Cerpen, Fajar Makassar, Mufti Wibowo

Biografi Pecundang

3.4
(5)

Cerpen Mufti Wibowo (Fajar Makassar, 08 Agustus 2021)

DIA mengatakan sendiri, ingin hidup seribu tahun lagi seperti dalam sajak Chairil. Ia merasa tak punya alasan untuk buru-buru mati. Maka, tak ada pilihan untuknya selain menuruti apa yang dianjurkan perempuan itu. Ia harus mulai terbiasa menelan daging busuk itu.

“Siapa pun akan mengalami kesulitan dalam memulai segala sesuatu,” terang perempuan itu melihat perubahan roman wajah pasiennya segera setelah menerima resep darinya. Perempuan itu bersungguh-sungguh seperti seorang ibu yang bertekad untuk menyapih anaknya yang sudah berusia dua tahun. “Kau hanya perlu menutup hidungmu. Mengoyak daging busuk takkan memakan waktu yang lama. Seperti buaya atau hiu, kamu tak perlu menguyahnya. Enzim di ususmu lebih tahu cara menikmati hidangan seistimewa itu.”

Bagaimana pun, ia tak pernah membayangkan, seumur hidupnya, mesti mejalankan laku segila itu.

“Pikirkanlah baik-baik sebelum kauputuskan,” kata perempuan itu membuyarkan lamunnya. Dia sedang mengingat hal-hal bodoh yang pernah dilakukannya seumur hidup.

Menurut perempuan itu, seperti kolesterol, perasaan bersalah atas kejahatan masa lalunya itu berpotensi menyumbat aliran darahnya. Kalau tak segera teratasi, sumbatan itu akan menyebabkan pecah pembuluh darah di otaknya. Bisa diduga apa yang akan terjadi selanjutnya, kalau tak mati sekalian, dia hanya akan menjadi mayat hidup yang teronggok dan dilalati karena stroke. Itu cara mati paling menyedihkan yang ditakuti semua orang.

“Kamu tak boleh menghakimi dirimu berlebihan. Cobalah mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah kaulakukan selama hidupmu. Sekecil apapun.Untukmu, satu kebaikan lebih dari cukup untuk menghapus seribu kejahatan.”

Meskipun tak menemukan satu pun kebaikan seumur hidupnya, dia tetap yakin bisa memenangi kontestasi itu. Sebagaimana seorang konsultan, dia menganjurkan untuk melupakan semua keburukan dirinya dalam ingatan. Untuk itulah, dia telah memasukkan larva lalat ke dalam kepala pasiennya demi membinasakan ingatannya pada dosa-dosa masa lalu.

Baca juga  Hikayat Kakek tentang Lapar

Agar larva itu mampu bertahan hidup, yang harus dilakukannya adalah memberi asupan yang cukup. Asupan itu adalah bangkai lawan politiknya.

“Bagaimana aku bisa memakan bangkai orang yang masih hidup? Aku tak mau jika harus membunuh satu nyawa lagi.”

“Manusia dikatakan hidup hanya karena dapat berpakaian dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya sendiri yang berbau busuk.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Telanjangi dan guyur lawan politik dengan air comberan.”

“Lalu?”

“Lalat-lalat akan keluar dari kepala melalui lubang telinga, hidung, dan mulutmu lalu mereka akan masuk ke kepala lawan tanding dan semua orang untuk menaruh telur di kepala mereka sebelum menjadi larva. Larva itu akan menggerogoti ingatan mereka akan kejahatan-kejahatanmu dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikanmu.”

“Lalu, aku akan menang?”

“Kita lihat saja nanti.”

***

Bencana itu lalu datang. Rencana-rencana harus ditangguhkan. Semua berawal pada satu acara car free day di Thamrin. Seperti biasa, setiap Minggu, dia dijadwalkan bersepeda santai di jalan protokol itu. Ketika beristirahat, badannya tiba-tiba gontai. Sepuluh menit kemudian, dia sudah sampai di instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit. Pembuluh darahnya sumbat lalu pecah. Sebagian fungsi syaraf tak lagi bekerja seperti seharusnya. Dia lalu tak bisa berbicara dan berjalan. Sejak itu, dia bergantung pada kursi roda dan seorang suster.

Perlakuan yang begitu baik dari seorang suster berusia dua puluhan itulah membuatnya tak berpikir untuk lebih cepat mati—menerima kenyataan. Seakan tak cukup, muncul persoalan lain ketika ia merasa suster itu lebih dari sekadar suster yang ditugasi membantu berbagai urusannya. Ia merasa suster itu lebih baik dari istri dan anak-anaknya. Dia mengira itu semacam perasaan cinta.

Baca juga  Makam Mbah Penceng

Dia lalu memutuskan untuk tidak memberikan tempat berspora cendawan beracun di hatinya. Betapapun ia tahu, suster yang sejak kecil tinggal di panti asuhan itu sungguh-sunguh tulus merawatnya. Dia berhutang kasih sayang padanya. Keputusan itulah yang membuatnya memilih menepi ke tempat sunyi ini, bersama orang-orang yang menanti kematian dengan senyum.

“Bagaimana dengan cintamu terhadap istri dan anakmu, apakah masih terawat seperti taman ini?” tanyaku sendu.

“Kautahu, setiap akhir pekan, mereka datang menjengukku. Mereka selalu menanyakan apakah aku ingin pulang ke rumah. Aku tak ingin terus menunda mengiyakan tawaran itu.”

“Jadi kamu akan meninggalkanku?”

“Aku takkan mengulang lagi kesalahan itu. Justru aku ingin mengajakmu pergi dengan menjadikanmu bagian dari diriku, meski nanti aku akan meninggalkan tempat ini, tempat yang tak cocok untukku, tempat orang-orang yang menatap kematian dengan senyum,” katanya penuh rayu.

“Kamu takut dengan kematian?”

“Aku takut kesendirian, dan ingin menjadikanmu teman abadi. Ini adalah botol bekas air zam-zam yang anakku bawa sepulang umroh. Aku akan memasukanmu ke dalam botol ini hingga penuh. Setelah penuh, kamu akan kubawa pergi ke mana pun. Kejernihanmu akan menolongku dalam banyak hal menghadapi persoalan bisnis dan politik di kehidupanku sesungguhnya di luar sana. Kalau memandangimu tak cukup, kamu akan kuteteskan ke mata agar jernih penglihatanku. Kalau itu masih tak cukup, aku akan memasukanmu ke dalam tubuhku, agar dosisnya tepat, aku takkan meminummu, tapi akan menggunakan alat injeksi. Kamu bersedia bukan?” ***

 

Fakuntsin, 20-21

MUFTI WIBOWO lahir dan berdomisili di Purbalingga.

 

 330 total views,  1 views today

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: