Cerpen, Fajar Makassar, Pangerang P Muda

Bukan Orang Ketiga

4.3
(6)

/ Istri /

Kamu pikir aku benar-benar menyetujui ia ada di tengah kita, dan tinggal di rumah kita? Aku hanya berpura-pura setuju karena iba melihatmu merengek-rengek seperti anak kecil meminta mainan. Coba bayangkan bagaimana perasaanku waktu kamu minta izin masuk kamar berduaan dengannya; bibirku memang melekuk senyum, tetap duduk tabah di depan layar tivi, bahkan berpura-pura menganggap yang kamu lakukan itu hanya lucu-lucuan, tapi perasaanku amat perih. Pantas ada temanku bilang kebanyakan laki-laki tidak peka terhadap perasaan perempuan, dan salah satu laki-laki itu ternyata kamu.

Makanya kuabaikan pesanmu untuk tidak bercerita ke orang lain tentang masalah kita. Enak saja menyuruh menyimpan sakit hatiku sendiri. Itu beban, dan membagi beban kepada sahabat, paling tidak bisa meringankan.

“Setiap melihatnya, rasanya aku ingin menggoroknya!”

“Siapa?”

“Simpanan suamiku. Cuma, kalau sudah kugorok, bagaimana menjelaskan agar tindakanku itu bisa dibenarkan suamiku? Sudah pasti pula suamiku akan marah, marah besar kukira.”

Sahabatku terlongong-longong mendengar omonganku, sebelum menyodorkan segelas air putih.

“Kamu kelihatan sangat emosional,” lipurnya. “Terus terang, aku kaget ka[1]lau suamimu yang kulihat sangat pen[1]diam itu, ternyata sampai hati punya simpanan.”

Untuk mengendorkan emosi, agar kami bisa lebih santai mengobrol, aku minta segelas air putih lagi. “Hanya perempuan yang hatinya sudah membatu,” ujarku seusai berdeguk-deguk menghabiskan isi gelas, “yang tidak sakit hati mengetahui suaminya[1]sedang begituan di kamar, sedang dirinya ditinggal nonton tivi sendirian di ruang tengah.”

“Begituan dengan simpanannya itu, maksudmu?”

Aku mengangguk. “Suamiku memang minta izin dulu setiap mau begitu, tapi sebagai istri, tetap dong aku sakit hati.”

Pada kedatanganku sebelum-sebelumnya, biasanya yang kami obrolkan hal-hal ringan saja, lebih banyak canda daripada seriusnya. Kadang juga kalau bahan tersedia, kami menjajal resep-resep baru, sekalian merintang waktu menunggu suaminya dan kamu pulang dari kantor. Sedang hari itu, suasananya agak berbeda, kami sampai lupa waktu hingga melampaui tengah hari mengobrolkan kelakuanmu itu.

Dan bercerita kepada sahabatku[1]memang membuat kepalaku sedikit plong; beban terasa terbagi. Soalnya kami mengobrolkannya, meski agak emosional, disisipi tertawa-tawa juga.

Baca juga  Purnama Merindu

“Salah aku juga, sih,”demikian aku mulai membeberkan rahasia kita. “Sudah lama aku tidak melayani hasrat kelelakiannya, telah berbulan-bulan malah.”

“Kenapa memang?”

“Aku tak mampu lagi.”

“Umur kita ini belum seberapa, lho, baru juga empat-limaan. Banyak yang bilang, kenikmatan hubungan suami[1]istri lewat umur lima puluh pun masih asyik kalau kita tahu cara mempertahankannya.”

“Kalau kita baik-baik saja, iya,” kataku, tak sungkan lagi menceritakan semuanya. “Aku punya penyakit di organ intim, sampai setiap melayani suami hanya rasa[1]sakit dan perih semata yang kurasakan. Makanya aku lebih suka menolak setiap dia kepingin.”

“Aduh, aku ikut prihatin. Dilema juga, ya?”

“Awalnya suamiku mengerti dan mau bersabar,” kataku lagi, “sambil kami juga mengupayakan pengobatan. Tapi karena tidak sembuh-sembuh, ya sebagai laki-laki normal tentulah[1]dia punya batas sabar menahan hasrat, sampai dia kemudian merengek-rengek seperti anak kecil.”

“Merengek-rengek minta begituan?” Sahabatku tertawa kegelian.

“Bukan.” Meski ikut ketawa, hatiku tetap dongkol membayangkan kelakuan suamiku. “Suamiku tak henti merengek membujuk supaya aku setuju dia membawa sosok cantik itu, yang … aduhh, sangat molek pula, untuk tinggal di rumah kami.”

“Dan kamu setuju?”

“Mau bagaimana lagi? Aku kasihan melihatnya. Lagi pula, mulanya kupikir itu lebih baik, daripada dia jajan di luar sana melampiaskan hasratnya?”

“Suamimu sampai membawa ke rumah?” Sahabatku menggeleng-geleng.“Ihh, gila benar!”

“Sebelumnya aku berusaha sabar; tapi makin sering dia minta izin mau begituan, apalagi kulihat dia makin bergairah saja dengannya, yang akhirnya membuat kepalaku terasa mau meledak!” Aku membuka kulkas dan menuang lagi air ke gelas. Menceritakan bagian ini, entah kenapa aku jadi sangat haus.

“Kuakui, perasaanku juga terlalu lemah,” jelasku. “Ketika mereka di kamar, aku yang ditinggal di depan tivi bukannya konsen menonton, malah lebih sibuk membayangkan seperti apa suamiku mencumbunya. Memikirkan apa yang suamiku lakukan membuatku mau mengamuk!”

“Gila benar suami kamu itu.”

“Gila dan aneh. Bisa-bisanya dia[1]bergairah begitu dengannya.”

“Kalau soal bergairah, ya wajarlah. Seperti katamu, orangnya cantik, molek lagi. Yang seperti itu memang membuat laki-laki bergairah, kok, pasti bukan cuma suamimu. Amit-amit, deh, kalau suamiku begitu juga.” Sahabatku tertawa masam. “Memang orangnya masih muda, ya?”

Baca juga  Terdakwa

“Lebih tepat kalau dibilang awet muda, akan muda terus, selamanya. Tidak mungkin menunggunya tua, peot, sampai suamiku nanti enggan mendekatinya lagi. Tidak mungkin. Satu-satunya cara agar suamiku tidak tertarik lagi padanya, ya dengan menggoroknya, atau sekalian mencabik-cabik tubuhnya, tubuh yang sudah membuat suamiku sampai ketagihan begitu! Tunggu saja beritanya!”

“Hush, kamu bisa tambah susah nanti kalau dipenjara.”

Meski kecut, aku tertawa melihat reaksi takut sahabatku. Tak tahan menutup-nutupi, akhirnya kupelankan suara menjelaskan sesuatu yang sontak membuat mata sahabatku membelalak dalam ukuran maksimal, sebelum kekeh kerasnya berderaian. Setelah itu, kami terkikik-kikik kegelian, walau hatiku terasa kian perih.

***

/ Suami /

Kamu pikir aku tidak memahami perasaanmu? Justru ia yang kupilih agar aku tidak kelayapan di luar, dan itu pasti lebih menyakiti hatimu. Ia ada di rumah kita toh atas persetujuanmu juga. Makanya aku bingung kenapa kamu sampai sekalap itu, tega mencencang tubuhnya seakan ia ayam geprek. Lihat saja, tubuhnya yang tak salah apa-apa teronggok di lantai, seperti sisa dikerkah binatang buas.

Kamu hanya perlu membiasakan diri dengan kehadiran dan perannya di rumah kita. Kalau dipikir-pikir, malah kamu harus berterima kasih padanya, karena ia bisa menggantikan, paling tidak satu tugas, sehingga kamu tidak perlu lagi menderita kesakitan. Coba renungkan; benar, kan?

“Kenapa bukan aku yang diberi kelebihan seperti itu? Tubuh molek, paras cantik, dan tentu tidak merasakan sakit seperti aku. Uhh, sampai kamu bergairah betul padanya!” komentarmu, seperti kehilangan akal sehat. “Aku tak tahan, aku amat iri padanya!”

Kehadiran orang ketiga yang harusnya membuatmu sakit hati, bukan ia, karena ia tidak bisa dianggap orang ketiga. Posisinya tidak seperti itu. Kamu tidak bersaing dengannya; tidak mungkin ia merebut kasih sayangku, kasih saying hanya buatmu. Aduh, kamu malah mencibir. Sudahlah, tidak usah menyembur, “Preeet!” begitu.

Baca juga  Kunang-Kunang di Bukit Cahaya

Lebih bijak kalau kamu anggap saja ia sahabat, atau teman, atau partner, atau apalah istilah yang kamu suka yang intinya ia yang menemanimu berbagi peran di rumah kita. Kamu toh tidak mungkin sanggup terus-terusan menahan rasa sakit, dan kamu akui pula sangat perih, kan? Jadi, ya sudah, serahkan saja peran dan fungsi begituan kepadanya.

Masalahnya … aduh, ia sudah koyak-koyak tak berdaya. Atau… bagaimana kalau kita cari saja penggantinya? Tidak apa yang menjadi pengganti ini nanti kita gelari saudaranya, temannya, atau apa pun yang cocok sebagai sebutannya. Jangan langsung merengut, dengar dulu penjelasanku: sudah aku bilang, kamu hanya perlu membiasakan diri dengan kehadiran dan perannya di rumah kita, nanti juga kamu terbiasa.

“Kalau ada lagi yang seperti itu masuk ke rumah kita, tidak lagi aku iris-iris, tapi sekalian mau aku bakar!”

Aduh, kamu malah makin tak suka. Padahal sudah kubilang, pilihan itu lebih baik darpada aku kelayapan di luar sana, yang pasti membuatmu lebih sakit hati.

Sudahlah, izinkan aku memilih yang seperti itu lagi, ya? Masih aku simpan iklannya di ponselku. Tetap dijual online, seperti yang dulu, lebih gampang belinya dan privasi kita lebih terjaga. Dengar, aku bacakan: Daripada kelayapan mencari sembarang perempuan, yang berisiko menularkan penyakit, kalau kepingin atau memang butuh, lebih baik gunakan love-doll ini. Bahannya dari silikon murni, dengan rupa dan postur tubuh sepersis wanita dewasa. Harganya diskon. Nah, masih diskon pula. Boleh ya, kita beli lagi? ***

PANGERANG P MUDA menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019), Perkara Pisau Lipat dan Laba-laba Emas (Sampan Institute/2021), dan dua kumcer remaja. Guru SMK, berdomisili di Parepare.

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: