Cerpen, F Ilham Satrio, Media Indonesia

Aib dan Babi

4.3
(3)

Cerpen F Ilham Satrio (Media Indonesia, 26 September 2021)

DENGAN kepala pengar Gusur menepi di kedai. Ia meleleh di kursi seketika punggungnya terempas. Tidak hujan padahal, tetapi ia kuyu dan layu. Sedang deru kendaraan, terik mentari yang membakar, seperti mengisap sekaligus memuntahkan kembali lalu-lalang dan keramaian di luar kedai.

Ketimbang posnya di seberang perempatan, kedai tempat Gusur kini mengaso suasananya agak tenang. Pelayan menghampirinya dan menyapa, meletakkan plakat menu di meja. Gusur memejamkan mata. Kedua lengannya tak lagi mampu dijadikan tumpuan kepalanya yang riuh. Secangkir kopi kemudian mendarat di meja. Kental, diseduh dengan air mendidih, mengepul harum. Kepalanya sendiri masih saja mengaduk, atau malah sebaliknya, hal-hal di dalam kepalanya mengaduk-aduk kepala Gusur. Otaknya berbuih.

Kafein membuat bicaranya cepat plus tangkas berpikir. Walau cuma seolah-olah. “Yang penting aku gerak,” pikirnya. Bayangan istri dan anak saling susup di benak. Sudah sepuluh kali nama anak Gusur disebut-sebut dengan suara teramat pelan. Seolah hendak mengabari semut yang ditemui Gusur hari itu bahwa Yusuf, anak lelaki semata wayangnya, adalah benar biang dari segala keruwetan selama ini. Ia tergoda mengganti nama belakang anaknya menjadi Yusuf Astagfirullah agar si anak waskita senantiasa, terbukakan pintu ampun yang lapang baginya.

Banyak hal terjadi di luar perkiraan. Belakangan kerja otaknya seperti gardan truk Fuso yang tengah susah payah mendaki bukit terjal. Penghasilan Gusur sebenarnya cukup. Cukup untuk dapur, yakni apa yang menjadi tanggung jawab istrinya; cukup untuk urusan Yusuf, dan masih tersisa untuk membeli pulsa atau paket internet.

Namun, ada semacam perkara, sebagaimana yang Gusur cemaskan, datang dari anak mereka sendiri. Celana dalam Yusuf masih dibelikan orang tuanya, cuma lagu lagaknya kerap meminta lebih. Gusur dan istrinya mencari lebih dari sekadar gaji untuk Yusuf. Bu Gusur berdagang kue dan menyambi bandar arisan untuk persenan yang tak seberapa sebagai bendahara.

Namun, Gusur tak ingin tenggelam di hiruk pikuk kepalanya. Ia emoh mendadak pikun, terlebih jatuh sakit lantaran banyak pikiran. Berada dan bekerja di lingkungan orang tua, bahkan tak jarang terlalu tua untuk bekerja, membuat Gusur mawas akan umur. Ia sudah menggotong hampir selusin keranda kawan-kawannya gara-gara segelintir sebab yang tak jelas. Jarang ada pria seumuran Gusur jatuh pikun, tapi kebejatan Yusuf memang tak mesti melihat umur bapak dan emaknya. Seolah, sang anak mengingatkannya bahwa memang ada penyakit akibat pikiran, yakni jatuh gila.

Giliran kopi hitam Gusur yang menggelesor masuk kerongkongan, tergelincir dan beriak di perut tambunnya. “Rajin-rajinlah kau keliling, Sur!” pekik atasannya, menyuruh Gusur berlari keliling lapangan saban hari. “Sudah dapat jatah, masih saja ribut, huh!” pikir Gusur, menimpali ingatannya sendiri. Ingatan yang kini berlarian dari masa lalu ke masa kini. “Kamu banyak dosa, Pak!” maki istrinya, tiap kali mendapati Gusur pulang larut dengan alasan tak jelas. “Hus! Pergi sana, pergi!” Namun, suara tadi terdengar jelas oleh telinga orang-orang di kedai. Kesal mulai menjalari rahangnya, Gusur balas menatap orang-orang yang keheranan akibat suara yang tiba-tiba muncul dari mulutnya itu.

Baca juga  Yang Sepia, Pernah Sepia

.

YUSUF adalah bukti kegagalan ras manusia dalam mengemban kekhalifahan di bumi. Setidaknya, jika ia memang manusia, ya seperti itulah rujukannya. Sekali ia gagal menyetubuhi dua anak tetangga, dan tak jarang kedapatan membawa kabur anak orang: perempuan tanggung belum lagi tamat SMA, yang disembunyikannya di kebun singkong. Hal belakangan itu mencuatkan nama Yusuf sebagai bajingan kualitas pol. Karena yang dibawanya kabur adalah anak lurah, berita itu pun tersebar ke seantero desa. Ini tak dihitung kenakalan remaja lainnya, juga tindakan-tindakan kriminal yang tak dibocorkan ke kuping publik.

“Pak, anak kita itu, apa iya lahir diiringi lolong anjing? Aku, kok, gak begitu ingat,” tanya bu Gusur.

“Bukan begitu, Bu. Dia memang harus didoakan. Dia anak kita,” balas Gusur.

“Dia keturunanmu, Pak.”

“Hus! Dia, kan, lahir dari perutmu juga, toh.”

Bu Gusur bisa saja menyesali hidupnya bersama sang suami. Terang ia menyesal menggelontorkan Yusuf ke bumi. Pasti dikata orang-tua macam-apa-sebenarnya yang memproduksi makhluk seperti Yusuf. Mereka bosan dengan bibir sumir tetangga kanan-kiri; dengan segala apa yang harus dimulai dan disudahi berikut rumah yang terus berpindah, antara kontrakan satu dan kontrakan lainnya, delik mata tetangga dan gosip tetangga kanan-kiri yang merambati dinding kontrakan mereka.

Boleh jadi keduanya membayangkan masa tua yang tenteram. Uang pensiun sudah lebih dari cukup, dan itu adalah apa yang dinanti semenjak ia menikah dengan Pak Gusur. Ia tak mau terus-menerus ditinggal sang suami berdinas. Bu Gusur tahu, ia mampu menyayangi sekoyak apa pun rumah tangganya kini. Tak jarang Bu Gusur mengingatkan sang suami dengan keras, “Karena aku tak mau melihatmu seperti mereka, Pak!” pintanya suatu kali.

“Saya ingin mentraktir sampean secangkir kopi, makanya kita bertemu di sini,” senyum Gusur merekah.

“Tapi, Pak, bukankah lebih baik kita di kantor saja?” balas orang di hadapannya. Suaranya mengendap dan hati-hati.

“Lha, apa saya kurang jelas? Saya ingin traktir sampean!”

“Ya… t—tt—tapi, baiklah jika itu yang Bapak mau.”

“Ha ha ha. Maaf. Mari rileks. Nikmati saja kopinya. Ruangan ini lebih baik daripada keributan jalanan di seberang, bukan? Ha ha ha….”

Tawa itu seperti tawa raksasa. Padahal, Gusur bukan sedang membandingkan suasana kedai dengan keramaian jalan raya. Instingnya seperti mengatakan jalanan di luar sudah tak aman. Ia dikuntit sesuatu yang belum jelas apa dan siapa. Ia dikejar keresahan, kecemasan? Yusuf, Yusuf, Yusuf, Astagfirullah…. Sudah dua bulan Yusuf berkeliaran di keremangan dan tak kunjung pulang. Normalnya, anak seusia Yusuf sudah menjadi pegawai seperti apa yang orang tuanya inginkan; sudah menikah dan mewariskan cucu; mengubah status di KTP menjadi nikah; jadi orang biasa tanpa perlu berbuat onar. Namun, apa memang betul ada orang tua yang dikhususkan melahirkan aib?

Baca juga  Episode dalam Sebuah Angkutan Kota

.

ORANG yang ditemui Gusur kali ini bukan kroco dengan kemampuan tawar-menawar rendahan. Gusur teringat atasannya, jika dalam satu tahun tak ada kenaikan jatah buatnya, jabatan Gusur-lah taruhannya. Padahal, ia sudah tak memikirkan pangkat idaman itu. Ia pikir, sampingannya sebagai negosiator kelas gurem sekalipun sudah cukup untuk hidup. Hanya kadang, jika ia naik pangkat, ia memang berniat meninggalkan sampingannya ini yang malah memakan waktu dan pikiran yang serba tak sedikit.

Hal demikian adalah tugas ekstra. “Saya tak akan mengontak sampean kalau bukan atasan yang menyuruh.” Begitu tiap kali ia buka pembicaraan. Hanya karena ada mandatlah Gusur turun. Tak sedikit kehebohan saban hari di media massa menyangkut tempatnya mencari makan. Rasanya, ia tak perlu menjadi orang kesekian yang digelandang ke kantor sendiri untuk diinterogasi. Ia jeri melihat banyak temannya yang terkurung menjadi babi. Cukuplah perut buncitnya mempertegas status kemanusiaannya.

Gusur boleh berangkat dengan rencana matang. Sayang kecemasannya kali ini menjadi penghalang gardan otaknya berpikir. Ia telah menawarkan beberapa pasal, contoh kasus, jasa keamanan selama proyek berlangsung sebagai tanda keseriusannya. Namun, orang di hadapannya masih berkukuh dengan jumlah angka yang diingini. Ia keras bagai tembok, tetapi juga licin bagai belut. Semakin Gusur mencari jalan, semakin runyam rencana yang ia paparkan.

Di luar kedai petang merembang. Pembicaraan dua orang suruhan itu masih saja alot walau berlangsung dengan nada rendah sekalipun. Entah kenapa Gusur tak bisa menghubungi atasannya untuk meminta saran. Ponselnya bergeming, bahkan pesan singkat pun tak kunjung berbalas. Gusur mendadak harus memberi kepastian, mengendurkan beberapa kesepakatan.

“Apa Bapak sudah memberi kabar?” tanya orang di hadapan Gusur dengan penekanan pada kata ‘bapak’.

“Lagi sibuk. Kita selesaikan sekarang. Yang penting, proyek ini jadi, toh?”

“Apa Pak Gusur yakin? Ini bukan sembarang proyek, lho, Pak.”

“Sampean merendahkan saya? Sampean anggap saya kremi, heh?”

“Cuma memastikan saja. Soalnya, saya juga suruhan, kan, Pak.”

“Ya sudah. Gak usah berlama-lama. Saya juga sudah gerah di sini.”

“Apa Bapak mau pesan minum lagi? Biar kali ini saya yang pesankan.”

Di sela turun minum, benak Gusur kiranya bisa istirahat sejenak, tapi nyatanya tidak. Ia merasa kalah bernegosiasi walau belum disepakati yang bersangkutan. Ia jengah atasannya sulit dihubungi di saat seharusnya memberi arahan dan mandat. Apa yang akan ditanggung jika harga kesepakatan tak sesuai dengan rencana? Maka omongan atasannya benar. Sebelum atasannya pensiun atau dipindahtugaskan, ia tak bakal diganjar pangkat, atau, ini yang diam-diam diingini Gusur, atasannya masuk bui dan ikut menjadi babi. Ya; babi.

“Babi!” Gusur mengepalkan bogem ke udara.

“Kayaknya kedai ini tak punya babi, Pak,” balas orang di hadapan Gusur, mimiknya keheranan.

“Saya cari sendiri babi itu sehabis pulang.”

“Jadi, Bapak memang sudah tahu risikonya, ya, Pak?”

“Itu sudah rahasia umum. Rahasia, tapi umum, ngerti?”

Baca juga  Sekar

“Memang berat, ya, Pak. Pikir-pikir, mending kayak saya, sekalipun gagal, ya, jadi cacing. Seenggaknya mata orang gak bisa lihat saya kecuali harus gali tanah dahulu.”

“Lha, itu, kan, sampean. Kalau gak mau jadi cacing, mari kita bereskan hari ini juga.”

Perut buncit Gusur, yang sedari siang cuma diisi air dan udara, sejatinya sudah meronta-ronta. Namun, ini proyek besar. Benar apa kata orang itu, tak bisa sembarangan. Sementara di dalam pengunjung menyemut saling baku wicara meski ada juga yang cuma tengok kanan-kiri sambil mengembuskan asap. Seolah semuanya berlomba-lomba dalam kebajikan.

Gusur pun tiba di ujung percakapan. Tensi yang tadinya alot mulai mengendur dan meluruh. Kesepakatan telah dibuat.

Gusur semringah. “Pas!” pikirnya. Ia elus amplop tebal pemberian orang di hadapannya. Benaknya menari-nari bungah. Wajahnya tak lagi terbebani, gerak tubuh keduanya menjadi ringan. Gusur membayangkan istrinya, rumah kontrakannya, harapan, cita-cita keluarga kecilnya itu. Ia membayangkan Yusuf insaf, belajar agama, dan menjadi pria saleh. Ia membayangkan atasannya menjadi malaikat, ia membayangkan senyum berseri istrinya menyambutnya pulang, dan ia membayangkan masa pensiun yang indah, tenteram, dan bahagia.

Brak!

Selusin orang berderap masuk kedai. Orang di hadapan Gusur tersungkur, lengannya terlipat ke belakang, seseorang langsung memborgolnya. Meja-kursi kedai bertumbuk, terguling di lantai begitu lekas akibat diumpan lambung belasan pasang kaki yang merangsek sambil berteriak-teriak. Namun, tunggu dulu, Gusur harus membereskan gambaran di benaknya buat merespons yang terjadi barusan. Sial, belum sempat ia bereskan semua, mereka menghajar punggung Gusur. Ia tertelungkup di meja. Lengannya terborgol. Angannya berceceran.

.

DI hadapan teralis besi, Bu Gusur tak lagi mampu menangis. Ia semakin khusyuk mengaji dan mengaji. Buku Yasin di genggamannya dirambati getaran dari jemari Bu Gusur. Ia mafhum, ia hanya noktah di tengah jagat. Memang, selang waktu bertahun-tahun di belakang, jika ia ingat-ingat, malah semakin melongsorkan perasaannya saja akan hari esok yang niscaya. Namun, sungguh, hati wanita paruh baya itu alangkah tegar dan kuat.

Giliran di balik teralis besi Gusur mendengus-dengus. Perut buncitnya menggelayut menyentuh tanah, sementara taring dan lidahnya menjuntai dari mulutnya yang terus-menerus meneteskan likat liur. Kaki dan tangannya menciut, dan di tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu hitam seperti sikat kamar mandi.

Ia dan Yusuf, juga selusin babi lain, berbagi kandang beralas tanah dengan sedikit jerami di sudut-sudut kandang. Mata mereka seperti menangis tak henti-henti. Tangis itu, atau suara ‘nguik-nguik-nguik’ itu, semakin menjadi-jadi ketika Bu Gusur mengunjungi mereka, membawakan wortel dan kembang kol, serta doa yang tak putus dilantunkan. ***

F Ilham Satrio, lahir di Cimahi, 1989. Kadang-kadang menulis di blognya: Sanstempsmort.wordpress.com

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: