Cerpen, Koran Tempo, Syafiq Addarisiy

Tenggelamnya Sebuah Kapal

4.6
(5)

/1./

CERITA ini runtut: dimulai dari babak pertama, babak di mana ucapan seorang pastor tua memantik petaka bagi seisi kapal. Pada babak ini, kita akan melihat bagaimana seorang lelaki yang merupakan utusan-Nya menerjunkan diri ke dalam laut, yang akan menghadapi badai yang dapat membunuh siapa pun yang ditelannya. Siapa pun akan mengetahui hal itu cukup dengan menatap seringai maut di sana.

“Kapal ini ditumpangi oleh seorang pendosa,” terdengar satu suara. “Kita mesti mengusirnya dari kapal ini jika ingin selamat,” kata salah satu penumpang kapal.

“Tapi siapa seseorang itu, pak tua?” tanya nakhoda kepada pak tua yang tak ia tahu siapa dirinya.

Seseorang yang dipanggil pak tua itu adalah pastor dan sedang dalam perjalanan terakhirnya: menziarahi Tanah Suci sebelum mati. Ia, yang sudah berusia senja dan punya keahlian supaya didengar orang lain, menarik napas dalam-dalam.

“Hanya Tuhan yang tahu,” katanya.

“He, orang tua, jangan pikir karena usiamu kau bisa berkata seenaknya.”

Pastor tua itu menoleh ke sumber suara: kelasi berkulit hitam, berbadan tinggi, berlengan besar, berotot menonjol, berahang kuat, berdada bidang, bermata tajam, dan bersuara lantang.

“Memang sulit mempercayai kata-kataku, anak muda. Tapi yakinlah, badai ini bukan badai biasa. Kau sendiri tahu itu.”

Kelasi itu tersentuh oleh ketenangan pastor tua. Suaranya yang seakan tak terpengaruh oleh ganasnya angin dan gelombang serta guruh yang sambar-menyambar membuatnya diam merenungi kata-kata yang diucapkannya. Kelasi tersebut memang tahu badai di depan itu bukan badai sembarangan. Baru pertama kali ini ia temui badai yang angin dan gelombangnya saja sudah mengguncangkan kapal, sementara badai itu masih jauh.

“Baiklah, pak tua,” potong nakhoda, “jika memang tak kau tahu siapa yang berdosa, menurutmu, apa yang harus kita lakukan agar selamat dari badai mengerikan itu? Semoga petunjukmu semenenangkan cara bicaramu.”

Pastor tua menggeleng pelan dan menunduk. “Aku tak tahu. Tapi yang jelas, seorang pendosa berdiri di kapal ini dan Tuhan menurunkan azab untuknya, dan azab itu akan menimpa kita semua jika ia masih berada di tempatnya.”

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”

“Sulit menjelaskannya, anakku.”

“Kita lakukan undian,” kata satu suara. Semua menoleh ke sumbernya: seorang pemuda berambut ikal, berkulit kekuningan, berdahi lebar, berwajah tampan bersinar, berhidung mancung, berbibir merekah, berkumis tipis, dan beralis tebal.

“Saran yang bagus. Nama yang keluar ialah yang harus menceburkan diri ke laut,” sambung nakhoda. Semua kepala tampak merenungi itu, tak menolak tapi tak berani mengiyakan.

“Semua setuju?” tanya si pemuda.

“Bagaimana jika itu namamu?” tanya si kelasi.

“Aku akan menceburkan diriku. Kau sendiri punya nyali?” sang pemuda balik bertanya.

Baca juga  Pendeta Isai

“Kau berlagak seakan sudah siap dicabik hiu atau masuk ke perut paus.”

Si pemuda diam lalu mengitarkan pandang. Seisi kapal gaduh tentang apakah akan diadakan undian atau tidak. Pihak yang setuju berbaris dan menuliskan nama masing-masing lalu memasukkannya ke sebuah tong. Pihak yang tidak setuju berusaha meyakinkan bahwa usaha itu, selain sia-sia, berbahaya. Sangat mungkin nama yang keluar adalah orang paling suci di antara kita, ucap salah satu dari mereka. Tak ada yang menjamin itu akan meredakan badai ini. Benar, itu belum tentu cara meredakan kemarahan Tuhan, sambung yang lain. Namun, setelah empat kali ledakan petir serta dua kali sisa gelombang besar dari arah depan mengguncangkan kapal dan badai semakin memperlihatkan seringai wajah kematian, kertas bertulisan nama-nama sudah memenuhi ember yang diambil dari dapur.

“Yunus.”

Semua saling pandang, mencari siapa pemilik nama yang yang tertera pada kertas yang baru saja dibacakan sang nakhoda. Tak ada yang bergerak dari tempatnya. Semua menahan napas, tak merasa sebagai sang empunya nama, dan saling menoleh dengan tatapan curiga, memantulkan tuduhan sekaligus sanggahan. Tak ada yang bersuara, sampai tiba-tiba seseorang mengangkat tangannya dan berkata, “Akulah Yunus.”

/2./

Di babak kedua ini, akan kita tahu betapa bingung dan takutnya seisi kapal itu. Telah enam kali petir menyambar, tiga kali kapal terguncang, serta seorang lelaki menceburkan diri ke laut, tapi badai di depan tak tampak akan reda, dan pelan tapi pasti kapal kian terseret pusaran arus ke arahnya. Orang-orang tampak cemas dan ketakutan. Nakhoda meredup matanya. Si kelasi menenggak rum seakan itu tegukan terakhirnya. Pastor tua, tanpa ada yang tahu kenapa, menangis sesenggukan.

“Kita semua baru saja melakukan dosa!”

Semua menoleh ke sumber suara: juru masak kapal yang sangat pendiam dan belum lama bekerja di sana dan memiliki mata yang memancarkan siasat. Berlari dari buritan, mata melotot, pucat, dan ketakutan, si juru masak tampak menggigil.

“Kita telah memilih orang yang salah. Lelaki itu suci, dan kita membuatnya menerjunkan diri ke laut. Kita semua akan mati,” teriaknya.

Seisi kapal kembali gaduh. Satu suara terdengar menyalahkan nakhoda karena telah membawa kapal ke laut berbadai. Empat suara bersahutan menghardik si kelasi karena terus minum rum dan membuat Tuhan semakin marah. Enam belas suara bersahutan mengumpati Yunus karena mengusulkan melakukan undian yang berbahaya. Dua puluh lima suara bersahutan menggerutui pastor tua karena telah menyebabkan satu pemuda kehilangan nyawanya. Tak terhitung suara-suara silang-sengkarut dengan debur ombak ganas, petir, dan desau angin. Kapal kembali terguncang. Seisi kapal kehilangan ketenangan. Dan setelah semua kengerian itu, dalam diam, semua menyalahkan juru masak karena menyampaikan kabar yang tak berguna.

Baca juga  Kiai Jagad dan Enam Belas Pencuri

“Kau juru masak keparat. Pura-pura bisu dan menyembunyikan kebenaran. Kau harus bertanggung jawab. Susul lelaki itu ke laut!” teriak satu suara yang segera disusul dengan ya, ya, ya, benar, lompatlah, juru masak sialan, lompatlah, cepat!

Pastor tua tiba-tiba menghentikan tangisnya, lalu berdiri dengan bertelekan pada tongkatnya. Ia tampak menjadi semakin tua dan kepayahan. Angin kencang serta gelombang kembali mengguncangkan kapal dan petir menyambar ketika pastor tua itu berjalan ke tengah-tengah kerumunan, membuatnya terjatuh. Nakhoda dan beberapa orang lainnya berdatangan membantu.

“Tidak,” katanya. “Sudah cukup kita melakukan kesalahan. Berhentilah bermain-main dengan dosa orang lain dan mari kita akui dosa kita masing-masing.”

Seisi kapal terdiam, tak ada yang menyanggah, apalagi menyetujui.

Pastor tua mengatakan bahwa ia berdosa telah menuduh seseorang di kapal ini berdosa dan melupakan dosanya sendiri: ingin selamat agar dapat menziarahi Tanah Suci demi kepuasan pribadi. Ia lalu menuju tangga, turun ke lambung kapal, sembari berulang-ulang minta ampun kepada Tuhan dengan suara gemetar.

Sang nakhoda mengikuti perbuatan pastor tua setelah mengaku bahwa ia menyelingkuhi istrinya selama tiga setengah tahun. Si kelasi, begitu perutnya penuh dengan rum, mengikuti apa yang dilakukan dua orang pendahulunya, sekaligus menjadi orang terakhir yang mau mengakui dosanya. Setelahnya, tak seorang pun menyusul ke bawah. Tak seorang pun sudi mengungkap kesalahannya. Tak seorang pun berani menghadapi tindakannya di masa lalu. Mereka terlalu takut dan malu serta ingin menutupi lalu menyimpannya sendiri.

Petir menyambar lagi, lebih keras. Seisi kapal tersentak. Hening.

“Baiklah,” kata si juru masak memecah ketegangan, “siapa lagi yang pernah berbuat dosa, segeralah ke bawah agar kami yang berada di atas kapal ini selamat.”

Hening.

“Baiklah. Jika tak ada, posisikan diri kalian. Pegang kemudi, pegang layar, pegang tali, lakukan sesuatu yang kalian bisa. Kita masih punya kesempatan.”

Tak ada yang membantah. Semua seperti tersadarkan dari sesuatu.

/3./

Nasib kapal beserta semua penumpangnya akan dipaparkan di babak ketiga ini, setelah semua orang yang berdosa turun ke lambung kapal dan hanya mereka yang suci yang berada di geladak. Mereka tak berani dan tak mau menuruni tangga untuk duduk memeluk lutut di gudang, tanpa makanan, tanpa minuman, tanpa diizinkan naik kembali melihat kehidupan. Badai itu sendiri semakin membentuk wajah kematian.

“Kalian manusia-manusia berdosa, sepantasnyalah menebus kesalahan,” kata si juru masak mewakili orang-orang suci lainnya. “Lihat, tanpa kalian, kapal ini bergerak terkendali sedikit demi sedikit. Semua ini tak ada hubungannya dengan dosa.”

“Berilah air untuk pak tua ini. Ia kepayahan sekali,” pinta nakhoda mengabaikan omongan si juru masak.

Baca juga  Setitik Nila di Sokalima

Tak satu orang suci pun di atas kapal yang menanggapi. Tidak si juru masak. Tidak yang lainnya. Tak ada yang peduli. Tak ada yang mau memberikan air, khawatir tertular dosa dan tak diizinkan naik kembali.

Nakhoda masih mengiba, memintakan air untuk pastor tua yang terlihat semakin tua dan semakin tua. Tapi semua orang suci di atas kapal telah dikuasai curiga. Mereka takut itu hanya akal-akalan agar diperbolehkan naik kembali. Begitu pikir mereka. Maka, suara mengiba sang nakhoda tak ditanggapi oleh satu pun suara. Kemudian, untuk mengakhirinya, si juru masak berteriak sekuat tenaga, “Cari air sendiri. Kau orang laut. Ambil itu untuk minum. Pendosa macam kalian tak berhak atas air milik kami. Gunakan otakmu, sialan!”

Dan begitulah, mendengar jawaban itu, si kelasi yang meringkuk di dekat dua pendosa lainnya bangkit dari duduknya, bergegas ke pojok ruangan, mengambil tombak ikan yang tersandar dan sekuat tenaga menghunjamkannya ke dinding kapal, mengulanginya lagi dan lagi dan lagi dengan membabi buta. Mulanya, sang nakhoda berpikir si kelasi hanya mengungkapkan kekesalannya. Tapi, melihat sorot mata dan caranya menghajar dinding kapal, sang nakhoda tahu, si kelasi berniat melakukan lebih daripada itu.

Dan terlambat. Ketika ia mendekat dan berusaha menghentikannya, satu lubang sekepalan tangan telah tercipta dan air laut mengalir masuk melewatinya. Masih bingung dengan apa yang harus dilakukan, satu lubang sebesar lubang pertama berhasil dibuat si kelasi enam langkah di sebelah kirinya. Sang nakhoda ternganga, tak tahu kelasinya punya kekuatan sebesar itu.

Sang nakhoda, yang tak berbuat apa-apa selain memandangi kelasi membuat lubang ketiga dan keempat, lalu berteriak, memberitahu orang-orang suci di geladak, meminta bantuan untuk menghentikan si kelasi yang kesetanan. Tapi orang-orang suci di atas kapal itu terlalu suci, enggan turun melihat apa yang terjadi. Mereka tak mau percaya pada peringatan sang nakhoda tentang lubang-lubang ciptaan si kelasi. Mereka tak mau percaya tentang akan tenggelamnya kapal yang katanya tak akan lama lagi. Mereka tetap berada di tempatnya, berusaha mengendalikan kapal di bawah arahan si juru masak yang tiba-tiba menggantikannya sebagai nakhoda, mengabaikan teriakannya, mengabaikan air sudah setinggi lutut, semakin tinggi, semakin tinggi. ***

Mlangi, 9 Mei 2020

Syafiq Addarisiy belajar di Pondok Pesantren Assalafiyyah dan Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Bergiat di Komunitas Susastra dan Kelompok Melempar Jala.

Loading

Average rating 4.6 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!