Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Triman Laksana

Setelah Senja Itu

5
(1)

BARU saja kakinya memasuki ruang tamu, Palgunadi terkejut mendengar suara orang sedang bernyanyi, dari kamar anaknya. Palgunadi coba untuk mengintip, dari celah pintu kamar yang terbuka sedikit itu.

…Ambilkan bulan, Bu

Ambilkan bulan, Bu

Yang selalu bersinar di langit…

Itu suara Radar. Tetapi, kenapa tiba-tiba sore ini dia menyanyikan lagu itu. Lagu karyanya AT Mahmud. Lagu yang sering Palgunadi nyanyikan ketika dia masih kecil, menjelang tidur, selepas mendongeng untuknya. Ada apa?

Ada rasa penasaran di hati Palgunadi. Kakinya terus melangkah mencari istrinya. Ketemu di dapur, sedang memasak.

“Dien, aku tadi mendengar Radar nyanyi di kamarnya.”

“Mas, kamu itu lho, pulang kantor tidak salam, malah aneh-aneh.”

“Memang aneh, Dien.”

“Aneh yang mana? Ada anak menyanyi kok dibilang aneh.”

“Iya, kalau yang dinyanyikan itu lagu kekinian tidak aneh. Tetapi, ini lagu yang sering aku nyanyikan ketika masih kecil. Lagu ‘Ambilkan bulan, Bu’. Apa itu tidak aneh?”

“Haha… kamu itu, Mas!”

“Tadi aku mengintip, Radar menyanyikannya dengan sepenuh hati, sambil berdiri, memandangi foto keluarga besar kita, yang ada di kamarnya…”

“Mungkin saja, dia sedang kangen dengan istri dan kedua anaknya, yang belum bisa pulang dari Balikpapan. Sudah setahun, karena pandemi ini. Bukankah lagu itu juga sering dinyanyikan Radar untuk Alisha dan Aurora, anaknya itu?”

Palgunadi terpaksa mengalah. Meski hatinya tetap diliputi segala pertanyaan.

Sampai pada suatu hari, ketika keluarga besar Palgunadi tengah berkumpul.

“Pak, sore ini aku akan pergi. Untuk mengambil bulan nanti malam, akan kuberikan pada Alisha dan Aurora. Bukan hanya sekedar nyanyian, seperti yang selalu Bapak nyanyikan padaku, ketika masih kecil. Tetapi bulan yang nyata. untuk menerangi jiwa mereka,” kata Radar dengan penuh keyakinan.

Baca juga  Perempuan yang Menikahi Hujan

Palgunadi kaget.

“Haha… kamu itu lucu, anakku!”

Dan semua orang yang ada di ruang makan itu tertawa.

“Ini tidak lucu, Pak. Ini serius. Aku akan mengambil bulan itu.” Radar memandang semua anggota keluarga. Dengan wajah yang begitu serius.

“Maksudku…”

“Aku nglantur? Bulan itu nyata, dan ada. Apapun yang terjadi, aku akan mengambil bulan itu.” Begitu yakinnya ucapan Radar.

Palgunadi hanya terdiam. Semuanya diam. Tidak ada yang berkata-kata. Dalam benak Palgunadi hanya ada kata: Radar lagi stres. Juga, usahanya lagi mati suri. Membuat hati dan pikirannya terkoyak. Mempunyai pikiran yang aneh-aneh.

Apalagi, pola pikirannya Radar kadang sering meloncat jauh. Tidak seperti orang kebanyakan. Ketika kuliah, dia memilih keluar, padahal sudah memasuki semester enam.

“Bagiku, ijazah itu tidak penting. Ilmulah yang paling penting,” katanya saat itu dengan berapi-api.

Palgunadi terkejut saat itu. Tidak tahu jalan pikiran anaknya. Dan sempat berdebat. Tetapi, Radar tetap memilih dengan jalannya sendiri. Untuk menekuni dunia usahanya. Tanpa ijazah. Meski dengan tersendat-sendat, belum dikatakan sukses. Hingga menikah dan mempunyai dua anak.

Palgunadi, beserta keluarga besarnya, sore itu dengan segala pikiran yang campur aduk, tidak mengerti jalan pikirannya, rela melepas Radar.

Air mata tertumpah, tak bisa dibendung lagi.

“Aku pergi dulu untuk mengambil bulan itu, Pak, Bu, Mbak, Dik,” kata Radar, sambil melangkah dengan mantap, meninggalkan keluarga besarnya itu.

Hanya cahaya matahari senja yang menyinari sosok tubuh Radar, masih terlihat. Lama-lama, sosok tubuh Radar yang hanya berjalan kaki itu, hilang ditelan terbatasnya pandangan mata. Jalan panjang akan ditempuhnya, yang bakal tidak ada ujungnya.

Hari terus berganti, tetap tidak ada kabar tentang Radar. Hanya, setiap malam, dari kamar Radar, terdengar suara lirih orang bernyanyi.

Baca juga  Usang Telah Usai

…Ambilkan bulan, Bu

Untuk menerangi tidurku yang lelap

Di malam gelap…

Setiap kali Palgunadi membuka kamar itu, tidak ada siapapun. Hanya kamar kosong. Masih tertata rapi. Hingga sampai seratus hari, dari kepergian Radar. Malam itu, Palgunadi sedang berkumpul dengan keluarga besarnya. Marva, cucu tertua Palgunadi, sedang asyik memandang bulan yang tengah purnama, dari jendela yang terbuka di ruangan itu.

“Bulannya hilang. Bulannya hilang…!” teriak Marva begitu keras.

Palgunadi dan keluarga besarnya, berlarian keluar rumah.

Semua kaget. Memandang ke atas. Bulan sudah tidak ada di langit. Langit menjadi gelap. Hanya menyisakan bintang-bintang. Dan angin malam yang berembus. Dingin.

Berhari-hari. Berbulan-bulan. Bulan tidak pernah muncul lagi. Dunia menjadi gelap dan senyap bila malam hari.

Setiap hari Palgunadi dan keluarga besarnya, terus menunggu Radar membawa bulan pulang. Tetapi, tetap tidak pernah kembali ke rumah. Radar hilang bersama bulan. ***

– Padhepokan djagat djawa, magelang 3182021.

(Untuk 100 harinya, anakku Cakrawala Weda Laksana, 22 Juni-30 September 2021)

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: