Cerpen, Dinar Rahayu, Koran Tempo

Pasir Sagadish

3
(4)

SAGADISH adalah kota kecil di semenanjung Quob. Seperti layaknya perempuan di negara-negara semenanjung Quob, para perempuan Sagadish kerap mengenakan selendang sebagai kerudung serta untuk menutupi hidung dan mulut mereka. Kain penutup itu bukan untuk menolak narasi para perempuan, melainkan untuk melindungi mereka dari terpaan pasir yang datang menunggang angin.

Lelaki Sagadish pun kerap menyampirkan kain untuk menutup bagian bawah wajah mereka. Hanya memunculkan mata mereka yang menyipit, yang dilindungi bulu mata yang lentik dan alis yang tebal hasil adaptasi kehidupan di gurun. Jika angin bertiup dan engkau melihat wajah perempuan atau lelaki Sagadish yang mengenakan selendang pelindung dari samping, engkau bisa melihat siluet yang kokoh seperti pahatan dari batu korundum. Dahi, lekuk mata, lengkungan hidung, bibir, dan dagu para penghuni Sagadish merupakan hasil adaptasi untuk bisa bertahan di iklim gurun.

Pasir di Sagadish adalah pasir pencerita. Pasir merah berasal dari dataran penuh besi, sementara pasir putih berasal dari pantai Tangis. Pasir hitam, seperti metafora dalam berbagai kitab, merupakan pasir yang baru keluar dari perut neraka bumi. Dan badai pasir yang datang setahun lalu membawa berita sedih.

Wabah telah menyapu dua pertiga planet. Seluruh negara memerintahkan penduduknya diam tak pergi ke mana-mana karena pembawa wabah ini adalah jasad renik penunggang makhluk lain. Tak ada negara yang mau makhluk pembawa wabah ini berkeliling dunia gratis dan menularkannya kepada orang lain. Planet menjadi hening dari bisingnya wahana yang membawa orang berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Berhenti. Ajeg. Sepi. Dentuman sonik yang berasal dari wahana udara yang suka mengempas burung-burung tak lagi terdengar. Kereta peluru berhenti di stasiun seperti peluru dalam revolver yang picunya terkunci.

Di Sagadish pun demikian. Jalanan sepi. Anjing dan kucing bisa tiduran di jalanan. Hanya satu-dua kendaraan yang lewat. Seperti kota pesisir lain, Sagadish menawarkan pemandangan yang bisa dinikmati turis, tetapi bisikan pasir itu datang membawa berita bahwa mulai saat itu turis tidak boleh mendatangi Sagadish. Yang disyukuri oleh para penyu yang bisa menemukan kembali jalan pulang ke pantai karena pantai kembali tenang dan tak bersimbah sinar lampu yang menyilaukan dari bangunan hotel sepanjang pantai, disyukuri oleh makhluk yang berenang di laut yang kulitnya tidak akan tersayat baling-baling perahu cepat para turis.

Dan tentu bsennya para turis gaduh ini disyukuri oleh warga Sagadish. Anak-anak mereka bisa bermain pasir di bagian pantai depan kompleks pariwisata. Nelayan Sagadish bisa kembali melaut dengan tenang karena ikan sirip biru kembali melimpah ruah di sudut-sudut pantai.

Media menyoroti wabah ini seperti burung nazar mengerumuni bangkai. Media memang ingin ditonton, maka mereka menyiarkan wabah, ketidakteraturan, dan kematian. Ilmuwan berseru-seru untuk segera meneliti gerangan penyebab wabah ini karena kematian datang begitu cepat setelah seseorang tertular. Para juragan pun tergelitik untuk mengikuti perlombaan mencari obat. Negara-negara pun bernegosiasi dengan juragan untuk mendapatkan obat tersebut. Negara menjual apa yang mereka miliki untuk mendapatkan obat ini.

Aku berada di sebuah warung kopi di sudut kota Sagadish, meminum kopi dan membuka laptop, terhubung ke Internet juga sambil mendengarkan siaran stasiun televisi lokal. Aku sedang menunggu seseorang dan jika dugaanku benar, orang itu akan sudah tahu bahwa aku menunggu di sini tanpa aku memberi tahunya lebih dulu.

Warung ini tidak menerima tamu yang duduk untuk makan dan minum. Tetapi ketika aku menunjukkan kartuku dan memperlihatkan surat tugasku dan aku mengatakan bahwa kedatanganku begitu penting untuk kelangsungan hidup manusia, ia menyilakan aku duduk di salah satu pojok warung mereka. Di bagian luar warung itu, kursi-kursi ditaruh terbalik di atas meja tanda mereka tidak menerima pengunjung.

Kartu, surat tugas, dan alasanku adalah bohong semata. Ada gelar akademik di belakang namaku, tiga atau empat barangkali, dari capaian tertinggi di perguruan tinggi terkenal. Itu tidak abal-abal. Tapi aku ke Sagadish karena urusanku sendiri.

Aku datang ke sini karena tak satu pun warga Sagadish, baik yang bermukim di sini maupun yang berada di luar negeri, yang tertular penyakit ini. Tetapi aku menunda teori bahwa warga Sagadish diistimewakan Sang Pencipta karena aku tahu kekebalan ini diciptakan oleh orang yang kukenal.

Baca juga  Jam

Di tengah ingar bingar berita wabah ini, secuil cerita dari kota berpenduduk hanya 5.000 jiwa ini nyaris tak terdeteksi. Aku mewakili satu lembaga penelitian yang namanya tidak akan pernah kau dengar. Lembaga itulah yang menyadari bahwa tidak satu pun warga Sagadish yang terkena penyakit ini. Secara diam-diam, orang-orang lembaga kami mengambil sampel darah orang-orang Sagadish, baik yang bermukim di Sagadish maupun yang tinggal di belahan bumi lainnya. Kami menemukan bahwa di dalam darah warga Sagadish ada zat penghancur wabah tersebut. Dan zat itu sudah berada di dalam darah warga Sagadish semenjak lima tahun lalu, jauh sebelum badai wabah itu menyapu planet. Aku meyakinkan pemimpin lembaga ini bahwa aku tahu siapa di balik semua ini.

Orang itu adalah Ivan Kalamati. Aku akan bertemu dengannya sore ini. Ia tunanganku. Mantan tunanganku karena ia sudah mati. Dianggap mati. Tepatnya hilang tak berbekas. Lima tahun yang lalu. Hilang begitu saja. Bangunan tempatnya meneliti runtuh, mungkin meledak. Tak ada korban nyawa selain mungkin Ivan yang saat itu dianggap berada di dalam.

Aku tidak percaya. Orang-orang menganggap aku perlu lama untuk menerima kehilangan orang yang kucintai. Tapi aku tahu Ivan. Ia terlalu sombong untuk mati dengan cara seperti itu. Bahkan kupikir, saking bermulut besar, Elmaut pun malas menyentuhnya karena malas diajak berdebat oleh Ivan.

Pipa-pipa kecil yang terbuat dari logam yang digantungkan pemilik warung di luar tampak bergoyang, bunyinya berdenting berselangan enak didengar, tapi kemudian ribut tak teratur. Berita di televisi mengatakan angin cukup kuat akan menyapu semenanjung Quob. Tetapi Sagadish termasuk yang hanya akan kebagian sisanya. Walau begitu, pelindung angin tetap diturunkan oleh pemilik warung. Setelah menutup kursi dan meja yang ada di luar dengan kain terpal berkait, ia masuk lagi, mengibaskan pasir di rambutnya dan mendekatiku. Kurang-lebih ia mengatakan, kalau aku akan bermalam, ada kamar di tingkat atas.

Belum aku menjawab, sesosok tubuh sudah berada di belakang pemilik warung.

“Ya, ia akan menginap di sini,” kata orang itu.

Lalu ia membungkuk mengucapkan salam. Kurang-lebih kedengarannya ia meminta maaf telah masuk dan berkata-kata sebelum berucap salam. Kemudian ia mendekati pemilik warung, menunjukkan kartu yang digantungkan dengan tali di lehernya dan selembar surat tugas juga. Pemilik warung mengangguk. Masuk lagi ke dalam setelah mendengarkan pesanan minuman orang itu.

Orang itu terdiam sejenak lalu berjalan ke arahku. Ada sisa pasir halus terbawa di lipatan baju dan sepatunya, membentuk sedikit kabut ketika mulai berjatuhan saat ia berjalan mendekatiku. Aku sudah tahu siapa orang itu.

Ia membuka kain penutup wajahnya, tetapi membiarkan surbannya. Ia berkumis dan berjanggut tebal, wajahnya merona warna tembaga karena terbakar sinar matahari dengan kerut-kerut di dekat mata seperti sungai kehilangan air. Aku tak kuat untuk tidak menggoda orang itu demi melihat tampilannya menumbuhkan semua rambut yang bisa tumbuh di wajah.

“Anda perawi dan ahli tafsir kitab?” tanyaku, bahkan sebelum ia duduk.

“Dan saya yakin Anda peneliti kesetaraan gender?” ia terpancing untuk balik menggodaku yang seolah sibuk dengan gawai dan segala pencitraan kemandirian.

Mungkin ia menyungging senyum, tetapi rambut di sekitar mulut dan dagunya itu menutupinya, sementara senyumku seperti air di gurun, belum sempat terlihat sudah menguap ke udara. Ia menarik kursi, duduk di sebelahku, lalu menatapku. Tepatnya kami saling menatap. Lebih lama dari biasanya. Orang itu Ivan Kalamati. Oh, aku jadi ingat kembali kenapa aku jatuh cinta padanya.

“Aku rindu kau,” katanya sambil meraih tanganku ke genggamannya. Di balik baju longgarnya, aku melihat ia mengenakan baju berwarna hitam kusam seperti baju para penyelam, tapi bukan yang terlalu ketat, tidak juga kedodoran, melainkan tepat memeluk seluruh tubuhnya dengan baik dan nyaman. Aku mengenali baju itu seperti aku mengenali tiap jengkal badan Ivan. Aku membuatkan baju itu. Khusus untuknya. Lima tahun yang lalu.

Baca juga  Tiket ke Tangier

Kami melanjutkan saling tatap, kemudian menghela napas. Seolah sebenarnya kami tak perlu lagi saling bertegur sapa. Semua sudah terjawab. Tapi tak urung kami bicara juga akhirnya.

“Jadi, baju itu berguna?” tanyaku.

Ivan mengangguk.

“Kenapa kau mengenakannya sekarang?” tanyaku lagi.

Pemilik warung kopi datang membawa pesanan Ivan. Setelah Ivan berucap terima kasih, ia menanyakan masakan ikan sirip biru kepada pemilik warung.

“Baju pelindungmu bekerja baik,” katanya sambil menghirup wangi kopi. Ia belum meminumnya. “Hanya perlu sedikit aku otak-atik. Tapi memang perpindahan waktu bukan untuk manusia, setidaknya belum ada manusia biasa yang mampu mengarungi waktu bolak-balik menunggang cahaya.”

“Kau jadi ahli tafsir kitab betulan?” tanyaku kagum. Bukan kagum pada penjelasannya, melainkan kagum karena Ivan menggunakan istilah “sedikit aku otak-atik” untuk pekerjaannya dan “manusia biasa” untuk dirinya. Biasanya ia akan mengatakan “penyempurnaan pekerjaan yang tak terpikirkan oleh orang lain” dan “Ivan si Hebat”.

“Madu, aku menyeberangi lautan waktu ke depan dan kembali lagi demi….”

“Memuaskan dirimu,” aku potong kalimatnya supaya mulut besar Ivan berhenti menggadang-gadang romantismenya.

Tak ada obat untuk mulut besarnya, kecuali ada orang yang bisa membuatnya tutup mulut. Karena itu pula, tak lama setelah kejadian runtuhnya gedung penelitian tempat Ivan bekerja, berita ilmuwan penyempurna mesin waktu terkubur bersama temuannya segera menghiasi media. Dari kajian umum sampai ke berita bahwa itulah azab ilmuwan yang mencuri ilmu dari jin, dimurkai Tuhan karena melintasi waktu yang hanya menjadi hak pribadi nabi dan tunggangannya itu yang terbuat dari cahaya.

“Setidaknya untuk beberapa bulan, berita cukup ramai dan tak terlalu monoton bukan?” katanya sambil mulai menghirup kopinya.

Ia menanyakan dan meminta ijin pemilik warung sebelum menghunus rokoknya dan menyodorkan bungkus rokoknya ke arahku. Pemilik warung menyalakan pengisap asap.

“Insaf?” tanyanya karena aku tak segera mengambil rokok.

“Di masa depan, orang masih mengisap ini?”

Ivan tidak menjawab. Ia menjentikkan abu rokok yang hinggap di rambut dan selendangku yang kusampirkan begitu saja di pundak.

“Maaf,” katanya demi melihat ceceran bara sempat melubangi selendangku. Ia pindah tempat duduk sehingga pengisap asap akan menyedot asap dan partikel rokoknya ke belakang.

“Sebelum kau terpecah dalam dimensi, kau sudah akan mati karena rokokmu, Ivan,” kataku sambil mengambil rokok dan mulai menyalakannya.

“Berapa jauh kau melintasi waktu?” tanyaku lagi.

“Seperlunya,” kata Ivan, sambil nyengir.

Ivan Kalamati bukanlah penemu mesin pelintas waktu. Sejak dulu mesin itu sudah ada, tersimpan sebagai “benda rahasia” di ruang bawah tanah laboratorium Ivan, hanya tak ada yang mau menggunakannya. Sampai lima tahun yang lalu aku masih bekerja dengan Ivan. Dari hasil pembuktian kami, selama tubuh manusia tersusun seperti sekarang ini, kita tidak akan mampu mengarungi waktu. Jasad ini terlalu lamban, terlalu terikat pada ruang untuk bisa melintasi bolak-balik waktu. Dengan kata lain, seseorang yang pernah berjalan melintas waktu lambat laun akan lenyap tak berwujud karena tiap materi tubuhnya berada di waktu yang berbeda-beda.

Terakhir kali aku bekerja dengan Ivan, kami membuat purnarupa baju pelindung perjalanan waktu, itu pun tak terlalu berhasil, baju itu hanya bisa melindungi penggunanya untuk sekali saja perjalanan melintas waktu dan kembali lagi ke masa tempat ia berasal. Mungkin ia sedikit mengotak-atik baju itu.

“Kita tak punya banyak waktu,” bisik Ivan. Nadanya serius, tapi kerling matanya tak bisa menyembunyikan kejahilannya.

“Baiklah,” kataku. “Kenapa Sagadish?”

Ivan mencucukkan puntung rokoknya.

“Tak ada yang istimewa,” kata Ivan santai. “Kecuali bahwa setelah wabah ini, nanti ada sedikit bencana tambahan.”

“Sedikit?” tanyaku sambil menaikkan alis.

Ivan mengangkat bahu. “Umat ini hampir musnah. Wabah ini gelombang pertama. Nanti setelah wabah ini, akan ada komet memasuki galaksi ini, hanya sekejap, memang datang setiap satu miliar tahun sekali. Tapi membawa radiasi baru. Tak ada yang menyadari setelah semua terlalu terlambat. Pun dari orang-orang Sagadish, hanya seribu orang yang akan selamat.”

“Karena untai DNA tambahan yang tadinya kita pikir adalah potongan sisa-sisa evolusi saja yang tak ada gunanya macam usus buntu?” sergapku.

Baca juga  Suara-Suara di Telinga Karabaong

“Persis,” bisik Ivan. “Ternyata potongan DNA yang kita pikir tak berguna itu melindungi pemiliknya kerusakan karena radiasi itu.”

“Dan kau balik lagi ke lima tahun yang lalu untuk memberikan bekal kekebalan pada warga Sagadish supaya mereka selamat dari wabah yang sekarang untuk menghadapi komet pembawa kiamat itu? Obat dalam dosis besar, bisa diteteskan ke mulut atau melalui air minum? Kekebalan tambahan dari masa depan. Kau teteskan ke bak penampung air warga? Lalu kau balik lagi ke masa ini?”

Ivan mengangkat alisnya.

“Ah, Ivan, kau mabuk anggur macam apa lagi?” sergahku. Tak mungkin ia melintas waktu dengan membawa sesuatu dari masa depan itu, obat atau benda apa pun, karena pasti akan menghilang sepanjang perjalanan. Kecuali….”

Aku terbatuk, asap rokok seolah menjadi berat di tenggorokanku. Bangsat Ivan. Ia memang bangsat sejati. Ia pasti berjalan menembus waktu jauh ke depan, sejauh yang ia inginkan tanpa memikirkan keselamatannya, melainkan demi memuaskan keingintahuannya saja, lalu ia kembali dengan membungkus obat itu melintasi waktu dari masa depan ke masa lalu dengan baju pelindung waktu yang seharusnya ia pakai. Dan karena ia tahu ia tidak akan selamat, ia suka-suka kembali ke masa ini untuk menemuiku. Entah setelah ini. Kurasa pengaruh lompat-lompat waktu mulai menggerogoti badannya.

Ivan mengangguk. “Setidaknya obat itu sampai dengan selamat. Dan baju ini kupakai di luar mesin waktu untuk memperpanjang ketahanan jasadku supaya tidak cerai-berai di waktu kini sampai aku yakin bertemu denganmu.”

“Seperti yang kau katakan, kita tidak punya banyak waktu,” katanya. “Ayolah kita ke atas,” Ivan menarik tanganku.

Satu bulan aku tinggal di Sagadish bersama Ivan. Dan waktu Ivan sudah habis. Sebenarnya bukan waktu Ivan yang sudah habis, lebih tepat kekebalan jasad Ivan untuk tinggal di satu kurun waktu sudah habis. Ia akan tetap ada, tapi juga tak ada. Seluwes padang pasir yang riak permukaannya ditulis oleh arah angin, demikian juga Ivan. Ia akan mengalir bersama waktu, tapi tak bisa menempati ruang dengan sesungguhnya. Ivan bilang ia akan menjadi jin Sagadish saja, menikmati pasir yang bercerita. Begitu katanya ketika kami menikmati dinginnya subuh melihat ke hamparan pasir, di pinggir kota Sagadish.

Ia sudah memberikan segala yang ia ketahui untuk bekalku menghadapi satu kiamat ke kiamat berikutnya. Catatan tulisan cakar ayamnya dan data digital entah berapa banyak.

Ia memegang pipiku, tapi karena keberadaan Ivan sudah bergeser-geser dalam aliran waktu, telapak tangannya lebih terasa seperti embun yang dingin di pipiku. “Ah, Madu,” bisiknya. “Bumi dan umatnya sudah beribu kali dilanda seperti ini. Tak ada yang perlu ditakutkan, selalu ada jalan. Benda langit selalu berkunjung ke bumi, tanah bumi yang amblas atau naik sudah terjadi semenjak bumi terbentuk. Lebih baik kau berhati-hati pada orang lain,” suaranya sayup terdengar, seolah aku mendengarkan orang berbicara dari sambungan telepon dengan sinyal yang buruk.

Ivan berjongkok, meraup segenggam pasir dan menjatuhkannya lewat sela jemarinya ke telapak tanganku di bawah tangannya. Ia tidak menjatuhkan pasir itu dengan sengaja sebenarnya, tetapi karena ia mulai tidak bisa ajeg di suatu ruang di suatu waktu, pasir itu seolah jatuh dari tangannya. Sosok Ivan pun mulai menghilang, membaur, seolah aku melihat fatamorgana.

Sepersekian detik setelah itu, Ivan sudah menyatu dengan waktu. Meninggalkan ruang. Baju, surban, dan kain penutup wajahnya teronggok di pasir di sebelahku.

Seperti angin yang bertiup perlahan, aku merasakan dingin sejenak di bibirku. Itu Ivan. Ivanku. ***

Dinar Rahayu lahir di Bandung, 9 Oktober 1971. Menulis novel Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch, kumpulan cerpen Lacrimosa, dan kumpulan cerpen dwibahasa Igdrasil. Ia pernah mengikuti beberapa festival, seperti Winternachten dan Borobudur Writers and Cultural Festival.

Average rating 3 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: