Ahimsa Marga, Cerpen, Kompas

Gagak

Gagak - Cerpen Ahimsa Marga

Gagak ilustrasi Bayu Wardhana/Kompas

3.6
(9)

Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 26 September 2021)

SUARA kaok panjang berulang sedikitnya lima kali dari burung gagak yang bersliweran, sekitar pukul 05.30. Tubuhku gemetar. Ada perasaan yang tak bisa kukendalikan yang menyebabkan jantungku berdetak kencang. Tanganku lemas, bahkan gelas pun terasa berat.

Burung itu masih barkaok beberapa saat sebelum melesat mengitari hutan kota di depan rumah, lalu menjauh, tetapi suaranya menggema memenuhi udara pagi.

Suasana pagi itu mengacaukan sistem pencernaanku, lambungku bergolak, perutku mual, dan kepalaku berputar. Tak ada posisi yang bisa meringankan bebanku.

Sejak pandemi meruyak, semakin sering kudengar kaok burung gagak melintas.

“Aaahh Ri… burung kan hidup di alam liar. Enggak usah mikir macam-macam,” begitu Fitri, sahabatku, mengingatkan.

Fitri tahu aku terlalu peka dengan tanda-tanda alam. Kami banyak berselisih paham, tetapi dia sahabat yang bisa menerimaku apa adanya.

Aku pernah bertugas lumayan lama di Kolkata, India. Di sana, kaok gagak terdengar setiap saat. Mulanya, aku bergidik, tetapi lama-lama sedikit terbiasa karena sepanjang hari gema suara gagak memenuhi langit Kolkata. Meski demikian, aku tak bisa menutup mata pada mayat yang kutemukan setiap hari di jalanan kota pada awal tahun 1990-an itu dan tempat-tempat pembakaran jenazah yang tak pernah sepi.

“Kami menyebutnya burung bangkai, karena gagak memang memakan bangkai apa saja,” ujar Lakshmi, teman baikku di Kolkata, “Penciumannya tajam betul untuk bangkai.”

Suara gagak juga terdengar sesekali membelah langit Seattle, di Barat Laut Amerika itu, tetapi tidak terlalu mengusikku. Bahkan sesekali kulihat burung itu bertengger di pepohonan di balik jendela kamar, seperti mengamati sesuatu. Namun, mungkin karena aku lebih suka memberi perhatian pada tupai-tupai kecil yang lucu di batang pohon, kehadiran burung berbulu legam kuabaikan.

Tapi pernah burung itu diam di situ lama sekali. Aku ingat, itu terjadi pada pagi 10 Mei 1998 waktu setempat. Lalu dia berkaok dengan suara lemah dan terbang ke arah utara. Suara itu sangat menggangguku.

Baru keesokan harinya kulihat berita yang sangat mengerikan dari Jakarta….

***

Suara burung gagak selalu mengingatkanku pada tahun-tahun yang terasa sangat panjang dengan suara gagak yang berkaok sepanjang hari.

Saat itu usiaku 11 tahun.

Kurun tahun 1965-1966 itu terjadi begitu banyak orang hilang di kampungku. Setiap malam selama berbulan-bulan sering kudengar suara sepatu berderap, berhenti di pintu rumah-rumah tetangga.

Setelah beberapa waktu kudengar bisik-bisik, mereka yang “diciduk” itu dibunuh dengan cara-cara yang, aku tak berani menuliskannya di sini. Keluarga yang ditinggalkan tidak ada yang berani mencari. Banyak di antara mereka meninggalkan kampung itu karena tidak ada lagi tetangga yang menegur sapa.

Aku tak paham, karena kemudian, untuk waktu yang panjang, kampungku dijuluki sebagai “daerah merah”.

Sampai bertahun-tahun kemudian, tidak ada satu pun program pembangunan singgah di kampungku, membuat kampung itu terlihat sangat kusam dibandingkan kampung-kampung sekitar. Kalau musim kemarau, ruang hidup kering kerontang, debunya berterbangan, dibalut kesunyian berkalang kematian. Kala musim hujan, suasananya nglangut, meruapkan denyut kehidupan, menyisakan ratapan tanpa harap.

Jarang orang keluar rumah setelah pukul tiga sore.

Tapi entah kenapa ibuku tak pernah mau pindah. Jadi kami mengikuti gerak sekarat kampung itu dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, tahun ke tahun, sampai belasan tahun kemudian, saat kampung itu pelan-pelan menggeliat.

Baca juga  Kak Ros

Malam-malam beberapa bulan sebelum 30 September 1965 sering kulihat tempat tidur ibuku kosong. Mungkin dia menjalani laku tirakat di luar rumah seperti biasa dilakukannya.

Suatu pagi ibu bilang, “Mambu anyir, Ndhuk….”

Bau anyir darah….

Kata ibuku, burung yang dikenal cerdas itu bisa mencium bau mayat sampai 40 hari sebelum orang meninggal. Lama kemudian baru kubaca tulisan ahli fauna alam liar, Prof John Marzluff, bahwa burung gagak bisa mengendus kematian tetapi sangat takut pada kematian.

Suara gagak buatku, adalah penanda.

Aku tak butuh konfirmasi. Hanya cukup menengarai.

***

Setahun lalu, kaok gagak melumatkan konsentrasiku. Hari baru pukul delapan pagi. Banyak pekerjaan harus diselesaikan, tetapi aku tidak bisa lagi melanjutkannya. Kucoba menyelimur dengan mengerjakan yang lain, tetapi juga sia-sia.

Dua hari kemudian kudengar kabar itu. Riyadi tidak bertahan, setelah seminggu di rumah sakit. Pneuomia memperberat penderitaannya. Dia sahabat yang sangat baik, anak muda yang sangat cerdas. Usianya belum lagi 40 tahun ketika berpulang, meninggalkan seorang istri yang sangat mencintainya.

Suatu siang aku dikejutkan oleh suara telepon yang berdering-dering, mengabarkan sahabat dan guruku, Bramantyo, berpulang, 10 menit lalu.

“Serangan jantung Mbak,” suara isak Kinan di seberang menjelaskan, “Tadi pagi masih ngobrol sama saya sebelum berangkat berenang.”

Tiga hari lalu kaok gagak mengitari halaman rumah, pagi-pagi benar….

Kaok gagak kudengar bersahutan beberapa hari berturut-turut yang menyebabkan aku tidak bisa bekerja. Pikiranku tersedot rasa khawatir dan ketakutan akan kehilangan.

Beberapa hari setelah itu kudengar sahabatku Dian berpulang, menyusul sahabatku yang lain, Mira yang berangkat seminggu sebelumnya.

Pak tukang yang masih menyelesaikan pekerjaan di rumahku bercerita, di desanya yang terpencil, kematian yang aneh juga mendera warga desa.

“Setiap hari ada saja yang meninggal Bu,” katanya, “Kadang dua, tiga, tujuh, lima, tetapi selalu ada warga yang meninggal tiap hari. Orang desa tahunya pagebluk, kata orang pintar, virus.”

Kematian menjadi sangat akrab 1,5 tahun terakhir ini. Mula-mula, aku tak begitu risau, karena kesadaran yang lumayan kuat tentang kehidupan dan kematian. Akan tetapi, ketika peristiwa itu seperti mengepung dari segenap penjuru, dan kompleks perumahan tempatku tinggal ditetapkan sebagai “zona merah”, aku mulai terguncang.

Tiba-tiba aku kehilangan begitu banyak teman. Namun, yang terasa lebih mengiris adalah bahwa tak ada satu kesedihan pun yang tertuntaskan. Tidak ada semacam salam perpisahan; tidak bisa mengikuti ritualnya secara langsung dan mengantar sampai makam.

Bagiku, ritual menjadi semacam simbol perpisahan dari badan kasar yang punya identitas kepada badan halus yang tak bisa kulihat dengan mata telanjang. Sekarang, bahkan raga kosong diperlakukan seperti musuh; pemulasaraan jenasah diproses secara khusus. Keluarga dekat yang mengantar ke makam pun harus menjaga jarak bermeter-meter.

Kesedihan bertimbun, tanpa saluran.

Aku makin sering merasa, juga sedang menunggu giliran.

Aku tidak takut pada kematian, tetapi aku sangat takut pada rasa kehilangan.

***

Proses kematian seperti perjalanan menuju gerbang dunia entah.

Dan burung gagak seperti mengantar para arwah meninggalkan raga kasarnya.

Baca juga  Mata Ratri

Manusia makan ketika hidup, tetapi jasadnya dimakan mikroba dan insekta ketika meninggal. Jadi, buatku, kematian adalah kesinambungan kehidupan. Ujung kehidupan adalah kehidupan baru.

Baru kupahami pesan ibuku agar aku tak mengabaikan ziarah kubur; agar tak lupa asal-usul, bukan hanya asal-usul terkait leluhur, tetapi lebih jauh dari itu.

Raga, betapa pun, menyimpan merekam yang tak bisa dihancurkan oleh tubuh yang membusuk. Memori itu mengapung dalam bentuk energi, yang bisa ditangkap oleh kehidupan-kehidupan berikutnya.

Bahkan pengalaman hari ini, selalu terhubung dengan pengalaman dari kehidupan masa lampau. Banyak hal seputar itu tak bisa dijelaskan secara tuntas oleh otoritas sains.

Burung gagak menjadi bagian dari sasmita itu.

Dalam satu sesi hipnoterapi yang dalam, aku melihat diriku seorang pemburu burung. Tapi burung yang paling menarik hatiku adalah burung gagak. Ratusan burung gagak kubunuh hanya untuk memuaskan keinginanku.

“Jadi, kalau kau terteror burung gagak saat ini, bukan tanpa sebab. Peristiwa yang menorehkan trauma mendalam di dalam dirimu hanyalah cara hukum semesta bekerja,” begitu kata terapis, sahabatku itu, “Kita menuai apa yang kita tabur, sampai kapan pun. Tidak ada utang yang lunas tanpa dibayar.”

Kata dia, tubuh menyimpan memori dari seluruh emosi. Memori itu tidak hilang meski tubuh telah membusuk. Jasad yang terurai menghasilkan zat hara yang menyuburkan alam sekitar, ditambah jutaan atom yang bertebaran di udara bersama energi memori yang menyertainya.

“Kebayang enggak atom dari tubuh-tubuh korban dalam perang dan holocaust. Dan… atom tubuh-tubuh dari mereka yang dibantai tahun 65-66? Kita yang hidup ini terus menghirupnya….”

Sahabatku itu seorang pejalan spiritual. Hidupnya yang bersahaja didedikasikan hanya untuk menolong orang, setelah dia menerima panggilannya.

Pernah suatu hari dia ungkapkan sebuah rahasia.

“Ketika ayahku ‘diambil’, aku masih dua bulan di perut ibuku….”

***

Kata Socrates, dunia setelah kematian hanya bisa dikira-kira. Semuanya masih misteri. Kita tak bisa menerima fiksi apa pun tentang kematian dan kehidupan setelah kematian, karena tak ada satu pun saksi.

Jasad yang terurai dapat dihampiri oleh ilmu pengetahuan, tetapi jiwa atau roh tetap menjadi misteri sepanjang masa.

Tapi ada pengalaman yang menarik terkait dengan itu.

Antara tahun 1965-1966 itu, burung gagak tak berhenti berkaok sepanjang tahun. Matahari yang garang tak mampu meruapkan ketegangan, ketakutan dan rasa saling curiga. Kalau petang tiba, bayang-bayang kematian datang seperti menjemput malam.

Anehnya, suara gagak itu bisa muncul kapan saja. Entah itu suara betulan atau hanya suara itu yang bergema di telingaku.

Setelah penghilangan demi penghilangan, muncul bisik-bisik tentang kedatangan bayangan orang-orang itu pada tengah malam, seperti ingin berbicara dan masuk ke dalam rumah, tetapi tidak bisa lagi.

Suatu malam, bayangan itu muncul di depan pintu rumahku.

Dari lubang kunci aku hanya melihat kabut tebal dan suara-suara tidak jelas yang membuat buluk kudukku berdiri.

Temanku, Ratri, bercerita, ayahnya datang pada suatu malam.

“Tapi muka bapakku pucat sekali, tatapannya kosong. Kayak bukan bapak, tetapi itu bapak. Aku enggak ingat apa-apa lagi karena pingsan setelah itu. Aku kangen bapak….”

Tangisnya pecah. Ayahnya sudah lima bulan hilang.

Baca juga  Pawang Jailani Tak Pernah Datang Lagi

Aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan peristiwa berikutnya.

Suatu sore, temanku, Kiman mengajakku mengambil layangan yang jatuh di tanah kosong di ujung kampung itu.

“Temani aku ya,” ujarnya.

Aku tidak keberatan. Lagi pula, hari baru pukul tiga petang. Meski gagak tidak berhenti berkaok, hari masih terang.

Tapi begitu mendekat, kami melihat banyak burung gagak bertengger di sekitar lahan kosong itu dengan begitu banyak onggokan tanah yang berantakan. Mata mereka tajam mengawasi yang datang. Bau busuk menyergap. Lalat hijau yang jumlahnya ribuan berdengung.

Dua hari kemudian, laki-laki yang tersisa di kampung itu membongkar onggokan tanah itu dan mendapati jasad yang mulai membusuk pada kedalamanan tak lebih dari setengah meter.

Aku tak berani mencari tahu, apalagi mendekat.

Namun, penyakit perut yang aneh sudah telanjur merebak di kampungku. Orang kampung menyebutnya pegebluk juga. Pagi sakit, sore mati. Sore sakit, pagi mati. Baru kemudian kudengar, itu penyakit kolera.

Kata ibu, pada masa lalu, kejadian seperti itu sering didahului oleh kemunculan lampor atau kerenda mengambang pada tengah malam. Biasanya pagebluk seperti itu ditandai suasana yang membuat orang seperti disirep sehingga tidur sore karena sangat mengantuk.

Satu lagi penandanya: kaok gagak itu.

Saat ini, berpuluh tahun kemudian, suara gagak semakin sering terdengar, meningkahi suara ambulans yang tak ada habisnya. Lalu mulai tersebar bisik-bisik: kalau dengar ketukan malam-malam, jangan buka pintu.

Secara rasional, virus itu yang memorakporandakan kehidupan, mengubah struktur keluarga dan membuat identitas menjadi tidak berarti. Namun, kepanikan membuat situasi itu ditanggapi dengan semangat mengalahkan dan nafsu menguasai; melupakan cara hidup berdampingan dengan entitas lain yang punya hak sama atas ruang semesta ini.

Jadi rumor itu sungguh tidak masuk akal.

Tapi…, tengah malam tadi kudengar suara ketukan itu. Sangat dekat, tetapi aku tidak tahu tepatnya karena tak jelas arah angin yang membawa gema itu.

Paginya, adikku menelepon.

“Rumah yang dindingnya berbatasan dengan halaman belakang rumahmu itu ada yang baru saja berangkat. Tadi jam 05.30. Usia 40-an. Seisi rumah masih isolasi mandiri.… ***

.

.

Tangerang Selatan, 5 Agustus 2021.

Ahimsa Marga adalah Maria Hartiningsih, wartawan senior yang pada masanya dikenal gigih memperjuangkan hak asasi manusia, terutama bagi anak, perempuan dan kelompok yang dimarjinalkan. Tahun 2003 ia menerima penghargaan Yap Thiam Hien, sebuah penghargaan di bidang edukasi HAM yang pertama diterima oleh wartawan di Indonesia.

Bayu Wardhana lahir di Jakarta 07 Agustus 1964. Lulus Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta 1994. Dia mulai melukis di berbagai kota keliling Indonesia sejak 2007. Dia, antara lain, terlibat dalam Onthespot ke Negeri Tiongkok 2016, Onthespot ke Yangon Myanmmar 2017, Live Painting di Istana Merdeka bersama 40 Budayawan 2018, Shah Alam Biennale 2019, Biennalle Jawatengah 2019, Onthespot di Pulau Seribu Pura dan Istana Ubud 2020, dan Onthespot The Journey Anyer-Panarukan 2000 KM tahun 2021.

.

.

Loading

Average rating 3.6 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

3 Comments

  1. Arimby Cahaya Ren

    Membaca cerpen berjudul Gagak ini, saya terheran-heran. Kenapa penulisnya meloncat-loncat gak jelas. Ada gagak di India, Gagak di AS, peristiwa 1965, dan Mei 1998. Ini cerpen gak fokus mau dibawa kemana pembaca memahaminya, apakah untuk menceritakan kondisi masa kini Covid-19 lantas alur ceritanya dibuat seperti itu? Saya pikir tiada cerpen yang buruk. Tapi cerpen ini kategorinya cerpen yang gagal dipahami oleh saya selaku pembacanya.

  2. Penyair Amatir

    Saya menikmati magisnya cerita ini.

  3. David John Rawson

    Bagi narator kalau dia mendengar kaok kagak, bunyi itu langsung dikaitkan dengan kematian. Kepercayaan itu tampaknya ditanam oleh Ibunya yang percaya gagak bisa meramalkan kedatangan kematian. Narator yang baru mendengarkan kaok kagak kemudian mengingatkannya sejumlah malepetaka yang dulu (kolera di kampungnya), peristiwa berdarah (pembunuhan orang di kampungnya setelah G30S dan peristiwa 10 Mei 1998) dan juga mayat di jalan dan kremasi di Kolkata (tahun 1990-an). Dalam ceritanya gagak meramalkan lagi kematian yang akan datang dari virus baru (Covid). Kedatangannya juga ada kemiripan dengan peristiwa 1965-66, pembunuhan itu terjadi selama berbulan-bulan, ada ketukan di pintu juga, ada orang yang diambil, dan penghilangan terjadi secara acak-acakan. Di sini terlihat kemiripan dengan cerpen “Gering Agung Wayan Natar” karya Warih Wisatsana (12 Desember 2021) di Kompas. Di cerpen ini trauma lama dari peristiwa 1965-66 dialami kembali di masa Covid. Gagak sebagai simbol kematian ada kemiripan juga dengan cerpen “Tato, Ciuman, dan Sebuah Nama” karya Yetti Aka 11 April 2021 di Kompas namun bagi si Narator di cerpen ini gagak lebih dari penanda kematian tapi juga pengantar para arwah. Di sini narator mengamati yang mati karena virus itu (Covid) tidak diberikan ritual yang biasa. Yang menarik ialah aspek filsafat tentang memori dan orang yang meninggal, ada konsep memori tak hilang dengan pembusukan mayat justru menjelma menjadi energi. Dengan demikian yang masih hidup menghirup atom dari jenazah. Demikian juga dibantai di peristiwa G30S. Ayah narator juga termasuk yang diciduk dan hilang.
    (Catatan kaki. Peristiwa pagebluk kolera di cerpen ini kebetulan memakai kata yang mirip dengan perkatataan yang dipakai di cerpen Kuntowijoyo “Pagi sakit sore mati, sore sakit pagi meninggal” “Lelaki yang Kawin dengan Peri” (1994), di cerpen ini ada perkataan “Pagi sakit sore mati, sore sakit pagi mati”. Bagaimanapun juga cukup jelas tanpa perawatan yang sakit tak tahan lama).

Leave a Reply

error: Content is protected !!