Arsyifa Palan Taran, Cerpen, Republika

Sepotong Kata di Gerbong Kereta

4.3
(12)

HIRUK-PIKUK di Stasiun Manggarai seperti tak ada habisnya. Para pekerja kantoran, anak sekolah, anak kuliahan, pedagang, sejoli yang menghabiskan waktu bersama, semua bercampur baur dengan aroma parfum yang bercampur keringat.

Stasiun sepertinya tak pernah sepi akan orang yang datang dan pergi silih berganti. Aku berdiri sambil melihat beberapa postingan di layar telepon seluler milikku yang lapisan antigoresnya sudah sedikit retak bekas jatuh karena tak berhati-hati saat jalan tadi. Bangku yang tersedia di peron pun terisi penuh. Beberapa orang membaca koran harian sambil sesekali melirik jam tangan dan melihat ke arah rel kereta, mungkin menunggu kapan kereta tujuan mereka akan tiba.

Dari kejauhan, moncong kereta tujuan akhir Stasiun Bogor sudah tampak. Bapak-bapak yang membaca koran sontak melipat koran dan memasukkannya ke dalam tas kerja berwarna hitam miliknya. Pasangan sejoli menggengam erat tangan pasangannya, barangkali takut lepas atau parahnya digandeng orang lain.

Setelah kereta berhenti dengan sempurna, orang-orang mulai berdesak-desakkan di pintu masuk, tak menghiraukan peringatan agar calon penumpang mendahulukan penumpang turun terlebih dahulu. Bak kutu loncat yang tak sabaran, mereka menerobos ke dalam kereta. Berebut pun percuma, sore ini tiap gerbong sudah terisi penuh. Sesak.

Tak sedikit yang berdiri sambil menahan keseimbangan badannya dengan memegang gantungan di atas kepala. Tapi bagusnya, aku mendapat satu bangku yang kosong, sepertinya baru ditinggal penumpang, pasalnya bangkunya masih hangat pertanda bekas diduduki.

Beberapa saat kemudian, kereta bergerak perlahan. Penumpang yang berdiri di depanku terlonjak, mungkin kaget. Ada beberaapa yang terhuyung ke samping, menyenggol orang di sebelahnya, lalu meminta maaf dengan isyarat anggukan kepala.

Baca juga  Sore Sebelum Kenduri

Merasa nyaman dengan posisiku, kuputus kan untuk melihat postingan di Instagram. Siapa tahu ada yang menarik.

Kereta berhenti di stasiun selanjutnya. Ada beberapa penumpang yang turun, tapi calon penumpang baru yang masuk lebih banyak dari yang turun. Mengurangi pasokan oksigen dalam kereta saja, pikirku.

Seorang bapak yang kutaksir berumur 60-an tahun masuk ke dalam kereta bersamaan dengan beberapa penumpang lainnya. Entahlah harus kupanggil bapak atau kakek atau mungkin eyang?

Ia mengenakan celana kain berwarna hitam dengan kaus putih dan topi bak pelukis. Mengerti maksudku bukan? Terlihat seperti Eyang Sapardi Djoko Damono yang memakai topi serupa, topi pet. Mirip sekali. Sambil memperbaiki kaca mata yang melorot ke hidung, tangan yang satu lagi berusaha meraih pegangan di atas kepalanya dengan kresek hitam yang menggantung di tangan.

Sengaja tak kuberikan tempat duduk milikku untuknya karena kulihat di sampingku ada beberapa pria seumuranku yang duduk asyik dengan telepon seluler miliknya. Ya, kupikir mereka akan dengan sukarela dan sadar memberikaan tempat duduknya kepada bapak ini.

Lima menit berlalu, tak juga ada yang berdiri dan memberikan tempat duduk. Pikirku, apakah mereka tidak menyadari ada yang lebih butuh tempat duduk dibanding mereka? Masih muda, pria pula. Kalau aku kan wajar, perempuan.

Akhirnya kuputuskan untuk memberikan bangkuku kepada bapak yang menjelma seperti Eyang Sapardi Djoko Damono ini. Kubereskan barang di pangkuanku, kemudian memasukkannya ke dalam tas hitam milikku.

“Pak, silakan duduk,” ucapku sambil berdiri mempersilakannya duduk.

“Wah, terima kasih banyak, Mbak,” jawabnya.

“Beneran gapapa saya yang duduk? Nanti Mbaknya pegel loh, berdiri,” tanya bapak itu terdengar sungkan.

“Gapapa dong, Pak. Aman saya mah,” jawabku berusaha meyakinkan.

Baca juga  Podol

“Terima kasih lagi ya, Mbak,” ucapnya sambil duduk dengan nyaman di bangku yang kutempati tadi.

Aku hanya menganggukkan kepala perlahan sambil menampilkan senyum terbaikku walaupun wajahku sudah seperti kertas yang diremas. Kusut.

Pria di sampingku bertatapan dengan temannya sambil meringis kecil dan menggaruk tengkuknya yang kutebak tak gatal. Mungkin malu melihat hal yang kulakukan. Ya bagus jika mereka malu. Masih muda kok nggak mau ngalah sama yang lebih tua, pria pula.

Menatap ke arah luar jendela kereta yang melaju dengan cepat, terlihat rumah-rumah penduduk yang berdempetan. Saking dempetnya, kukira itu satu rumah yang panjang. Terbayang bagaimana mereka berebut oksigen tiap harinya di lingkungan padat seperti itu.

“Mbak kerja di mana?” tanya bapak tadi kepadaku.

“Saya belum kerja, Pak. Masih kuliah. Saya kebetulan dari Kwitang, cari buku bekas yang bagus,” jawabku sambil nyengir. Malu di umur segini belum kerja.

“Wah seru kayak-nya ya. Saya juga suka baca buku. Bukunya Sapardi Djoko Damono apalagi. Ngefan banget saya sama beliau, ha ha,” jawabnya membuatku tertarik.

“Wah, beneran, Pak? Saya juga suka tulisan Eyang Sapardi. Wah, nggak nyangka saya nemu fan Eyang di sini,” jawabku antusias.

Beliau terkekeh perlahan, memperlihatkan beberapa giginya yang sudah tanggal dimakan usia.

“Saya seneng kalau masih ada yang suka sama karya Sapardi, apalagi anak muda,” ujar bapak itu.

“Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” Bapak itu tiba-tiba mengucapkan sajak Eyang Sapardi yang berjudul “Kita Adalah Waktu”.

“Memungut detik demi detik,” lanjutnya sambil menatapku.

“Merangkainya seperti bunga,” sambungku pelan. Bapak itu tersenyum lebar mendengarku melanjutkan sajaknya.

“Sampai pada suatu hari,” ucapnya.

Baca juga  Desas-desus Pak Lurah

“Kita lupa untuk apa,” sambungku sambil menatap ke luar jendela.

“Kita lupa untuk apa,” lanjut dia.

“Tapi yang fana adalah waktu, bukan? Tanyamu,” ucapku sambil menatap bapak di depanku dengan kagum yang membuncah.

“Kita abadi,” ucap kami berdua bersamaan.

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: