Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Yuditeha

Sogok

4.8
(4)

SEDARI tadi aku termenung di teras, resah memikirkan Kandar, anakku semata wayang. Dia ingin jadi polisi, tapi aku tidak setuju. Bukan semata dana, tetapi ada satu hal yang membuatku ragu. Sebenarnya aku tidak tega menghancurkan semangatnya. Aku jadi ingat istriku yang telah meninggal ketika Kandar SMP. Andai dia masih ada, pasti kami dapat membicarakannya bersama.

Meski tubuh istriku kecil tapi dia telah mempersembahkan seorang putra berbadan tinggi dan besar. Tapi aku rasa ada yang aneh pada diri Kandar. Keanehan itulah yang jadi alasanku tidak setuju dengan keinginannya. Meski Kandar lelaki, tapi perilakunya sangat lembut, mirip perilaku perempuan.

Mungkin pendapatku itu terpengaruh Bapak. Sebenarnya dulu aku juga ingin jadi polisi, dan ketika kuutarakan keinginanku, spontan Bapak marah. Katanya jadi polisi tidak gampang, dan katanya pula polisi bukan tipeku. Jangankan jadi polisi, untuk jadi lelaki saja, katanya aku terlalu alim. Selain itu, menurut Bapak, untuk jadi polisi, otak encer saja tidak cukup, karena sekolah polisi tidak akan menerima orang alim, terlebih yang kere. Jikapun ada, katanya seribu satu.

Kata Bapak, sekolah polisi adalah tempat penampungan anak berandal yang dididik jadi polisi. Bahkan gali sekalipun bisa jadi polisi asal punya uang. Bapak juga sering menyebut bahwa polisi itu gali yang disragami. Waktu itu aku tak kuasa melawan pendapat Bapak. Jika pernyataan Bapak benar, lalu bagaimana aku bilang kepada Kandar? Oleh Bapak, aku saja dianggap kurang laki, lalu bagaimana dengan Kandar yang lembut begitu?

“Ya ampun Ayah masih di sini.” Kandar menyadarkanku. “Ayah mikirin apa sih?” tanyanya kemudian.

“Ayah ingat ibumu,” jawabku singkat.

Baca juga  Ayoveva

“Ayah jangan bohong deh. Kandar ngerasa, Ayah jadi diam sejak Kandar bilang mau jadi polisi. Ada apa, Yah? Ngomong saja. Anakmu ini sangat demokratis kok. Apa Ayah pikir Kandar tidak pantas jadi polisi, karena Kandar terlalu lembut? Karena Kandar mirip perempuan, gitu?” Bicara Kandar memberondong, dan aku belum berani menanggapinya.

Kadar melanjutkan bicara. Dia bilang apa yang dia pikir justru sebaliknya dari apa yang dia tanyakan. Kandar menganggap, dirinya cocok jadi polisi. Syarat untuk menjadi polisi semua ada padanya. Fisiknya murni, belum teracuni virus dunia, bahkan ngrokok saja tidak. Tentang akademik, dia selalu masuk tiga besar di sekolahnya. Tentang kedisiplinan, dia tidak pernah lalai tugas rumah dan sekolah. Ketaatan, dia hampir tak pernah melanggar aturan. Dan tentang kepatuhan, dia tidak pernah menentang nasihat guru dan orangtua. Terakhir tentang dirinya, dia mengatakan bahwa dia sungguh-sungguh lelaki tulen. “Ayah ingin bukti? Oke. Tapi tidak sekarang, dong,” lanjutnya.

Mendengar semua perkataan Kandar justru semakin membungkam mulutku.

“Ayah kok diam? Bicara dong, Yah!”

Sesungguhnya apa yang dia katakan semuanya memang benar. Kupikir dia memang pantas jadi polisi. Baiklah, aku menyetujuinya. Coba kalau sekolah polisi tidak pakai uang sogok aku yakin dia pasti bisa diterima. Tapi zaman sekarang uang memang segalanya.

“Ayah sudah tidak bingung lagi. Kamu benar, kita tidak boleh menyerah. Kamu memang harus jadi polisi. Meski harus dengan uang sogok sekalipun, Ayah akan lakukan.”

“Gimana, Yah?” tanya Kandar kaget.

“Ayah akan menjual sebagian tanah kita. Kamu harus diterima. Biar sekolah polisi tidak sekadar diisi anak-anak brandal.”

“Jadi kita nyogok?” tanya Kandar. ***

Yuditeha, pendiri Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Telah menerbitkan 17 buku. Buku terbarunya ‘Sejarah Nyeri’ (Marjin Kiri, 2020), dan ‘Tanah Letung’ (Nomina, 2020).

Leave a Reply

%d bloggers like this: