Cerpen, Jawa Pos, Tova Zen

Penyewa Rahim

2.5
(2)

SENJA menutup biasnya dengan mengubahnya menjadi malam yang pekat. Sejak nuansa senja yang sendu hingga malam yang pahit datang, tak membuat hati saya larut dalam kelamnya hidup ataupun riang dalam gemerlap malam kota. Saya menunggu di pelataran Jazzy food court yang berada di pinggiran perkantoran Sudirman Park. Dengan ritmik tenang saya nikmati lantun demi lantun musik Jazz. Saya ambil selembar kertas dengan tulisan tangan berulir yang patah namun sangat menawan kerapian huruf-hurufnya. Malam ini dia akan datang menemui saya. Itu pesannya dalam selarik kertas yang hampir kumal saya buka-tutup, dan saya lipat-lipat untuk bisa masuk kantong kemeja saya. Baris terakhir tertulis tentang tujuan saya ingin menemuinya. Sedikit sarkartis dia tuliskan: temui saya jika kamu ingin tahu rahim mana yang pernah istri kamu sewa, hei lelaki mandul!

Jika saya baca kata-katanya itu, hati saya merana, perih yang menyelusup seluruh rongga hati saya. Seenaknya dia katakan saya lelaki mandul, hanya karena hampir sembilan tahun menikah belum juga Tuhan karuniakan momongan. Seakan tak mengerti kedalaman relung hati, efek sedih pun mengalir di pucuk mata. Lalu tumpah meleleri pipi saya. Mungkin jika dia tahu saya menangis, maka dia akan katakan saya lelaki banci yang cengeng. Saya tak pernah merasa berat menjalani hidup yang kadangkala menguras emosi. Saya anggap itu sebagai fitrah saya sebagai insani yang peka perasaannya. Selebihnya saya amat bahagia menjalani setiap episode yang Tuhan susun dalam hidup saya.

Saya bersyukur memiliki istri yang cantik jelita, indah parasnya, luhur budinya. Istri saya memang kaum sosialita yang kerap kali sibuk dengan agenda-agendanya itu. Saya tak pernah paksa dia untuk berdiam diri di rumah, karena saya sangat cinta dia dan tak ingin membelenggu kebebasannya. Ikhwal kata, saya justru jadi lelaki penurut dan tak pernah menuntut apa-apa darinya.

Sekarang akhir Mei setelah seminggu sebelumnya Soeharto lengser. Ricuh politik, krisis moneter dan demonstrasi besar-besaran mewarnai wajah negeri ini. Tapi hubungan saya dan istri saya tetap tentram tanpa keributan yang berarti, malah saya anggap istri saya sebagai pelindung dari ketakutan saya terhadap kekerasaan yang kian marak dan merajalela.

Tak lama pundak saya serasa ditepuk dari belakang, dan kontan saya tengok siapa gerangan. Seorang wanita jelita dengan paras langsat tanpa make up dan mengenakan longdress gray-orange. Pakaiannya sopan dan penampilannya amatlah rapi. Wajahnya oval tirus dengan bibir tipis memerah tanpa gincu. Saya tahu perbandingannya, karena istri saya amat suka berdandan.

“Selamat malam. Tuan, Dores Pangkuwijaya,” sapanya sambil melempar lembut senyumnya.

“Ya, benar. Maaf, Anda ini siapa? Apa Anda punya kepentingan dengan saya?”

Dia sedikit terkekeh sambil sesekali melumat kembali senyumnya. “Saya yang menulis pesan pada tuan lewat secarik kertas.”

Saya terhenyak dan sedikit ragu akan ucapannya dan dalam hati saya berkata: apa benar wanita sesopan dia menulis surat demikian kesar pada saya? Mungkin benar, karena penampilan kadang bisa menipu tentang kedalaman hati seseorang.

“Oh, ya! Silahkan duduk, Nona. Anda mau pesan apa?”

“Tidak! Tak perlu. Saya hanya ingin bercakap-cakap dengan Anda, dan saya tak inginkan minuman menyela percakapan kita.”

“O, begitu,” ucap saya simpel.

“Begini, saya perhatikan hubungan Anda dan istri Anda sedang dalam kemelut tahun-tahun belakangan ini. Dan saya yakin penyebabnya adalah tak adanya momongan dalam keluarga Anda.”

Saya mengangguk dengan nuansa sendu sembilu mulai mengiris-iris hati saya. Mungkin benar saya yang mandul dan tak mungkin bisa beranak-pinak.

Baca juga  Dongeng Enceng

“Tuan Dores. Tentu Anda ingin tahu tentang rahim sewaan yang sengaja istri tuan sewa untuk mendapatkan keturunan.”

“Ya, belakangan ini istri saya sering mengungkit-ungkit hal itu. Saya bingung sekali, saya pada akhirnya terpengaruh oleh sarannya agar mencari wanita yang kiranya mau memberikan anaknya pada kami. Semacam anak angkat yang ingin kami besarkan sejak lahir. Akan tetapi belakangan pikiran istri saya berubah-ubah. Hingga dia menyuruh saya mencari wanita lain yang sudi disewa rahimnya. Padahal saya yakin sayalah yang mandul. Dan Anda pun tahu kalau itu benar, seperti apa yang Anda tuliskan dalam kertas ini.”

Wanita itu kembali tertawa kecil menanggapi omongan saya yang getir.

“Jadi Anda berpandangan bahwa Anda itu mandul? Dan saya juga menganggap demikian pada Anda. Itu semua karena istri Anda yang bersikeras menyuruh saya mencari lelaki yang sudi membuahi saya dan anak dari rahim saya akan dia ambil untuk dibesarkannya. Saya tak berkeinginan untuk membina rumah tangga dan berbagi hidup dengan orang lain. Saya amat suka pada hidup saya yang penuh kesendirian. Saya adalah mahasiswa progam doktoral dan saya amat mencintai almamater saya. Hidup bagi saya adalah belajar dan mencari tahu, bukan berbagi roman picisan bersama orang lain.”

“Nanti Anda juga pada akhirnya akan merasa kesepian. Sangat kesepian. Dan pada ujung-ujungnya membutuhkan orang yang mampu hidup bersama Anda.”

“Haha!” Dia tertawa nyaring.

“Apanya yang lucu dari kata yang saya ucapkan?” tanya saya karena heran melihat gelagatnya.

“Sudahlah jangan sok tahu tentang nilai bahagia yang saya rasakan. Sekarang kembali ke masalah kita tentang penyewaan rahim itu. Yah, saya bersikeras untuk mempercayai bahwa Anda mandul. Sebelum itu istri Anda meminta saya untuk menemui Anda agar Anda tahu wajah dan sosok ibu yang nantinya akan menghadirkan malaikat kecil yang nakal dalam kehidupan kalian.”

“Siapa dia? Sungguh saya ingin berterima kasih kalau begitu, dan saya akan bayar sewa rahimnya berapa pun nominalnya. Bisnis saya dan istri tak hancur meski bangsa ini meradang akibat krisis moneter belakangan ini.”

“Saya tahu, tuan Dores pengusaha ritel yang punya aset di mana-mana. Dan saya tak meragukan transaksi ini.”

“Transaksi?”

“Ya, transaksi. Dan sayalah wanita yang akan Anda sewa rahimnya.”

“O, jadi Anda.” Saya tercekat. Benar-benar tak disangka. Ternyata wanita berpendidikan sepertinya mau menyewakan rahimnya, meskipun dia paranoid terhadap lelaki, tapi tak bisa dipungkiri lelaki mana yang tak bertekuk lutut di kakinya saat melihat parasnya yang sederhana dan amatlah cantik.

“Saya sudah perbincangkan ini semua kepada istri Anda. Dan istri Anda setuju, sekarang giliran Anda menyetujuinya apa tidak untuk proses kelancaran transaksi ini.”

“Apa yang mesti saya lakukan agar transaksi ini bisa berjalan lancer.”

“Nikahi saya.”

“Gila!” saya tersentak luar biasa. “Saya tak bisa melakukan itu, karena saya amat cinta pada istri saya. Tak mungkin bisa menduakan istri saya. Benar-benar tak mungkin. Ini semua nonsense. Saya akan bayar Anda berapa pun  tanpa perlu Anda saya nikahi. Bukankan Anda ingin hidup dalam kesendirian Anda? Kenapa justru Anda inginkan saya untuk jadi suami Anda? Saya ini mandul dan Anda tahu itu.” Kemarahan saya mulai memuncak.

“Tenang! Tuan Dores, saya mohon Anda tetap tenang kalau ingin transaksi ini berlanjut. Dengarkan dulu penjelasan saya.”

Baca juga  Asap Dapur Penutup Aib

Saya menangkup wajah saya dengan kedua tangan dan saya menangis sesegukan. “Nona, saya dan istri memang merindu sekali hadirnya anak di antara kami. Tapi akan lebih menyakitkan hati saya jika saya berkhianat pada istri saya. Dan saya tak secuil pun punya niatan untuk menduakan istri saya. Saya amatlah bahagia hidup meskipun hanya berdua hingga uzur menyapa kami kelak.”

“Hei, Tuan! Jangan sok melankolis begitu dihadapan saya.”

“Saya tak melankolis! Ini nuansa hati saya,” tangan saya menggebrak meja dengan kerasnya. Dan wanita itu terkejut sangat atas tindakan spontan saya.

“Baik! Jika Tuan tak bisa mengontrol emosi Tuan, lebih baik kita akhiri transaksi ini.”

“Tunggu! Saya akan dengarkan penjelasan Anda meski harus mengiris hati saya.” Nampak beberapa orang pengunjung masih menatap kami. Mungkin mereka tersentak aksi emosional saya di meja restoran ini.

“Saya tak ingin mendapat malu di sini, dan saya harap Tuan bisa mengontrol emosi Tuan.”

Saya mengangguk pilu. “Katakan apa yang ingin Anda jelaskan pada saya.”

“Saya inginkan beberapa aset yayasan Anda yang menaungi dunia pendidikan. Agar saya kelak bisa terjun ke dunia pendidikan. Saya tahu Anda punya yayasan dibidang itu, khususnya perguruan tinggi.”

“Kenapa Anda begitu menginginkannya,” tanya saya mencari tahu.

“Saya ingin mengadakan pergerakan demonstrasi di kalangan intelektual untuk merekonstruksi kebobrokan sistem aparatur dan birokrasi negeri ini. Dan itu juga adalah studi yang menjadi tugas program doktoral saya. Saya akan melakukan apa saja untuk meluluskan rencana saya itu, meski saya harus menyewakan rahim saya untuk mengandung seorang anak.”

“Lalu?” saya mulai tertarik akan kecerdasan cara berpikirnya yang sedikit licik tapi cerdas.

“Saya hanya butuhkan legalitas atau status resmi. Dan bukan wanita simpanan ataupun jalang. Anda boleh ceraikan saya kelak jika saya sudah melahirkan anak untuk Anda. Dan saya inginkan aset yayasan itu sebagai harta warisan gono-gini untuk saya.”

Saya renungkan sejenak apa perkataannya. Saya tak punya pilihan. “Apa istri saya setuju?”

“Semua transaksi ini sudah disetujui istri Anda, sekarang giliran Anda mengungkapkan persetujuan Anda.”

“Pada intinya saya setuju. Tapi saya mohonkan pada Anda untuk memberikan riwayat lelaki yang akan mengisi rahim Anda dengan benihnya. Saya perlu tahu itu, agar setidaknya saya bisa dapati karakter anak saya kelak. Dan pastikan pula lelaki itu tak peduli dengan calon bayi dalam rahim Anda nantinya. Tapi….”

“Kenapa? Sepertinya Anda punya keluhan?”

“Yah, tapi jujur saya katakan bahwa saya sedikit takut dalam transaksi ini, banyak sekali yang diperjudikan. Masa depan saya dan istri, masa depan calon anak saya kelak, masa depan Anda juga tentunya. Apa ini benar-benar jalan yang baik?”

“Kenapa Anda jadi meragukan itu?”

“Sudahlah! Saya tak perlu jawab pertanyaan Anda tentang pendirian saya dalam transaksi ini. Hanya saja saya benar-benar merasa takut sekali. Takut kehilangan segalanya di saat saya mendambakan segalanya.”

“Tenanglah! Tahun-tahun ke depan nantinya akan berjalan mulus tanpa rintang yang bisa menodai kebahagiaan Anda.”

“Yah! Hati kecil saya serasa ingin menjerit dan saya merasa ada yang salah dalam kehidupan saya.”

“Saya tak akan mengulik keluarga Anda saat saya benar-benar cerai dengan Anda. Sekarang Anda harus perankan skenario ini. Jadikan saya istri kedua Anda. Tentu saja saya harus mendapat kehidupan yang layak dari Anda secara nafkah lahir. Beri saya flat apartemen dan Anda sesekali bisa datang ke apartemen itu selama Anda masih menjadi suami saya.”

Baca juga  Korsakov!

Begitulah perbincangan saya dengan wanita penyewa rahim. Sekarang ini, setelah hampir satu dekade sejak transaksi saya dengan penyawa rahim. Saya punya seorang putri cantik. Saya amat cinta putri saya dan istri saya juga amat memanjakan putri semata wayang kami itu.

Suatu pagi saya mendapat kiriman kado besar berisi mainan anak-anak. Satu set boneka Jepang dengan kimono. Dari Jepang dan dikirim lewat kurir ekspress. Terselip sepucuk surat. Dari tulisannya saya teringat benar dengan huruf-huruf khas itu. Tak salah lagi. Ini darinya. Penyewa rahim itu.

Ucapanya adalah selamat tahun baru untuk saya dan istri. Dan baris terakhir tertulis kalimat yang membuat saya menangis tanpa harus bersuara. Katannya dia amat rindu pada anaknya. Katanya pula dia amat rindu pada saya. Dan terakhir dia tuliskan salam sayangnya untuk anak kandung kita. Anak kandung kita. Apa maksudnya?

Saya lacak dia lewat yayasan yang pernah saya berikan padanya. Saya minta pengurus yayasan itu mencari tahu di mana dia berada. Benar! Dia memang di Nagoya dalam rangka studi banding di beberapa universitas. Dengan perasaan kalut saya berhasil menghubungi dia, lewat tengah malam dari Jakarta.

“Hey! Apa kabar. Selamat tahun baru.”

“Di sini jarum jam belum bisa mengganti lembar baru.” Sepertinya dia tahu intonasi suara saya dan mengenal betul kata-kata saya.

“Musim dingin di sana? Apa kamu merasa kedinginan. Ah, maksud saya kesepian?”

“Saya suka hidup sendiri.” Suaranya parau dan terbata-bata.

“Jangan munafik,” kata saya sedikit kesal. Mata saya melelehkan airmata dan mengaliri ujung telepon. Saya sesegukan dan tak tahu harus berkata apa.

“Jangan menangis.”.

“Ah, kamu pun menangis. Saya tahu kamu juga rindu pada saya.”

“Entahlah”.

“Benarkah kamu dulu mengandung anak saya. Dan yang sekarang bersama saya adalah anak kandung saya. Bukan anak dari orang lain.”

“Bagaimana kamu tahu. O, suratku itu. Saya sudah menelan cinta bersama Anda. Saya hanya tidur bersama Anda. Dan lelaki yang benar-benar ada dalam hidup saya adalah Anda. Tentu Anda tahu itu, Mas Dores Sayang”.

“Apa maksud dari semua ini?”

“Inilah kehidupan, Sayangku. Kadang abu-abu pun bisa menjadi putih. Atau putih bisa bercak merah. Tak ada yang pasti dan tak bisa kita mengerti.”

“Terima kasih atas karunia putri yang cantik jelita. Anakku.”

“Jangan terisak begitu. Salam untuk istri Anda.”

Dan karena itulah setiap tahun baru putri saya mendapat kiriman dari wanita penyewa rahim itu. Mamanya.

Saya selalu sedih hati karena istri saya tahu tentang komunikasi saya dengan wanita penyewa rahim itu. Dalam diamnya dia acapkali murung, dan kadang saya lihat dia menangis.

“Maafkan saya, Mas. Saya yang sebenarnya mandul. Saya hanya ingin Mas punya penerus dan cukuplah bagi saya melihat Mas bahagia punya seorang anak kandung.”

Makanya setiap tahun saya bahagia mendapatkan kado dan surat dari wanita penyewa rahim itu. Tapi juga sedih, karena dalam catatan kaki surat itu tertera: “Kado hanya khusus untuk anak kita dari ibu yang tidaklah mandul rahimnya.” ***

 67 total views,  3 views today

Average rating 2.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. andriono

    cerpen yang bagus

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: