Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Literasi, Buku Bagus, dan Sense of Urgency

4.7
(14)

FIKIH prioritas yang menempatkan urusan penting dan mendesak di posisi teratas tak jarang membuat kita berpikir pragmatis dalam banyak hal. Tak terkecuali dalam urusan menulis.

Tak ayal, kebergerakan (moveability) pun menjadi urusan penting dan mendesak dalam teks. Sayangnya, kebergerakan ini kerap disamakan dengan keberberubahan (changeability). Padahal, keduanya berbeda signifikan. Yang satu bicara adegan, yang satu bicara peristiwa. Yang satu permukaan, yang satu luar-dalam. Pemahaman bahwa gerakan adalah bagian dari perubahan, tapi perubahan belum tentu dikandung oleh gerakan-gerakan, adalah sesuatu yang kerap diabaikan, tidak diberi perhatian.

Dalam urusan itulah, menulis masuk ke dalam wilayah praktikum dengan pemahaman. Bukan mencoba dan mencoba. Bukan menulis dan menulis semata. Bukan biarkan ia mengalir sahaja. Dalam konteks ini, istilah yang berbunyi “practice will make you luckier, not practice will make you unlucky” tidak bisa diartikan secara harfiah. Ia rentan membuat kita sibuk berproduksi dengan harapan mendapatkan keajaiban dan anomali positif, padahal ia juga berisiko membuat kita memproduksi sesuatu berulang-ulang, dengan banyak variasi dan bungkus, tapi sejatinya “tidak menawarkan apa-apa”, tidak berubah, hanya bergerak.

Pada pemahaman demikian, menulis-bergerak dan menulis-berubah bukan semata strategi naratif, melainkan realitas literer yang membuat penulis dan karyanya berada di tempatnya masing-masing. Orientasi-bergerak membuat adegan demi adegan bersijalin dengan runtut. Dalam beberapa kasus, titian (bridging) nyaris tidak diperlukan karena tiap bagian tulisan tiktok satu sama lain. Tapi, menulis-bergerak rentan menjelma jadi pabrikasi. Teks-teks menjadi diminati karena kepraktisan.

Dalam bahasa industri, teks-teks hasil pabrikasi adalah produk ready-to-wear, murah meriah, nyaris tak memiliki keunikan karena banyak dan seragam, dan … laris! Sebagaimana barang grosiran yang murah meriah, jangan mengharapkan bahan yang berkualitas, jahitan yang kuat, warna yang tahan lama, atau menjadi koleksi dalam waktu yang lama. Apabila ia adalah makanan, kelezatan yang ditawarkan disebabkan kandungan mecin dan kemudahan mendapatkannya karena gerai atau cabangnya ada di mana-mana. Barang-barang demikian, teks-teks serupa, bertebar-serakan di mana-mana. Ia dibutuhkan untuk membereskan urusan perut sesegera mungkin. Siapa mau makanan tidak cepat saji dan mahal karena banyak kandungan bahan segar dan dibuat dalam waktu yang lama ketika perut sudah lapar?

Baca juga  Parade Realitas Urban yang Paradoks

Bagaimana dengan menulis-berubah?

Menulis berubah sudah tentu bergerak. Sebab kebergerakan adalah syarat utama perubahan. Menulis-berubah bukan sekadar merangkai susunan-kata, tapi kalimat; bukan menjalin tulisan, melainkan teks; bukan menjahit adegan untuk adegan, tapi melakukannya di bawah payung peristiwa.

Dalam kondisi demikian, gerakan-gerakan dalam menulis-berubah mengharuskan hadirnya jeda dan jembatan. Keduanya tidak hadir sebagai strategi plot yang memisahkan atau menyatukan, tapi mengetengahkan subteks yang memberikan permenungan, filosofi, makna, atau semiotika dari karaktertisasi, jalur plot, hingga story-argument.

Keadaan demikian, membuat gerakan dalam teks berlangsung dalam tempo yang tidak cepat, sebab yang menjadi orientasinya adalah keberberubahan, bukan kecepatan, bukan gerakan. Keberberubahan yang alami, yang tidak kentara, yang halus, yang menyediakan banyak ruang bagi intertekstualitas, interkontentualitas, bahkan kompleksitas yang ketat dan padat.

Teks-teks seperti ini rentan menggenang (dragging), tersendat-sendat, melantur-lantur, berlarat-larat, atau bahkan kehilangan fokus di sana-sini. Tapi, kerentanan bukanlah keniscayaan, meskipun … realitasnya menjadikan teks-teks yang, dalam bahasa industri, biasanya teridentifikasi sebagai produk homemade, haute couture, atau … karya sastra ini akhirnya dijauhi karena terperosok ke dalam kerentanan itu. Data yang berjejalan, informasi yang menyebar sporadis, catatan-catatan kaki yang genit, istilah dan metafora yang gagal membumi, atau bahkan satire yang terlampau gelap, membuat teks-teks dalam kategori menulis-berubah ini menjadi menulis-berubah-secara-terseok-seok atau menulis-berubah-hingga-kehilangan-bentuk.

Berkebalikan dengan nasib karya menulis-bergerak, menulis-berubah yang salah olah di atas menjadi produk-produk yang hanya diguna-pakai oleh kalangan terbatas, yang mau bersusah-payah mengurai tiap semiotika, sulit dimengerti sekali baca, sulit dibaca sekali duduk, hingga … tak diminati—untuk tidak mengatakan “tidak laris”.

Bacaan-keberberubahan, baik yang ditulis dengan baik atau agak baik, tidak bisa diberikan kepada mereka yang lapar atau belum mengerti makanan baik nan menyehatkan. Teks-teks seperti ini akan menemui pembaca yang “sudah membaca dini” sehingga menjadi alas yang kuat untuk menganalisis pemikiran, perspektif, atau tawaran-tawaran baru. Teks-teks berubah hanya akan cocok untuk pembaca yang siap.

Baca juga  Living Library

Meskipun, ini bukanlah dalih yang disediakan untuk para penulis yang malas menyunting-ulang draf-drafnya untuk menghasilkan teks-berubah yang baik sehingga menganggap buku-buku laris pasti dangkal atau buku-buku sastra pasti tidak laris. Banyaknya karya bagus yang menuai hasil menggembirakan di pasaran, seharusnya menjadi model analisis menarik untuk menulis-berubah yang baik.

***

Selain dalam urusan jenjang pembacaan, sebenarnya teks-bergerak dan teks-berubah bisa saja memangkas tangga itu apabila teks-teks bergerak peduli pada kedalaman tulisan, sebagaimana teks-teks-berubah tidak mengambil waktu istirahat atau diam di tempat yang terlampau banyak.

Di negara-negara maju, jumlah pembaca yang siap itu sangat tinggi, karena biasanya mereka telah “selesai membaca” dibandingkan negara-negara berkembang atau sedang bergerak maju. Tak heran, kalau karya-karya sastra dan buku-buku filsafat dan buku-buku pemikiran laris karya Mo Yan, Orhan Pamuk, Murakami, Harari, atau Gladwell laris-manis begitu dirilis di negara-negara maju, sementara negara-negara lain baru merasa perlu begitu ujung gema tepuk tangan itu terdengar. Itu pun lebih dalam wujud euforia, daripada kesadaran.

Tapi, tiap produk punya pasarnya. Tiap orang punya standar pakaian. Tiap pemikiran memiliki jenis asupannya. Bangsa diukur dari buku-buku seperti apa yang mengisi kepala orang-orang di dalamnya. Kita sangat berharap banyak sekali pembaca yang siap membaca buku dengan tingkat analisis yang beragam, meskipun …

… sebaik-baik apa pun menulis baik di negeri yang literasinya lebih banyak dirayakan daripada diperbaiki, tulisan-tulisan-tulisan yang diminati tetaplah yang pabrikan, tetaplah yang memunggungi ruh buku itu sebagai pemantik kritisisme pembacanya, sehingga para penulisnya pun mau-tidak mau akan memandang sense of urgency sebagai milik teks-teks yang bergerak—yang dangkal, yang merayakan kerenyahan, menawarkan fatamorgana, yang akrab dengan pasar, bukan yang lain,

Baca juga  Blijung

bukan yang lain,

bukan yang lain.

Ach! ***

.

Lubuklinggau, 8-9 September 2021

Benny Arnas telah menulis-terbitkan 27 buku dan melakukan lawatan riset di 17 negara. Dua tahun ini intens mengembangkan Story by 5, formula menulis cerita cepat, bernas, dan terukur. Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 14

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Indrawati

    Tulisan mencerahkan, terima kasih.

Leave a Reply

%d bloggers like this: