Cerpen, Media Indonesia, Muhammad Syukry

Mang Agus Pulang Kampung

Mang Agus Pulang Kampung ilustrasi Budi Setyo Widodo (Tiyok)/Media Indonesia

3.9
(9)

Cerpen Muhammad Syukry (Media Indonesia, 10 Oktober 2021)

SUDAH bukan rahasia lagi kalau Mang Agus, juragan pempek berusia tujuh puluh tahun itu, tak bisa bepergian dengan naik mobil.

Dari luar, ia bisa tampak biasa saja saat melihat mobil. Namun, begitu ia masuk ke dalamnya, satu perasaan aneh akan tiba-tiba muncul menggerayangi tubuhnya. Dan ketika mobil mulai bergerak, raut wajahnya akan perlahan-lahan memucat, lalu keringat dingin akan bertimbulan di sekujur tubuhnya disertai satu gigil yang hebat. Pada puncaknya, ia akan muntah-muntah dan terserang demam beberapa hari. Amaxophobia, begitulah para ahli menyebut kondisi yang ia alami.

Saat berusia sembilan tahun, Mang Agus pernah diajak ayahnya pergi dengan membonceng mobil tetangga mereka. Perjalanan itu sebenarnya hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai, tetapi mereka tak pernah sampai sebab baru separuh perjalanan, Mang Agus kecil tiba-tiba menggigil dan muntah-muntah. Itulah kali pertama pertanda itu muncul.

Namun, kedua orangtua Mang Agus masih belum menduganya saat itu. Mereka mengira anak mereka hanya terkena demam biasa seperti yang dialami anak-anak lain sebayanya. Setelah hal sama terjadi lagi beberapa kali, barulah mereka mengerti.

Orangtua Mang Agus, yang tak berpendidikan tinggi, tidak begitu paham perihal kondisi yang dialami sang anak. Bagi mereka, ketidakbisaan sang anak naik mobil adalah hal biasa saja. Hanya sebuah ketakutan yang kelak, seiring waktu, akan menghilang dengan sendirinya.

Kenyataannya, hingga bertahun-tahun kemudian ketakutan itu tetap setia membersamai sang anak. Sampai sang anak menikah dan memboyong istrinya pindah ke Bungo (sebelumnya mereka tinggal di Palembang), lalu beranak-pinak dan menua di sana, ketakutan itu masih tetap bercokol dalam dirinya.

Saat remaja, Mang Agus sempat kesal dengan fobianya itu. Ia iri melihat teman-temannya bisa dengan mudah ke sana-kemari naik mobil, sedangkan ia tidak. Namun, itu tak berlangsung lama. Ia segera menemukan sepeda dan kemudian motor sebagai alat transportasi favoritnya. Dalam banyak kondisi yang mengharuskannya pergi, kalau tujuannya dekat, ia akan bersepeda. Kalau agak jauh, ia bermotor. Belakangan, ia malah nyaris tak memerlukan lagi keduanya.

Baca juga  Hikayat Pak Tua, Ba Dan Bi

Wong kini la pakai smartphone galo,” ujarnya. “Apo bae urusan, tinggal pidio kol.”

Mang Agus memang sudah banyak terbantu oleh video call. Ia, misalnya, bisa dengan mudah bertatap muka dengan keluarga anak sulungnya yang menetap di Palembang, meski ia berada di Bungo. Di antara semua kontak yang ada di ponsel-pintarnya, memang dengan keluarga anak sulungnya itulah ia paling sering ber-video call, terutama dengan kedua cucu kembarnya, Winda dan Windi.

Sewaktu SD, Winda dan Windi pernah tinggal bersama Mang Agus. Selama keduanya sekolah, Mang Agus-lah yang selalu mengantar-jemput. Itu kenapa kedekatan di antara mereka terjalin begitu erat. Kedekatan itu terpaksa harus merenggang ketika si kembar melanjutkan sekolah di Palembang. Terpisah lima ratusan kilometer, video call akhirnya kembali mendekatkan mereka.

***

Siapa pun yang pernah ngobrol dengan Mang Agus—meski hanya untuk beberapa menit, pasti tahu bahwa lelaki bertubuh jangkung itu sangat ramah dan humoris. Ia selalu menjadi yang pertama mengembangkan senyum ketika berpapasan dengan orang lain, dan di mana saja ia berada, ia selalu berusaha membuat suasana menjadi hangat dan penuh tawa.

Namun, pada suatu hari sekitar sebulan lalu, tidak seperti biasanya. Ia tiba-tiba berubah menjadi pemurung sehingga orang-orang tidak lagi merasakan keramahannya. Di hari kedua ia bersikap begitu, orang-orang mulai bertanya-tanya apa gerangan yang membuatnya berubah?

Di malam sebelum perubahan sikapnya, Mang Agus dihubungi oleh Winda dan Windi lewat video call. Kedua gadis yang sudah berusia dua puluh tiga tahun itu mula-mula hanya menanyai kabar, yang dijawab oleh Mang Agus baik-baik saja. Lalu, setelah beberapa kalimat lagi, si Winda tiba-tiba berkata, “Yai, kami ngubungi Yai malam ni sebenarnyo nak ngabarke, kami beduo ni nak laju nikahlah bulan depan. Yai datang yo.”

Refleks setelah mendengar kabar itu, Mang Agus berhamdalah dan menyambungnya dengan berkata: “Insya Allah Yai datang.”

Itulah yang keesokan harinya, juga di hari-hari berikutnya, membuatnya tenggelam dalam satu kegiatan berpikir yang intens sehingga raut wajahnya terlihat murung. Apa yang dipikirkannya? Tentu saja cara menghadiri pernikahan kedua cucunya itu. Ia ingin sekali hadir, tetapi ia tak ingin kepergiannya malah berujung di rumah sakit.

Baca juga  Mbah Dul Karim

Maka, ia tak putus-putus berpikir, menimbang berbagai cara yang mungkin bisa ditempuh. Ia sudah mempertimbangkan mengendarai motor—seperti yang pernah ia lakukan saat pindah ke Bungo puluhan tahun lalu. Tetapi mengingat usianya sekarang, ia pikir itu tak mungkin lagi dilakukan. Sempat juga tebersit untuk bersepeda, tetapi lekas ia buang jauh-jauh pikiran konyol itu.

Bagaimana kalau naik pesawat? batinnya. Ia ingat, di Bungo sudah ada bandara. Ia belum pernah naik pesawat sebelumnya, jadi ia tak tahu akan bagaimana jadinya. Agak lama ia menimbang-nimbang. Namun, akhirnya ia putuskan untuk tak melakukannya. Ia tak ingin coba-coba.

Ada satu cara lagi, yang juga sempat terlintas di pikirannya, dan cara itu sesungguhnya tidaklah terlalu buruk, yakni mengajak salah seorang anak atau menantu atau cucu lelakinya pergi dengan naik motor, dengan ia membonceng di belakang. Namun, mengingat betapa beratnya melakukan perjalanan lima ratusan kilometer dengan naik motor, timbul pula rasa ibanya kepada siapa pun yang akan pergi bersamanya. Maka, ia kesampingkan ide itu.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, dengan sisa-sisa harapan ia buka aplikasi Chrome di ponsel pintarnya, lalu ia ketik di kolom pencarian: cara agar tidak sakit saat bepergian dengan naik mobil. Beragam artikel kemudian muncul di layar ponselnya. Ia gulirkan telunjuk di layar benda pipih itu, sampai pada sebuah artikel yang berjudul ‘Tujuh Tips Mengatasi Mabuk Perjalanan’, ia berhenti dan memutuskan untuk membukanya. Sejurus kemudian, ia sudah fokus membacai satu demi satu tips dalam artikel itu, hingga pada tips nomor lima, yang berisi sebuah saran: tidur yang cukup agar tubuh lebih segar dan terhindar dari rasa mual saat melakukan perjalanan. Sebentuk lampu pijar tiba-tiba menyala di kepalanya.

Gegas ia keluarkan motor lalu memacunya ke apotek terdekat. Setiba di apotek, ia beli satu strip obat tidur—tentu saja yang paling ampuh, lalu pulang dengan senyum lebar terkembang. Lewat grup WA, ia kabarkan ke keluarganya bahwa ia akan ikut berangkat dengan naik mobil. Ia minta keberangkatan dilakukan pada malam hari agar bisa tidur nyenyak selama perjalanan.

Baca juga  Buka Puasa Keluarga Musyafak

Kontan setelah ia mengirim kabar itu, kalimat-kalimat protes bermunculan dari keluarga besarnya. Mereka semua khawatir akan terjadi apa-apa kepadanya. Namun, setelah panjang-lebar ia jelaskan, mau tak mau keluarga besarnya setuju juga.

***

Semalam sebelum keberangkatan, atas inisiatif sendiri, Mang Agus sengaja tak memicingkan matanya barang sedetik pun. Ia berharap, dengan begitu, tidurnya pada malam keberangkatan nanti—yang didukung dengan mengonsumsi obat tidur yang sudah dibelinya—akan lebih nyenyak dan berlangsung lama. Ia tahu, perjalanan menggunakan mobil dari Bungo ke Palembang akan memakan waktu hampir tiga belas jam. Ia tak ingin tiba-tiba terbangun di tengah perjalanan.

Pada malam keberangkatan, dengan menggunakan enam mobil, keluarga besar Mang Agus bertolak menuju Palembang. Mang Agus memilih ikut mobil yang dikemudikan oleh putra bungsunya. Empat puluh menit sebelum berangkat, diam-diam ia menenggak dua tablet obat tidur sekaligus. Tepat saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumahnya, ia yang sudah lebih dari dua puluh empat jam tak merasakan tidur, langsung pulas di kursi belakang mobil yang sudah ditata sedemikian rupa. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

Seperti saat ia pergi dengan ayahnya ketika berusia sembilan tahun, malam itu Mang Agus tak pernah sampai ke tujuannya. Bukan karena ia terjaga lalu tiba-tiba menggigil dan muntah-muntah, melainkan karena mobil yang ditumpanginya mengantarkannya terlalu jauh. Alih-alih ke Palembang, kecelakaan parah malam itu malah membuat Mang Agus pulang ke liang kubur. ***

.

Bungo, 2021

.

 41 total views,  1 views today

Average rating 3.9 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Lela rahmawati

    Kukira akhirnya tidak akan sesedih itu 🥺

Leave a Reply

error: Content is protected !!