Cerpen, Satria Anggaprana, Suara Merdeka

Ne Me Quitte Pas

Ne Me Quitte Pas ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

5
(1)

Cerpen Satria Anggaprana (Suara Merdeka, 24 April 2011)

DI stasiun itu dia menunggu keretamu—yang tak kunjung tiba—bersama orang tua yang menunggu anak pulang atau mungkin menunggu waktu mereka pulang karena tidak juga datang atau memang tidak akan pernah datang. Beberapa orang memang pergi dan kembali, tetapi banyak yang pergi untuk benar-benar pergi. Apakah berguna menunggui mereka yang benar-benar pergi?

Dia duduk diam di peron, memandang rel yang kosong. Apa benar kau akan pulang? Dengan kereta? Bukan dengan bus, kapal laut, atau pesawat? Oh ya aku ingat tak ada bandara di kota kita. Dia diam sepanjang tahun ini. Dia sudah menjadi debu peron, menjadi ludah, sisa makanan yang jatuh dan terinjak, bungkus permen, lantai peron. Mengapa dia tak pernah mau bercerita kepadaku tentang kamu? Tentang orang yang pergi mencari mutiara air hujan ke negeri yang tak pernah hujan. Tentang kalian yang terus menggali dengan jari-jari tanah yang kering penuh retakan.

Tentang negeri yang hanya pernah kudengar dari lagu. Lagu orang yang tak pernah mau ditinggalkan. Lalu kenapa kemudian kalian malah saling meninggalkan? Mencari mutiara hujan, mencari cara untuk mencintai kekasihnya, mencari cara untuk mati yang sepi. Bukankah kalian takut kesepian? Lalu kenapa dia masih menunggumu? Kenapa dia tidak pergi saja, meninggalkan kamu yang sudah jelas-jelas meninggalkan dia. Apakah karena kalian saling mencinta? Kalau begitu kenapa dia biarkan dirimu pergi bersama orang banyak bertahun-tahun yang lalu dari stasiun ini?

Aku tak pernah bisa mengerti pikiran dia. Dia menunggui kereta yang tak pernah datang dari negeri tanpa hujan. Kenapa tak dia kejar saja dirimu dengan kereta pagi? Stasiun ini hanya memberangkatkan kereta. Sekarang tak ada kereta yang datang. Tak ada yang mau kembali sebelum mendapatkan mutiara hujan untuk melengkapi perhiasan kekasihnya. Melengkapi kekasihnya.

Kereta pagi segera dilansir, orang-orang berdesakan, kereta menuju negeri tanpa hujan tak pernah kosong. Tak ada keluarga yang mengantar, tak ada lambaian sapu tangan di udara, tidak ada hiruk-pikuk, hanya sepi dan diam. Kepergian mereka hanya menyisakan orang yang menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pernah ada. Dan aku hanya memandangi mereka dari balik kaca. Beberapa bulan lagi tugasku di stasiun ini akan berakhir. Dan mereka yang menunggu termasuk dirinya sebentar lagi akan terlupakan, akan hilang. Bukankah kau pernah berkata kepadaku,“Kita harus melupakan, semuanya bisa dilupakan.” [1]

Baca juga  Daun-daun Beluntas

Aku tak ingin lupa. Sesuatu yang terlupa kemudian mencoba mengingatnya, bukankah sama saja dengan kehilangan? Semuanya bisa dilupakan katamu, semuanya bisa kehilangan pikirku. Tapi aku tak ingin kehilangan.

Apa kau ingat? Kalau kau sudah melupakannya biarkan aku saja yang mengingat dan memutar kembali di kepalaku. Pada pagi itu jauh sebelum kamu mengenalnya, sebelum lagu itu berputar dan berulang di otak semua orang. Sebelum kita semua, atau kalian semua dirundung wabah kesenduan, wabah yang rasanya begitu manis didengar namun pahit untuk dicecap.

Kamu mengajakku menghabiskan sore dengan beberapa cangkir latte dan sepiring cake keju. Saat itu masih ada kereta yang datang kembali ke stasiun kita dengan keriuhan keluarga, karena mereka yang pergi masih ingin kembali. Di sela jam istirahatku, kita duduk berdua di sebuah kafe di seberang stasiun. Kau duduk di sofa seberangku namun tidak pernah memandangku. Yang kau lihat hanya orang di balik kaca. Tidak bisakah kau memperhatikan orang semeja denganmu ini saja? Apakah karena aku kurang terlihat manis? Apakah karena aku terasa pahit luar dan dalam? Apakah karena aku tidak mau merasa sendu seperti mereka yang berkeliaran di luar sana, mencari bekas kekasih di setiap angin yang lewat?

Aku memandangi wajahmu yang bulat. Aku merasa kita secara fisik sangatlah serupa. Apakah mungkin kita ini anak kembar? Lelucon murahan kelas opera sabun itu cukup sering muncul di pikiranku. Kau masih saja diam. Memang benar aku tidak dapat menciptakan kata-kata yang menarik perhatianmu, tapi apakah kemiripan ini tak membuatmu tertarik untuk sekedar menyinggahkan bingkai kacamatamu itu ke arah wajahku? Aku menyedot habis gelas ketiga latte, mencoba membuat suara srok-srok yang menyebalkan, tapi kau tetap diam, kaca yang lumpuh itu tetap memegangi wajahmu. Kau tahu? Kau terus diam. Bukankah kita sering melihat gunung mati yang kita kira sudah terlalu renta, meletus? Kalau begitu mengapa kau terus diam? Dan bukankah kita tahu setelah itu sang gunung menyelimuti kota-kota dengan api dan abu, lalu menumbuhkan gandum di sana sini? Bukankah akan ada perayaan saat panen tiba? Mengapa kau terus diam? Mengapa tidak kau ajak aku mengobrol walau dengan bingkai kacamatamu saja, dan dengannya aku akan menarik tanganmu ke bar di tengah kota. Aku akan mentraktir seluruh pengunjung dengan bir dan minuman terbaik. Aku akan memberikan perayaan, tapi kenapa kau memilih kaca itu: kesenduan yang bisu di baliknya. Tidakkah kau merasa muak? Aku sudah muak. Dengan latte-latte ini, dengan cake keju, dengan kaca, denganmu.

Baca juga  Percakapan di Serat Lontar

Jam istirahatku habis. Aku meninggalkanmu duduk di kafe itu, sendirian. Aku sudah membayarkan semua latte dan cake itu untukmu. Jadi nikmatilah sisa yang ada di gelasmu itu bersama kaca dan kebisuan. Aku tidak kuat. Aku merasa lebih tenang berada di balik loket. Menatap wajah kosong di balik kaca, menyorongkan karcis tanpa memberikan senyum, karena wajah mereka memang tidak mengharapkannya.

Sesuatu yang tipis memenuhi ruangan kerjaku, tipis dan cukup hangat, seperti selimut di kamar kita dulu. Apakah ini yang kau rasakan ketika melihat kaca dengan orang sendu di baliknya? Aku merasa ketenangan menyelimutiku, duniaku menjadi hanya sebatas kaca dan orang sendu yang bisu. Apakah itu juga yang kau rasakan, bersama kaca?

“Ini akan menjadi hari terbaikmu,” bisikku, kepada mereka yang menunggu, kepada dia. Walau kaca ini membuatku bisu di telinga mereka. Tapi memang ini akan menjadi hari terbaik mereka. Mutiara air hujan sudah ditemukan, dan tangan yang mengais tanah kering akan berhenti untuk kembali ke kota ini. Bukankah itu yang kalian tunggu selama ini?

Satu stasiun lagi dan kereta yang kalian tunggu akan segera tiba. Pengeras suara sudah memberitakan, membuat kalian berdiri dari lantai peron. Membuat kalian berdesakan, setelah lama sekali aku tidak melihat yang seperti itu di kota ini. Satu stasiun lagi dan penantian kalian akan berakhir. Aku berharap lagu yang kalian sanjung itu tidak lagi kalian ingat.

Mungkin kau sudah tidak mengingatnya, sepulang kerja, setelah menemuimu di kafe, aku menulis sebuah puisi. Mengirimkannya pada seorang teman, dari percakapan kita sebelumnya. Percakapan? Itu lebih seperti monologku bukan dialog kita.

Setelah kita berpisah, setelah aku membuang selimut tipis kita, kamu bertemu dengan dia. Kamu melihat dia dari balik kaca. Wajahnya kosong, mencari sesuatu di udara. Kamu menangkap pencariannya. Kamu terperangkap dengan dia.

Baca juga  Berita Kematian dari Masa Depan

Kemudian tanpa persetujuanku, puisiku telah mendapatkan nada, ia telah mendapatkan jiwanya. Dan temanku itu membuatnya berputar di radio, di televisi, di pikiran kita. Puisiku itu mencair masuk ke dalam mimpi kalian, mencair menjadi lelehan permen di telinga kalian. Dasar buruk rupa bodoh temanku itu! Dan aku melihat akibat buruknya hingga hari ini.

Kereta yang dia tunggu sudah berangkat. Aku memandang kosong pada kereta yang baru dilansir dari stasiun ini. Kalian berdesakan. Apakah akan seperti ini hari pengadilan nanti? Aku tidak terharu, atau merasa sedih, aku hanya ingin kembali melihatmu berjalan bersama dia dalam diam. Aku ingin melihat jalur yang mati di stasiun ini hidup kembali, jalur untuk pulang. Sungguh memuakkan melihat stasiun yang hanya memiliki satu jalur rel.

Karena lama tidak ada kereta yang datang, hanya ada satu jalur rel dari kota kita ke stasiun terdekat yang berfungsi. Aku mendengar lagu temanku berputar di pengeras suara. Bisakah dua kereta yang berlawanan berada dalam satu jalur yang sama? Aku diam di balik kaca loket, memandangi dia yang memandang jauh ke rel yang menjauh.

Selimut tipis kita tidak kurasakan lagi di dalam sini. Apakah barusan kau datang dan mengambilnya dariku? Dan akhirnya lagu itu berhenti, terpotong oleh sebuah pengumuman tanpa bel. ***

.

Jakarta, Maret 2011

.

.

 

Catatan:

[1] Satu kalimat dari lagu berjudul “Ne Me Quitte Pas” yang dinyanyikan oleh Jacques Brel. Beberapa narasi di cerpen ini juga terpinspirasi dan menukil dari lirik lagu tersebut.

 

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: