Cerpen, Iwan Jaconiah, Media Indonesia

Sadovoe Koltso

5
(4)

PEPOHONAN oak kaku berdiri. Satu per satu dedaunannya perlahan melayang sebelum luruh ke tanah. Udara mencucuk tetulang lengan kanan yang sempat retak ini. Di ambang 6,8 fahrenheit, pesawat-pesawat saling ganti mendarat dan lepas landas.

Elgi Sarif, lelaki berdarah Sunda-Jepun, telah menunggu. Sebatang lisong menggantung di bibirnya. Mata menajam perhatikan setiap pesawat yang tetiba dari layar pengumuman. Dia datang lebih awal menepati janji. Menjemputku di Bandara Sheremetyevo.

Pesawat rute Jakarta-Moskow tiba sesuai dengan jadwal kedatangan, 15.45. Ini perjalanan panjang pertamaku melintasi benua. Ada rasa waswas di dada saat satu-dua guncangan keras menerjang di wuwungan angkasa. Syukurlah, semua selamat sampai tujuan.

Berkemeja dan berdasi necis. Bersepatu bot dan berjubah hitam panjang. Di tangan kiri, dia menenteng erat topi khas ala penyair Mayakovsky. Elgi tampak perlente dan penuh wibawa. Gayanya persis pelajar awal era 50- an saat dikirim Bung Karno belajar ke Uni Soviet.

Hoi! Elgi? Kau mirip sekali Bung Hatta,” pekikku, berjarak delapan depa. Pemuda itu menatapku, sinis. Seakan jijik akan keriting rambut atau hitam kulit ini. Dia sejurus melangkah maju. Mengayunkan lengan dan saling jabat tangan.

Hoi! Bung Mathew. Apa kabar?” balasnya sambil meremas tangan. “Kabar baik, Bung Elgi,” ujarku. “Bagaimana perjalananmu? Yang 28 jam atau 18 jam,” matanya sinis menatap. “Aku pilih 18 jam,” jawabku lagi, singkat. “Elite! Elite sekali,” ketus Elgi.

Para penumpang bergegas keluar bandara. Kami melangkah ke Stasiun Sheremetyevo-Belorusskaya. Aku tak paham apa maksud Elgi. Menanyakan lama penerbangan 28 jam dan 18 jam itu. Saat membeli tiket Jakarta-Moskow, aku tak begitu memperhatikan durasi.

Senja itu, kami duduk terpisah dua barisan kursi empuk. Aku pilih dekat jendela. “Selamat datang di Negeri Pushkin, Bung Mathew! Maaf, seharusnya saya ucapkan saat kau di bandara!” pekik Elgi, sembari merapikan lidah dasinya yang bengkok. “Terima kasih,” sambungku.

Barisan pepohonan separuh rontok dedaunannya. Sepanjang kereta melaju kencang, hanya kuning keemasan. Musim gugur pertamaku. Orang-orang sibuk ber-Instagram, sedangkan lainnya asyik narsis ber-Douyin ria.

Hoi! Bung Mathew, ayo turun,” suara Elgi lantang. Aku kaget dibuatnya. Seorang gadis pirang yang duduk di sampingku juga ikut terkejut. Lamunan menengok gemerlap kota pun buyar seketika. “Jangan lupa jaket! Dingin di luar,” sambungnya, seraya buang muka.

Pada langit-langit kereta bawah tanah Belorusskaya, kutengok semua menakjubkan. Gaya arsitektur ala stalinis buat terkesima. Awalnya, berpikir tentang ibu kota bekas negara komunis Uni Soviet yang angker dan seram, akhirnya perlahan-lahan terpatahkan.

Hanya selang tiga pekan, salju pun rinai. Hati senang bukan mainnya. Kutengok sepatu di depan pintu mulai bolong. Setiap hari berjalan kaki dari apartemen menuju stasiun kereta ternyata mengikis bagian dasarnya.

Baca juga  Anak-anak Berburu Liliput di Goa Berlumut

Hoi, Bung Mathew! Posisi di mana? Jumpa 30 menit lagi,” suara Elgi keras di ujung telepon. “Aku di Votney Stadium. Jumpa di Belorusskaya?” tanyaku. “Bukan, di Mayakovskaya. Bersua dekat patung memorial Mayakovsky,” timpalnya, sembari menutup pembicaraan.

Sudah sejam keluyuran. Hiruk-pikuk pasar senggol Asia tak terelakkan. Mayoritas pedagang bercampur aduk. Ada dari Asia Selatan sampai Asia Tengah. Para saudagar Asia Tengah bermayoritas muslim. Mereka sudah menempati kawasan itu sejak zaman Ratu Yekaterina II.

“Privet! Atkuda ti, bratan?” tanya seorang pedagang Turkmenistan berhidung lebar dan peot. Artinya, ‘Hi! Dari mana asalmu, Saudara?’. “Ya is Indonesia,” jawabku, singkat. Artinya, ‘Saya dari Indonesia’. “Obuv khochish?” tanya dia lagi. Artinya, ‘Butuh sepatu ya?’. “Da, khochy ochen,” timpalku. Artinya, ‘Ya, saya ingin sekali’.

Tawar-menawar seketika terjalin. Harga bisa turun sedikit asalkan pandai rayu-merayu sebab sesama bangsa Asia. Akhirnya, kupilih sepasang sepatu buatan Vietnam. Langsung ganti dan pakai di tempat. Sepatu lama kutinggalkan biar tak jadi sampah di apartemen.

Dua musim terlewati sudah. Aku dan Elgi tak saling bertemu walau tinggal sekota. Dia sibuk penelitian untuk tesisnya, sedangkan aku fokus belajar bahasa. Di akhir pekan, aku pun bekerja serabutan di sebuah galeri seni milik seorang seniman eksil.

Pagi itu, aku menerima kabar gembira. Elgi akhirnya menyelesaikan kuliah S-2 tepat waktu. Dia memang pandai dan serius. “Bung Mathew, nanti malam merapatlah ke rumah Om Hari! Ada syukuran kecil,” sebuah pesan singkat kuterima.

Sosok Bung Hatta langsung menyelinap seketika di benak. Nama itu selalu kusematkan baginya. Bukan karena Elgi adalah ideolog atau revolusioner. Tapi, hanya gaya berpakaian elegan saja. Mirip Bung Hatta semasa menjadi pelajar di Handels Hogeschool, Rotterdam.

“Bung Elgi, selamat ya,” sapaku seraya gegas turun taksi. “Makasih, Bung Mathew! Mari masuk. Om Hari, Nona Stevie, Ida Asaita, dan teman lain sedang menunggu,” jawab Elgi, sopan. “Kau sudah berhasil jadi seorang magister. Kian mirip Bung Hatta,” pujiku.

Elgi selalu ramah jika kusebut nama sang proklamator asal Bukittinggi itu. Semakin disama-samakan, bahasa tubuh dan intonasi bicara ala Rusia pun luntur seketika. Berganti lembut asli Sunda. “Bung Mathew, sok mangga atuh ngopi dulu,” Elgi menawarkan, ramah.

Lampu Kremlin masih menyala. Samar-samar terlihat dari kejauhan. Kami menikmati nasi bakar, tumis kangkung, dan opor ayam. Sesekali, mengobrol topik politik dan lingkungan. Esok pagi, Elgi segera meninggalkan Moskow. Dia ambil rute penerbangan 28 jam via Amsterdam-Singapura-Jakarta.

Baca juga  Laila

***

Empat musim berganti begitu cepat. Senja itu, aku bergegas menuju ke galeri seni milik Om Agong. Dia meneleponku agar segera berjumpa. Tak lain untuk urusan lukisan. Dia akan mengikuti sebuah pameran bersama di Praha.

Om Agong beristri seorang perempuan pirang. Pujaan satu kelasnya sewaktu kuliah seni dan desain awal 60-an. Di sudut-sudut ruangan, lukisan-lukisan tergeletak semrawut, sedangkan koleksi boneka tampak rapi di rak.

“Bagaimana kabar Elgi dan teman-teman pelajar?” tanya Om Agong. “Dia sudah pulang dan kini bekerja di Bandung,” jawabku. “Senang mendengarnya. Mari, Bung Mathew ikuti saya ke gudang. Ada lukisan mau saya perlihatkan,” jawabnya, sembari menyulut sebatang keretek.

Debu-debu beterbangan liar. Itu saat kusentuh satu-dua lukisan yang bertumpukan di gudang. Kuamati satu per satu. Perlahan-lahan meresapi. Semacam ada aroma magis. Mata ini tertuju pada sebuah lukisan deformasi abstrak. Sekilas, imajinasiku ikut memasuki zaman avant-garde.

“Lukisan ini dulunya saya buat untuk Eyang,” ucap Om Agong, seraya meneguk sampanye. “Siapakah Eyang itu?” balasku, penasaran. “Ya, eyang kami…,” suaranya paruh dan hampir tak terdengar. “Eyang…, Eyang Karno. Sayang, saat dilengserkan, kami nggak pernah bertemu lagi.”

Sejak peristiwa 1965 meletus di Tanah Air, semua berubah. Mimpi sang seniman untuk pulang mendirikan sebuah galeri seni bernama Kultural Indonesia pun pupus sudah. Padahal, nama itu adalah pemberian Bung Karno saat berkunjung ke Moskow, 1959.

Sang Proklamator jadi tahanan rumah di rezim Orde Baru. Hubungan Moskow-Jakarta pun putus. Seribuan mahasiswa dan pengikut setia ‘Putra sang Fajar’ tak jelas nasib. Sebagian besar memilih pindah ke Paris, Amsterdam, dan Praha. Sisanya hanya pasrah. Tetap kuliah dengan suaka politik Uni Soviet.

“Era 50-an, Eyang Karno mengutus bapak saya. Ya, untuk ngajarin bahasa Indonesia di sini. Bapak nggak pernah pulang. Begitu pun saya dan dua saudari perempuan. Saya kangen kampung,” kisah Om Agong, tertunduk lesu di hadapan lukisan misteriusnya.

Sejurus, raut wajahnya berganti pucat masai. Matanya pun berkaca-kaca. Aku terdiam dan mulut seakan terkunci. Kulihat perlahan, Om Agong mengeluarkan sebuah sapu tangan biru dari dalam saku celana. Ada luka abadi seakan bersarang di epigastriumnya. Lembut, dia menyeka sendiri kedua bola mata yang basah. Hidungnya memerah disentil angin nakal yang bertiup dari arah jendela. Tiba-tiba, suara isak tangisnya kian pecah. Dia coba sembunyikan kesedihan, tapi air matanya terus meluap. Seniman tua, hidup terbuang dan terasing dari angkatannya.

Perlahan-lahan, Om Agong menarik napas panjang. Sedikit tersendat-sendat. Kanvas kosong belum tergores di meja, ikut basah sedikit. Aku kembali tertunduk. Tak sanggup menatap wajah keriputnya. Ada rindu dan dendam bercampur aduk dalam sanubari.

Baca juga  Tamu Tengah Malam

“Om Agong, sudah larut malam. Saya pamit, ya, besok ada seminar,” ucapku, pelan-pelan. Dia menatapku kosong. Air matanya kering sudah di pipi. “Maaf, Bung Mathew, saya rindu Eyang dan Bapak. Dulu, jasad Bapak dikremasi. Tak dibawa pulang,” ungkapnya seraya menghabiskan sisa sampanye.

Taksi sudah parkir di depan galeri. Om Agong mengantarku ke depan. Melewati pintu utama ke arah tepi jalan. Udara basah dan kabut tipis turun. Menyenggol-nyenggol wajah dan ujung jemari. Ada raut beda di wajahnya seusai menunjukkan lukisan misterius.

Aku melambaikan tangan ke arah Om Agung. Cepat-cepat menaikkan kaca. Taksi melaju pelan. Kini, sopir menambah kecepatan tinggi. Melewati Sadovoe Koltso, sebuah jalan lingkar bersejarah. Dulunya, membentang luas kebun-kebun ceri milik kaum aristokrat.

Sejurus, aku merogoh kantong jaket. Kuambil telepon genggam. Ada pesan bertengger. Kali ini, dari sebuah nomor baru +62. Tak begitu kukenali. Kedua mata tak beranjak dari layar ponsel. Aku kian penasaran. Rasa hati ingin cepat-cepat membaca. Gerangan baik atau buruk sedang menghampiri.

Hoi! Bung Mathew. Elgi kecelakaan saat tur motor di Bandung. Jenazah akan dibawa ke Tasik, ini malam. Salam, dari Ida Asaita.” Sebuah pesan kubaca. Tiba-tiba, semuanya hening sejenak. Aku kembali baca untuk ketiga kali. Seakan baru saja berjumpa Elgi di rumah Om Hari.

Malam kian kelam dan tambah angker. Dingin terus mencucuk sumsum lengan kananku. Di luar jendela, satu per satu gerimis luruh di Sadovoe Koltso. “Maaf tuan! Tak boleh merokok!” pinta sang sopir, tegas. “Maaf, force majeure!” aku acuhkan sementara dia.

Kutekan knop kaca dan setengah terbuka. Kepulan asap berarak-arak mengikuti perginya angin. Tapi, tak semuanya. Aku terus menyulut sebatang lisong. Sesekali, tangan kanan mengusap embun beku di balik kaca.

Sopir jengkel dan kesal lantaran asap cerutu ala Kuba bikin dia batuk-batuk dan sesak napas. Dia terpaksa menepi dan menurunkanku di Sadovoe Koltso, yang bukan tujuan akhir. Ada logam jadi garam. ***

Cult, 2021

Iwan Jaconiah, sastrawan Indonesia pertama peraih Diploma of Honor Award pada X International Literary Festival Chekhov Autumn di Yalta, Krimea, Rusia (2019) dan Diploma Award pada International Poetry Festival Taburetka di Monchegorsk, Murmansk, Rusia (2017). Kini tengah menyelesaikan pendidikan S-3 kulturologi di Russian State Social University.

 15 total views,  3 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: