Kedaulatan Rakyat, Resensi, Wahid Kurniawan

Toleransi dalam Beragama

4
(1)

Oleh Wahid Kurniawan (Kedaulatan Rakyat, 28 September 2021)

KITA mungkin tahu, esensi agama Islam yang paling agung adalah tentang cinta, keindahan, dan perdamaian umat manusia.

Islam, di satu sisi, menghormati perbedaan baik terhadap ras, suku, bangsa, ideologi, maupun agama lain. Sementara di sisi lain, Islam menganjurkan para pemangkunya, yakni kaum Muslimin, untuk terus meningkatkan ketakwaan dan keimanan dengan beribadah secara tulus.

Di sinilah, kita jamak mendengar terkait hubungan kita sendiri terhadap Tuhan yang Esa (vertikal), dan terhadap makhluk sesama (horizontal) atau menjalin benang-benang sosial.

Namun, apa yang masih tampak dewasa ini? Pertanyaan inilah yang coba direnungkan oleh KH Husein Muhammad dalam buku teranyarnya ini.

Ia mengejawantahkan renungan dalam sekian esai keagamaan yang membahas isu-isu agama, umat, dan sosial yang terjadi sekitar kita. Misalnya, dalam salah satu babnya, ia pun melayangkan kritik terhadap beberapa praktik muslimin yang dengan dalih atas nama agama, tetapi sesungguhnya hanya mencerminkan keinginan kelompoknya saja.

Ia menjelaskan, dalam konteks tradisi budaya nusantara terkait perayaan Maulid Nabi, saat ada di antara kita yang dengan mudahnya melabeli orang atau kelompok lain sebagai mereka yang melenceng, bidah, atau bahkan kafir.

Judul Buku : Islam (Cinta, Keindahan, Pencerahan, dan Kemanusiaan)
Penulis : KH Husein Muhammad
Penerbit : IRCiSoD
Cetakan : Pertama, Agustus 2021
Tebal : 296 Halaman
ISBN : 978-623-6166-64-2

Ia sangat menyayangkan tindakan ini. Sebab, katanya, “Sungguh sangat naif jika ada orang yang membidahkannya (menganggapnya praktik keagamaan orang yang sesat) hanya semata-mata karena Nabi tidak menyelenggarakannya atau karena tradisi itu tidak ada pada masa Nabi. Ini adalah pandangan orang-orang yang amat sederhana dalam memahami agama. Mereka yang cerdas, terpelajar, dan memiliki pengetahuan kebudayaan niscaya akan memberikan apresiasi yang tinggi atas tradisi ini.” (Hal 93)

Baca juga  Sogok

Kendati kita pun boleh tidak sepakat terhadap KH Husein, tapi pandangannya dalam esai-esainya memang sayang untuk dilewatkan.

Ia pun dalam banyak esai mengulang-ulang betapa agama Islam adalah agama yang cinta damai dan berpikiran maju. Namun tidak banyak yang menyadari itu, sebab masih saja ada kelompok yang seolah mengagungkan masa-masa lampau dan berupaya untuk merekatkannya dengan segala aspek kehidupan di zaman ini. Padahal, menurutnya, alih-alih menunjukkan keemasan masa lalu, upaya tersebut justru menunjukkan stagnasi dalam perilaku beragama.

Tentu ini berbeda dengan makna agama Islam yang bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Sebagai umat beragama, kita memang perlu terbuka atas segala macam perubahan dan menerimanya asal hal tersebut tidak keluar dari koridor aturan yang ditetapkannya. Ini satu aspek beragama yang diingatkan olehnya, di samping banyak aspek lainnya.

Hal ini pula yang membuat esai-esai ini bak mata air yang menyegarkan. KH Husein memang mengkritik, tetapi tanpa tendensi kebencian. Ia hanya mengajak kita merenunginya, mengingatkan, dan mempersilakan untuk memilih setuju ataupun tidak. ***

Wahid Kurniawan, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia.

Average rating 4 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: