buta

Tubuh dan pandangan kami tertumbuk

Kekal, hingga berlumut sisik dan sirip

 

Mengapa tak menyelam?

Kadang kami dengar sengau akar pohon

Di celah batu retak

Kami pun menyelam ke dasar yang gelap

Dan hari kehari makin terasa

Segalanya mengeras dangkal

 

Air baru seperti waktu jika mengalir,

Bisik pohon sambil menjatuhkan

Daun-daunnya yang kuning

Dan mengembun daun yang hijau

Kami ingin ke luar dari liang batu pertapaan

Atau kutukan ini, apakah bedanya?

 

Satu persatu kami menghilang

Jadi santapan hantu siluman

 

Toh sepotong langit di atas sana

Bergeming, menguntit tanpa cakrawala

Luasnya tak lebih setampah

Karena tercipta dari mulut lubuk kami sendiri

yang menganga sejak semula

menadah takdirnya

 

“Ayo mulai!”

“Kita harus ke luar!”

“Takdir kita bukan di sini!”

Kami sudah tak tahan

Kepanasan dalam deru gemuruh jeram

 

Maka suatu malam, di bawah sinar bulan

Kami berlompatan ke aliran air

yang bergelora. Sisik kami berkilau keperakan

Karena dasar yang gelap, geriap dinding buta

telah kami tinggalkan.

 

Kami terbanting, hanyut mengikut

anak-anak sungai, galur-galur air

bandar galian, panjang tak berujung

Dihempang duri, jala dan lumpur

Baca juga  Museum Kehancuran

diintai mata-mata kail

 

Tapi kami tak mungkin berbalik pulang,

Ke lubuk batu limpahan waktu

yang terbuang karena bujuk-rayu

nyanyian katak-katak bengkong

 

(Konon bertahun-tahun kemudian

Lubuk batu itu menjelma jadi lubuk hantu

Berdenyut sepi sepanjang malam

Seorang pemasang bubu yang tersesat

Mendapati tengkorak kepala ikan

Terperangkap dalam bilah-bilah bambu tangkapannya.

 

Maka berkisahlah ia

Bersaksi, sebagaimana kusalin

dalam puisi yang sedang kau baca ini)

 

2007/2018

 

Perginya Seorang Pelaut Muda

 

1

kucintai laut

karena merdeka

 

2

kemudian ia nyalakan lentera

kemudian ia pejamkan mata

(sampan bocor tak mungkin ditimba)

 

3

di ambin, perempuan membuka sanggul

selimut bayi di susuan

 

4

kucemburui laut

karena buta

 

5

di teluk, sampan-sampan terantuk

induk semang pulang mengantuk

 

6

saya cintai kau

karena berduka

 

7

semua yang di pantai pandai berbisik

sebab angin tak dapat dilihat

 

8

bayi itu sehat

dan tumbuh sekuat dayung

 

9

kucintai engkau karena seperti ayahmu

rakus menyusu

 

10

seorang anak menjelma

pulau hijau di laut biru

 

11

berita tiba-tiba (tapi sudah diduga):

induk semang mati tamasya

tercekik akar liar dekat laguna

 

12

kulunaskan sudah

karena kucintai laut dan kubenci

 

13

selamat tinggal: sampan bocor ayah,

jendela yang diketuk, batuk-batuk ibu

(muslihat-muslihat itu)

 

2018

 

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah.

 66 total views,  4 views today

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: