Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Humilisme ala Budi Darma

4.5
(10)

SAYA sengaja mengambil tempat duduk di bagian belakang ketika panitia Pertemuan Penyair Nusantara VI (Palembang, 16-19 Juli 2011) mengatakan bahwa lokasi berikutnya akan ditempuh menggunakan bus yang telah disiapkan di depan lobi Hotel Swarna Dwipa. Dari balik kaca bus, saya memandang para penulis yang sibuk berfoto atau minta tanda tangan kepada penulisnya. Tapi, sebenarnya pikiran saya tidak di sana. Pikiran saya masih pada kuliah Budi Darma yang baru saja saya ikuti. Saya tak pernah membayangkan akhirnya bisa mendengar pengarang Olenka yang fenomenal itu bicara tentang sastra secara langsung. Tampilannya sangat sederhana dengan kemeja biru muda polos, celana kain, dan pantofel yang tidak mengilap.

“Kenapa puisi lebih banyak ditulis daripada prosa?”

Itu adalah kalimat pembukanya yang langsung menarik perhatian audiens.

“Karena puisi tidak memiliki konflik, sementara prosa mewajibkannya.” Lalu ia membenarkan kacamata dan minum seteguk dari gelas berkaki tinggi di hadapannya.

Sebagai seorang pendatang baru di ranah sastra, saya tak sabar menunggu kelanjutannya.

“Konflik bekerja dengan mekanisme tabrakan yang, dalam sastra, terjadi dengan siasat naratif dan konteks yang memperhatikan banyak aspek mimesis. Ada yang terasa dan membuat kita seperti ikutan tertawa atau terluka. Ada juga yang bekerja seperti ramuan, melesap lamat-lamat dalam aliran perasaan, sehingga kita bisa menangis karena bahagia atau tertawa karena duka atau menjadi patung karena segala daya diserap oleh cerita, oleh konflik.”

Mungkin tidak persis begitu kalimatnya. Tapi, jejak pernyataan dan pengetahuannya jelas tercetak dalam ingatan saya hingga saya menyalinnya di kamar hotel pada malam harinya.

“Konflik menyaratkan endurance dan kejernihan logika dalam waktu yang bersamaan. Tapi …” ia seperti sengaja menggantung kalimatnya.

Baca juga  Naraščajoča

“… efek seperti tadi baru akan dihasilkan kalau prosa ditulis dengan strategi narasi yang benar.”

Saya heran, apakah Pak Budi Darma tak tahu kalau dia hadir di perhelatan akbar penyair yang bahkan juga diikuti penyair-penyair dari Malaysia, Brunei, dan Singapura, sementara ia terus bicara tentang prosa.

“Prosa berurusan dengan tanggung jawab terukur yang bernama tabrakan itu, konflik itu. Dan puisi tidak.”

Lalu? Saya mulai memperhatikan wajah para penyair yang hadir. Tidak ada yang ngobrol di mejanya atau menyimak kuliah Budi Darma dengan ekspresi siap mendebat. Tidak ada.

“Oleh karena itu, tidak banyak yang mampu dan punya daya tahan untuk nulis prosa. Makin tinggi tingkat dan kompleksitas konfliknya, makin sedikit yang mengarungi jalan kepenulisan itu. Sekarang saya tanya dan tidak perlu dijawab karena jawabannya akan saya kasih.”

Kami semua tertawa. Walaupun, dari air mukanya yang anteng, alumnus International Writing Program di Universitas Iowa itu, sepertinya tidak bermaksud bercanda.

“Yang mana yang lebih banyak: jumlah cerpenis atau penyair? Ya, penyair. Karena ditulis tidak dengan beban konflik. Tentu saja selain karena syair atau puisi jauh lebih pendek daripada cerpen. Nah, sekarang, mana yang lebih sedikit: jumlah novelis atau cerpenis? Ya, novelis. Karena, meski sama-sama prosa yang mengharuskan keberadaan konflik, novel membutuhkan eksplorasi dan kompleksitas yang lebih tinggi daripada cerpen. Nah, sekarang saya tanya lagi.”

Saya tentu saja makin penasaran. Apalagi ketika Budi Darma mengulang lagi peringatan agar tidak ada yang menjawab karena ia sendiri yang akan menjawabnya—dan kami tertawa lagi.

“Secara umum, mana yang lebih laris di pasaran? Puisi atau kumpulan cerpen? Jelas kumpulan cerpen. Tapi, kumpulan cerpen juga kalah laris dari novel.”

Baca juga  Musim Bepergian T’lah (Lama) Tiba

Tapi, yang membuat saya terperangah adalah penutupan kuliah di pagi menjelang siang itu.

“Penyair di sini tidak perlu tersinggung, sebagaimana penulis prosa tidak juga perlu menganggap stratanya lebih tinggi. Siapa yang bertahan dalam dunia kepenulisan yang sunyi ini? Tidak lain tidak bukan adalah mereka yang terus menulis prosa karena mencintainya atau mereka yang terus menulis puisi karena tak bisa hidup tanpa melakukannya. Sementara itu, pasar bekerja dengan mekanisme yang kadang tidak peduli dengan analisis saya tentang populisme dan proses kreatif. Kenapa buku puisi Sapardi terus terbit dan kenapa draf novel seseorang yang sudah menulis konflik dengan benar malah ditolak penerbit? Tidak lain tidak bukan karena yang satu sudah teruji kecintaannya pada puisi, sementara yang satu sedang diuji keimanannya pada prosa.”

Saya ingat, hadirin tertawa lagi, dan memberinya tepuk tangan panjang.

“Mas Benny?” suara itu memorak-porandakan rekonstruksi ingatan saya tentang kuliah yang bernas barusan….

Kalau saat itu saya sedang makan atau minum, saya pasti sudah tersedak. Bagaimana mungkin seorang maestro mengenali dan menyapa saya, seorang anak bawang yang belum tiga tahun berkiprah di ranah kepenulisan ini? Laki-laki berkacamata itu tersenyum dan tanpa izin duduk di samping saya.

“Kuliah Bapak tadi bagus sekali!” saya tidak sedang berbasa-basi. Saya sedang mengatakan yang sebenarnya.

“Bagaimana Mas Benny bisa menulis prosa banyak sekali itu?” ia tampaknya tak tertarik merespons pujian saya.

Ya Allah, saya mau pingsan rasanya. Tahun 2011 adalah salah satu puncak produktivitas saya di sastra koran. Mendapatkan apresiasi langsung dari seorang maestro, entah bagaimana saya harus menanggapinya.

3 Comments

  1. Panas rasaya mata membaca ini Mas … panas bukan lantaran api yang tanpa sebab menyalak nyala, melainkan lantaran kerendahatian beliau yang mengalir ikhlas.

  2. Fauzan

    Innalillahi wanna ilahi rajin, semoga mas Benny dapat melanjutkan pak Budi

  3. Atrop

    Saya pengagum berat Cerpen Pak Budi Darma, Almarhum!

Leave a Reply

%d bloggers like this: