AM Lilik Agung, Cerpen, Kompas

Hanz Matthaeus dari Magelang

3.5
(4)

BANGKU pada pinggir Sungai Rheine, Koln Jerman. Secangkir kopi panas. Roti gandum dengan irisan salmon. Pagi masih murung pada awal musim semi di bulan Oktober.

“Bulan depan film terbaru Martin Scorsese akan dirilis. Mengusung Robert De Niro, Joe Pesci ditambah Al Pacino. Apakah Irishman akan menyamai kesuksesan Goodfellas?” anak semata wayangku, Bisma, bertanya ke arahku.

“Menurutku Irishman tidak bisa menyamai Goodfellas. Terbentang jarak dua puluh sembilan tahun. Scorsese bertambah tua. De Niro, Pesci, Pacino, setali tiga uang. Umur tidak bisa dicuri,” jawabku.

Itulah yang terjadi ketika tiga tahun lalu anakku masuk bangku SMA. Cita-citanya, kuliah ambil jurusan film. Aku yang hidup dan menghidupi manajemen tidak mempan membujuk anakku untuk kuliah bisnis. Alhasil, selama tiga tahun aku membaca semua hal tentang film. Pun rajin mendatangi bioskop menonton film bergenre apa saja. Tujuannya agar diskusiku nyambung dengan anakku.

Tahun ini Bisma diterima di International Film School Cologne. Oktober dimulai kuliah. Bersama istri aku menyusul ke Koln. Tiga minggu tinggal di tempat kos anakku. Dari Koln kami akan menelusuri sudut-sudut Jerman yang istimewa pada awal musin gugur.

“Semoga Irishman tidak jeblok seperti Silence,” Bisma menimpali.

Sebuah suara tiba-tiba menghentikan dialog kami. “Selamat pagi,” lelaki berusia tiga-puluhan tahun berdiri di depan kami. “Sepertinya saya kenal dengan bahasa Anda.”

“Bahasa Indonesia,” Bisma menyahut.

“Bukan,” dia menggelengkan kepala.

“Jawa,” aku gantian berkata.

“Ya, benar Om. Senang bertemu orang Jawa di sini. Ada darah Jawa pada tubuh saya. Kapan-kapan kita ngobrol. Pagi ini saya harus masuk kantor,” dia menjabat tanganku. “Saudaraku,” katanya sambil memeluk anakku. Dikais kartu nama dari dompetnya. Diserahkan pada anakku.

“Aku tinggal di tower 4 nomor 12,” kata anakku, menghentikan langkahnya.

“Wow, saudaraku! Nanti sore jam enam aku mampir ke kamarmu. Namamu?”

“Bisma!”

Dia melanjutkan langkah kakinya. Menuju kantornya yang berjarak dua ratus meter dari tepian Sungai Rheine. Kartu nama beralih ke tanganku. Tertera “Hanz Matthaeus, manajer operasi House4Students.” Asrama di mana anakku tinggal.

Janji Hanz ingin mampir ke kamar anakku, membuat aku dan istri hanya sepenggal hari menelusuri Koln. Hanz yang mengaku memiliki darah Jawa menarik minatku untuk berbincang dengannya. Tepat jam 6 sore Hanz sudah berdiri di depan pintu kamar anakku. Melihat ada istriku, langsung dia memeluk istriku. “Teringat ibuku,” katanya.

Baca juga  Lima Kisah Mimpi Kanak-kanak

Hanz duduk di sofa berdekatan dengan anakku. Aku tarik kursi dan meriung bersama mereka. Satu setengah jam Hanz mampir di kamar anakku. Keinginanku untuk mendengar asal-usulnya yang konon ada darah Jawa, tidak ia ceritakan. Malah ia bercerita panjang lebar tentang kampus pilihan anakku yang katanya kampus terbaik jurusan film di Jerman.

Lalu ritual menikmati kopi pagi yang sudah kami jalani selama enam hari di bangku taman Sungai Rheine, berubah. Hanz yang berjalan kaki dari stasiun kereta menuju House4Students akan ikut meriung barang sepuluh menit. Bertanya tentang pengucapan bahasa Jawa sederhana sehari-hari.

“O ya, Sabtu malam Om dan Tante saya undang main ke rumah. Saya bersama Jenniver, tunangan saya, akan masak spesial untuk Om dan Tante. Bisma jika tidak disibukkan dengan teman-teman kampus, ikut saja sekalian.” Sebuah tawaran simpatik dari Hanz.

Sabtu sore aku dan istri benar-benar datang ke rumah Hanz. Bisma, seperti diperkirakan Hanz, terbenam bersama kawan-kawan baru kampusnya yang berasal dari lima benua. Rumah Hanz di pinggiran Koln, arah menuju Aachen. Bersama Jenniver, Hanz menyambut kami.

“Ibumu?” kutanya pada Hanz.

“Empat bulan lalu meninggal. Ibu menyerah dengan komplikasi penyakitnya,” ucap Hanz datar.

“Ikut berduka,” aku berkata lirih.

Bienenstich kue khas Jerman, yang terbuat dari kacang almond, krim vanila, dan olesan madu, menemani percakapan kami. Malam ketika jam menuju angka tujuh, Jenniver beranjak ke dapur. Istriku, yang tidak bisa tinggal diam apabila ada sajian makan malam, menemani Jenniver.

“Om, saya pernah cerita kalau ada darah Jawa dalam tubuh saya,” Hanz mendekatkan kursi ke arahku. Cerita yang aku tunggu-tunggu akhirnya meluncur dari bibir Hanz. “Tidak sekadar ada, tapi separuh darah saya Jawa.” Hanz mengambil kertas lusuh dari kantong bajunya. Kertas bergambar peta Jawa dibentangkan di meja.

“Saya memang tidak ingin tahu asal-usul saya. Biar ibu saja yang bercerita. Sebelum meninggal, ibu akhirnya bercerita tentang diri saya. Kata ibu, saya dulu lahir di sini,” Hanz menunjuk tanda spidol merah yang ada di peta.

Baca juga  Kurma Kiai Karnawi

“Itu Kota Magelang. Empat puluh kilometer dari aku tinggal, di Yogya,” aku menjelaskan.

“Ya, ibu menyebut nama Magelang.” Lalu Hanz mengeluarkan satu kertas lusuh lagi. Dibentangkan berdampingan dengan peta Jawa.

“Ini surat bukti lahir saya. Nama lengkap saya Hanz Matthaeus Jayakusuma. Namun, sejak saya pindah ke Jerman, nama Jayakusuma dan semua masa lalu tentang diri saya dihapus sama ibu.”

“Kapan kamu pindah ke Jerman?”

“Sejak berumur dua tahun. Ayah tetap di Jawa, ibu pulang ke Koln. Orangtua pisah,” Hanz meraih cangkir teh. Kubiarkan dia menyeruput teh panas.

“Sebelum meninggal ibu minta maaf. Ibu mengaku bersalah. Ibu yang meninggalkan ayah.”

“Kok bersalah?” aku bertanya.

“Saya dibesarkan ibu bersama tante Carolyn,” tukas Hanz.

“Jadi ibumu?” aku tidak menyelesaikan perkataanku.

“Benar, ibu penyuka sejenis. Namun, saya tetap hormat terhadap ibu. Secuil pun tidak ada keanehan kami hidup bertiga. Hidup saya dipenuhi sukacita.” Hanz mengangkat tubuh. Sebentar masuk kamar dan duduk kembali didekatku.

“Om, Desember nanti saya menikah dengan Jenniver. Saya sudah lupa dengan ayah. Pun di mana sekarang ayah tinggal. Tolong sampaikan undangan perkawinan ke ayah. Nama lengkap ayah, Budi Jayakusuma. Dulu ayah bekerja satu kantor dengan ibu di LSM lingkungan di Magelang. Saya ingin ayah mendampingi pada saat upacara perkawinan nanti.” Undangan perkawinan Hanz dengan Jenniver pindah ke tanganku.

***

Perkawinan bagiku adalah upacara sakral. Ditambah dengan keinginan seorang anak untuk berjumpa dengan ayahnya yang tiada dikenalnya lagi. Itu adalah amanah. Mencari orang bernama Budi Jayakusuma yang umurnya kira-kira sepuluh tahun di atasku, enam puluhan, bukan perkara gampang. LSM lingkungan dari Jerman yang ada di Magelang sudah tutup dua puluh tahun lalu. Terbetik berita dari orang yang tinggal di samping kantor LSM, Budi pindah kerja ke perusahaan perkebunan teh di Batang. Aku datangi perkebunan teh itu. Sama saja, dua belas tahun lalu tutup. Ada penggalan kabar, Budi balik lagi ke Magelang. Bekerja di bank perkreditan rakyat. Aku sambangi BPR itu. Ternyata BPR itu bangkrut enam tahun lalu.

Kabar buruk akhirnya aku dapatkan dari orang tua yang sekarang menempati kantor bekas BPR. Budi tetap hidup sendirian. Setahun setelah BPR bangkrut, Budi depresi berat karena tidak ada pekerjaan lagi. Budi memikirkan mantan istrinya. Teringat dengan anaknya yang sejak umur dua tahun pisah dengannya. Budi tidak kuat dengan pikirannya. Depresi akut membawa Budi ke rumah sakit jiwa Magelang, lima tahun lalu.

Baca juga  Janji

Kabar buruk ini tetap aku tindak lanjuti. Kata dokter, kondisi Budi selama lima tahun naik turun. Dua bulan ini kondisinya drop. Tidak bisa diajak komunikasi. Lorong-lorong rumah sakit jiwa Magelang yang dibangun sejak zaman Belanda memang terasa horor bagiku. Aku tuju kamar nomor dua puluh delapan. Kubuka pintu. Kulihat seorang duduk di kursi. Memandang kosong keluar jendela. Tidak peduli dengan kedatanganku.

“Mas Budi…,” aku sapa. Dia tetap menatap keluar jendela.

Aku tarik kursi, duduk di depannya. Kursi duduknya aku luruskan. Kami berhadapan.

“Mas Budi, ini aku Agung,” aku memperkenalkan diri. Aku jabat erat tangannya. Dia tanpa reaksi.

“Mas Budi, aku membawa pesan dari Hanz Matthaeus Jayakusuma. Anakmu. Desember nanti dia mau menikah di Koln, Jerman. Dia ingin Mas Budi dampingi.” Kukabarkan bahwa anaknya mau menikah. Tetap saja sorot matanya hampa.

“Mas Budi, ini undangan dari Hanz,” aku serahkan undangan perkawinan anaknya di atas tangannya.

Aku berdiri. Tidak tahu bagaimana nanti aku akan memberi kabar kepada Hanz tentang ayahnya. Kubalikkan badan. Melangkah kaki. Ketika tangan hendak membuka pintu, langkahku terhenti. Terdengar kalimat lirih namun jelas.

“Agung, aku akan hadir di perkawinan Hanz. Aku akan mendampingi Hanz….” ***

AM Lilik Agung, konsultan SDM yang banyak menulis ulasan kepemimpinan dan manajemen pada berbagai media. Menulis empat buku fiksi. Buku kumpulan cerpen terbarunya, Manusia Urban (penerbit Elexmedia Komputindo, Maret 2021).

Putu Sutawijaya, perupa kelahiran Tabanan, Bali, lulusan ISI Yogyakarta. Ia menetap di Yogyakarta dan mendirikan Sangkring Art Space sebagai ruang berkebudayaan para seniman. Memperoleh penghargaan Lempad Prize dari Sanggar Dewata tahun 2000.

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

3 Comments

  1. Arimby Cahaya Ren

    Cerpen ini datar-datar saja, mungkin yang buatnya menarik adalah pembuka cerita. Pembaca disuguhkan suasana tempat di Jerman. Begitulah pembaca kita, senang dengan latar termpat di luar negeri. Begitu juga redaktur Kompas yang suka dengan pembuka cerpen yang dahsyat padahal isi cerpen biasa saja. Saya jadi teringat ada seorang reviewer buku yang memberi kritik kepada seorang cerpenis yang menceritakan suasana lalu lintas di Jakarta dengan nama-nama jalan yang ia lalui. Si reviewer itu berkata adalah mubazir menceritakan suasana jalanan Jakarta, toh pembaca yang di luar Jakarta tidak mengetahui jalan di Jakarta? Saya pikir pendapat itu salah. Kembali ke cerpen ini, pertanyaannya adalah memang ada Hanz Matthaeuz selain dari Magelang. Judul cerpen ini sengaja utk menggoda redaktur Kompas biar dibaca dan dimuat. Isinya biasa saja.

  2. Dave

    Cerita “Hanz Matthaeus dari Magelang” menunjukkan dampak buruk akibat sebuah keputusan seorang orang tua terhadap anaknya dan mantan pasangannya setelah bercerai. Ada wanita dari Jerman dan laki laki dari Jawa yang menikah di Magelang dan kemudian si istri melaharikan anaknya Hanz Mattaeus Jayakusuma di Magelang juga. Namun dua tahun kemudian setelah anaknya lahir mereka bercerai dan si Ibu membawa anaknya ke Jerman. Si Ibu mengambil keputusan agar masa lalu itu termasuk hubungannya dengan mantan suaminya dan hubungan anaknya dengan ayahnya dihapuskan sama sekali. Di sini muncul rasa kerugian yang besar. Si anak itu bukan saja kehilangan kasih sayang dan hubungan dengan Bapaknya melainkan juga tidak ada pengetahuan tentang kebudayaan Jawanya. Ketika Hanz bertemu dengan Agung dari Yogyakarta, si narator aktor di cerita ini, di Jerman, Hanz langsung memperlakukan Agung dan keluarganya sebagai kerabat darah yang lama. Hanz mengaku pada Agung dan keluarganya separuh darahnya Jawa. Sementara itu ayah Hanz yang ditinggalkan sendiri di Magelang mengalami nasib yang buruk, jangankan menghubungi anaknya, berkunjung pun di Jerman tidak mampu. Ayahnya selama beberapa tahun yang lalu mengganggur sampai dia mengalami depresi dan masuk rumah sakit jiwa. Sebelum Ibu pada Hanz meninggal dunia dia mengaku pada Hanz dia bersalah. Walaupun alasan Ibunya tidak disebut cukup jelas ada kesadaran betapa buruk dampak keputusan agar mantan suaminya dan anaknya tetap dipisahkan. Tersirat pengakuan Ibunya dan wafatnya mendorong Si Hanz untuk mencari Bapaknya, orang tua tunggal yang masih hidup. Agung, si narator aktor menjadi pembantu pada Hanz, si tokoh utama agar mencari Bapak. Di sini terasakan kerugian lagi. Si Bapaknya, Jayakusuma ditemukan dalam depresi dan sudah tua namun ada kesempatan untuk mengenal anaknya. Bagi aku ada satu, dua masalah kecil di cerpen ini. Yang pertama secara teknis bulan Oktober di Eropa musim gugur tapi di awal cerita disebut musim semi. Yang kedua tidak jelas kenapa Ibu pada Hanz ada tujuan untuk mencegah hubungan anaknya dengan mantan suaminya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: