Kompas, Mario F Lawi, Puisi

Basilika St Paulus, Pasar Pedérro, Basilika St Petrus 2, dan Lainnya

0
()

Puisi-puisi Mario F Lawi (Kompas, 31 Maret 2018)

Prague ilustrasi Ilya Ibyaev - Kompas.jpg

Prague ilustrasi Ilya Ibyaev/Kompas

Basilika St Paulus

 

Kumasuki basilika yang lengang setelah merekam

Gerak burung-burung di dahan-dahan cemara

Dan mengerti akan kurindukan aroma musim

Gugur yang tak mungkin kukenal, gerak daun-daun

Dan derak reranting terinjak kaki para pedestrian.

Di samping tukang taman yang sedang menjaga

Hijau rerumputan dari cakar-cakar musim panas

Seorang rasul pemegang pedang dan kitab

Membiarkan berkat purbanya menyentuh kepalaku.

 

Kususuri gambar para paus, menemukan nama

Ayah berada di antara gambar para koruptor,

Para pengkhianat, para pengajar dan para santo

Yang berjejer membatasi tiang-tiang dari

Jendela-jendela, lukisan-lukisan dan langit-langit.

Fana ingin jadi kekal dalam tiang-tiang

Menjulang ini, tiang-tiang penopang

Langit-langit berwarna emas.

 

Kubayangkan emas langit-langit ini

Menjadi perhiasan di langit Damaskus,

Setelah Sang Penenun Tarsus yang buta

Karena cahaya kembali melihat dan surga

Merentangkan sepasang sayapnya menjemput

Doa-doa orang-orang kecil dan putus asa.

 

Kulihat sekelompok pemuda berbaju biru

Menyalakan lilin di depan lukisan Maria yang

Dimahkotai putranya, mendaraskan doa-doa

Latin yang memanggil-manggil seseorang dalam

Diri yang telah kutinggalkan jauh di masa lalu.

 

Kuseret langkahku menuju pintu kanan

Dan kusaksikan seorang pastor sedang berlutut

Di dalam kapela, di depan tubuh marmar

Santo Benediktus, ketika dari lukisan di samping

Kapela Kristus berjalan keluar meninggalkan

Peqamuan, mendekat ke arah sang pastor,

Memasukkan tangan cahayanya ke dalam dada

Sang pastor dan berkata, “Telah kujawab doamu.”

 

Kubawa adegan terakhir itu keluar dengan langkah

Yang kian berat, dan seperti orang Tarsus yang

Buta, kubayangkan kuda-kudaku berlari jauh

Meninggalkanku dan tak ada lagi yang dapat

Kuandalkan selain suara yang tetap tinggal dalam

Hatiku jauh setelah langit meredakan gemuruhnya.

 

2017

 

Pasar Pedérro

 

Para dewa menyalakan api untuk membersihkan

Bulu-bulu para pecundang. Tak perlu mereka dipukul

Ke tiang atau batu agar tanda lebih jelas tampak bagi

Para pencari. Dari bilur dan lebam, para dewa

Baca juga  Sejarah

Tahu bukan tarung penebusan yang menyelamatkan

Desa dari bencana, bukan percik darah yang tersayat

Taji besi atau sembilu yang membasuh salah,

Melainkan lolong sekarat seekor anjing. Tak mereka

Nikmati sukacita ini sebagai pesta dan hari raya.

 

Sesosok dewa menurunkan jasad si kurik yang

Digantung di batang kesambi. Ini satu dari hari-hari

Ibu kehidupan berkeliling dan memerah air susunya

Bagi tumbuh kembang sorgum dan kacang hijau,

Bagi melimpahnya nira lontar musim kemarau.

Diamatinya bilur di tubuh si kurik, diusapnya

Darah yang membasahi tangannya ke batang lontar

Dekat perapian. “Bertumbuhlah, pemanggul sari-sari

Sukacita yang mengepulkan asap di dapur para

Perempuan. Berkembanglah, mayang, pelepah, daun

Yang menajamkan pisau musim panas para lelaki.”

 

Dilihatnya si jago merah dielu-elukan di arena.

Telah telanjang tubuh si kurik di tengah lidah api.

Dua dewa penjudi mengitari arena menentukan taji

Mana yang paling baik bagi liur mereka. Telah

Disisihkan bagian milik kedua dewa. Waktu bergeser

Ke arah hitam dan lima dewa yang mengitari perapian

Mesti mulai menentukan berapa banyak persembahan

Yang haras mereka terima di atas rakit yang akan

Dilarangkan ke barat dua purnama setelah ini.

 

2018

 

Basilika St Petrus, 2

 

Di Mehara, gedung sebesar ini dibangun dari mimpi dan wahyu.

Huraf-hurufnya adalah suara ribuan tahun yang dialirkan,

Silsilah leluhur yang dikisahkan ketika samar garis batas dewata

Dan manusia. Koleksinya adalah kidung yang diwedarkan

Dari atas pohon-pohon lontar, riuh dari ceruk embung di bulan

Daba Ae, bisik di bawah panggung yang mendekap jenazah

Para leluhur, kersik daun-daun beringin yang diambil getahnya.

 

Makam, di Mehara, bukanlah sesuatu yang kaubangun semegah ini,

Menyimpan mumi-mumi yang takut kehilangan penanda.

Ia adalah bukit-bukit penggembalaan, tanah bekas ramah yang beralih

Kebun, segenggam sirih pinang di musim merantau, bahasa rahasia

Leluhur yang menjelma mimpi ketika tubuhmu dicengkeram penyakit.

Ia bukan tugu peringatan yang dibangun orang-orang hidup.

Baca juga  Semangat Raras

Ia kerikil Kecil yang ditunjukkan para arwah ketika rindu memelukmu.

 

Peradaban, di Mehara, adalah cerita yang bertahan dari generasi

Ke generasi selama ribuan tahun, suara para dewa yang sayup

Kaudengar dari ujung entah, sebagai masa lalu sekaligus masa kini.

Ia adalah warna-warni yang dibentangkan para perempuan sebagai

Salam perpisahan, untuk setiap helai daun nila, pandan duri,

Kapas dan akar mengkudu yang diambil dari pohon-pohonnya.

 

Di Mehara, kehilangan, sebagaimana di sini, adalah sesuatu yang

Mustahil ditolak. Tapi maut bukan batas, dan suara berhak abadi.

Engkau memiliki orang-orang yang selalu bersedia mendengarkan

Ceritamu, menyimpan puisimu sebagai ingatan baik mereka,

Mengisahkannya kembali kepada orang-orang terkasihmu ketika

Mimpi menjadi satu-satunya pintu yang bisa kaubuka untuk menjenguk.

 

2017

 

Masa Kecil

 

Masa kecil menghapusmu dari ingatannya, meratakan bukit-bukit kecil tempat kau bermain, mencabuti satu demi satu jahitan lontar dari dinding rumahmu, mengambil batu-batu dari kubur-kubur keluarga besarmu. Ia mengajakmu ke pantai ketika angin barat sedang meninggikan gelombang, meratakan jejak-jejak kaki kecilmu di pasir, menggulung ramput laut yang masih tersisa dari tangan kanak-kanakmu, melubangi dasar perahu terakhir yang pernah membawamu mendekati bagan. Kau ingin menjadi masa kecil yang menghapus sebagian ingatannya, sedangkan dunia yang teras berputar merasa kau akan baik-baik saja ketika berada di ruang gelap yang tak akan pernah lagi terbuka itu.

 

2018

 

Titinalede

 

Kita melewati jalan ini dalam waktu yang berbeda. Kau lebih dahulu. Setelah itu aku. Kau dari Seba. Aku dari Mesara. Waktu merapatkan jaraknya dan mempertemukan kita. Kuhirap aroma semua pembawa kabar dari keningmu sejak zaman Sang Pelihat Laut. “Aku musafir,” katamu. “Maukah kau tinggal?” tanyaku. Telah kita singkirkan Tuhan dari dongeng yang akan kita lanjutkan kisahnya dan semakin yakin dunia akan menjadi lebih baik. Suaramu adalah tanah yang ditebarkan untuk menyelamatkan Rai Hawu yang tenggelam dan menuntun para makhluk Rira, Rai dan Dahi lebih saksama menyaksikan mata kail cahaya dilemparkan seorang Lelaki untuk menarik pulau dari dasar laut. Jauh sebelum orang-orang kulit putih datang, menukar engkau dengan seekor kuda dan aku dengan seekor domba. Jauh sebelum waktu bermurah hati dan mempertemukan kita kembali di jalan yang membentang lapang ke samudra untuk mengingatkan kita pada kisah sepasang manusia yang menjelma jadi sepasang bintang.

Baca juga  Karangan Bunga

 

2017

 

Kisah Sepasang Bintang

 

Lewat sungai mana ibu menghanyutkanmu? Aksara apa yang digurat ibu pada pahamu? Orang-orang laut memelukmu, merasakan cinta mereka padamu jauh lebih tua dari usia langit. Padamu mereka sematkan sirip dan sisik, agar kau anggun dan bebas memasuki palung-palung tergelap, menelusuri ruang-raang rahasia yang mengalirkan cerita bagi tanah ibumu. Seorang lelaki menunggumu di pantai, dipersembahkannya nira dan gula yang ditampungnya dengan periuk-periuk tanah liat dari dapur para raja, dikumpulkannya dari lontar-lontar terbaik pada musim di mana angin pelan mengembus, di mana lagu-lagu yang bersahut-sahutan dari atas pohon-pohon lontar terdengar lebih merdu ditimpa suara pelepah-pelepah yang dipukul, haba yang dibersihkan dan batang- batang mayang yang dikerat. Kau memintanya ikut setelah mencecap manis yang dipikulnya dari darat, sementara mata ibu yang awas mencari puteranya kian terbelalak ketika menemukan aksara paling akrab di paha kananmu. Diratapinya kehendak langit, dimintanya kalian mengurangkan hasrat agar terhindar dari tulah para dewa. Suara tangis yang makin hebat mengubah kalian menjadi sepasang cahaya, perlahan mengangkasa ke langit barat dan timur, bergantian terbit dan terbenam sebagai bintang barat dan bintang kejora.

 

2017

 

 

Mario F Lawi adalah mahasiswa Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: