Cerpen, Henny Purnawati, Pontianak Post

Ada Cinta di Kue Dange

1.5
(2)

TIDAK seorang pun dapat menentukan arahnya cinta, karena cinta apabila kau telah dipilihnya akan menentukan perjalanan hidupmu. Tidak ada yang bisa menolak kedatangan cinta dan tidak ada yang bisa menahan kepergiannya. Cinta datang dan pergi tanpa seorang pun tahu kapan waktunya dan cinta adalah bagian yang tidak mungkin terpisahkan dalam kehidupan.

Sore yang cerah, aku sedang ngobrol bersama Bapak dan Ibu membahas rencana pekerjaanku yang baru di Kalimantan sebulan ke depan, di Pontianak. Sekaligus bernostalgia kata Ayah, karena kami pernah tinggal di Kalimantan dulu sekali ketika Ayah masih aktif menjadi dokter, meskipun tidak lama tetapi banyak cerita menarik yang tetap kusimpan hingga sekarang. Kedatangan Mas Pras dan keluarga kecilnya menghentikan obrolan kami, Ibu bergegas mengambil Inge bayi 5 bulan anak kedua Mas Pras dari gendongan Mbak Retno dan Bapak langsung asyik dengan Dito, cucu pertama kesayangannya. Mas Pras menghampiriku dengan wajah kurang ramah, ini pasti masalah Mas Didit lagi pikirku membatin. Apalagi yang diadukan Mas Didit, padahal kami sudah putus bulan lalu setelah menjalani hubungan lebih dari setahun dan semua secara baik-baik bahkan Ayah dan Ibu juga tahu apa persoalannya.

“Apalagi yang kamu cari, apa yang kurang dari Didit?” Mas Pras mengkonfrontasi langsung kepadaku tanpa basa-basi.

“Waduh Mas, sebaiknya jangan ikutan masalah Arum, bulan depan Arum ada pekerjaan di Kalimantan, Mas Didit tidak terima banyak aturan bikin kesal,” jawabku untuk memotong diskusi yang pasti akan berkepanjangan.

Setiap urusan asmaraku, Mas Pras dan adikku Raska selalu ikut campur, pilihanku selalu banyak kurangnya dengan segala cara dilakukan agar hubunganku berakhir. Mereka tidak ada bosannya menjodohkanku dengan semua teman-temannya, ketika aku jadian dengan Mas Didit, semua mendesak untuk segera menikah. Ayah dan Ibu saja tidak pernah mempersoalkan kapan aku ingin menikah, kalau belum jodoh tidak bisa dipaksakan kata Ayah.

Baca juga  Setelah Kau Pergi

“Ingat usia, memangnya kapan mau nikah?” Mas Pras masih mencoba untuk memprovokasiku.

Aku hanya diam tidak menjawab sambil berlalu dari hadapan Mas Pras, untungnya Mbak Retno memotong pembicaraanku dan Mas Pras dengan mengatakan ada titipan buatku.

Pacar Arum saat kecil komentar Mas Pras masih dengan wajah tidak ramah sambil menyerahkan 2 kotak makanan dengan ukuran yang berbeda dan 1 kotak berukuran lebih kecil ada tulisan namaku “just for Sekar Arum from Andik P” dengan tulisan tangan. Aku langsung membuka kotak tersebut tanpa bertanya lebih lanjut dan terpaku senang melihat isinya.

Sementara Mas Pras melanjutkan obrolannya bersama Ayah dan Ibu serta menyampaikan salam dari Andik untuk mereka, aku hanya menjadi pendengar yang baik meskipun beberapa kali Mas Pras menyebut Andik lebih suka bermain denganku hingga lupa pulang. Aku mengingat dengan jelas Andik teman bermainku yang merupakan tetangga sebelah anak Pak Tito, sebenarnya bukan temanku tetapi teman bermain Mas Pras dan Raska adikku. Andik ada di sini mengikuti acara pertemuan para dokter Angkatan Darat, Andik belum setahun terakhir bertugas Rumah Sakit AD di Kalimantan dan dengan seenaknya Mas Pras menyuruh Ayah dan Ibu menitipkanku kepadanya. Aku memilih diam mendengar pembicaraan Ibu dan Mas Pras, Mbak Retno menatapku dengan tatapan tanda tanya karena sedikitpun aku tidak berkomentar.

“Dikirimin apa?” tanya mbak Retno sambil mengintip isi kotak yang baru kubuka.

“Ini Kue Dange namanya, cobain Mbak, enak nih,” jawabku sambil menyodorkan kotak berisi kue Dange yang kemudian diambilnya sepotong.

Bahannya dari tepung ketan, gula dan kelapa parut, kemudian dipanggang pakai kayu api, ini makanan tradisional masyarakat di Kalimantan Barat tepatnya di Ngabang. Kue ini juga selalu dihidangkan pada saat pesta sebagai camilan. Aku mencoba menjelaskan sebisa yang kuketahui, sekarang rasanya sudah sedikit berbeda saat aku kecil, perbedaan mendasar pada aromanya karena dulu panggangnya memakai kayu, jadi terasa aroma kelapanya yang manis dan renyah.

Baca juga  Jane

“Iya yang bernostalgia dengan kue kesenangannya,” Mas Pras kembali menggangguku dengan celotehnya.

“Bilang Mas Andik, terima kasih untuk kiriman kuenya,” pintaku menjawab celotehan Mas Pras.

“Bilang sendiri, nanti besok-besok Andik mau ke sini ketemu Bapak dan Ibu.” Sore berlalu dan Mas Pras beserta keluarga meninggalkan rumah Bapak dan Ibu yang kembali sepi. Aku tertegun menatap sisa-sisa kue Dange yang telah tuntas kuhabiskan, ternyata di bagian bawah masih terdapat satu kertas kecilkan dengan tulisan rapi berupa permintaan maaf dan tanda tangan. Seketika kenangan masa kecil itu muncul tentang bagaimana awal mula persahabatan kami dan kisah kue Dange favoritku dan sesosok perempuan yang kami panggilan dengan sebutan “Mak Su”, perempuan separuh baya yang membantu. Sore itu seperti biasa, setelah sebulan kami pindah aku hanya di rumah bermain dengan peralatan minum tehku, belum punya banyak teman apalagi zaman i itu jarak rumah masih berjauhan kecuali tetangga depan dan samping. Mas Pras sedang bermain dengan anak-anak tetangga sebelah di halaman depan, biasanya mereka tidak peduli akan kehadiranku tapi entah kenapa sore itu salah satu dari mereka datang menghampiriku.

Anak lelaki yang terlihat kotor dan berkeringat itu menyodorkan tangannya kepadaku, “Aku Andik, kamu Arum ya,” katanya mengenalkan dirinya.

Dengan ragu-ragu aku menerima tawaran pertemanan tersebut, setelah bersalaman teman baruku kembali bergabung dengan teman-temannya. Keesokan harinya Andik datang lebih awal dari jam biasa dan langsung menghampiriku.

Average rating 1.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: