Cerpen, Republika, WS Djambak

Hikajat Keranda Majat

DARI sekian banyak tubuh yang pernah kupangku, tidak ada rasanya yang lebih sendu melainkan lelaki itu. Laki-laki bertubuh kurus masik bernama Nasrudin ini sudah kukenal lama, jauh hari bahkan ketika ia masih teramat muda.

Biar kuceritakan kepada Tuan yang kutahu mengenai lelaki ini. Aku dan dia bisa dikatakan teman lama, meski tidak karib benar. Sejak muda, Nasrudin suka menggandeng, bahkan membopongku di atas bahunya yang agak bungkuk—akibat sehari-hari menjadi kuli angkut di Pasar Ahad.

Ia yang hanya tamatan SD terpaksa melakoni pekerjaan ini untuk menghidupi ibunya yang kurang waras akibat ditinggal mati suami serta adik-adiknya yang cukup banyak. Bahunya yang sudah terbiasa menerima beban itu semakin ditimpakan beban yang setimpal dengan seisi dunia, melalui penobatannya sebagai datuak yang bergelar Datuak Alang Babega, pemimpin kaum bagi Suku Lansek.

Seperti kebanyakan panggilan para penghulu lainnya di Minangkabau, bagi mereka, seorang datuak wajiblah bersifat “beralam luas dan berhati lapang” yang diperlambangkan sebagai beringin rindang di tengah kampung. Uratnya tempat bersila, batangnya tempat bersandar, pucuknya cewang ke langit, dahannya tempat bergantung, daunnya perak suasa, bunga diambil sunting, buahnya boleh dimakan, tempat berteduh ketika hujan, tempat berlindung ketika panas.

Kenyataannya, posisi datuak itu tidak lebih hebat dari penderitaan yang disebabkan olehnya. Bisa dikatakan, ia adalah tumbal atas semua kesalahan yang ada pada kaumnya kelak. Andai terjadi kesalahan dari kaumnya, tentu yang akan pertama kali disebut oleh masyarakat adalah “Siapa datuaknya?”

Sedang, ia tidak beroleh gaji dari jabatan itu. Bahkan, di masa tuanya, Nasrudin hidup melarat bersama istrinya yang lumpuh dan beberapa orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan, ia berjualan kacang panggang dengan gerobak dorong yang setiap kali jalan, bannya bergoyang ke kiri-kanan serupa hendak lepas.

Pernah suatu ketika, di sebuah SPBU, ia berjumpa dengan kemenakannya yang naik motor, sedangkan ia mendorong gerobak. Karena tidak memiliki uang untuk diberikan, Nasrudin memberikan beberapa bungkus kacang panggang sebagai ganti uang jajan kepada kemenakannya.

***

Satu siang yang gabak, Nasrudin berkeinginan mengunjungi kediaman saudaranya. Sudah ditegah oleh istrinya. Nasrudin yang sudah menderita asam urat kronis ini tetap bersikeras untuk menyilau saudara dan anggota kaumnya di Banda Tabuak.

Baca juga  Cahaya Akan Mengambang di Hunza

Untuk sampai ke sana, ia harus menyisiri jalan setapak sepanjang lereng Tabek Tapakok melewati kebun ubi dan kayu manis. Jalan ini sudah semakin menyempit disebabkan rumput liar yang mulai tumbuh subur pertanda sudah jarang ditapaki. Ya, sejak hampir seluruh warga punya motor, keberadaan jalan pintas-setapak mulai dilupakan, sebab orang lebih memilih jalan yang bagus meski memutar ketimbang jalan setapak yang licin dan curam.

“Usahlah Uda berkeras hati juga. Jangan tangka [1] juga yang dipelihara,” ujar istrinya.

“Ah, rumah saudaraku bukanlah jauh benar. Hanya di balik bukit itu. Nanti pulang bisa kusuruh kemenakanku mengantar pakai motor,” balasnya.

“Iya, biasanya tak pernah kularang meski kadang hati meradang. Coba Uda lihat ke luar. Sepertinya sebentar lagi mau hujan.”

“Baru mau. Belum hujan. Gabak tak berarti hujan, cewang belum tentu akan panas,” jawabnya menenangkan hati istrinya.

Akhirnya, dengan berat hati, istrinya melepas pergi sambil memandangi suaminya pergi—yang lebih mirip meniti ketimbang berjalan—dari ruang tengah rumah mereka. Dengan langkah tertatih—dari rumahnya melewati Surau Kaciak, melalui rumpun bambu dan kebun orang—ia hampir sampai di jalan datar puncak bukit setelah tanjakan curam dengan undakan tangga tanah yang sudah berlumut dan sisi kanan tebing yang dalam.

Tiba-tiba, Nasrudin terpeleset, tidak sengaja menginjak lumut hijau yang masih basah. Tubuhnya terpelanting dan terempas ke undakan tangga, kemudian terguling jatuh ke bawah sepanjang tangga sebelum kemudian tersangkut di pohon kayu manis. Untung saja Sutan Marajo yang tengah mencangkul kebunnya melihat Nasrudin dan langsung berlari menyonsong tubuh Nasrudin yang sudah tidak sadarkan diri.

***

Mulut Nasrudin megap-megap persis ikan nila yang menggelapar mencari air mencoba mengikuti ucapan syahadat yang dipandu Malin. Sudut matanya yang berkerut-keriput basah oleh air mata, kemudian mengalir melewati keriput—serupa kanal—dan cekungan pada pipinya yang tirus.

Setelah kian lama kepayahan, Nasrudin kemudian menggenggam erat tangan Malin, ulama di kampungnya. Genggaman itu melemah dan semakin mengendur dan terlepas. Beberapa orang yang hadir di rumahnya malam itu menangis dan meratap. Seakan tak percaya bahwa tubuh di hadapan mereka telah berubah menjadi sesosok mayat.

Istrinya yang sudah lumpuh menahun terlihat seperti orang hilang akal. Matanya nanar dan pandangannya dilempar sejauh mungkin melewati kebun pisang di balik jendela kayunya yang sudah lapuk. Anaknya yang paling besar sibuk meneleponi satu per satu induk bako [2], berikut Pak Etek [3] mereka. Si bungsu yang baru menginjak kelas tiga SD—yang masih belum paham benar apa yang terjadi di rumahnya—asyik bermain dengan anak-anak lainnya. Anak laki-lakinya yang nomor dua menghambur ke luar dan berlari ke surau menjemput garim dan aku, tentunya.

Baca juga  Asrama Serigala

***

Di rumah gadang Suku Lansek—pimpinan Datuak Alang Babega—beberapa laki-laki dewasa yang terdiri atas para ninik-mamak kaum terlihat masygul. Runding semakin meruncing dan belum menemukan bulat kata sepakat.

Mereka dipusingkan dengan pemilihan kandidat datuak selanjutnya. Di Minangkabau, kondisi ditinggal mati oleh pimpinan suku ini dinamakan dengan mati batungkek budi. Kekosongan kepemimpinan tidak diperkenankan dan harus dipilih calon berikutnya sesegera mungkin, kemudian dilewakan, ‘diumumkan’ selesai prosesi penguburan di makam yang masih basah. Penobatan ini dinamakan gadang di pakuburan.

Biasanya, datuak memiliki wakil yang disebut panungkek, tapi dalam kasus kematian Nasrudin, beberapa bulan sebelumnya, panungkek-nya menyatakan mundur dan tidak mau tahu lagi dengan urusan kaumnya—akibat konflik internal.

“Kita harus lekas putuskan siapa yang akan menjadi Datuak Alang Babega selanjutnya,” tegas Palimo, salah seorang ninik-mamak Suku Lansek.

Yang lain diam. Beberapa dari mereka mengisap dalam rokok kereteknya, kemudian diembuskan lagi melewati hidung. Air mukanya keruh sekeruh asap yang keluar.

“Pemakaman Nyiak [4] Datuak yang lama juga harus kita selenggarakan secara adat. Jangan sampai, kita malu di hadapan para datuak tujuh kaum yang ada di nagari kita. Hendak ke manakah disurukkan muka kita nanti sebab malu yang tak tertanggungkan tak mampu menyelenggarakan pemakaman secara adat?” sambungnya lagi.

***

Di rumah duka, suasana semakin keruh. Rusli, anak kedua Nasrudin, mengamuk sebab hampir tengah hari jenazah ayahnya masih belum jua diurus secara Islam. Malah para penghulu adat kaum lain sudah memenuhi rumahnya lengkap dengan pakaian kebesaran sukunya.

Akhirnya, ia—dibantu oleh beberapa orang teman laki-lakinya—bersikeras untuk memandikan jenazah ayahnya dan menyelenggarakan pemakaman tanpa menunggu kemenakan ayahnya—yang menurut adat lebih berhak atas jenazah Nasrudin, ayahnya.

Baca juga  Dermaga yang Mengandung Anak Perahu

Tak lama kemudian, Malelo, Palimo, dan ninik-mamak lainnya datang ke tempat kejadian. Agaknya mereka sudah menemukan kata mufakat yang bulat. Malelo dipercayai ninik-mamak untuk meneruskan gelar adat Datuak Alang Babega—memimpin Suku Lansek menggantikan Nasrudin.

Tanpa memandang penghulu kaum lain, Malelo yang sudah kepalang berang, berteriak lantang. Matanya tinggal putihnya saja seakan menyembul keluar, berbanding terbalik dengan mukanya yang merah padam.

“Berhenti, Buyung! Jangan kau permalukan jenazah ayahmu yang seorang datuk lebih jauh lagi. Jangan pula kau coreng arang di kening kaum kami,” ujarnya geram.

Rusli diam. Ia memandang tajam sambil membalas dengan suara yang beraroma embun dini hari. Dingin dan menusuk.

“Mau kalian siksa sejauh mana lagi ayahku? Sudahlah seumur hidupnya habis untuk mengurusi kebutuhan kalian, mati pun ia masih juga kalian susahkan! Ayahku sudah mati sejak tadi malam, hingga hari sudah menjelang petang belum juga hendak dikuburkan. Kalian Islam apa bukan?”

Malelo bergidik ngeri melihat tatapan Rusli, namun ia tetap harus menjaga harga diri. Lalu, ia mencaci dengan berapi-api.

“Anak tak tahu diadat! Tidak ditunjukajarikah kau sama mamakmu? Asal kau tahu, kami justru menyelamatkan muka ayahmu biar tidak cacat namanya kelak. Tugas mengurus pemakamannya adalah urusan kami, anggota kaumnya. Dia akan dimakamkan dengan layak di pandam pekuburan kami. Sekarang kau diam. Jangan makin kau buat kami berang!”

Belum selesai ia bicara, seketika Malelo mengerang panjang, kemudian jatuh tertelentang. Kepalanya bersimbah darah. Para perempuan memekik ngeri. Sedang Rusli masih memegang parang yang tadi diambilnya di dekat tumpukan kayu di bawah kakinya. Matanya hitam kelam. Percikan darah yang basah ada pada baju kokonya.

Kemudian, hujan turun dengan lebat—konon, hujan akan turun ketika ada anggota Suku Lansek yang mati—disertai angin yang menyingkap kain hijau bertulis Laa ilaha illallah penyelimut tubuhku yang masih memeluk jasad Nasrudin yang beku. ***

Agam, 19 September 2016-Pekanbaru, 24 Juli 2021

Catatan:

[1] Keras kepala (Minangkabau).

[2] Saudara perempuan ayah (Minangkabau).

[3] Adik laki-laki ayah (Minangkabau).

[4] Inyiak (Minangkabau) berarti kakek atau orang yang dituakan dalam masyarakat.

WS Djambak saat ini bermastautin di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; puisi, cerpen, esai, dan novel.

2 Comments

  1. Kal

    Kirain isinya pake ejaan lama kayak judulnya. Prank.

Leave a Reply

error: Content is protected !!