Cerpen, Muhamad Pauji, Radar Mojokerto

Menyerang Toko Kelontong

5
(2)

DI kota Cilegon, selama ditentukan sebagai zona merah di masa pandemi Covid-19, toko-toko sudah tutup sejak jam delapan malam. Kecuali ada beberapa toko kelontong yang masih buka. Tadinya, perampok itu merencanakan untuk menyerang toko ponsel di tikungan perempatan jalan, tetapi apa boleh buat, malam itu ia mengubah pendiriannya.

Dengan mengenakan jaket kulit, masker hitam, dan topi yang bisa menutupi dahi dan alis matanya, ia merasa tak perlu memakai topeng lagi. Ia memutuskan untuk menyerang toko kelontong yang masih buka hingga jam sepuluh, sambil menyelipkan sebilah belati di balik jaket hitamnya.

Toko itu berbentuk ruko (rumah toko) berlantai dua yang memanjang ke belakang, terbagi atas dua ruang. Ruang depan dijadikan toko sedangkan ruang belakang yang bertangga dijadikan gudang penyimpanan sembako, seperti beras, tepung, minyak goreng, telor, gula, kopi dan lain-lain. Pemilik toko tinggal di lantai dua, bersama istrinya yang sedang sakit-sakitan, berumur sekitar 60 tahun, hanya selisih tiga tahun di bawah suaminya. Sedangkan perampok itu sendiri sudah berumur sekitar 62 tahun.

Sejak pukul 21.30 perampok tua itu mengincar toko kelontong itu dari seberang jalan. Pemilik toko terlihat sedang beres-beres menjelang tutup toko, merapikan dagangannya, melipat plastik, kantong kresek dan kardus bekas, memasukkan beberapa barang yang terpajang di halaman depan. Nampak raut muka sang perampok berseri-seri ketika melihat pemilik toko sedang menghitung uang di atas meja kasirnya.

Dengan santai perampok tua itu menyeberang jalan, setelah merapikan topi dan maskernya, serta memastikan belati terselip di balik jaket hitamnya.

Ia segera masuk melalui pintu depan yang lebar membentang, melihat kiri-kanan, kemudian langsung menuju meja dan mengeluarkan belati tersebut dari balik jaketnya. Setelah melompat di depan meja, ia berteriak keras sambil menodongkan belati ke muka si pemilik toko, “Angkat tangan!”

Baca juga  Keringat dan Susu

Pemilik toko diam terpaku di kursinya. Ia menutup kotak meja pelan-pelan, menatap wajah perampok dengan terbengong-bengong, lalu pelan-pelan mengangkat tangan kirinya.

“Angkat kedua tangan!” teriak si perampok.

Pemilik toko itu tak bisa mengangkat tangan kanannya, hanya menggesernya pelan-pelan dari atas meja dengan bahu gemetar. “Saya nggak bisa mengangkat… yang kanan…,” katanya dengan muka meringis dan kesakitan.

“Nggak bisa kenapa? Tadi saya lihat kamu sedang menghitung uang di atas meja?” bentak perampok.

“Ya benar, tapi dengan tangan kiri.”

“Kenapa tangan kananmu?”

“Nggak bisa bergerak.”

“Saya bilang kenapa?”

“Asam urat.”

“Oo, begitu.”

***

Pada saat penodongan itu, si perampok melihat kendaraan mobil berhenti di jalan depan toko. Dia bertanya siapakah yang datang itu. Si pemilik toko menjawab, itu mobil salah seorang pelanggannya, barangkali mau membeli sesuatu. Bergegas perampok itu menyalakan rokok dengan korek yang terlindung sebelah tangan. Ia minta si pemilik toko agar jangan menanggapi pembeli itu, cukup diam saja di tempat. “Biar saya yang ngurus,” katanya setelah menghisap batang rokok terakhir dari dalam sakunya.

Ia bergegas menyelipkan belatinya, langsung menuju pintu mobil, dan katanya pada pelanggan itu, “Tokonya sudah tutup, Pak.”

“Tapi itu masih buka, dan lampunya masih menyala,” sela si pelanggan.

“Sudah tutup barusan, Pak. Saya ini masih keluarga, sedang membicarakan urusan keluarga dengan pemilik toko kelontong ini. Sebaiknya Bapak cari warung atau toko lainnya saja.”

“Oo begitu, maaf ya.”

Pelanggan itu naik kembali ke mobilnya, kemudian setelah memastikan sudah menjauh, perampok itu segera kembali ke meja, mengeluarkan belatinya, dan kembali memasang muka seram dan garang. “Siapa yang nyuruh Bapak menurunkan tangan? Tadi saya bilang, angkat tangan! Walaupun cuma tangan kiri!”

Baca juga  Enam Puluh Sembilan Hari

Pemilik toko itu mengangkat tangan kirinya pelan-pelan. Ia disuruh berdiri membelakangi meja. Perampok itu melangkah dan membuka kotaknya, kemudian mendapatkan setumpuk uang yang diikat dengan karet, lalu memasukkannya ke saku jaket. Dia melihat ke sekeliling ruang toko. Ada hiasan keramik berwarna keperakan di atas meja, ada kipas angin berkaki, dispenser, hiasan dinding, dan lukisan kaligrafi Arab. Ia tak berminat untuk menggondol barang-barang berat itu. Termasuk berbagai jenis makanan dan minuman yang terpajang di kastok-kastok dinding dan etalase-etalase kaca. Ia hanya menanyakan di mana letak rokok. Si pemilik toko memberitahukan letaknya sambil melangkah pelan ke kastok tempat penyimpanan rokok. Ia menyerahkan beberapa dus rokok kepada perampok, tetapi si perampok rupanya hanya membutuhkan sebungkus rokok saja.

Ketika pemilik toko menaruh kembali kardus-kardus itu di kastok bagian atas, tiba-tiba terdengar suaranya lirih dan merintih, “Aduh… sakit sekali! Sakit sekali, Pak…!” ia memegang lengan kanannya sambil terjatuh dalam posisi duduk.

Si perampok merasa tak tega. Ia maju empat langkah mendekati si pemilik toko, kemudian menjongokkan wajah ke arahnya, “Serius apa yang Bapak bilang… apanya yang sakit? Coba saya lihat.”

Perampok itu menggelontorkan belati di atas meja. Ia pun melepas topinya, kemudian memegang bahu si pemilik toko dengan hati-hati. “Aduuuh… jangan dipegang keras-keras, Pak… sakit sekali…!”

“Saya cuma memagang pelan, sakit apanya?” kata si perampok membela diri.

“Bagian ini, Pak…,” sambil meregang dan gemetaran. “Tolong pijit bagian ini, Pak, aduh… sakit banget…”

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: