Cerpen, Komala Sutha, Radar Banyuwangi

Ilusi Luna

4.5
(2)

LEWAT tengah malam, Luna gelisah di atas pembaringan. Tubuhnya sesekali menghadap dinding, sesekali telentang. Matanya tak terpejam. Bukan hanya itu, hatinya mendadak tak nyaman.

Sekarang tubuh Luna membelakangi dinding, malah memunggungi yang tengah lelap dibuai mimpi. Suaminya tak merasakan ada yang tengah gelisah. Ruang kamar yang gelap. Tiktak jarum detik berbunyi dari jam dinding di atas pintu kamar, menemani dada Luna yang mendadak bergemuruh. Luna menghela napas panjang. Ia juga tak mengerti apa yang membuatnya gelisah. Dicobanya membayangkan sesuatu yang indah.

Rumah tangga bersama Hardi menginjak sepuluh tahun. Telah memiliki anak yang cantik. Luna baru dua tahun menjadi pegawai negeri ketika dinikahi Hardi, lelaki rupawan, usaha lelaki itu pun terbilang sukses. Gaji Luna hanya seujung kuku penghasilan Hardi. Bila dibandingkan, gaji Luna sebulan sebanding dengan pendapatan Hardi dalam sehari. Dalam hal harta, Luna cukup makmur. Ia pun memiliki beberapa rumah kontrakan di sejumlah tempat. Sementara rumah yang kini baru mereka tempati dua bulan, sebelumnya tinggal di rumah yang lain.

Luna ingin rumah yang tak terlampau besar, bahkan terkesan mungil, yang penting tak jauh dari tempat dinasnya. Suaminya rajin mencari uang. Meski sudah menjadi juragan, namun tak manja. Bakda subuh usai salat, ia melaju ke tempat usahanya. Hari ini ke tempat usaha yang satu, esoknya ke tempat usaha yang lain. Begitu setiap hari kecuali Minggu. Pulang ke rumah sekitar pukul satu siang. Sembari menanti Luna kembali dari kantor pukul empat, Hardi biasanya rebahan di kursi panjang ruang tengah rumahnya. Ditemani air kopi yang panas mengepul asapnya buatan Fatimah, asisten rumah tangganya yang telaten. Sementara anak satu-satunya santai di kamarnya yang berada di lantai atas. Fatimah pun dengan siaga, setia melayani anak majikan.

Baca juga  Glauconian

Sekembali Luna, Fatimah pun sudah siap pulang ke rumahnya. Luna tak mau punya asisten rumah tangga yang menginap. Makanya ia mencari dari tempat yang tak jauh biar bisa bolak-balik. Ia ingin tenang setelah berada di rumah, hanya dengan suami juga anak semata wayangnya. Tanpa ada orang lain di antara mereka bertiga.

Malam larut dan sepi, merangkak tak terasa. Luna menghela napas kembali, kali ini lebih panjang. Hatinya masih tak nyaman. Kegelisahan terus menderanya entah tersebab apa. Akan ada apakah sebenarnya? Tak sadar bibirnya bergerak, gumamnya keluar pelan. Suaminya terjaga. Lalu matanya terkuak, tangannya meraba-raba pada sosok yang berbaring di sebelahnya.

“Lun… kau sudah bangun?” tanya Hardi sembari mengusap-ngusap matanya.

“Aku tak bisa tidur…” ucap Luna pelan.

“Kenapa? Tak seperti biasanya…” Hardi merasa heran.

Luna tak menjawab. Mulutnya mengatup. Lalu pura-pura menjemput kantuk. Diam. Bibirnya tak bergerak sedikit pun. Tak ada suara. Begitu pun Hardi. Latah. Terdiam. Lelaki itu pun tertidur kembali. Pulas lagi, dengkur halusnya terdengar, namun pukul tiga kurang seperempat jam terjaga. Tampak terperanjat. Luna yang sebenarnya belum mengantuk, melirik sedikit dalam gelapnya ruangan. Hardi beranjak dari pembaringan. Ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Swuuuurrrr terdengar suara air dari shower. Beres mandi. Keluar. Membuka lemari usai menghidupkan lampu. Luna merasa aneh dengan tingkah suaminya yang tak seperti biasanya. Sebelumnya, bakda subuh usai salat baru bersiap-siap. Begitu terus selama sepuluh tahun. Namun kali ini….

“Mas terburu-buru, Lun. Ada urusan penting. Jadi, harus pergi dari sekarang. Mau ke luar kota. Sudah janji.” Begitu ucapan Hardi seolah membaca pikiran istrinya.

Baca juga  Berai Bianglala

Luna tak menyahut.

“Coba tidur setelah Mas pergi, ya? Pasti bisa.”

Tak ada dialog lagi. Luna mengikuti Hardi yang beranjak ke luar kamar, menuju ruang depan, membuka pintu lain. Kemudian melangkah ke arah garasi. Perlahan mobil melaju meninggalkan rumah setelah Luna mengunci pintu garasi.

Luna kembali ke dalam rumah. Masih tercium aroma parfum yang tadi dipakai Hardi. Perasaannya kembali tak nyaman. Lagi-lagi didera gelisah. Rasa kantuk kian menghilang.

“Tidur ya, cobain tidur… tak apa-apa walau sekejap juga, biar tubuhmu segar pagi-pagi, kan kau harus ngantor,” pesan Hardi masih terdengar di telinganya ketika tadi berbincang sebentar di garasi. Sebelum Luna menutup pintu garasi.

 412 total views,  2 views today

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!