Bhirawa, Cerpen, Ikrom Rifa’i

Di Mana Old Trafford Kita Sekarang?

4.5
(6)

INI adalah perjumpaan pertama mereka setelah dua dekade lamanya. Di warung Yu Tinah, sekitar pukul lima sore, lelaki perlente berkaus Manchaster United musim 1999 dengan nama Solskjaer di punggungnya itu tampak asyik ngobrol bersama seseorang yang tidak lain adalah kawan masa kecilnya. Secangkir kopi tubruk dan mendoan sukses menjadi tandem yang paripurna untuk menemani obrolan mereka.

Layaknya dua kawan karib yang lama tak berjumpa, sesi basa-basi pun diisi dengan menanyakan kabar, pekerjaan, jumlah momongan, juga kesibukan masing-masing. Obrolan mereka tampak gayeng meski ramai pekerja pabrik yang baru selesai lembur sesekali mengalihkan pandangan keduanya. Maklum saja, pabrik di depan warung Yu Tinah itu sebagian besar karyawannya adalah wanita. Jika ada yang bening dan sedikit menggoda maka tak sungkan mereka manfaatkan sebagai sarana cuci mata.

“Baru tahu kalau sekarang ada pabrik di sini, Beng,” kata Yadin, lelaki perlente itu.

“Iya, padahal kawasan ini adalah bekas Old Trafford kita dahulu,” sambung Ibeng selepas menyeruput kopinya.

“Old Trafford?”

“Ah, kau pasti lupa. Mentang-mentang sudah jadi orang kota, kau lantas lupa akan kenangan masa kecil kita? Percuma sekarang pakai jersey MU kalau kau sendiri lupa akan kenangan-kenangan itu.”

Percakapan itu akhirnya membawa mereka pada bagian ini. Iya, kenangan. Lebih tepatnya kenangan masa kecil. Bila diumpamakan sebuah cerpen maka alur yang digunakan dalam obrolan mereka adalah alur mundur. Begitu kata Pak Juki, guru Bahasa Indonesia semasa SMP yang gaya mengajarnya dikenal ngantuki.

***

Yang mereka sebut sebagai Old Trafford itu tidak lain adalah sawah berukuran dua puluh ubin milik Lik Diryan. Musabab kecintaan Yadin pada klub setan merah Manchaster United, maka area itu seenak jidat ia namai sebagai Old Trafford. Meski sempat ditentang oleh kawan-kawannya—mengingat tak semua dari mereka adalah penggemar MU—namun Yadin tetap bersikeras. Yadin berkilah bahwa ialah yang meminta izin kepada pakliknya untuk menggunakan sawah itu sebagai tempat bermain bola.

“Aku yang minta izin ke Lik Diryan. Jadi, akulah yang berhak menamai tempat ini,” begitu kata Yadin ketika perdebatan tentang nama tempat itu sedang berlangsung.

Oh ya, Old Trafford itu hanya bisa digunakan pada interval musim panen dan musim tandur saja. Pada musim itu, sawah akan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Karenanya, bocah-bocah itu bisa memanfaatkannya untuk bermain bola. Jika musim tandur telah tiba, mereka harus mengikhlaskan Old Trafford-nya untuk kembali ditanami padi. Dan pertandingan akan diliburkan sampai musim panen berikutnya berakhir.

Baca juga  Hikmah

Mereka hanyalah sepuluh bocah lugu yang kala itu masih duduk di bangku kelas lima Madrasah Ibtidaiah. Selepas pengajian di TPQ rampung, mereka akan berkumpul di Old Trafford untuk segera melangsungkan pertandingan.

Setibanya di Old Trafford, kawanan bocah itu langsung membagi diri menjadi dua tim. Satu tim terdiri dari lima pemain. Masing-masing pemain bisa merangkap sebagai wasit dan official pertandingan. Jika terjadi pelanggaran, keputusan harus melalui proses musyawarah yang tak jarang berujung pada eyel-eyelan. Percayalah, tidak ada pertandingan sepak bola yang sedemokratis ini di belahan dunia mana pun.

Hari itu adalah pertandingan paling seru yang pernah mereka jalani. Lebih seru dari gelaran Final Liga Champions Eropa antara Bayern Munchen melawan Manchaster United yang mereka tonton tempo hari di televisi.

Namun, keseruan itu agaknya tidak berlaku bagi Ibeng. Si tambun yang kala itu satu tim bersama Yadin, harus berdamai dengan perangai buruk kawannya itu yang dikenal diktator dan suka mengatur.

“Kamu kiper, Beng! Tubuhmu gemuk, tak pantas jadi striker,”seru Yadin.

Di segala pertandingan, nasib sial memang selalu mengintai Ibeng. Di tim mana pun ia bermain, ia akan selalu ditempatkan sebagai kiper. Bocah gemuk, tak bisa lari, lebih-lebih melakukan sundulan, apa yang bisa diharapkan? Begitu kata kawan-kawannya.

“Dan jangan lupa, kencingi gawang kita biar tak kebobolan!” sambung Yadin.

Selepas pertandingan dimulai, gairah penuh semangat terpancar dari raut wajah bocah-bocah itu. Tujuannya hanya satu: membobol gawang lawan yang hanya terbuat dari bilah bambu. Bagaimanapun carannya, bagaimanapun strateginya.

Mereka tentu tak paham soal strategi total football ala Johan Cruijff, atau catenaccio ala tim nasional Italia. Lebih-lebih tiki-taka ala Barcelona. Satu-satunya strategi yang mereka kuasai adalah gaprakan. Bola boleh lewat tapi orangnya jangan, kira-kira begitu jika diartikan. Mereka tak perlu cemas, karena sekeras apapun pelanggaran yang dilakukan tak mungkin ada kartu yang dikeluarkan.

Old Trafford sore itu benar-benar meriah; penuh teriakan, candaan hingga cacian. Arena itu memang tak dikelilingi tribune sebagaimana Old Trafford yang sungguhan di Manchaster sana. Hanya ada galengan yang mengelilinginya. Juga tak ada lagu Glory Glory Man United yang dikumandangkan. Hanya ada suara bebek-bebek milik Ki Daslam yang kadang kala diangon di sebelahnya.

Baca juga  Hikayat Jagal

Kembali ke pertandingan.

“Handball!” teriak Yadin selepas meyakini bahwa bola itu menyentuh tangan Jupri.

“Pinggang woy!” sangkal Jupri.

“Ah, mana ada maling mengaku.”

“Ah, mana ada orang handball disamakan dengan maling.”

“Tapi jelas-jelas itu handball.”

“Mana buktinya?”

“Kau kira ini pengadilan, pakai bukti segala.”

Adu mulut pun tak dapat terelakkan. Masing-masing berusaha mencari keadilan. Melalui musyawarah, mereka merundingkan keputusan apa yang akan dijatuhkan. Tapi agaknya mereka lupa, bahwa di pengadilan saja keadilan adalah barang langka, apalagi di tengah sawah seluas dua puluh ubin ini.

Musyawarah tak sampai pada kata mufakat dan kedua belah pihak masih bersikeras memegang teguh argumennya. Yang tadinya hanya adu argumen kini berubah menjadi adu cacian. Kata-kata rasis dan olok-olokan nama orang tua pun tak luput dikeluarkan.

“Ah, malas main sama anaknya Kasrun. Pasti licik,” ujar Yadin di tengah perdebatan.

“Ah, anaknya Sardi bisanya cuma menuduh. Bilang saja takut kalah,” jawab Jupri.

Dari cacian dan olok-olokan nama orang tua lalu berlanjut pada perkelahian. Ini mungkin menjadi bagian paling seru. Lebih seru dari perkelahian Zinedine Zidane dan Materazzi di Final Piala Dunia 2006. Lebih seru dari perseteruan Sergio Ramos dan Carlos Puyol di El-Clasico 2011.

Perkelahian itu memaksa Ki Daslam—yang kala itu tengah khusyuk menjaga bebek-bebeknya—turun tangan untuk melerainya. Pertandingan pun berakhir lebih cepat dari biasanya. Kawanan bocah itu beranjak meninggalkan Old Trafford. Sedang Yadin maupun Jupri, sambil melangkah pulang, masih terus mengeluarkan olok-olokan nama orang tuanya.

“Kasrun!”

“Sardi!”

“Kasrun!”

“Sardi!”

Bila kejadian semacam ini terjadi, maka pertandingan akan diliburkan satu atau dua hari. Lalu akan dilanjutkan kembali pada hari berikutnya seolah tak ada masalah apa-apa sebelumnya.

***

“Rupanya kau masih ingat kejadian itu, Beng,” kata Yadin sambil tertawa lepas.

“Bagaimana aku lupa dengan momen-momen sialan itu. Aku yang ingin seperti Zidane tapi selalu kalian paksa untuk jadi patung di antara dua bilah bambu itu,” sahut Ibeng selepas menyeruput kopinya.

Baca juga  Menghitung Waktu yang Sia-Sia untuk Menunggu

“Jadi, di mana Old Trafford kita sekarang, Beng?”

“Ah, tadi sudah kubilang. Pabrik inilah bekas Old Trafford kita dahulu!”

“Pabrik ini?”

Sambil mengingat-ingat di mana letak persis Old Trafford-nya dahulu, Yadin terkejut mendengar jawaban Ibeng. Yadin memandang dengan saksama bangunan pabrik itu. Dua puluh tahun menjadi kaum urban agaknya telah membuat ingatan-ingatan masa kecilnya sedikit lekang. Satu-satunya yang ia ingat adalah area tersebut dahulunya adalah persawahan yang amat luas. Tapi, lagi-lagi ia tak tahu persis di sebelah mana letak Old Trafford-nya dahulu berada.

“Di tengah-tengah itu. Kurang lebih 300 meter dari sini, di situlah Old Trafford kita dahulu. Pabrik sepatu ini dibangun tak berselang lama sejak kepindahan kamu ke Ibu Kota. Usaha Pak Kasrun berkembang pesat. Hingga seluruh sawah di area ini diembat habis olehnya. Dan jadilah pabrik ini,” jelas Ibeng.

“Jadi, pabrik ini milik Pak Kasrun? Bapaknya Jupri?” Yadin kaget.

Ibeng mengangguk. Dan Yadin masih khusyuk memandang bangunan itu. Kali ini ia sambil tersenyum-senyum, menandakan ada hal indah yang tengah diingatnya. Mungkin tentang Old Trafford-nya dahulu atau tentang kebahagiaan yang ia ramu bersama kawan masa kecilnya. Kebahagiaanyang hari ini-juga hari-hari yang akan datang-tidak akan bisa ia ciptakan lagi.

Tak ada lagi Old Trafford di sini. Tak ada lagi tawa riang bocah-bocah yang mengiringi pertandingan dengan begitu asyiknya. Tak ada pula teriakan, candaan juga cacian yang mengiringi setiap pertandingan. Yang ada hanyalah raut wajah penuh murung dari para buruh pabrik. Sungguh, sebesar apapun upah buruh-buruh itu, bagi Yadin, tak akan pernah sebanding dengan kebahagiaan yang pernah ia rasakan dahulu. Kebahagiaan yang sampai kapan pun tidak akan bisa dinominalkan dengan uang. ***

Purbalingga, 2021

Catatan

Ngantuki : menimbulkan kantuk.

M Ikrom Rifa’i. Lahir di Purbalingga, 25 Juli 2000. Mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang. Bergiat di Komunitas Teater & Sastra Perwira (KATASAPA) Purbalingga.

Loading

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!