Cerpen, Koran Tempo, Yuditeha

Hadjar

5
(7)

SAYA pergi ke kantor distrik dengan terburu, tak peduli keadaan badan saya yang semuanya terasa ngilu. Demam sedari pagi belum juga turun. Semoga bukan karena malaria yang saat ini memang sedang mewabah. Sesungguhnya saya tidak takut dengan Kapten Vanborden, karena hal ini pasti hanya masalah tugas sepele, bahkan saya menganggapnya cenderung menjijikkan bagi pemikiran setingkat kapten. Saya pernah menjelaskan kepadanya bahwa saat ini mengawasi gerak Soewardi adalah segalanya. Namun, sepertinya nasib saya sedang sial, bukan saja kapten tidak pernah mengerti apa yang saya sampaikan, tetapi juga karena setiap kali mendapat panggilannya, selalu ada kejadian yang menimpa saya hingga akhirnya membuat semua berantakan, dan setelah itu Kapten Vanborden akan ngoceh tak keruan.

Seperti halnya kali ini, saya diminta datang sekarang juga, sementara saya sedang tidak enak badan. Namun karena saya tak ingin mendengar terus omelannya, saya paksakan diri untuk menemuinya. Sampai di kantor rupanya sudah banyak orang kami, dan saya tidak tahu mengapa mereka berkumpul di kantor ini. Saya menduga, mungkin memang akan ada rapat, tapi mengapa agenda itu tidak ada di catatan saya. Untuk meyakinkan hal itu, segera saya membuka catatan, siapa tahu saya memang yang lupa. Ketika di catatan tak ada yang menerangkan hal itu, tak ingin menunda waktu, saya langsung menemui Kapten Vanborden di ruang kerjanya untuk mencari tahu.

Ketika saya muncul di hadapannya, wajah kapten tidak tegang. Rupanya apa yang saya cemaskan sebelumnya tidak terjadi. Kapten Vanborden tidak marah-marah. Dia bahkan langsung mempersilakan saya duduk, dan ketika dia bicara, suaranya pun terdengar tenang, dan kalem.

“Kita akan rapat,” ucap kapten.

Baca juga  MENYEMAYAMKAN IKAN; MENATAP KAPAL LAYAR

“Acara ini tidak teragenda di catatan saya, Kapten,” saya menyahut.

“Memang mendadak. Kau harus ikut.”

“Tentang Soewardi?”

“Lagi-lagi kau bicara tentang dia. Asal kau tahu, ini lebih penting.”

“Bukankah saya pernah mengatakan kepada Kapten bahwa saat ini pengawasan terhadap Soewardi seharusnya menjadi prioritas utama?” Saya mencoba mengingatkan lagi kepadanya.

Kapten Vanborden menanggapi penyataan saya tetap dengan tenang, lalu menerangkan kepada saya bahwa, untuk sementara waktu, pemuda radikal itu dikesampingkan dulu. Kapten menganggap apa yang akan dilakukan adalah sesuatu yang penting dan mendesak. Pemerintah Belanda ingin merayakan 100 tahun kemerdekaan dari Prancis secara besar-besaran. Ketika mendengar hal itu, saya hanya bisa geleng-geleng. Saya membatin, jika terus begini, sesungguhnya kekalahan itu telah ada di depan mata.

Waktunya rapat telah tiba, rupanya memang hanya membicarakan tentang perayaan itu, dan pada saat pembahasan terkait sumber pembiayaan perayaan, sidang rapat memutuskan, kami akan melakukan penarikan sumbangan kepada rakyat Hindia. Sebenarnya saya tidak sependapat dengan keputusan itu, yang menurut saya langkah tersebut justru bisa menghilangkan kepercayaan kekuasaan kami, tapi mengingat pendapat dari orang bawahan seperti saya tidak akan dianggap, bahkan kedudukan saya yang hanya seperti kacung ini mungkin memang tidak punya hak berpendapat, tak ada pilihan bagi saya, selain mengikuti perintah atasan tanpa boleh melakukan protes.

Meski begitu, karena saya merasa dekat dengan Kapten Vanborden, pada saat istirahat, saya mendekatinya, lalu mencoba memberanikan diri menyampaikan segala yang menjadi pemikiran saya tentang siapa sebenarnya Soewardi. Saya tidak jemu-jemu menyampaikan hal ini, karena menurut saya Soewardi ini bukan orang sembarangan. Saya mengatakan kepada kapten bahwa jangan sekali-kali memberi kelonggaran bergerak kepada pemuda radikal itu, karena meski tampaknya dia seperti tidak bertingkah yang mencolok, sebenarnya pemuda itu begitu cerdik dalam mempengaruhi orang-orang di sini. Hal yang dia lakukan bukan dengan perjuangan fisik, melainkan dengan penanaman fondasi kesadaran akan kemerdekaan yang mandiri, yang hal itu akan berhubungan dengan nurani yang ada di setiap pribadi. Hal itulah yang menurut saya paling membahayakan. Tapi sayangnya, tanggapan kapten rupanya tidak seperti yang saya pikirkan.

Baca juga  VARIASI DARI PROSA LIRIS ITALO CALVINO (BAGIAN 2)

“Tahu apa kau tentang siasat perang, hah?” ucap Kapten Vanborden dengan nada keras. Saya melihat mukanya sedikit memerah.

Perkataan itu langsung menciutkan nyali saya, dan setelah itu saya tidak lagi meneruskan apa yang menjadi kegusaran saya atas sepak terjang Soewardi. Selang beberapa hari setelah dikeluarkannya pengumuman kepada rakyat tentang kewajiban mereka memberi sumbangan, muncul keributan yang terjadi hampir di seluruh kantor distrik. Semua orang sedang membicarakan sebuah tulisan yang berjudul Als ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Catatan satire yang cukup panjang itu ditulis oleh Soewardi yang diterbitkan di surat kabar De Expres milik Indische Partij.

Catatan itu membuat orang-orang kami merasa gerah, bahkan ada beberapa yang meradang karena tersulut emosinya. Sudah saya bilang, Soewardi itu berbahaya. Menurut saya, catatan Soewardi itu sesungguhnya bukan semata untuk mengkritisi rencana penarikan sumbangan, yang tentu saja kegiatan perayaan itu senyatanya memang tidak ada hubungannya dengan mereka. Kecerdikan Soewardi ketika dia dapat menitipkan maksud besarnya pada peristiwa pungutan sumbangan itu. Sejatinya, Soewardi sedang mengkritisi sikap dari orang-orang kami yang dia anggap semena-mena terhadap rakyat di sini. Bahkan menurut pemikiran saya, catatan itu juga bermaksud memberi wawasan pemikiran kritis kepada seluruh rakyat perihal kesadaran akan cita-cita kemerdekaan bagi mereka, dan saya pikir hal inilah yang justru paling membahayakan kekuasaan kami.

Hampir bersamaan saya memikirkan sepak terjang Soewardi itu, datang utusan dari Kapten Vanborden, yang mengabarkan bahwa saya diminta segera menghadap. Dugaan saya, panggilan ini pasti tak lepas dari polah Soewardi itu. Sebenarnya saya agak malas bertemu kapten, justru di saat saya tidak ada halangan yang mengganggu. Saya hanya merasa selama ini pendapat-pendapat saya tidak pernah digubris. Maunya saya, ingin memberi pelajaran kepada kapten bahwa apa yang saya katakan perihal Soewardi tidak main-main. Bahkan saya sudah mendengar tentang kelancangan-kelancangan pemuda bernyali besar ini, dia sudah berani melakukan penghinaan terhadap Ratu Belanda, melecehkan lembaga pengadilan, menghina pegawai pemerintah, dan menghasut orang-orang agar membenci penguasa.

Baca juga  Jejak-jejak Hewaniyah Seorang Filsuf

Average rating 5 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: