Bagis Syarof, Kedaulatan Rakyat, Resensi

Guru dan Perubahan

0
()

Oleh Bagis Syarof (Kedaulatan Rakyat, 28 September 2021)

PEPATAH mengatakan, siapa/guru yang tidak mengikuti perkembangan zaman, maka dia akan tenggelam.

Begitu banyak cara baru dalam mengajar di sekolah. Harus senantiasa ada fleksibilitas dari guru untuk memperbaharui metode belajar mengajar agar anak didik merasa nyaman dalam belajar. Era baru digambarkan oleh penulis buku ini sebagai era teknologi, era modern. Berbagai informasi bisa diakses dengan sangat mudah dan begitu cepat, mulai dari informasi positif sampai yang negatif.

Teknologi tidak bisa kita hindari. Meski keras menolak, teknologi akan terus berkembang maju, semakin canggih. Orang yang meonolak adanya teknologi, termasuk guru, akan semakin tertinggal, sampai akhirnya hidup tidak berkemajuan.

Penulis buku ini mengatakan bahwa kita harus mulai menaggalkan pakaian lama yang sudah tidak layak pakai (hal 36). Sebenarnya kata ‘pakaian’ adalah majas dari metode pembelajaran. Kita sudah harus mengikuti perkembangan teknologi. Seperti penggunaan proyektor LCD sebagai media untuk mengajar, tentu lebih mudah dan waktunya lebih efisien.

Sistem pendidikan di Indonesia dari dulu sampai sekarang masih belum ada perubahan, adalah penyamarataan. Anak yang menempuh sekolah harus belajar ilmu sesuai kurikulum, yang mereka tidak minati semua. Saya menganalogikan pendidikan di Indonesia itu seperti pohon pisang, sedangkan siswanya ada kodok, kera, ikan, dan buaya. Kodok, ikan, dan buaya, akan terus-terusan merasa bodoh, karena pohon pisang bukan potensi atau minatnya.

Judul Buku : Survival Teacher
Penulis : Asrul Right
Penerbit : Noktah
Cetakan : Pertama, 2021
Tebal : 260 halaman
ISBN : 978-623-6175-14-9

Karena sistemnya masih seperti itu, dan susah mengubah sistem dalam negara kita, karena prosesnya lama, maka guru harus membuka pikirannya, bahwa tidak semua siswa mempunyai minat yang sama.

Baca juga  Deklarasi

Maka penting untuk menemukan minat siswanya dulu, kemudian guru bisa memetakkan, siswa mana yang minat terhadap mata pelajaran yang diampu dan tidak.

Jadi, bagi siswa yang memang tidak mempunyai minat terhadap mata pelajaran yang diampu oleh guru, jangan dimarahi, bahkan dilabeli bodoh.

Mempunyai minat yang berbeda, bukan hal yang aneh, melainkan wajar. Guru sebagai pendidik di sekolah harus menjadi suporter bagi anak yang mempunyai minat berbeda.

Menurut penulis buku ini, ada guru yang suka nyiyir terhadap anak didiknya yang berbeda minat. Hal tersebut ditakutkan menciutkan minat anak didik.

Menjadi guru, harus selalu update pengetahuan dengan membaca. Akan selalu timbul pikiran-pikiran baru dalam menjalankan profesinya sebagai guru. Sebaliknya, guru yang malas membaca, akan menimbulkan kebekuan pikiran, tidak ada ide-ide cemerlang dalam otaknya, maka banyak dari dirinya stagnan, termasuk cara mengajar. Malas membaca sama dengan malas berpikir (hal 58).

Buku ini direkomendasikan untuk dibaca tidak hanya guru, namun juga calon orang tua. Sebab, orang tua merupakan guru pertama bagi anaknya. ***

 

Bagis Syarof, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: