Cerpen, Hari B Mardikantoro, Suara Merdeka

Surat Balasan untuk Bidadari

4.5
(6)

MALAM kian mengerucut. Sepi mengekal. Hanya suara angin dalam kegaduhan yang menentramkan. Sesekali suara burung melengking memecah sunyi. Entah burung apa, aku tak tahu dan tak ingin tahu. Yang masih kuingat dengan burung itu, ketika masih kecil, aku paling takut dengan suaranya karena orang-orang selalu menghubungkan suara burung itu dengan kematian. Kalau burung yang hanya keluar malam itu mulai bersuara, pasti Ibu langsung mendekap dengan rasa khawatir.

Aku masih saja terdiam. Kertas yang kusanding sejak tadi masih polos, putih bersih. Belum ada coretan segaris pun. Aku ingin menulis tentang sesuatu yang terbaik untuk orang yang istimewa pula. Berkali-kali aku mengernyitkan dahi, rasanya ada banyak yang ingin kutulis. Namun tak satu pun kata yang mampu tergores.

Aku masih saja membolak-balik surat yang kuterima beberapa hari lalu yang dikirim lewat angin pada suatu malam yang basah. Surat yang sampai sekarang aku tidak tahu siapa pengirimnya. Tapi, yang pasti surat itu ditulis dari surga oleh seseorang sebagai bagian penghuni surga.

Kini aku ingin menulis sesuatu, sesuatu tentang rindu dan sesuatu tentang sepi. Angin malam sesekali menerobos lewat celah jendela. Dingin kian membungkus kulit tuaku. Sunyi. Justru keinginan yang menggebu itu menjadikan pikiranku jadi buntu. Tapi aku ingin tetap menulis malam ini. Kuhela napas panjang, berat. Aku ingin mengumpulkan tenaga, agar kertas di hadapanku itu tak lagi putih.

“Kamu tak akan kuasa menulis sesuatu,” tiba-tiba muncul suara dari dalam diriku sendiri.

Aku terkejut. Bahkan tubuhku nyaris terjengkang. Jarum jam di dinding perlahan bergeser nyaris ke angka dua dini hari. Aku menghela napas panjang.

“Ternyata kamu tak mampu menulis apa pun, karena tidak ada yang perlu ditulis,” suara itu menggema lagi. Ternyata suara itu dari sisi kesadaranku sendiri.

“Kamu akan bisa menggoreskan perasaanmu untuk orang yang kamu cintai,” sanggah sisi kesadaranku yang lain. Aku mengangguk-angguk tanda setuju. Suara ini yang kemudian memberi semangat untuk segera menuliskan sesuatu.

“Kamu jangan hanya mengumbar perasaan saja, tak ada gunanya. Kamu acap kali terbawa perasaanmu sendiri,” suara negatif itu muncul lagi.

“Jangan percaya, ayolah segera menulis, tulislah sesuatu.” Lalu sepi menjelma.

Aku lalu mulai menulis meski tanganku gemetar. Satu, dua kata mulai tergores dalam kertas putih di hadapanku. Aku menghala napas panjang. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba muncul.

“Surat ini kutulis dari ruang yang paling sepi. Aku ingin memberimu sepotong rindu yang sudah kurajut berhari-hari, bahkan bertahun-tahun. Semoga di tempatmu yang indah, kamu bisa melihat ada seseorang yang merindukanmu.”

Baca juga  Hari Sudah Malam

Selesai menulis surat itu, tubuh tuaku tak kuat lagi. Malam yang kian mendekati pagi sudah tak kuasa menemaniku berlama-lama duduk di kursi yang sudah berjam-jam menopang pantatku. Aku rebah di kasur masih dengan memegang surat yang lama kuperjuangkan wujudnya.

***

Surat dalam amplop cokelat itu masih kudekap erat. Kini aku bimbang, surat itu akan kutitipkan kepada siapa. Tadi pagi, aku mencoba ke kantor pos, tapi pegawai kantor pos menolaknya karena alamatnya aneh dan tentu kantor pos tidak mampu mengirimnya.

“Ini surat milik Bapak?” tanya salah satu pegawai pos yang tampak masih muda. Aku mengangguk.

“Alamatnya mana?” katanya lagi minta penjelasan. Aku tergagap. Mulutku mendadak terkunci, karena aku pun ragu dengan alamat yang kutulis dalam amplop itu. Kutunjuk secarik alamat yang kutulis.

“Surga? Bapak jangan bergurau,” lelaki pegawai pos itu tidak percaya dengan alamat yang katanya aneh.

“Saya tidak bergurau, alamatnya memang ini,” ucapku agak meninggi. Aku tersinggung dikatakan alamatnya aneh. Lelaki di hadapanku tersenyum getir. Tampaknya ia memaklumi berbicara dengan orang tua yang menurutnya mungkin sudah agak pikun.

“Kami tidak bisa mengantar surat dengan alamat seperti ini,” terang lelaki itu. Aku mengangguk karena sebenarnya sejak awal aku pun ragu dengan alamat yang kutulis sendiri dalam amplop cokelat itu.

“Tapi saya pernah menerima surat yang dikirim dari surga,” sanggahku pelan.

“Dikirim lewat apa?”

“Angin yang datang bersama hujan.”

Lelaki pegawai pos itu terkejut dengan ucapanku. Tapi aku tak peduli. Lantas beberapa lama kami saling diam. Kantor pos mulai ramai oleh pengunjung. Aku lantas pulang.

Masih kudekap surat itu. Jujur, aku ingin surat itu segera sampai. Namun kembali aku ragu. Akankah kutitipkan pada angin yang dulu juga pernah membawa surat untukku? Yang kini mengganggu pikiranku karena hujan dan angin saat ini hampir tidak ada. Musim sudah berganti. Bahkan hari-hari ini panas selalu menyengat. Angin juga tidak lagi muncul. Tiba-tiba aku rindu angin.

Malam kian mendaraskan sepi. Tanah kering menawarkan gersang. Hujan memang sudah lama tidak turun. Beberapa pohon bahkan nyaris kering. Daun-daunnya kotor oleh debu yang selalu menerpanya berhari-hari.

Aku meletakkan surat bersampul cokelat itu pada dahan pohon di depan rumah. Tentu aku berharap pada suatu saat nanti, entah malam ini, besok atau lusa ada angin yang mampu menerbangkan surat itu dan mengirimkannya ke surga. Aku yakin pasti akan ada angin karena angin kadang datang tanpa diduga seperti hujan yang kadang juga turun tanpa diduga. Kini musim sudah tidak bisa jadi perhitungan.

Baca juga  Percakapan di Tengah Hutan

Malam ini, kutunggu surat itu dijemput angin. Sengaja aku duduk di teras di samping rumah yang agak jauh dan tersembunyi dari pohon tempat aku meletakkan surat. Aku tak ingin angin malu untuk datang, karena aku tunggu. Biasanya sesuatu yang ditunggu dan diharapkan justru sering mengecewakan.

Pura-pura aku sibuk dengan kegiatan lain. Aku ajak Pak Latif main catur. Lelaki itu semula menolak tapi ketika kudesak terus akhirnya luluh. Jujur, aku sendiri sebenarnya tidak bisa sepenuhnya konsentrasi dalam permainan itu, karena ada sesuatu yang kutunggu, angin.

“Ayolah Pak Mardi, sekarang giliranmu,” kata Pak Latif setelah menjalankan kuda ke bidak yang kosong sambil menepuk tanganku. Aku terkejut. Pak Latif terkekeh. Lelaki itu terus terkekeh sampai hampir tak terdengar suaranya.

“Ya, ya, ya….” aku jalankan buah caturku asal saja. Aku gelisah, angin yang kutunggu tidak juga muncul. Agaknya Pak Latif tahu kegelisahanku. Ia lantas menatapku tajam tanda menyelidik. Aku tergagap. Namun sengaja kualihkan pandangan Pak Latif ke tempat lain.

“Pak Mardi sedang memikirkan sesuatu?” tanya lelaki setengah baya itu menyelidik.

“Orang hidup pasti memikirkan sesuatu, tapi tak penting kok,” jelasku agak tergagap. Aku menggelang berkali-kali. Tampaknya Pak Latif tidak percaya.

“Aku paham, tapi njenengan pasti sedang memikirkan sesuatu yang tidak sekadar seperti apa yang kami pikirkan pada umumnya.”

Aku diam. Dalam hati, aku mengiyakan perkataan tetanggaku itu.

Malam kian mendekati puncaknya. Bulan di atas tampak bergerak sangat pelan. Sepi mengendap. Lagi-lagi suara burung melengking di kejauhan menimbulkan bulu kudukku serentak berdiri.

Berkali-kali aku menengok ke atas lalu ke samping tempat aku meletakkan surat pada dahan sebuah pohon di depan rumah. Meski yang ada di hadapanku Pak Latif dan buah catur, tapi jujur pikiranku melayang ke mana-mana.

Pada malam yang kering itu, aku lantas bercerita pada Pak Latif tentang surat yang kutulis untuk seseorang di surga. Aku juga bercerita tentang surat itu yang kini kuletakkan pada dahan pohon depan rumah, supaya diterbangkan angin ke surga. Lelaki itu dengan tekun mendengarkan ceritaku. Ya, Pak Latif memang salah satu tetangga yang selama ini bisa kuajak bicara. Aku berharap Pak Latif mendukung langkahku.

Njenengan itu aneh dan nganeh-ngenehi,” katanya. Justru tuturan itu yang keluar dari mulut Pak Latif setelah aku selesai bercerita. Aku mendadak terkesiap. Mataku melotot karena terkejut. Pak Latif bukannya mendukung, justru menganggap aku aneh.

Baca juga  Gogor

“Mana bisa angin akan membawa surat ke surga,” lanjut lelaki itu berseloroh. Meski berseloroh tapi ucapan Pak Latif cukup menamparku. Aku terdiam, terpekur dalam kegelisahan.

“Aku yakin surat itu akan sampai ke surga,” jawabku pendek. Pak Latif hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasa dingin mulai menyentuh pori-poriku. Kurapatkan jaket yang dari tadi terbuka.

Angin malam yang kutunggu dari sore tadi tak juga menghampiri surat di pohon itu. Bahkan letak surat itu masih seperti semula, tak berubah sama sekali. Aku tergugu dalam kekecewaan yang mendalam. Setelah Pak Latif pulang, aku lantas tertidur di kursi dengan dada terhimpit karena menahan kecewa.

***

Malam ini kembali kutunggu surat yang masih teronggok di pohon depan rumah. Masih utuh bahkan posisinya juga tidak berubah. Aku menduga angin belum ada yang datang, lantas membawa suratku.

Rokok dan kopi juga sudah kupersiapkan. Bau kopi yang harum mengundangku untuk segera mencicipinya. Tapi aku belum berniat meminumnya. Kunikmati dulu aroma khas kopi buatan istriku.

Aku juga sengaja mematikan lampu teras rumah biar kegelisahanku tak diketahui orang lain selain Pak Latif yang memang sudah kuberi tahu. Kembali di kejauhan suara burung malam mengusikku. Aku benci suara burung itu. Orang-orang di kampung selalu menyandingkan suara burung itu dengan kematian. Ketika suara burung yang selalu keluar malam itu melengking berkali-kali, orang-orang selalu menduga kematian akan menjemput salah satu warga.

Aku juga tidak tahu, tiba-tiba burung itu kini berkeliaran di sekitar tempat tinggalku sekarang. Suara burung itu kembali melengking panjang. Sepi membuncah. Suasana sepi seperti ini menjadikan suara burung itu menimbulkan perasaan takut. Mendadak suara burung itu mendekat dan kian mendekat. Suaranya memekakkan telingaku.

Dalam hitungan detik, sreet… burung itu menyambar surat yang sengaja kuletakkan di pohon dan berbegas membawanya terbang. Arahnya lurus ke atas menembus hitamnya langit malam. Terbang dan terus terbang sampai mataku tak bisa melihat wujud burung dan surat yang dibawanya. Mendadak aku gemetar. Tapi aku yakin burung itu tentu membawa suratku ke surga. ***

Lembah Sindoro, awal Juli 2021

Hari B Mardikantoro, alumnus Sastra Indonesia UGM. Kini mengajar pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Beberapa cerpen telah dimuat di media cetak dan online. Sekarang ia tinggal di Ungaran.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: