Kedaulatan Rakyat, Nelvi Widya Pangestika, Resensi

Menilik Makna Kawin dari Sisi Lain Perempuan

4.5
(2)

DALAM kumpulan cerita ini, kita bertemu beragam perempuan: pekerja toserba, karyawan, seniman paruh baya, instruktur yoga, hingga ibu-ibu borju.

Beragam masalah dihadapi oleh mereka, ada yang selingkuh sebab suaminya dingin di tempat tidur, sampai yang pacaran sana sini karena suaminya poligami. Dari yang mati-matian mencintai istri abangnya, sampai yang menaksir menantunya sendiri.

Ada yang disodorkan ke laki-laki lain oleh suaminya demi kepuasan sang suami, dan ada pula yang dihajar oleh sang suami di hadapan orang banyak.

Dari rumah kelas menegah atas Jakarta, kota kecil di daerah pedesaan Jawa Tengah, atau pedalaman Pulau Baru, kitab-kitab ini tak saja berkisah tentang jiwa-jiwa yang buncah, kesepian, dan telantar serta tubuh-tubuh yang terpasung dan disakiti, tapi juga jiwa-jiwa yang berontak dan merdeka, dan yang berani merumuskan ulang hukum-hukum perkawinan bagi diri mereka sendiri.

‘Kitab Kawin’ merupakan buku kumpulan cerpen yang menceritakan beragam masalah yang dihadapi perempuan. Ide penyusunan buku ini sudah dimulai ketika Laksmi tinggal di kota Berlin, sejak pengarapan novel terakhirnya ‘Fall Baby’. Dalam proses penulisan buku ini kerap kali tersendat. Cerita yang disajikan dalam buku ini tidak semerta-merta ia tulis, cerita tersebut ia dapatkan dari orang-orang di sekelilingnya yang membuka diri untuk bercerita.

.

Judul : Kitab Kawin
Penulis : Laksmi Pamuntjak
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2021
Cetakan : Februari 2021
Tebal : 282 halaman
ISBN : 978-602-06-5074-6
ISBN Digital : 978-602- 06-5074-3

.

Buku ini berisi 11 kitab tentang perempuan, yang berasal dari berbagai latar belakang yang memaknai arti ‘kawin’ dalam hidupnya. Perempuan-perempuan tersebut merupakan pekerja toserba, karyawan, seniman paruh baya yang terdapat dalam sinopsis. Perempuan yang terkurung dalam kenyataan pahit hidup, yang engan menyuarakan kemerdekaan karena dibungkam oleh keadaan. Ironisnya beberapa dari mereka memilih mengobati luka hati dengan keputusan yang sama menyimpang.

Baca juga  Sang Penyair

Dalam kitab #11: Amira, Citra, Hesti, Nisa Asrama Korea berkisah tentang empat perempuan, salah satu dari mereka adalah Amira yang mengalami perkawinan dini.

Amira gadis 13 tahun yang dinikahkan dengan tetangganya harus merelakan pendidikan karena harus mengurus anak dan suaminya. Amira tak pernah menyangka suaminya memperlakukannya bak hewan yang tersesat, layak dipukuli dan dibuang setelahnya.

Sang suami yang mempoligami dan lebih memilih tinggal di tempat istri kedua membuat hidupnya begitu hancur.

‘Kitab Kawin’ menyajikan cerita yang cukup berat, memerlukan pemahaman lebih. Buku ini tidak bisa dinikmati oleh semua kalangan. Isi buku yang berkutik pada pandangan perempuan mengenai perselingkuhan, pengkhianatan dan seks.

Cerita dalam buku ini tidak menunjukan semangat juang feminisme (tidak menunjukan sikap feminis), bahasa sangat menonjolkan sikap kemalangan setiap tokoh, beberapa keputusan yang dipilih banyak yang menyimpang. Namun, dalam buku ini kita dapat mengambil banyak pesan moral, kita juga dapat melihat sisi lain dari seorang perempuan dari segi pikiran dan tindakan. ***

Nelvi Widya Pangestika, mahasiswa PBSI FKIP Universitas Ahmad Dahlan.

 159 total views,  1 views today

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!