Cerpen, Hari B Mardikantoro, Kedaulatan Rakyat

Lelaki pada Pagi Buta

4
(4)

PAGI ini selepas subuh kampung di pinggiran kota kecil tempat tinggalku geger. Terdengar celotehan warga terutama para perempuan yang menggunjingkan rasa keheranan yang membuncah. Beberapa perempuan masih memegang tas kresek hitam yang berisi berbagai macam sayur, lauk, dan bumbu dapur. Ya, para perempuan itu bukan pulang berbelanja. Pagi masih dibayangi kegelapan, mana ada tukang sayur yang sudah berkeliling.

Perempuan-perempuan dengan daster dan penampilan seadanya, bahkan ada yang menggendong anaknya yang masih kecil tanpa dikomando berkumpul di tanah lapang depan pos ronda kampung. Mereka hanya ingin menunjukkan rasa keheranan atas apa yang mereka terima dua hari ini.

Ya, perempuan-perempuan itu tak harus mengeluarkan uang belanja lagi karena mendadak pada pagar rumah, pintu atau teras sudah tersedia sayur, beras, lauk, dan berbagai bumbu dapur yang dibungkus tas kresek hitam. Siapa yang menaruhnya? Nah itulah yang masih jadi pergunjingan warga.

“Aku dapat beras, sayur kacang, wortel, dan bumbu komplet,” suara Bu Yati memecah keheningan pagi sambil membuka tas kresek memamerkan isinya pada warga lain.

“Tas kresekku berisi beras,” sahut Bu Siti dengan mata berbinar. Para perempuan lain pun serentak membuka barang yang dibawanya untuk saling dipamerkan dengan yang lain.

“Siapa ya orang yang berbaik hati ngasih barang-barang ini ke kita?” tanya Bu Siti lagi dengan penuh keheranan. Mereka saling pandang dan saling menggelengkan kepala tanda tak paham.

“Apa mungkin Kang Pardi, tukang sayur yang sering keliling ke sini, ya?” Seorang perempuan melontarkan pertanyaan dengan ragu.

“Ah nggak mungkin,” ujar beberapa perempuan serentak. Mereka mengganggap Kang Pardi tidak mungkin melakukan perbuatan ini. Para perempuan itu sangat paham kehidupan Kang Pardi, penjual sayur keliling yang tinggal di kampung sebelah. Para perempuan itu kemudian hanya saling pandang. Pagi masih saja basah. Sisa-sisa embun masih bergelantungan tipis pada dahan pohon yang tumbuh subur di kampung itu.

Baca juga  Perempuan Bermulut Api

Warga terutama para perempuan memang sangat terbantu dengan pemberian semacam itu. Apalagi kini pandemi masih saja menjerat hampir seluruh orang. Bahkan beberapa suami sudah tidak bekerja lagi dengan berbagai alasan. Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan. Banyak warga yang mengeluh karena menurun penghasilannya atau bahkan sama sekali tidak ada penghasilan lagi.

Pagi kian menua. Matahari sudah sepenggal muncul di atas bukit. Warna keemasan berpendar membentuk harmoni yang menyejukkan. Beberapa warga terutama para perempuan dan anak-anak mulai berjemur. Mereka yang rumahnya berdekatan membentuk kelompok-kelompok kecil. Namun semua tetap masih menggunjingkan datangnya rezeki nomplok yang sudah terjadi dua kali.

Para lelaki di kampung itu bisa sedikit lega. Mereka, meskipun sementara, terhindar dari omelan para istri yang meminta uang belanja. Mereka kebanyakan memang sudah tidak bekerja karena ada pengurangan karyawan di beberapa pabrik, sementara yang masih bekerja pendapatan mereka jauh menurun.

Para perempuan biasanya berbelanja pada Kang Pardi, tukang sayur keliling langganan mereka. Dengan terpaksa mereka berhutang kepada Kang Pardi. Meskipun hanya sayur dan bumbu dapur tapi kalau memang sama sekali tidak ada uang ya bagaimana lagi.

Beberapa hari ini Kang Pardi tidak jualan. Kabarnya masih simpang siur, katanya sakit, tapi ada pula yang mengabarkan bahwa Kang Pardi selalu rugi karena banyak langganan yang utang.

Untung ada orang yang baik hati telah membagi beras, sayur, lauk, dan bumbu dapur ke sejumlah warga yang memang membutuhkan. Sampai kini warga kampung belum juga tahu orang misterius yang baik hati tersebut.

Bahkan dalam beberapa hari ini beberapa lelaki sudah mengintai mulai dini hari sampai menjelang pagi tapi ternyata mereka tidak menemukan apa-apa. Yang lebih mengherankan dalam beberapa hari ini ketika para lelaki meronda, tidak ada barang apapun yang diletakkan secara diam-diam ke rumah-rumah warga yang membutuhkan. Akhirnya para warga sepakat tidak akan mengadakan ronda lagi.

Baca juga  Cundrik Waja

Pagi masih berkabut. Dingin. Suara azan subuh juga belum terdengar. Namun Kang Pardi terlihat mengendap-endap menyambangi beberapa rumah warga dengan memanggul satu karung yang di dalamnya berisi tas-tas kresek. Ada sayur, lauk, beras, dan bumbu dapur. Ia tidak ingin ada warga yang melihat. Kini ia memang hidup sendiri. Istri dan anaknya sudah terlebih dahulu menghadap Sang Pemilik Hidup. Meskipun hanya tukang sayur keliling, ia ingin hidupnya bermakna. Dengan napas tersengal, Kang Pardi terus berjalan menghampiri rumah-rumah warga. ***

Lembah Sindoro, Agustus 2021

Hari B Mardikantoro, alumnus Sastra Indonesia UGM. Kini mengajar pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Beberapa cerpen telah dimuat di media cetak dan online. Sekarang ia tinggal di Ungaran.

 81 total views,  1 views today

Average rating 4 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!