Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Raditya Andung Susanto

Puisi Bahagia Gadis Berwajah Mendung

3.3
(4)

Cerpen Raditya Andung Susanto (Kedaulatan Rakyat, 08 Oktober 2021)

DI suatu sore, sosok wanita itu kembali hadir di bangku-bangku taman paling pojok kanan. Wanita yang kehadirannya tidak pernah bersahabat dengan cuaca karena ke manapun ia pergi mendung selalu menemaninya. Sebab mendung adalah wajahnya, sebab cuaca adalah pikirannya. Pikirannya selalu berubah-ubah dan tidak pernah abadi laiknya cuaca, ia tetap menunggu yang sesuatu yang mungkin bukan untuknya.

Taman ini nampak seperti rumah kedua baginya, bagi hati, pikiran, cinta, dan rindu yang dipendam sejak lama. Sejak matahari masih mengintip di bukit paling timur hingga menenggelamkan terik menjadi senja yang anggun dan manja. Wajah paling mendung ia lukis sempurna ketika senja habis ditelan malam tanpa meninggalkan sebercak bahagia sedikit pun pada binar matanya bahkan sesekali hujan membasahi pipinya yang sudah kering setelah diciumi oleh angin senja.

Dalam keberpulangan yang meninggalkan duka tak berperasaan sambil menatap lamat malam yang berpelukan dengan kabut, puisi-puisi berguguran dari dada dan kepalanya. Ia tak pernah lupa menuliskan syair paling purba pada kertas putih lusuh dengan pena yang ia genggam erat seperti saat menggenggam (r)asa bersama seseorang yang dicintai olehnya.

Pena dan kertas itulah yang menjadi teman di kala luka menimbulkan kesedihan dan meninggalkan tangis tak berkesudahan. Mereka menjadi karib baginya, bagi hatinya, bagi rindunya, dan bagi dadanya. Mereka tak pernah lelah mendengarkan cerita si gadis mendung dengan wajah yang berkabung, mereka selalu setia mendengar ceritanya.

Wajahnya selalu cemas ketika senja hampir selesai karena ia berarti harus kembali esok menjemput senja yang sudah kesekian kalinya sambil menanti seseorang yang entah hadir ataupun tidak. Ia tak pernah lelah bahkan gurat jengah pun tak nampak pada wajahnya meskipun mendung selalu ada. Mendung tak pernah lelah menemani wajahnya ketika penantian yang berujung kekecewaan berbuah.

Baca juga  Pak Guru

“Adakah kamu datang pada senja kali ini?” bisiknya dalam hati. Hatinya gembalakan ketika sesorang yang ia tunggu tak pernah menampakkan wajahnya. Ia pulang dengan wajah mendungnya dan semangat yang mulai mereda. Setiap hari ia lakukan ketika seseorang yang ia tunggu tidak pernah datang ke taman.

Sampai pada pengujung bulan September ia masih tetap menunggu di taman itu, tak pernah lelah dan menyerah.

“Aku akan kembali bulan September nanti di taman ini,” kalimat terakhir yang diutarakan seorang pria kepadanya. Sudah dua tahun lalu ia meninggalkannya untuk pergi mencari ilmu di kota orang dan ia pernah berjanji akan kembali dengan menemuinya di taman itu. Si gadis mendung benar-benar mendung wajahnya, ia tak habis pikir kenapa sesosok pria yang sangat dicintai olehnya tak pernah kembali padahal sudah dari awal hingga penghabisan bulan ia menunggu di taman.

Kata-kata berpelantingan sudah, berceceran ke manapun memenuhi setiap penjuru taman. Kertas yang sebelumnya putih bersih, kini penuh dengan coretan-coretan puisi kekecewaan. Ia terus menulis tanpa henti dengan matanya yang dengan deras merintikkan hujan untuk mengaliri parit-parit pipinya. Menulis, menulis, dan menulis terus ia lakukan sampai senja berada di penghabisan.

Tersisa selembar kertas lagi ia bingung mau menulis apa, kekecewaan yang ia pendam sejak lama sudah ditulis pada lembaran-lembaran tersebut. Tangis, dan bingung benar-benar menghujam kepalanya, ia pun menyerah dan berhenti menulis puisi-puisi kekecewaan yang ada pada dada dan kepalanya.

Memori lama kembali pada benak yang terus bersajak, ketika kebahagiaan bersama pria yang ia cintai itu tak bisa untuk dijelaskan. Kebahagiaan yang bersambung ketika mereka berpisah kini mulai ia tulis pada selembar kertas puisi yang lusuh dan basah karena peluh yang terus mengalir dari kelopaknya yang sayu. Ia menulis ketika mereka pertama kali dipertemukan dan memintal janji untuk bersama meraih masa depan.

Baca juga  Yang Tersisihkan

Senyum sumringah mulai nampak pada wajah mendungnya bahkan hujan pada matanya mulai mereda. Kertas itu mulai penuh dengan coretan bahagia yang bersambung itu dan senyum pun semakin mengulum pada bibirnya. Wajahnya mulai terik ketika puisi benar-benar habis ia tuliskan bahkan ia mesam-mesem sendirian menjadi tontonan para pengunjung taman. Para pengunjung terheran-heran melihat perilaku si gadis mendung yang berubah drastis dengan sangat cepat namun mereka tak pernah benar-benar menganggapnya hal serius karena memang gadis mendung sangat susah ditebak.

Senja kembali ditelan oleh malam, si gadis mendung pun segera meninggalkan taman dengan wajah sumringah namun hatinya masih mendung sama seperti sebelumnya.

Lelah menerpa wajah dan hatinya yang selama sebulan lebih menunggu seseorang yang tak pernah hadir di taman. Sesampainya di rumah, ia kembali membaca puisi yang terakhir ia tulis di taman dan membuat wajah mendungnya sedikit lebih terik. Suara kuda besi tiba-tiba terdengar dari jendela rumahnya, namun ia bergeming sedikit pun karena terbawa feel dari puisi yang ia tulis sendiri.

Ketukan pintu memecahkan perasaannya, ia segera bangkit dan meraih daun pintu lalu membukakannya. Sesosok pria berada persis di hadapannya dan hujan kembali hadir pada mata sayunya. Sosok yang selama ini ia tunggu di taman tanpa diduga malah menemuinya di rumah, di tempat yang telah lama menjadi saksi kisah cinta mereka. Pelukan langsung menghampiri gadis mendung, tangisnya semakin menjadi-jadi. Sosok yang selama ini ia nantikan telah kembali ke dalam pelukan. Puisi bahagia yang paling terakhir ia tulis di taman menjadi awal kebahagiaan yang akan terus berlanjut.

Cerita yang dulu bersambung akan mereka mulai dari awal setelah pengujung bulan September benar-benar mempertemukan mereka ketika langit terang dan bermandikan cahaya rembulan. Si gadis yang dulu memiliki wajah mendung, kini wajahnya selalu terik sejak sosok yang ia nantikan sudah kembali kepadanya. Bahagia benar-benar terpancar dari wajahnya dan wajah mendung yang dulu selalu menemaninya tak pernah kembali lagi. ***

Baca juga  Gagak yang Terbang ke Negeri Arwah

Raditya Andung Susanto, kelahiran Bumiayu, Brebes, anggota Bumiayu Creative City Forum (BCCF) divisi Sastra, dan Relawan Pustaka Rumah Impian.

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: