Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Kekacauan di Mata Serangga

2.5
(4)

BAGAIMANA bila suatu pagi, ketika terbangun dari mimpi buruk, Anda mendapati diri Anda telah berubah menjadi seekor serangga yang bertahan hidup dengan menyantap makanan basi, busuk, dan berbelatung?

Lewat novelet Metamorfosa Samsa yang diterjemahkan Sigit Susanto dari edisi bahasa Jerman Die Verwandlung, Franz Kafka menjawabnya. Dengan lengkap dan jabaran yang detail Kafka menggambarkan perasaan Anda yang makin hari makin terbiasa hidup dan bertindak sebagai seekor binatang menjijikkan, meskipun pada waktu yang bersamaan jati diri sebagai manusia—berpikir, menganalisa, malu, tahu diri—terus bekerja. Bagaimana Anda yang dinamai Gregor Samsa dalam kisah itu mencoba berkompromi dengan anggota keluarga yang harus memperlakukan Anda dengan khusus sekaligus berbeda—dan itu pasti tidak mudah sekaligus tidak mengenakkan—untuk kemudian mendapati jarak antara Anda dan mereka makin mengaburkan pandangan sehingga duga-duga bergeliat setiap hari, adalah kemewahan referensi yang bukan sekadar tempelan.

Grete, adik perempuan Gregor, adalah satu-satunya anggota keluarga yang masih punya simpati terhadap kakaknya (Catat: hanya simpati, bukan empati, apalagi lebih!). Sementara orangtua Gregor, Samsa dan istrinya, terus dirundung keraguan dan ketakmengertian akan takdir yang harus menabrak kehidupan mereka yang jauh dari keriuhan selama ini dan … sebagaimana takdir, harus mereka jalani: suka atau tidak, menyenangkan atau menyusahkan! Beberapa kali ibu Gregor pingsan karena hal itu. Samsa sendiri yang sedari awal seperti alergi pada kehangatan hubungan ayah-anak (laki-laki) akhirnya benar-benar dianyam oleh keangkuhannya selama ini; Gregor menjelma serangga, yang meskipun tampak pasif, namun sebenarnya makin menyebalkan dan menyeramkan, sementara di waktu yang sama Samsa juga baru sadar bahwa sekaku apa pun ia pada anggota keluarganya, ia tetaplah seorang kepala keluarga, seorang manusia yang dipanggil Ayah.

Baca juga  Waktu untuk Menulis, Kelas, Metode hingga Hidayah

Mulanya, metamorfosa menjadi serangga itu, melahirkan ketegangan yang dibagikan sesuai porsinya: keluarganya berusaha keras menanamkan ketakpercayaan di lubang yang tak pernah ada di dalam diri sehingga mereka kais mati-matian sampai stok keringat mengering di pori-pori, lalu mereka menyiramnya tiap saat sehingga keberterimaan-akan-kegilaan itu pun tumbuh subur di dalam jiwa mereka; sementara Gregor tampaknya tidak terlalu memedulikannya (ya, merutuki diri sendiri hanya akan membuat kesedihan itu berjamur dan nalarnya sebagai binatang berjiwa separuh manusia memang takkan mampu membayangkannya), ia malah membuat pertimbangan tentang keberlangsungan ekonomi keluarga. Sebagai anak sulung berjenis kelamin laki-laki, peran itu ia lakoni dengan begitu saja. Ia tak pernah memikirkan “bias-gender” yang mungkin saja memengaruhi keputusan berdikari-untuk-keluarga yang diambil dan dijalaninya sebab selama ini ia melakukannya begitu saja. Kalau pun ia merasakan lelah dan bosan dengan gaya dan perlakuan atasan—dalam hal ini adalah Kepala Bagian Kepegawaian yang begitu perhatian (untuk tidak mengatakannya begitu usil dan memastikan tidak ada yang mengorupsi waktu dan kebijakan kantor), ia tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang memberatkan (Ya, sudah duduk benar di dalam kepalanya bahwa menjadi karyawan adalah menjalani kebosanan yang diatur seartistik mungkin oleh atasan).

Menjadi seekor serangga, Gregor menjalani kompleksitas yang absurd yang pelan-pelan membunuhnya. Bagaimana naluri manusiawi menuntunnya memilih roti hangat, sayuran dan susu segar, namun fisiknya justru menolak sehingga akhirnya ia dengan lahap menghabiskan keju kadaluarsa, roti dingin berjamur, dan sayur-mayur yang sudah busuk. Pengucilan yang ia dapatkan dalam kamarnya mau tidak mau harus diterimanya, meskipun ia juga tak bisa mengendalikan ‘dirinya yang lain’ ketika ia refleks merayap di langit-langit, buang kotoran di lantai, atau mendesis pada ketiga laki-laki penyewa apartemen mereka yang bergitu bossy di hadapan kedua orangtua dan Grete yang seperti tak punya pilihan selain menyewakan kamar-kamar mereka sebab Gregor tak lagi bisa diandalkan untuk membuat stabilitas ekonomi keluarga terjaga.

Baca juga  Blijung

Metamorfosa Samsa adalah gambaran (masa depan) kehidupan yang makin hari terus terbiasa dengan kemustahilan yang akhirnya bernama kemungkinan atau bahkan kenyataan atau bahkan sahabat harian. Meminjam atau mencipta Gregor, Kafka menunjukkan keberpihakannya pada ketidakmungkinan yang nihil dan kesadaran Kafka itu lahir menjadi kegelisahan yang menuntut dituntaskan pada tahun 1912, tepatnya dari tanggal 18 November hingga 7 Desember tahun itu, jauh sebelum kegilaan-kegilaan hari ini terjadi, jauh sebelum ‘serangga-serangga yang lain itu’ hidup di era milenial. Tentu tidak penting membincangkan kegeniusan seorang Kafka—sebab ia hanya menciptakan kebasian—meskipun di saat yang sama, memosisikan buah pikirannya tentang kebersiap-siapan kita untuk menerima semua ketakbiasaan, bahkan dalam lingkup yang paling biasa dan intim sekalipun: keluarga, adalah pelajaran yang ia susupkan lamat-lamat, detail, dan penuh pertimbangan. Ungkapan “sebab fiksi tak cukup lagi” bahkan terlalu permukaan (atau bila pun cukup masuk, tapi terlampau dangkal) untuk menunjukkan kuasa kecakapan sastrawi Kafka dalam menembus kekacauan masa depan: bom meledak di masjid dan gereja, ibu membunuh anak atau sebaliknya, media sosial yang menjadi curriculum vitae terbuka umat manusia, atau ahli ibadah yang berkeliaran di tempat prostitusi kala matahari tenggelam.

Ketika semua yang tak terbayangkan itu akhirnya menjadi “tempat” kita bermukim, sebagaimana situasi dan keadaan menempatkan Gregor dalam kamarnya yang busuk namun nyaman ia tinggali, hanya baju dan citra saja yang membedakan kita dengan serangga. Di akhir hayatnya, Gregor mati mengenaskan sebagai serangga menjijikkan dengan sebuah apel membusuk di punggungnya. Anda? Kita? Bagaimana? ***

Judul : Metamorfosa Samsa
Genre : Novelet
Tebal :100 hlm.
Penulis : Franz Kafka
Penerbit : Baca, April 2018
ISBN : 9786026486196

BENNY ARNAS menulis 26 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

Leave a Reply

%d bloggers like this: