Cerpen, Dalih Sembiring, Jawa Pos

Dua Rumah Kayu

4.3
(8)

IBU tidak sekali pun menatap bapak ketika kami meninggalkan rumah, apalagi berpamitan. Lelaki itu bergeming di kamar sejak bangun tidur dan melihat ibu sedang mengepak barang-barang.

Dua minggu setelah kejadian memalukan itu, kami pindah ke pinggir lain kota untuk menumpangi keluarga pakde, saudara tertua ibu. Lalu semakin lama kata “bapak” semakin susah untuk kuucapkan dengan wajar kepadanya. Tiga minggu lalu aku bahkan tak yakin mana yang lebih sulit: mengucapkan kata itu di hadapannya atau membujuknya untuk melihat bapak buat kali terakhir.

“Bagaimanapun dia bapakku,” tegasku, “dan rumah sakit perlu kita mengenali jasadnya.”

“Kalau begitu kamu saja yang pergi,” balas ibu. “Aku sudah nggak ingat dia lagi.”

Azan Asar dari seberang sungai mengembalikanku kepada sekarang. Kantong plastik berisi kuas dan kaleng cat kumasukkan ke bagasi. Empat lelaki tua itu masih menatap dari pos ronda ujung jembatan. Orang-orang yang melintas masih menyempatkan diri untuk berhenti, membaca keterangan bahwa rumah beserta tanah bapak kini berstatus dijual.

Aku tak ingat seorang pun dari mereka; dua puluh tahun telah mengaburkan banyak wajah dan nama. Namun, ada kemungkinan bahwa siapa pun yang telah menetap di kampung ini selama dua puluh tahun lebih masih ingat keluargaku.

Tidak mudah menghadapi itu.

Kudatangi pos ronda. Demi sopan santun. Demi mencegah kecurigaan yang tak perlu. Barangkali juga demi menuntaskan penasaranku. Keempat lelaki membalas sapaanku, lalu bergeser, memberi ruang di dalam pos ronda untuk kududuki sebelum salah satunya menawarkan rokok.

“Adik ini siapa ya?” bertanya seorang.

“Saya Yusuf, Pak, anak Pak Gareng yang meninggal tiga minggu lalu. Mungkin Bapak-Bapak masih ingat, dulu saya biasa dipanggil Ucup,” jawabku usai mengembuskan kepul asap pertama. Sudah lama aku tak merokok.

Baca juga  Sihir Keluarga

Kutangkap kelap ganjil di mata mereka yang bersamaan menyerukan: “Oh.”

“Walah! Ini Ucup yang dulu sering main bola di depan rumah saya toh? Hebat, sudah bawa-bawa mobil. Hahaha. Ibu di mana sekarang, Cup?” tanya yang tadi menawarkan kereteknya, sepertinya berusaha bernada ringan.

Kusebutkan nama kota tempat ibu dan aku tinggal. Mereka kembali ber-oh, sebelum lelaki yang kelihatannya paling tua, disusul ketiga temannya, mengucapkan belasungkawa atas kematian bapak. Lama kami membahas penyakit jantung yang ia idap serta kecelakaan yang menewaskannya, sebelum salah seorang menanyakan harga jual rumah kayu itu.

Rumah masa kecilku.

Kualihkan pandang pada pintunya yang kini bertorehkan rangkaian huruf dan nomor telepon berwarna merah gelap.

“Belum tahu, Pak,” jawabku. “Terserah ibu saya.”

Rumah almarhum bapak kini terasing di antara hunian-hunian yang lebih kukuh—bangunan-bangunan yang terbuat dari semen dan bercat. Tapi, rumah itu tak sendirian. Di seberangnya, satu lagi rumah kayu yang tak kalah ringkih. Meski lebih kecil, rumah itu sama berdinding jati tebal kusam abu-abu. Kupandangi lagi pohon mangga di sampingnya. Dulu sering kupanjati bersama teman-teman pada musim berbuah. Kini daun nyaris tak melekati dahan-dahannya.

Di rumah berpohon mangga itu Anes pernah tinggal. Suaminya mati muda, hanyut di sungai ketika tengah malam berak dalam keadaan mabuk, belum sampai tiga bulan setelah keduanya menikah. Tak terkecuali ibu, istri-istri dan gadis-gadis kampung ini lantas cemas para suami dan kekasih mereka akan tergoda oleh si janda kembang.

“Masih muda, manis, kenes lagi! Siapa yang tahan?” Begitu kudengar kelakar yang pernah muncul di pos ronda ini, ketika aku mengantarkan rokok pesanan bapak. Tidak seperti teman-temannya yang kemudian tertawa terbahak-bahak, bapak cuma tersenyum.

Baca juga  Kasur Tua Bapak

“Kenes itu apa?” aku tanya bapak. Teman-temannya malah mengusirku.

Sejak Anes mulai terlihat tak lagi berduka, ibu jadi mudah marah. Sering dia mengomeliku karena masalah sepele, termasuk ketika menemukan biji-biji jagung berserakan di teras rumah pada beberapa pagi.

“Tiap hari disapu, ada lagi, ada lagi! Selesai main dibersihkan!”

Aku selalu membantah tuduhan yang satu itu. Tidak masuk akal. Untuk apa aku mainan jagung? Anak lanang kan tidak main masak-masakan!

“Pokoknya kalau kotor, bersihkan!” kata ibu. “Aku capek masak, capek nyuci, kamu mestinya bantu-bantu. Aku ini sedang hamil!”

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: