Cerpen, Republika, Risman Lemboh

Di Bawah Bayang-Bayang Kincir Raksasa

5
(6)

DESA kecil itu bernama Lainungan. Sebuah perkampungan kecil di kaki bukit tempat kincir baja raksasa berdiri gagah. Simbol kedigdayaan manusia dalam menjawab tantangan zaman. Simbol revolusi teknologi yang termanifestasi dalam bilah baja yang terputar oleh angin. Simbol keperkasaan yang tampak dari tiang baja tinggi yang menjulang seolah ingin menjangkau langit. Simbol kegigihan dari turbin yang terus berputar menciptakan energi penerang di seluruh Pulau Sulawesi.

Tanah desa ini kering, tetapi mampu melahirkan manusia gigih yang mencari kesuburan di atasnya. Anginnya berembus konstan dan mampu mendinginkan hati masyarakatnya. Tempat komunitas kecil yang berbicara dengan suara keras dan mendayu-dayu laksana gelombang, tetapi sesungguhnya ramah dan menyimpan jiwa solidaritas yang tinggi.

Tepat di punggung bukit itu, seorang wanita paruh baya dengan peluh membasahi keningnya sedang menyiangi ratusan baris pohon jagung. Tanpa kawan, hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, mengumpulkan setiap bonggol demi bonggol jagung yang telah ia rawat selama tiga bulan terakhir. Ia tak mengeluh dengan matahari yang menyengat membakar kulit.

Wanita itu paham bahwa akan ada imbalan dari tetes butir keringatnya yang jatuh membasahi bumi. Dari tangannya yang kapalan akibat kerja keras, ia mengangkut sendiri karung penuh jagung di punggungnya untuk dikumpulkan. Ia bergeming dengan rasa perih yang gatal dan panas dari bulu halus jagung yang sudah dianggap sebagai teman. Kawan yang akan datang berkunjung di musim panen seperti ini.

Tak jauh, barisan pohon jambu monyet juga telah dipetik. Ia kumpulkan seadanya, tak banyak. Yang penting cukup untuk bisa ia bawa. Masa bodoh dengan getah yang akan membuat kulitnya terkelupas parah. Semua demi anak tercinta.

Rutinitasnya hari ini sama sejak setahun terakhir. Ia akan mandi, membersihkan kulitnya sehingga tampak cerah. Agar sang putra tidak perlu tahu kesehariannya yang beradu langsung dengan sinar matahari. Kukunya ia bersihkan dari tanah yang melekat untuk menghilangkan kekhawatiran sang anak bahwa ia masih bekerja sendirian mengurusi kebun jagung mereka.

Baju kurung panjang akan menutupi tubuhnya. Menutup kulit yang legam terbakar matahari. Bedak ia taburkan, agar anaknya tidak melihat kerutan akibat lelah bekerja. Gincu diusapkan di bibirnya, menyamarkan mulut yang kering terkelupas. Ia harus tampil seolah ia tak menyimpan beban. Semua ia lakukan untuk menghilangkan kekhawatiran anaknya.

Dengan tangan cekatan, ia merapikan rantang plastik berisi nasi, ikan asin, dan bakwan. Tak lupa, kacang mede telah terbungkus rapi. Buah naga dan pisang dari kebun juga telah ambil bagian dalam kantong plastik itu. Buah yang dulu ia tanam dan bantu rawat bersama sang anak.

Baca juga  Romansa Ratu Sejagat

Wanita itu kemudian mengecek kembali semua persiapan yang perlu ia lakukan. Makanan, baju, detergen, dan buku tulis serta pulpen pesanan anaknya telah terbungkus dan terikat rapi pada sadel motor. Wanita ini kemudian membelah jalanan Trans-Sulawesi yang padat. Bersaing dengan sesama pengendara hingga mobil truk 12 roda. Semua ada dan tersedia untuk menemani perjalanan selama satu jam.

Hempasan angin dari rem truk hingga kerikil yang tak sengaja terlempar hanya dianggap biasa. Masih mampu dikalahkan oleh luapan rindu yang tertahan selama ini. Tak mampu menghalangi niat cinta untuk bertemu dengan sang buah hati.

Gerbang depan Lembaga Pemasyarakatan itu tampak gagah. Partisi nyata yang memisahkan dirinya. Batas tempatnya memasuki sebuah dimensi berbeda dengan tempatnya hidup.

Dengan perasaan yang membuncah, wanita itu tampak gelisah. Lehernya terjulur tinggi menatap lekat ke arah tempat para narapidana masuk. Ia celingak-celinguk penuh semangat.

Itu dia, sosok lelaki pengisi hati wanita itu. Tak ada yang berbeda dari penampilannya. Rambutnya yang kaku rebah, langkah yang seperti diseret, dan lesung pipit yang khas. Hanya, ia tampak lebih berisi dibanding terakhir kali mereka bertemu.

Dua manusia itu berpelukan. Wanita itu mencium kedua pipi dan keningnya. Sang anak membiarkan luapan semua kerinduan yang akhirnya terlampiaskan. Senyum sang ibu terus terukir, tak hanya melalui wajah, tapi juga terpancar dari hatinya.

“Selamat ulang tahun, Nak. Semoga panjang umur, doa mama sama bapak selalu untuk kamu.” Ucapan tulus itu keluar dengan begitu syahdu. Bersama dengan urapan yang ia usapkan pada kedua sisi wajah Risman. Seperti embun yang menyejukkan di kala subuh. Basah, namun begitu mendamaikan.

Makasih banyak, Ma. Bagaimana kabar Mama sama Bapak?”

“Alhamdulillah, kami baik-baik saja,” ujar sang ibu menenteramkan perasaan. Ia tak tahan untuk tidak menggoda sang anak, “Kamu lebih sehat Risman, lebih berisi.”

Risman hanya menggaruk-garuk sisi belakang kepalanya. Tampak salah tingkah. “Beginilah, Ma, kalau tidak ada kegiatan. Cuma makan, ibadah, membaca. Begitu terus setiap hari.”

“Tidak apa-apa, yang penting kamu semangat. Tetap istiqamah dalam ibadah dan mencari ilmu,” pesan sang ibu.

Mata mereka berdua kemudian saling beradu. Berbicara mewakili mulut untuk menyampaikan kata yang tidak bisa terucap. Mentransfer energi rindu yang seakan tak ada habisnya.

“Ini mama bawa makanan kesukaanmu. Mama minta maaf tidak bisa kasih kado sekarang. Nanti kalau jagung sudah laku, kadonya menyusul,” ucap sang ibu dengan penuh kasih.

Baca juga  Tuhan Bermalam di Rumah Melly

“Tidak perlu, Ma, ini saja saya sudah berterima kasih sekali. Apalagi Mama sudah datang ke sini,” jawab sang anak sambil mencium tangan sang ibu yang dibalas dengan usapan lembut di puncak kepalanya.

Risman kembali menatap mata sang ibu begitu lekat. Mengumpulkan sedikit keberanian untuk bertanya. Pertanyaan yang entah kenapa sering mendatanginya dan membuatnya begitu kalut.

“Ma,” ucapnya dengan pelan dan penuh hati-hati. “Apa Mama malu punya anak kriminal seperti saya?”

Mata sang ibu sekilas tampak berkilat. Tak sampai hati mendengar pertanyaan yang ternyata menggelayut di dalam kepala anaknya.

“Sejak kamu lahir, kamu sudah jadi kebanggaan Mama sama Bapak. Harapan terbaik kami. Anak yang kelak suatu hari nanti akan membahagiakan kami. Selalu seperti itu dan akan selalu tetap seperti itu, sampai kami dipanggil kembali.” Nada suara sang ibu begitu tegas. Seolah mampu mendamaikan suasana alam semesta yang mahaluas. “Kamu jangan berpikir seperti itu.”

“Ma, tapi pasti kalian malu. Sekarang saya seharusnya bahagiakan Mama. Giliran saya yang bekerja,” ucap Risman dengan sedikit tak sabar. Tak mengerti mengapa sang ibu bisa dengan mudah mengambil beban yang berat darinya.

Mata beliau tampak berkaca-kaca. Air mata sudah mulai merebak. Sang ibu mencoba membendung dengan segala ketegaran yang ia kumpulkan. Semuanya itu agar air mata tak menetes. Sebab, ketika jatuh, bukan hanya air matanya yang jatuh, harapan dan kekuatan pun akan ikut luruh.

“Mama akan menjadi ibu yang paling sedih kalau kamu bilang begitu. Kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan. Jangan pernah merasa malu karena Mama sendiri tidak pernah malu. Mama mungkin pernah kecewa sama kamu yang dulu. Tetapi, kamu tetap anak Mama. Mama terima kamu dengan segala lebih dan kurangmu. Mama tidak pernah menyimpan rasa putus asa sama kamu. Cinta Mama sama kamu tidak akan bisa hilang. Tidak bisa digantikan.” Sang ibu langsung mendekap tubuh Risman dengan begitu erat, seakan-akan tak ingin dipisahkan.

“Bahkan, kalau memang bisa, Mama lebih ikhlas untuk menggantikanmu di sini. Lebih baik Mama yang dipenjara supaya kamu bisa bebas. Mama lebih ikhlas,” bisik sang ibu saat memeluk Risman. Suara sang ibu bergetar. Ada luapan emosi yang tak ingin ia tunjukkan kepada Risman dan kepada dunia ketika ia mengucapkannya.

Sebuah pengumuman singkat memutuskan ikatan dalam pelukan cinta. Suara yang menyatakan bahwa waktu mereka sudah harus berakhir.

Baca juga  Burung Merah

Dengan segala kekuatan yang bisa ia kumpulkan, tangannya mengusap wajah Risman, lalu berucap, “Nak, kamu baik-baik di sini. Allah sedang mengujimu, bukan memberimu azab. Berprasangka baiklah kepada-Nya. Mama percaya akan ada kesempatan kedua untukmu yang jauh lebih baik. Jangan pernah kecewa dengan takdir. Jangan pernah putus asa dengan nasib. Dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Kamu harus janji sama Mama.”

Risman tak bisa mengucap satu pun kata untuk membalas permintaan janji itu. Ia hanya sanggup untuk langsung memeluk beliau dalam satu dekapan yang begitu ikhlas, mengakhirinya dengan sebuah kecupan yang penuh kasih di kening sang ibu.

Dalam kecupan itu, sang ibu terenyuh. Jika saja ia memiliki kuasa untuk mengendalikan dan mengatur waktu, akan ia bekukan waktu. Untuk ia nikmati detik yang begitu berharga ini.

Sang ibu hanya mampu meresapi semuanya. Ia rengkuh tubuh anaknya, dipeluknya dengan erat. Ia menghirup aroma tubuh anaknya untuk ia simpan dalam memorinya. Aroma yang akan ia titipkan pada baju Risman di rumah yang akan ia peluk ketika ia merasa rindu.

Risman menatap dari balik jendela, ketika sang ibu beranjak. Lambaian tangan sang ibu dibalas dengan telapak tangannya yang ia tempelkan pada kaca. Seolah menjangkau hati sang ibu untuk menyampaikan pesan bahwa ia akan baik-baik saja.

Sang ibu pulang membawa kesedihan karena berpisah. Tetapi, ia membawa serta rasa bahagia yang akbar setelah bertemu sang anak. Sekarang waktunya untuk ia melanjutkan hidup. Ia memohon agar doanya mampu menjadi pendamping untuk Risman, menemani di kala sang anak rindu dan butuh kehadirannya. Pengganti dirinya sebagai pelindung, perisai bagi sang anak.

Dengan hati yang lebih lapang daripada sebelumnya, wanita itu pergi. Menyusuri jalan yang sama dengan yang ia lewati hari ini. Bedanya, beban rindu itu sedikit menipis dan rasa cinta itu semakin menebal. Wanita paruh baya itu pulang. Menuju kampung yang berada di bawah bayang-bayang kincir raksasa. ***

Risman Basri adalah narapidana yang sudah lebih dari setahun ini menjalani vonis lima tahun dua bulan. Pria kelahiran Lainungan, Sidrap, Sulawesi Selatan, yang berusia 30 tahun ini, tergabung dalam Tim Literasi Lembaga Pemasyarakatan untuk mengasah bakat dan kemampuannya dalam penulisan kreatif. Pos-el: [email protected]

Average rating 5 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Rere Vandyaa

    Subhanallah, setelah membaca cerpen tersebut hati saya bergetar sembari memikirkan, “hal apa saja yang sudah saya berikan untuk kedua orangtua saya.” Tetap semangat berkarya, Bang!

Leave a Reply

%d bloggers like this: