BB Soegiono, Cerpen, Koran Tempo

Operasi Babi Merah dan Dendam Pembunuhan

5
(2)

Cerpen BB Soegiono (Koran Tempo, 03 Oktober 2021)

SEBAGAI seorang blantik, aku tahu betul bagaimana sapi-sapi diperdagangkan di Pasar Selasaan dan Pasar Sabtoan [1]. H. Fauzan merupakan seorang jagal tersohor yang hanya membeli sapi-sapi ukuran besar dan sudah poel atau berganti gigi. Menurut orang pasar yang biasa memanggilnya Aba Fauzan, dia orang cerdik, pintar menawar, dan juga bisa mendesak blantik, sehingga sapi dagangan mereka yang ditawar dengan harga di bawah modalnya pun bisa didapatkan. Hal itu barangkali memang keahliannya, sebagai seorang jagal tersohor di Tanah Banger atau yang dikenal Probolinggo saat ini.

H. Fauzan memiliki sekitar sepuluh pekerja dengan latar belakang mantan narapidana. Orang-orang yang dipekerjakan itu, dia pilih berdasarkan riwayat kejahatan yang dilakukan sebelum masuk ke penjara. Semua pekerja di rumahnya adalah orang-orang dengan kasus pembunuhan yang bukan main-main, bahkan terbilang sangat sadis. Salah satunya Barso, pekerja paling tua yang 56 tahun lalu pernah melakukan kasus pembunuhan terhadap lima keluarga dalam semalam. Selain membunuh, berdasarkan pengakuannya sendiri di rumah kepala desa saat ditangkap, Barso juga memerkosa tiga gadis yang dibunuh dari lima keluarga itu. Sebelum akhirnya, mayat-mayat gadis itu dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam sebuah karung coklat, seperti ayah-ibu dan kakek-nenek mereka.

“Heran! Ji Fauzan sangat senang mempekerjakan penjahat,” kata perempuan kepada tukang becak yang mengantar membeli daging sapi untuk kebutuhan tujuh hari kematian saudaranya.

“Mungkin, itu cara Ji Fauzan membuat penjahat-penjahat bertobat, supaya tidak lagi membunuh orang.”

“Mungkin begitu,” perempuan itu membalas datar.

Di lingkungan rumah H. Fauzan, tinggal aku dan anak-istriku, juga Suminah dan Karyo. Suminah dan Karyo adalah kakak-adik yang mengalami gangguan kejiwaan. Suminah kini berusia 66 tahun, sedangkan Karyo berusia 63 tahun. Tubuh mereka sangat kurus. Kaki mereka bergelang besi rantai. Semenjak kematian kedua orang tuanya, mereka hidup hanya karena belas kasihan warga, termasuk H. Fauzan, yang setiap hari memberi makan dan minum.

Suminah dan Karyo sebagai dua orang yang mengalami gangguan jiwa, setiap terjadi penyembelihan sapi di rumah H. Fauzan, mereka berdua berteriak-teriak sekeras-kerasnya sambil menangis dan memanggil nama ayah dan ibunya. Napas sapi yang terpotong tenggorokannya selalu membuat mereka terbangun dan mengamuk. Batu-batu seringkali mereka lemparkan ke kaca-kaca jendela rumah tua mereka. Sekarang, rumah yang ditempati mereka tak satu pun memiliki jendela berisi kaca.

Sebetulnya, H. Fauzan sudah mengganti jadwal penyembelihan sapi-sapi dagangannya dari sore hari menjadi dini hari. Hal itu dilakukannya agar penyembelihan terjadi ketika Suminah dan Karyo tidur. Tetapi, justru tidak berhasil, mereka berdua tetap bangun dari tidurnya dan mengamuk ketika sapi-sapi mulai mengeluarkan dengusan keras saat disembelih.

Baca juga  Dongeng Pendek tentang Kota-Kota dalam Kepala

“Aku tidak tega melihat dua saudaraku itu, Kang. Mereka selalu menangis dan mengamuk ketika mendengar dengusan sapi yang disembelih. Mungkin, dengusan itu mengingatkan mereka pada dengusan kedua orang tuanya yang juga menjadi korban penyembelihan manusia. Memang sangatlah sulit bagi mereka melupakan semuanya! Bahkan, bukan tidak mungkin hal itu juga aku alami, seandainya 56 tahun lalu aku yang berada di posisi mereka, menyaksikan kedua orang tuaku disembelih dan dicincang-cincang seperti sapi di tempat penjagalan.”

“Sudah jangan diteruskan lagi, Ji! Omonganmu hanya mengingatkan kita dengan kejahatan-kejahatan yang terjadi pada masa lalu. Umurku kini sudah lebih 80 tahun, mungkin beberapa tahun lagi aku akan mati. Aku ingin hidup damai dengan sisa umur ini, tidak terbebankan dengan dosa-dosa.”

“Tetapi, kau yang melakukan semua dosa ini, Kang!”

“Aku hanya menjalankan perintah ayahmu dan juga aparat waktu itu. Ingat, Ji! Kekayaan yang kau miliki saat ini berasal dari pembunuhan 56 tahun lalu, yang disebut dengan ‘Operasi Babi Merah’.”

***

20 tahun lalu, Suminah mengandung anak Karyo. Mereka melakukan persetubuhan terlarang. Setelah kandungan Suminah genap sembilan bulan, pada hari Selasa dia melahirkan bayi laki-laki. Sayangnya, bayi itu tidak berumur panjang, darah yang membasahi seluruh tubuh, juga bau amis yang begitu menyengat, membuat Karyo membunuhnya. Bahkan, tidak hanya bayi itu, Karyo juga berusaha membunuh Suminah, beruntung warga mendengar adanya keributan, sehingga Suminah berhasil diselamatkan.

Karyo benar-benar tidak bisa melihat dan mencium bau darah. Pembunuhan yang pernah dilakukan kepada bayinya sendiri, sekarang dia lakukan kepada Barso. Darah sapi dan bau amis di tubuh Barso saat mengantar makan dan minum membuat Karyo marah dan berhasil menusukkan sebuah golok tajam tepat di atas pusarnya.

Orang-orang yang menggotong jasad Barso tidak ada yang pernah tahu dari mana Karyo mendapatkan golok yang digunakan membunuh itu. Setelah tujuh hari kasus pembunuhan yang dilakukan Karyo, satu per satu pekerja H. Fauzan ditemukan meninggal dengan kondisi tubuh masing-masing terpotong menjadi lima bagian. Empat mayat dengan dua puluh potongan tubuh ditemukan bertumpuk di atas sebuah rel kereta api, sedangkan tiga puluh potongan tubuh enam mayat lainnya ditemukan terbungkus plastik merah; digantung di pohon-pohon besar di Bukit Sempenan [2].

Berita pembunuhan itu dengan sangat cepat menyebar dan menjadi teror di masyarakat. Surat kabar dari kota-kota lain juga setiap hari memberitakan kasus pembunuhan tersebut. Hal itu membuat orang-orang menjadi sangat ketakutan. Kini, orang-orang tak lagi bisa berpikir tentang ‘angin gending’, tentang musim anggur maupun mangga, di kepala mereka hanya ada tubuh terpotong-potong dan darah yang berbau amis di mana-mana.

Baca juga  Ganja Putih dan Ceri Ungu untuk Kiai

“Setelah sekian lama mati, beberapa minggu ini Kali Banger kembali mengalir, tetapi bukan air melainkan darah,” seseorang berkata kepada istrinya.

“Aku mendengar setiap ada kabar pembunuhan. Dulu, saat masih kecil, di rumah ini, aku setiap malam juga selalu mendengar ketika ada kabar pembunuhan,” sahut istrinya.

***

Kasus pembunuhan para pekerja H. Fauzan telah setahun berlalu. Namun, surat kabar-surat kabar dari berbagai kota tidak pernah merasa selesai memberitakan kasus pembunuhan tersebut. Pihak kepolisian juga terus menerus menyelidiki dan berusaha mendapatkan bukti-bukti yang kuat untuk menangkap pembunuhnya. Meskipun, sampai sekarang pembunuhnya tidak ditemukan.

Pada malam Minggu, H. Fauzan sepulang dari pasar sapi mendatangi rumahku, sendirian. Tiga kali terdengar dia mengetuk pintu. Sebelum ketukan keempat, Sumarni, istriku, akhirnya membukakan pintu untuknya. Setelah dirinya pulang, Sumarni mengatakan kalau H. Fauzan mencariku. Kata Sumarni, H. Fauzan juga menanyakan kepadanya: Setelah puluhan tahun, masihkah suamimu menaruh dendam kepada keluargaku, Sum? Dan, Sumarni menjawab: Marto sudah tidak memiliki dendam kepada siapa pun, Ji. Kasian, sebagai adik bungsu yang telah kuperistri, lagi-lagi Sumarni harus berbohong untuk menutupi semua dendamku.

“Tina dan Tiyo, anak kita, tak pernah tahu dari mana asal-usul ayah dan ibunya. Mereka juga tak pernah tahu siapa kakek dan neneknya. Mereka hanya tahu kalau mereka memiliki ayah Marto dan memiliki ibu Sumarni.”

“Biarkan saja! Mungkin suatu saat nanti orang-orang akan memberi tahu mereka, siapa ayah dan ibunya, dan juga dari mana asal-usulnya. Tetapi, mungkin orang-orang juga tidak mau melakukan itu, karena mereka memiliki belas kasih kepada kita yang sudah sangat menderita.”

“Nasib kita begitu buruk, Mar!”

“Memang teramat buruk, Sum!”

“Lalu, bagaimana dengan nasib kedua anak kita, nanti?”

“Mereka akan mampu mengatasi nasib mereka sendiri.”

***

Malam hari tanggal ke-30, bunyi kentungan terdengar di mana-mana. Dari semua bunyi itu, di tengah persawahan aku melihat bulan gerhana di langit barat. Malam sangat gelap tanpa cahaya bulan, begitu juga pikiranku. Dan, sebagai orang yang lahir di wilayah Tapal Kuda, aku tahu betul tentang kepercayaan tradisional orang-orang dan bagaimana cara mereka di dalam menyikapi peristiwa alam yang terjadi, seperti ketika adanya bulan gerhana. Bunyi-bunyi kentungan akan terus terdengar dan orang-orang akan tetap diam di halaman rumah mereka sampai bulan benar-benar kembali bercahaya seperti biasanya.

Baca juga  Hikayat Moksa

Beberapa jam kemudian, setelah bunyi-bunyi kentungan itu hilang, terdengar suara jeritan tangis dan teriakan orang minta tolong dari daerah di sekitar kaki pengunungan Tengger.

“Malam ini, berapa sapi disembelih, Mar?”

“Tidak banyak, Sum. Malam ini, aku menyembelih satu sapi saja.”

“Segera istirahat!”

“Ya, sebentar lagi.”

Tanggal 1 pagi hari, orang-orang memberi kabar Sumarni kalau H. Fauzan ditemukan meninggal tanpa kepala di atas tempat tidurnya. Pembunuhan yang katanya sadis itu membuat kepada desa dan pihak kepolisian sangat marah dan begitu berambisi memburu pelakunya. Aku sendiri merasa tidak ada yang sadis dengan pembunuhan itu. Apalagi jika korbannya adalah H. Fauzan, anak H. Sunan yang dulu menjadi dalang pembunuhan lima keluarganya sendiri, termasuk ayahku dan kedua orang tua Suminah dan Karyo, hanya karena persoalan harta warisan. Aku yakin, sebenarnya sejak dulu H. Fauzan tahu, kalau lima keluarga yang telah dibunuh ayahnya bukanlah orang-orang komunis. Semua keluarga itu hanyalah korban masalah pribadi ayahnya. Dan, sekarang, semua perbuatan yang dilakukan ayahnya sudah ditebus mahal.

“Semua dendam ayah sudah selesai, Nak!” kataku kepada Tiyo di penjara.

“Tapi, kutukan keluarga tidak selesai, Yah. Kutukan itu membuat Tiyo menikahi Tina. Sama seperti Ayah, yang menikahi saudara kandungnya sendiri.”

Setelah setahun ditangkap, hakim kini menetapkan aku sebagai tersangka atas sepuluh kasus pembunuhan. Aku dijatuhi hukuman mati. Sementara Sumarni, Tina, dan Tiyo baru saja tiba di penjara dan berada di ruang interogasi. Mereka ditangkap atas dasar kasus pembunuhan Karyama, istri Alm. H. Fauzan. ***

Catatan:

[1] Pasar sapi di Probolinggo, Jawa Timur.

[2] Bukit di Resongo, Kuripan, Probolinggo. Bukit ini menurut warga di sekitar lokasi, pada tahun 1965-1966 digunakan sebagai tempat eksekusi pembunuhan orang-orang yang diduga anggota PKI.

BB SOEGIONO, lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 11 November 1996. Saat ini tinggal di Singaraja, Bali. Tulisan-tulisannya yang berupa puisi, cerpen, dan esai pernah dimuat di sejumlah media massa di Indonesia. Buku puisi terbarunya Matahari Tenggelam di Negeri Lain (Penerbit JBS, 2020).

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: