Cerma, Kak Ian, Rakyat Sumbar

Aphasia

3.5
(2)

“ITU sketsa siapa yang kamu buat?”

Senja mulai tampak, seperti biasa aku dan dia selalu bersama-sama pergi ke Taman Kota. Sebuah Pohon Ketapang tumbuh rimbun di sana, dan lebih tepatnya di kepala kami bila sedang berteduh.

Ke Taman Kota setiap senja telah menjadi rutinitas kami berdua. Biasanya aku menemani dia untuk melukis. Melukis apa saja yang dapat dilihat, entah itu kupu-kupu yang hinggap di bunga bougenville, anak kecil bermain bola, bahkan ada satu keluarga yang berada di taman tidak luput dari pandangannya. Selalu begitu.

Tapi entah kenapa di senja hari itu dia tidak melukis satu pun yang berada di taman. Namun dia membuat sketsa seorang wanita berambut sebahu dan berhidung bangir.

“Coba tebak sketsa siapa ini yang aku buat?”

Akhirnya dia mau juga buka suara seusai sketsa itu sudah menampakkan wajah seseorang yang aku kenal. Wajah seorang wanita yang juga memiliki hidung bangir seperti paruh burung betet.

“Tunggu! Tunggu sebentar aku amati dulu…”

Aku pun langsung memperhatikan segala sudut sketsa itu.

“Ya ampun kamu membuat sketsaku, Ky?”

Aku pun memastikannya. Dia pun tersenyum. Dia yang bernama Rocky yang selalu kupanggil Ky.

“Sip, sudah selesai!”

Setelah itu dia menyerahkan sketsa itu padaku. Ternyata benar dia membuat sketsa wajahku. Dasar, bisa-bisanya dia berbohong padaku. Padahal itu wajahku yang dibuatnya.

“Lho, kok bengong? Mau tidak ini kuberikan ke kamu!”

Dia pun membangunkanku dari lamunan. Aku tersentak.

“Serius ini untuk aku, Ky?”

“Iya!” serunya.

“Yasudah kita pulang yuk! Sebentar lagi gelap,” lanjutnya sambil membereskan alat melukisnya.

“Terimakasih kamu sudah membuat sketsa untukku. Padahal aku tidak memintanya, apalagi untuk dibuatkan. Toh, menemanimu di taman saja sudah senang sekali,” kataku sambil mengangkat tubuhnya yang tidak kuat berdiri karena kruk di dekat dirinya itu jatuh dari kursi taman.

Baca juga  Cak Lan di Gedung Putih

Akhirnya kami meninggalkan Taman Kota, dan saat kami beranjak, beberapa daun Ketapang jatuh menimbuni kursi taman yang kami duduki tadi. Entah pertanda apa kami sendiri tidak tahu. Karena kami sudah langsung meninggalkan taman itu.

***

Sejak itu, kami tidak lagi bertemu. Pohon Ketapang yang sudah berapa banyak menggugurkan daunnya menutupi kursi taman yang sering kami duduki. Aku pun tidak tahu jumlahnya, berapa banyak dedaunan tempat kami menghabiskan senja sampai memudar dan gelap tiba.

Kini sudah hampir tiga bulan lebih kami tidak saling bertemu. Aku merasa kehilangan. Dengan refleks akan pergi ke rumahnya, menjemput untuk bersama-sama ke Taman Kota.

Nihil. Aku tidak menemukan dirinya di rumah. Tempat di mana seorang perempuan paruh baya dan remaja tanggung tinggal bersamanya. Ternyata mereka pindah rumah dan aku baru mengetahuinya di saat senja ingin menampakkan diri.

Aku baru sadar saat bertanya kepada tetangga mereka. Jika dia bersama ibu, dan adiknya yang beranjak remaja pindah dari kota itu.

“Kemana ya mereka pindahnya?” tanyaku pada salah satu tetangga mereka.

“Kami tidak tahu, Mbak”

“Apa mereka titip pesan atau memberikan alamat barunya?”

Aku masih saja mencerocos, penasaran.

“Oh, itu kami juga tidak tahu”

Usai aku mendengar jawaban itu, akhirnya kuhentikan pertanyaan. Aku takut mereka merasa tidak nyaman. Akhirnya aku pun mengambil langkah seribu dari tempat itu.

Tinggallah aku memandang rumah tanpa tuan. Tuannya yang sedang kucari. Ke mana dirinya pindah. Aku tidak tahu lagi mencarinya. Hingga tanpa sengaja mataku menitikkan butiran kristal dari kelopak mataku. Aku teringat dirinya.

***

“Bisakah Mbak Desi datang ke rumah kami?”

Tetiba ada WhatsApp masuk di ponsel. Pesan tanpa nomor tidak dikenal tapi poto profilnya kuamati sangat familiar.

Baca juga  Kedai Tek Opet dan Ipul

Akhirnya kubalas dengan telepon saja ke nomor tanpa tuan itu.

“Apakah ini kamu Rocky? Benarkah kamu ini, Ky,” balasku penasaran dari balik telepon.

“Bukan Mbak Desi, ini Bilal adiknya Rocky. Mbak masih kenal akukan?”

“Iya, maafkan Mbak ya. Karena Mbak sangat senang akhirnya ada kabar dari kamu. Tapi…”

“Maaf Mbak, lebih baik Mbak datang saja ke rumah kami ya. Nanti di sana akan tahu semua. Ini aku sharelock ya alamatnya. Kami tunggu. Maaf tidak bisa telepon lama-lama. Klik.”

Sambungan komunikasi putus. Aku pun langsung mendadani diri dan membawa matic menuju alamat yang diberikan Bilal. Aku dengan penuh keharuan melaju menyusuri jalan.

***

“Sekarang dia bukan lagi Kak Rocky yang dulu, Mbak. Dia sudah tidak lagi memahami apa yang kita katakan. Apalagi untuk mengingat kejadian yang sudah dia alami.”

Tetiba suara bariton itu mengagetkanku. Ternyata itu suara Bilal, adik dari seorang yang sangat multitalenta. Orang yang sudah membuat sketsaku di Taman Kota kala itu.

“Eh, kamu Bil?”

“Iya, Mbak. Maaf jika mengagetkan Mbak. Oya ini sambil diminum dulu,” tawar Bilal padaku.

Di saat kesempatan itu, aku pun menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang sudah menimpa dirinya.

Panjang lebar, akhirnya semua yang diucapkan Bilal. Aku hanya terdiam. Tergugup. Tak dapat aku berkata-kata lagi. Airmataku yang menggenang hampir jatuh.

“Jadi begitulah kejadiannya, Mbak. Sejak kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit lalu dioperasi kepalanya. Kak Rocky sudah tidak bisa lagi merespon ucapan siapa pun. Apalagi untuk mengingatnya. Tapi aku beberapa hari ini mengamati dia membuat sketsa-sketsa seorang wanita. Tunggu sebentar aku ambil dulu ya, Mbak,” akhirnya Bilal menyetop pembicaraannya.

Tidak berapa lama Bilal pun datang membawa beberapa sketsa-sketsa wajah seorang wanita. Kuamati dan kulihat secara seksama.

Baca juga  Sahabat Masa Lalu

“Ya Tuhan ini sketsaku!” gumamku tertahan.

“Iya, benar-benar sketsaku!” aku kembali menjerit dalam hati.

“Apa Mbak kenal dengan sketsa wanita ini?” tanya Bilal memastikan kepadaku.

Aku pun tak mampu menjawabnya. Tapi saat aku ingin menjawab. Ada suara yang memanggilku.

“Apa itu kamu Desi?”

Sangat jelas aku mendengarnya. Rocky memanggil namaku.

Akhirnya aku pun bangkit dari ruang tamu dan menuju suara itu. Ternyata dia ada di kamar dan sedang berada di meja kerjanya. Ia sedang melukis sesuatu.

“Kamu siapa, Ada apa dirumahku?” tanyanya.

Tak sanggup aku mendengarnya. Bilal memapahku keluar dari kamarnya. Setelah itu aku pamit meninggalkan rumah. Perlahan langkahku meninggalkan, aku terngiang kembali dengan ucapan itu.

“Kamu siapa?”

Tetiba tanganku tak bertenaga. Sketsa-sketsa yang ada di tanganku berhamburan tertiup angin. Seperti daun-daun ketapang di Taman Kota itu, berguguran menutupi kursi taman. Entah, bertanda apalagi ini? ***

Keterangan:

Aphasia adalah sebuah sindrom pada sistem saraf yang merusak kemampuan berbahasa. Orang yang menderita penyakit ini akan mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan sulit memahami serta menemukan kata-kata yang tepat sekaligus familiar saat berkomunikasi.

KAK IAN, penulis, aktivis anak, penikmat sastra dan pegiat Urban Farming. Saat ini aktif/founder di Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ). Penulis yang pernah menulis cerita anak berbahas Jawa di Majalah Jaya Baya ini, karya-karyanya juga sudah dimuat di berbagai media cetak nasional dan lokal serta online. Ia sudah memiliki buku solo sebanyak 5 buku.

 264 total views,  1 views today

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!