Cerpen, Kartika Catur Pelita, Suara Merdeka

Penjara di Dalam Kepala

2.7
(3)

“TAK sepantasnya aku berada di tempat terkutuk seperti ini,” umpat perempuan empat puluh tahun, bertubuh gempal, berambut keriting, berkulit sawo matang, berhidung mekrok. Beberapa pasang mata menatapnya. Jengah. Garang. Penjara. Kantor Polisi. Pengap.

Sudah 2024 jam ia dikurung. Tepatnya sejak perempuan udik, beranak empat, itu ditangkap warga akibat perilaku kriminal. Kemarin di kantor polisi ia sudah menjalani pemeriksaan.

“Saya tak sengaja menusuknya, Pak Polisi.”

“Bagaimana tak sengaja, mereka para saksi telah melihatmu menusuk menggunakan pisau dapur—pada Stella. Kau menusukkannya berulang-ulang.”

“Maksud saya, saya mengincar adiknya, si Hanna, yang telah mengganggu suami saya. Ternyata salah tusuk! Salah orang!”

“Baiklah. Sekarang ceritakan secara runtut dan jelas kronologis peristiwa….”

Tumi Sukaesih emosional menuturkan kisah menurut versinya. “Sudah delapan bulanan saya mencurigai suami saya, Mandor Kero, berselingkuh. Saya mengendus ada perempuan lain.

Insting saya benar, ketika keponakan saya suatu ketika main ke mess pabrik Mandor Kero bekerja, mendengar bisik-bisik hubungan pakdenya dengan karyawan pabrik. Suatu malam keponakan saya memergoki si Kero membawa demenannya ke mes. Ia melaporkan pada saya siapa nama, ciri-ciri, alamat. Bahkan ia memberikan foto perempuan itu.

Saya mencoba pura-pura tak tahu. Saya dibakar cemburu, apalagi saat si Kero tak mau mengakui punya selingkuhan. Ia bersumpah demi Tuhan. Taik kucing, saya tahu jeroan si Kero. Saya berpacaran dengannya sejak SMP. Saat pacaran dan setelah kawin, ia berulang-ulang selingkuh, dan saya memaafkannya. Inilah ketololan saya, atau mungkin karena saya mencintainya.

Pagi itu, saya meninggalkan Semarang, naik bus ke kota Jepara. Dijemput keponakan di terminal. Ia mengantar saya ke rumah perempuan selingkuhan suami. Keponakan memilih ngendon di warung depan. Saya mengetuk pintu, perasaan panas terbakar. Saat bertamu saya mengaku teman kerja Hanna. Saya bertemu perempuan tua—yang belakangan ternyata ibu si perempuan selingkuhan itu. Perempuan itu ngomong ngalor-ngidul rumah tangganya, cerita suaminya bojone telu. Saya terperangah mendengar ceritanya.

Baca juga  Fan Wali Majnun

Pada satu sisi saya iba, ia memiliki hati seluas samudera. Saya mengaguminya. Namun, pada satu sisi saya membencinya, karena ia melahirkan perempuan penggoda. Saya pun tak habis berpikir, mengapa si Hanna mengganggu suami orang, apakah ia tak bercermin pada penderitaan ibunya?

Saya seperti berada di tengah persimpangan, antara mempertahankan perkawinan, atau memberi pelajaran pada selingkuhan suami. Saya hendak memilih pulang, ketika si perempuan tua berkisah tentang petaka yang menimpa anaknya, perempuan penggoda hamil?

Sungguh, saat itu saya syok. Keponakan saya tak berkisah sejauh ini, jika si perempuan penggoda tidak hamil karena akibat perbuatan Mandor Kero.

Seperti ada bara menggelora, saat saya melihat seorang gadis turun dari angkot dan memasuki rumah, mengucap salam. Ia cantik, mirip si perempuan tua, pasti ini selingkuhan si Kero. Pasti ini yang bernama Hanna. Berkubang amarah, saya mengambil pisau di dalam tas. Dilanda marah, cemburu, dendam, benci, saya menusuknya!

Saya benar-benar kaget, entah apa yang sudah terjadi, apa yang sudah saya lakukan. Saat si gadis rubuh, berlumuran darah, saya ketakutan. Perempuan tua menjerit, minta tolong. Orang-orang berdatangan. Saya ditangkap dan dibawa ke kantor polisi!”

***

“Mengapa kau melakukan perbuatan tolol? Kalau mau berbuat pikir pakai otak?!”

“Kau yang mesti pakai otak warasmu. Perempuan selingkuhanmu itu hamil, bagaimana aku tak marah!”

“Karena perbuatanmu goblokmu kau bisa diancam hukuman sepuluh tahun.”

“Aku tak bersalah.”

“Saksi dan bukti memberatkanmu. Kau akan tinggal di penjara. Aku bisa membesarkan anak-anak.”

“Dasar lelaki brengsek, tukang selingkuh!”

“Sudahlah, aku bosan bertikai. Malu, didengar orang.”

“Aku tak malu. Kau yang seharusnya malu. Selingkuh, menghamili anak gadis orang!”

Baca juga  Kota Meteor, Kota yang Kesembilan Puluh Sembilan

“Aku akan menikahinya, kalau kau mengizinkannya.”

“Sampai mati aku takkan mengizinkan kau beristri lagi!íí

***

“Tidak! Aku tak sudi. Aku tak mau memberi izin kau menikah lagi. Aku tak rida kau menikahi perempuan gembrik itu!” Tumi Sukaesih menyuarakan hatinya, saat siang itu suaminya kembali membezuknya. Siapa perempuan yang sudi suami menikah lagi. Tak akan. Tak pernah. Tak sudi!

“Kau tinggal tanda tangan di atas kertas. Beres. Nanti kau bebas.”

“Aku tak sudi. Aku takkan memberi tanda tanganku untuk kau bisa menikah lagi!”

“Terserah kalau kau tetap keras kepala! Kau akan mendekam di penjara!”

***

Average rating 2.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: