Cerpen, Pontianak Post, Sutriyadi

Ratu Rawit

4.2
(5)

Cerpen Sutriyadi (Pontianak Post, 26 September 2021)

MEMANG benar, hanya kain kafan yang dapat membungkam mulut manusia. Termasuk mulut mertua perempuanku. Bagai sarang tawon, setiap ucapannya mengandung sengat yang membuat bengkak telinga berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun.

Tongkat yang terbuat dari kayu bengkirai itu selalu mengantar ke mana ia pergi. Wajah terutama bagian lehernya keriput. Langkahnya terbata-bata, ia sering mondar-mandir dalam rumah. Ke latar, ke ruang tamu, dan ke dapur walau hanya sekadar membuka tudung saji dan melihat makanan penuh selidik. Tak terhitung berapa kali ia lakukan di setiap harinya.

Barangkali ia ingin pergi jauh, namun kakinya terasa rapuh. Meski lansia, pandangannya cukup baik melihat sesuatu yang tidak sejalan dengan instingnya. Misalnya, hal-hal remeh yang sering dikomentari seperti sofa berdebu dan remote tv yang tidak berada pada tempatnya.

Hidungnya tajam terhadap bau apapun. Sudah berapa kali si Ratu Rawit itu menegur langsung hanya soal piring bau sabun, termasuk bau badanku, serta aroma parfum yang dianggapnya tidak pantas digunakan oleh seorang perempuan. Lidahnya sangat lincah dan cerewet pada setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Telinganya peka sekali dengan bunyi-bunyian. Di rumah ini, haram berisik.

Aku terlahir dari sebuah keluarga yang tidak terlalu peduli dengan pendidikan, kebersihan, makanan, apalagi kesehatan. Hidup hanya sekadar hidup, dijalani apa adanya. Tidak pernah menuntut semuanya harus steril dan perfek.

Setelah menikah dengan Mas Dahlan, dua puluh delapan tahun yang lalu dan tinggal di rumah ini, aku harus menaikkan level hidup dalam waktu yang begitu singkat. Tentu melelahkan, sebab saban hari dikuliti habis-habisan oleh ratu dalam rumah ini. Dulu makan langsung comot, kini harus cuci tangan dan pakai sendok. Terlebih kondisi sampar yang merongrong ke seluruh pelosok seperti saat ini, semuanya harus serba bersih dan sesuai protokol kesehatan. Aku menyadari hidup bersih adalah kunci utama dari kesehatan.

Baca juga  Dua Perempuan

Kami tinggal berempat, aku, suamiku Mas Dahlan, putri cantik yang baru saja lahir dua bulan lalu, dan tentunya si Ratu Rawit. Sengaja kuberi nama Ratu Rawit, sebab setiap perkataannya mengandung zat capsaicin. Jadi, meski empat orang, rumah ini seolah berisi empat ribu mulut.

Di setiap sudut ruangan dilengkapi ac bermerk luar negeri. Alat pendingin itu belum mampu meredam panas dalam dada. Aku tidak bisa membayangkan jika ditinggal Mas Dahlan hingga berbulan-bulan. Bisa mati berdiri. Kalau bukan karena Mas Dahlan untuk apa aku melumur diri hidup dalam rumah megah penuh rawit ini.

Ya, Mas Dahlan adalah anak tunggal, itu sebabnya kami tidak punya alasan kuat untuk angkat kaki dari rumah ini. Aku tahu, Mas Dahlan mampu hanya sekadar membeli rumah baru, namun hal itu tidak mungkin dilakukan sebab rumah sebesar ini siapa lagi yang akan menempatinya selain kami.

Mas Dahlan pernah bercerita, bahwa dulu ia menikah karena dipaksa oleh orang tua. Ia harus menikah karena ibunya ingin segera punya cucu. Setelah menikah Tuhan menguji kami berdua. Sudah tak terhitung jumlahnya kami masuk dan keluar rumah sakit serta gonta-ganti dokter untuk memeriksa kesehatan reproduksi kami. Kami benar-benar berjuang untuk mencapai garis dua.

***

Aku harus siap dan menerima konsekuensi jika pekerjaanku tidak cocok dengan lidah mertua. Gejolak batin semacam diasah setiap hari. Mungkin jika ibarat anak panah, kegeramanku sudah meruncing, tajam dan siap dilepaskan. Rahasia, unek-unek dan kejengkelan kupendam dan kuredakan dengan pengharapan agar pernikahan sekali saja seumur hidup.

Pertama kali aku mendapat sindiran pedas ketika menyapu ruang tamu. Kurang bersih dan cara menyapunya salah sehingga mengakibatkan debu menyebar dan berterbangan. Di setiap pojok dan di bawah kursi luput dari sapuan, katanya. Ia menggerutu lalu menyapu ulang ketika beberapa menit berselang. Saat itu umur pernikahanku dengan Mas Dahlan baru tiga hari. Sebagai orang baru tentu perasaanku meledak melihat sikap mertuaku begitu.

Baca juga  Kakek dan Nenek Misterius

Sejak itulah, makin lama makin jadi. Si ratu rawit tidak punya batas malu kepadaku. Ucapannya terjun bebas sederas air terjun Nokan Nayan. Sebagai mantu, aku tidak ingin dicap perempuan malas. Jalan satu-satunya agar aku betah di rumah ini adalah ketika aku dapat mengunci mulutnya. Tentu aku harus cari muka dan pandai-pandai meluluhkan hati penguasa rumah ini.

Di hari yang sama aku menyiapkan makan siang. Semua menu telah disimpan di atas meja makan dengan rapi. Bukan pujian yang didapat, tapi kecapan yang tak mengenakkan yang harus kutelan. Katanya posisi nasi jangan diletakkan di tepi, harus di tengah karena nasi putih itu akan jadi menu utama. Jika disimpan di samping atau tepi, nanti akan menyulitkan salah satu dari kita untuk mengambilnya.

Semua kejadian itu kurekam dalam kepala. Tak satu pun yang luput dari ingatanku termasuk ketika obrolan lepas bebas di tengah-tengah acara silaturahmi tahunan keluarga.

“Saya nyesel, Dik!” Ia memulai pembicaraan kepada para tamu.

“Dulu pernah paksa Dahlan menikah muda. Niatnya ingin lekas punya cucu. Eh! Ternyata cucunya tidak mau keluar. Pas punya cucu, sudah tidak sesuai dengan umur Dahlan.”

“Apalagi Dahlan sekarang sudah mulai tua dan sakit-sakitan. Siapa lagi yang akan memberinya makan.” Timpalnya kepada salah satu ponakannya.

Aku terpukul mendengar si Ratu Rawit itu bicara di depan banyak orang. Perasaanku hancur lebur. Hampir saja teh panas yang sedang kusuguhkan kepada tamu, kulemparkan ke wajahnya. Namun Mas Dahlan lebih dulu mengalihkan pembicaraan. Aku paham Mas Dahlan tidak ingin terjadi sesuatu pada kami berdua.

Kejadian itu merupakan penjajahan terbesar dan paling menyakitkan dalam sejarah hidupku. Bagaimana tidak, selama dua puluh delapan tahun aku selalu disindir karena tak kunjung punya anak. Setelah anak itu lahir, masih saja dapat siraman sambal rawit ke wajah di depan banyak orang. ***

Baca juga  Setandan Pisang untuk Nenek

Average rating 4.2 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: