Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Sri Wintala Achmad

Gagak yang Terbang ke Negeri Arwah

0
()

DALAM mimpi Jana, langit yang runtuh telah meluluhlantakkan rumah warisan bapaknya. Seorang pejuang yang gugur saat menyerbu pasukan Nipon di batas kota.

Sesudah badai sembilan belas, harapan Jana untuk bertahan hidup dengan layak bersama keluarganya telah pupus. Bagaimana tidak? Ia yang hanya seorang buruh pabrik tekstil itu telah dirumahkan tanpa sepeser pesangon. Betapa malang lakon hidup yang dijalaninya.

Selepas subuh, Jana dibangunkan Titin, istrinya. Dengan mata serasa masih terpulut, ia mengikuti perintah Titin untuk menemui seseorang. Hanya mengenakan sarung dan kaus putih kumal, ia menuju ruang tamu. Di mana, Gaper duduk di kursi bambu tua dengan pandangan seekor burung hantu.

“Oh… Bang Gaper! Tumben, datang ke rumah sepagi ini? Apa hendak menyampaikan kabar duka bila ada tetangga yang meninggal karena Covid?”

“Benar!” Gaper menjawab dingin. “Ada yang akan meninggal.”

“Hah? Siapa, Bang?”

“Bungsuku. Dia pasti meninggal karena demamnya sangat tinggi….”

“Kasihan!”

“Bila kau iba pada anakku, lunasi seluruh utangmu tiga bulan lalu!”

“Maaf, Bang. Aku belum punya uang.”

Gaper beranjak dari kursi. Melangkah menuju sudut ruang tamu. Membawa mesin jahit ke halaman. Sebelum meninggalkan rumah itu, lelaki yang semasa mudanya sebagai preman terminal itu hanya bilang, “Tebus mesin jahit ini dengan seluruh utangmu!”

Menyaksikan mesin jahit istrinya dibawa Gaper, Jana hanya bernapas panjang. Tak bisa berbuat banyak ketika Titin yang kehilangan pekerjaannya sebagai penjahit masker itu menangis sesenggukan. Dalam hati, ia mengumpat dirinya, “Sungguh! Aku lelaki tak berguna.”

***

Jana merasa kepalanya berputar seribu keliling sesudah diberi tahu Titin kalau anak semata wayangnya demam, batuk, flu, dan bernapas sesak. Tanpa sepeser uang, ia membawa anaknya ke rumah sakit. Sedikit lega ketika anaknya sembuh dari sakit, meskipun almari kayu kuno warisan bapaknya melayang.

Baca juga  Penjual Kesedihan

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kang?” Wajah Titin semuram awan. “Uang hasil jualan kulkas sudah habis.”

“Terpaksa kita utang bank dengan jaminan sertipikat tanah warisan Bapak.”

“Aku tak sepakat, kalau uang pinjaman hanya buat makan.”

“Tidak. Separuh uang nanti aku berikan padamu buat bertahan hidup bersama anak kita. Separuh sisanya aku bawa sebagai bekal mencari kerja di kota.” Jana meyakinkan pada Titin. “Apakah kau setuju dengan keputusanku ini?”

Titin mengangguk lesu.

***

Berbekal separuh uang pinjaman dari bank, Jana meninggalkan istri dan anaknya seperti seorang pejuang yang akan bertempur di medan laga. Ia pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Namun sesudah setahun di kota, pekerjaan tak pernah didapatkan. Uang di kantongnya pun sudah habis buat makan dan kontrak rumah.

Sungguh Jana dihadapkan pilihan simalakama. Pulang ke rumah sebagai pecundang atau mati kelaparan di kota sebagai pejuang. Pilihan untuk bunuh diri dengan menenggak obat nyamuk ditempuhnya, ketika mendengar kabar kalau tanah warisan bapaknya disita bank. Ketika mengetahui kalau Titin telah menjadi simpanan Gaper demi anaknya yang harus tetap hidup di masa sulit.

Jana tewas. Bukan sebagai pejuang sebagaimana bapaknya, melainkan sebagai orang kalah. Ruhnya serupa burung gagak yang terbang ke negeri arwah. ***

Yogyakarta, 17 Agustus 2021

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: