Koran Tempo, Puisi, Wendy Fermana, Yohan Fikri

LOLONG ANJING HAWAB; FRAGMEN SILAMPARI

5
(2)

LOLONG ANJING HAWAB

.

Ia dengar lolong hyena, anjing jakal, juga serigala, bagai lengking serunai

ketika malam makin singup dan sepi menjadi sangsai.

Ia dengar lembab lengan ketakutan merambat dari samun semak perdu,

memeluk tubuhnya bagai kiswah selimuti cungkup ka’bah.

.

Sementara mereka yang masih terjaga galib mendengarnya

sebagai lenguh hewan gurun kelaparan, lututnya menggigir ketakutan.

.

Ia terkenang pada raut cemas wajah baginda sebelum wafatnya,

bercerita tentang anjing-anjing hawab melolong entah pada siapa

—selayak dosa yang dinujumkan.

.

Tetapi malam itu, dalam perkemahan itu, sabda yang dahulu masih misteri,

telah tinuju dalam diri. O, adakah peperangan ini adalah suratan?

Galur-galur nasib pada rusuh telapak tangan yang digariskan oleh Tuhan?

.

Serupa efrat tinakdir sebagai bengawan, bukan menjadi hutan,

atau burung-burung diciptakan sebagai satu jenis unggas,

bukan sebagai agas—meski jelas, keduanya sama miliki sayap?

.

Maka, dalam haudah berpayon rantai zirah, di tampuk punuk unta merah

nerjang hujan anak panah, Ia terkenang pada hyena-hyena itu, serigala-serigala itu,

juga segerombolan anjing jakal pada satu malam sebelum pecah Ghazwah Jamal.

.

Melolongkan suara, mengiris-iris dada, persis derit karat jenawi majal,

disesah pada sebongkah batu pejal. Hingga tetiba, satu tebasan pedang,

mengoyak paha unta yang Ia tunggang, terhuyung-tumbang!

.

Desau angin gurun sibuk menimbun jejak-jejak darah perang saudara

yang tercecer di tubuh agama. Di atasnya, langit meruyup teja sewarna tembaga,

dan burung-burung gagak terbang berpusar di tengah-tengahnya.

.

Malang, 2021

.

Yohan Fikri adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Bergiat di Komunitas Sastra Langit Malam.

.

Leave a Reply

%d bloggers like this: