Cerpen, Ken Hanggara, Tanjungpinang Pos

Target Berikutnya

5
(1)

Cerpen Ken Hanggara (Tanjungpinang Pos, 02 Oktober 2021)

KURANG lebih delapan puluh jiwa selesai di tanganku. Kebanyakan mereka tidak layak hidup di dunia dan lebih dari setengah para korbanku adalah penjahat busuk.

Aku tahu, karena sebelum menghabisi nyawa seseorang, aku lebih dulu mempelajari riwayat mereka dan bagaimana klienku bisa berhasrat agar seseorang mati. Cara kerjaku simple: aku butuh satu alasan. Lalu, apa alasanku membunuh orang-orang tidak berdosa?

Aku tidak tahu, tetapi kalau suatu kali Meli datang dan memprotes apa yang sudah kulaku[1]kan, aku bisa bilang yang kulakukan tidaklah sia-sia.

“Jika orang-orang jahat itu tidak mati, mereka akan membangun banyak kesulitan di mana-mana, dan akan ada banyak orang yang mendapat kesialan dari jenis yang tidak bisa kamu bayangkan,” kataku selalu.

Meli tidak berniat memutuskanku karena aku cinta matinya. Perempuan itu pernah bersumpah hanya melihat kelurusan seorang laki-laki dari caraku mencintai dirinya, dan baginya tidak ada lelaki lain yang melihatnya sebagaimana caraku melihatnya selama ini.

Aku pikir, Meli perempuan yang biasa saja, tetapi karena tidak ada seorang pun wanita sudi dekat denganku, menjadikannya pacar bukanlah kesalahan. Jadi, hubungan kami sebenarnya tidak seerat yang orang bayangkan.

Meli terlalu banyak diam dan dia tidak sekali pun terpikir untuk berkata ke semua orang bahwa aku telah membunuh tokoh-tokoh tertentu dan bahwa sesekali aku juga menghabisi warga biasa yang suatu malam ditemukan tergeletak dalam kondisi sudah terpotong-potong di sudut kota yang gelap. Meli tidak terganggu akan kegiatanku, kecuali oleh pikirannya sendiri bahwa kelak aku bisa tertangkap dan mendapat hukuman berat sehingga tak ada lagi kebersamaan di antara kami. Itulah yang membuatnya terus-menerus meminta agar aku berhenti menjadi pembunuh bayaran.

Aku tidak tahu pekerjaan apa yang cocok untukku, dan tidak terpikir alih profesi selama tubuh dan pikiranku masih memadai untuk menghabisi orang demi bayaran yang besar. Ketika pada akhirnya aku harus berangkat untuk mencabut nyawa orang biasa yang diketahui tidak terlibat dalam kejahatan apa pun dan juga tidak pernah terdengar merepotkan kehidupan orang-orang lain, aku hanya berpikir: orang itu sudah pasti harus selesai, sebab ketiadaan orang-orang tertentu bisa jadi berpengaruh ke kehidupan orang banyak.

Baca juga  Ziarah

Ketika targetku kutahu tak pernah berbuat kejahatan, yang kulakukan cuma berjudi, dan aku percaya bahwa akulah pemenangnya. Kuharap saja memang begitulah adanya. Kuharap saja jika orang-orang biasa yang tidak berdosa ini mati, kelak akan melahirkan manfaat bagi setiap orang di sekelilingnya.

Caraku mencari-cari alasan untuk orang-orang tak berdosa yang menjadi korbanku agak mengganggu Meli. Suatu kali, dia pergi sementara waktu dari apartemenku. Aku hidup sendiri selama tiga bulan, dan di suatu sore di awal bulan keempat, aku pikir Meli tidak akan kembali. Aku tidak terpikir untuk menelepon atau mengirim surat. Mungkin hubungan kami memang harus kelar.

“Aku tidak benar-benar cinta, jadi kurasa sebaiknya Meli pergi selamanya,” pikirku dengan perasaan yang tidak terluka.

Namun, aku sangat kesepian. Aku tidak lihai menjalin pergaulan dengan orang di luar sana, sehingga tiap melihat gadis atau wanita yang menarik perhatianku, aku hanya berimajinasi jika dia memiliki watak seperti Meli. Maksudku, kuharap wanita itu, siapa pun dia, yang menyapaku lebih dulu untuk kemudian terjadilah perkenalan dan terjalin hubungan di antara kami.

Sayangnya itu hanya utopia dan aku sadar. Semakin tinggi kesadaranku, semakin kuat aku menjauh dari keramaian, sehingga ada satu titik di mana aku tidak terhubung dengan manusia mana pun, kecuali para klienku.

Aku semakin hari semakin kaya. Di titik kesepianku, aku mencatat riwayat hidup sendiri yang sudah menghabisi seratus delapan belas nyawa, dan itu kukerjakan tanpa kendala. Sampai detik ini polisi tidak tahu identitasku. Aku tetap bisa melenggang bebas berkat kejeniusan otakku.

Tentu saja orang-orang di sekelilingku, para tetanggaku, hanya tahu bahwa selama ini aku bekerja sebagai penulis. Aku ada koleksi buku-buku bermutu dari zaman remaja ketika diriku masih menjadi sasaran penyiksaan orang-orang keji seumuranku. Koleksi bukuku terus bertambah sampai hari ini. Orang akan percaya kalau kubilang bahwa aku seorang penulis.

Baca juga  Taman Hujan

Jauh sebelum masa remaja, aku sudah jadi sasaran kekejian yang pelakunya orang tuaku sendiri. Saat aku masih sangat kecil, aku tak berdaya dan tiap hari membayangkan secara jelas bahwa suatu hari nanti akan kubalas perbuatan jahat orang tuaku, entah itu dengan rokok, balok, pisau, atau apa pun, tetapi itu tidak pernah terjadi, sebab orang dinas sosial mencium kekerasan itu dan menolongku dan menaruhku di rumah beberapa orang tua asuh pada tahun[1]tahun berikutnya. Pada masa-masa ini aku mulai mengoleksi buku. Aku tidak pernah memiliki teman yang benar-benar teman, kecuali buku.

Aku tidak akan bercerita tentang bagaimana akhirnya aku tumbuh dewasa sebagai pembunuh bayaran. Aku tidak perlu membahas itu, karena itu tidak akan terlalu penting. Bahkan Meli sendiri tidak terlalu tahu sejarahku. Dia mengenalku ketika jumlah korban yang mati di tanganku telah berjumlah sebelas, dan pada saat itu, tentu saja, aku sudah dapat disebut sebagai profesional.

Meli tidak dapat menghentikanku, dan dia dapat terus bersabar sebab aku telanjur mengendap di hatinya sebagai lelaki yang memberinya banyak ketenangan, dan itulah kenyataannya.

Namun, sebagaimana hukum alam, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi, dan demikian juga kesabaran Meli membujukku. Ia akhirnya pergi dan aku memutuskan melupakan bahwa pernah ada seorang perempuan di kehidupanku yang, sekalipun tidak terlalu kucintai, dapat memberiku kenyamanan. Aku tidak menyangkal soal itu.

Begitulah, aku menjalani rutini[1]tasku sebagai pembunuh bayaran, yang hanya akan keluar dari sarangku demi mengintai dan mempelajari mangsa, sebelum menyudahinya. Aku semakin tajam. Keterlibatanku pada banyak kasus-kasus besar menjadikan namaku harum bagi para dedengkot dunia bawah tanah di kota-kota besar di pulau ini, bahkan hingga ke seluruh penjuru negeri.

Lalu, di suatu hari yang sepi oleh dering telepon, saat aku tidur santai di pinggir kolam renangku, sebuah panggilan masuk. Klien baru meminta menghabisi perempuan yang terang-terangan menolaknya di depan umum dan membuat harga dirinya sebagai anak pejabat runtuh.

Baca juga  Sangkar Dosa

“Saya mau Anda mutilasi dia dan Anda buang tubuhnya ke peternakan buaya! Saya tahu Anda pasti bisa, jadi tinggal sebutkan saja berapa bayaran yang Anda mau?”

Kubilang, bahwa cara kerjaku tak begitu. Aku harus membaca terlebih dulu profil calon korbanku. Ketika membuka laptop, yang kupandangi bukan foto perempuan asing, melainkan Meli. Aku tidak tahu bagaimana kami harus bertemu dengan cara ini?

Aku tidak perlu mempelajari profil Meli, karena aku berpacaran dengannya hampir dua tahun dan kami sama sekali tahu diri kami masing-masing. Aku hafal aroma tubuh Meli dan demikian sebaliknya. Aku paham isi otak Meli dan demikian sebaliknya.

Pertanyaannya adalah: apakah aku bisa menuruti permintaan klienku?

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku harus menyasar sosok yang pernah ada di kehidupanku untuk kucabut nyawanya. Bahkan, bukan hanya itu, aku harus mencabut nyawa satu-satunya manusia yang pernah terhubung begitu dekat dengan jiwaku dalam waktu terlama jika dibandingkan dengan manusia-manusia lain. Yah, kedua orang tuaku tidak pernah benar-benar terhubung denganku, meski aku hidup bersama mereka hingga usia delapan tahun.

Setelah tahu Meli calon target berikunya, untuk pertama kalinya otakku berpikir: jika orang ini kuhabisi, apa benar akan lahir manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya? Aku tidak yakin karena aku tahu sebenarnya Meli orang yang sangat baik. Aku jelas sama sekali tidak punya alasan untuk membunuhnya.***

Gempol, 2018-2021

KEN HANGGARA, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Buku terbarunya Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018).

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: